MENUNGGU JODOH

MENUNGGU JODOH
13


__ADS_3

di pesantren kyai Rahmat.


"Abi ... Zia gak mau menjadi istri kyai Hasan! apa kata orang-orang kalau Zia menikah dengan orang tua yang lebih pantas menjadi ayahku!!"


Ning Fauzia menghempas tubuhnya di sofa rumahnya dengan wajah merah padam karena emosi yang berada di ubun ubun.


Bu nyai Rahmat memekik tertahan melihat tingkah grusah grusuh putrinya yang seenaknya padahal sedang hamil.


" Abi...bantu Zia..!! jangan diam saja... kalau perlu kita paksa saja Gus Alwi bi."


" ini gara gara kamu...!! Gus Alwi jadi ilfil dengan ku,.. gara gara kamu semua rencana ku berantakan!!" ucap Ning Fauzia sambil memukul-mukul perutnya yang masih rata.


sepasang suami-isteri itu kaget melihat tingkah kekanakan putrinya itu dan langsung menghentikannya, takut imbasnya pada janin calon cucunya.


ya walaupun mereka tak menyukainya aib itu, tapi mereka tak ingin cucunya kenapa napa, karena yang mereka tau bayi itu tak berdosa, yang berdosa yang membuat aib itu.


Bu nyai Rahmat segera melerai tangan Ning Fauzia yang masih mencoba melukai janin itu, ia iku dongkol, kenapa putrinya itu tak berhenti membuat dosa. sudah membuat aib dan sekarang malah mencoba membuang anak tak berdosa itu.


" sudahi tingkah kekanakan mu itu Zia..!! cukup kamu mempermalukan keluarga kita..!! jangan tambah masalah lagi dengan membunuh anak yang kamu kandung itu...ingat dosa Zia...!!" ucap kyai Rahmat emosi


" Abi...terus Zia gimana??" ucap Ning Fauzia terisak-isak dipelukan uminya, ia begitu putus asa.


" yang sabar ya nduk...Abi sedang cari jalan keluar." ucap ummi Rahmat


Ning Fauzia melerai pelukan ummi lalu berjalan kearah abinya, dengan tiba ia bersujud dikaki kyai Rahmat.


" Abi...Zia mohon, paksa Gus Alwi bi...Zia sangat mencintai Gus Alwi bi..."


" itu sudah gak mungkin, Gus Alwi akan membantu kita mencari ayah dari anakmu itu."


" tapi bi...Zia gak mau, Zia gak mencintai bajingan itu."


" sudahlah Abi lelah...urusi itu anakmu mi...Abi mau sholat Zuhur dulu biar hati adem." ucap kyai Rahmat pelan, menghela nafas berat menandakan ia begitu lelah dengan masalah yang dibuat putrinya.


kyai Rahmat berjalan menuju ruang musholla yang berada dirumahnya itu untuk menunaikan kewajiban yang sudah begitu telat karena sedari tadi diperjalanan.

__ADS_1


" kenapa jadi seperti ini... kenapa tidak sesuai dengan rencana ku. ckk abi dan umi juga gak bisa diandalkan." batin Ning Fauzia yang masih belum beranjak dari tadi, pandangan menatap sinis sang Abi yang gak bisa berbuat lebih untuk membantu keinginannya. ia merasa percuma mempunyai orang tua tak berguna.


Ning Fauzia memang sangat jauh berbeda dengan kedua orangtuanya dan kakak laki-laki nya. hati yang picik, licik dan jahat sudah mendarah daging sejak ia kecil, entah hati itu menurun dari siapa karena kedua orang tua dan kakaknya tak mempunyai hati seperti itu meskipun mereka juga mempunyai sifat egois dan keras kepala.


" sudah nak... segeralah sholat...ummi juga akan menyusul abimu sholat dulu...semua ada jalan keluarnya nak...yang tenang hatimu." ucap ummi Rahmat sambil mengusap bahu putrinya dengan sayang lalu bergerak menyusul kyai Rahmat.


" cih...jalan keluar...!! Maksa Gus Alwi saja gak bisa, sok sok an mencari jalan keluar." batin Ning Fauzia sambil berjalan menuju kamarnya.


\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


di kampus X


terlihat lima gadis cantik sedang berada di taman yang ada di kampus itu. hari sudah begitu sore tapi para gadis itu tak beranjak sedikitpun dari taman itu setelah sedari tadi perkuliahan pertama selesai.


jam sudah menunjukkan angka 16.00, hampir 4 jam para gadis itu habiskan waktunya ditempat yang sejuk itu, tepatnya di bawah pohon buah mangga yang begitu rindang cukup untuk berteduh dari paparan sinar matahari.


bermacam macam hidangan juga tersedia didepan para gadis cantik itu yang sedari tadi tak berhenti membuat mulutnya tetap mengunyah.


ada siomay, rujak buah buahan, serta beberapa kap jus buah yang tadi mereka bawa dari kantin.


angin sepoi-sepoi membuat para gadis itu betah berlama lama disana. mereka akan beranjak hanya untuk menunaikan ibadah sholat saja itupun secara bergantian.


" dia kenapa si..!" ucap Yola heran


tangan masih asik menyuapi mangga muda dilumuri bumbu gula yang extra pedas itu. perpaduan asam, manis dan pedas menyatu di lidahnya yang membuat kesan ketagihan.


mata sambil tengah tengok kearah para teman yang juga bingung. mereka menggedikkan bahunya.


" entah... dari tadi pagi Lo dia itu udah aneh. aku tanya malah cuma dibalas senyum semanis gulanya." ucap indah


" bangunin aja, siapa tahu dia kesambet penghuni kampus." celetuk Jesica


" iya ya...bener kata Jesica...aku denger denger kampus kita itu angker. siapa tau karena dia orang asing jadi ditempelin." ucap Airin menimpali ucapan Jesica yang menurutnya masuk akal.


" ckk..!! kalian tuh demitnya..." ucap Yola yang jengah mendengar ucapannya sahabatnya itu...mana ada demit siang bolong begini pikirnya.

__ADS_1


" minggir...!! biar aku kagetin.." ucap Yola lagi sambil mendekati sahabatnya yang masih asik dengan dunianya.


Meraka menyingkir sedikit agar Yola bisa bergeser mendekati queen.


plukkk...!!!


tepukan agak keras mendarat di bahu queen yang membuat empunya mulai tersadar.


" bhaaaaaaaaa...!!!!!" teriak Yola pas didepan queen.


spontan queen terjingkat kebelakang karena kaget dengan suara Yola dan melihat wajah Yola pas berada di depannya menjadi ia bertambah shock.


"astaghfirullah...."


ha ha ha ha ha


suara tawa teman queen begitu renyah...


dengan muka cemberut queen memperbaiki posisi duduknya tanpa bersuara. ia begitu jengkel dengan para temannya itu.


Yola yang melihat queen tak mengeluarkan suara dan ber muka masam pun merasa bersalah. ia tau...ia begitu kelewatan. iantak memikirkan resikonya, seandainya queen mempunyai penyakit jantung akan jadi apa nanti karena tingkah konyol dirinya.


" queen maafin aku yaa..." ucap Yola pelan, mata berkaca-kaca ia merasa bersalah


" kenapa Yola seperti itu? kalau queen punya penyakit jantung bagaimana ?" tanya queen setelah mengenyahkan rasa jengkel nya.


ia mengambil jus alpukat kesukaannya laki menyedotnya.


" maaf queen..."


" kita juga minta maaf queen.." ucap teman yang lain


queen tersenyum dan mengangguk mengiyakan, ia sudah tidak merasa jengkel lagi. ia memaklumi tingkat temannya itu.


mereka menghela nafas lega, Yola memeluk queen erat. teman yang lain melihat kedua temannya berpelukan pun tak tinggal diam, mereka pun ikut berpelukan. queen berada di pelukan paling dalam sampai nafasnya tak stabil tapi ia begitu bahagia mempunyai teman seperti mereka semua.

__ADS_1


melerai pelukannya dan tertawa bersama.


mereka melanjutkan memakan makanannya sambil diselingi obrolan, kali ini queen begitu fokus menanggapi obrolan dari teman temannya.


__ADS_2