MENUNGGU JODOH

MENUNGGU JODOH
5


__ADS_3

" Assalamualaikum bune...!" salam pak Burhan untuk orang dirumahnya.


Gus Al juga mengucapkan salam tapi pelan, karena sudah diwakilkan pak Burhan yang sudah keras suaranya.


" Waalaikum salam." ucap seseorang dari dalam rumah.


" Ayo silahkan masuk Gus, maaf gubuk nya tak luas." Pak Burhan mempersilahkan Gus Al masuk sebelum sang istri keluar dari ruang tengah.


" Pak sudah pulang??."


Tanya istri pak Burhan sambil melangkah keluar dari ruang tengah, dia belum melihat keberadaan Gus Alwi yang sudah duduk di kursi pojok setelah pak Burhan mempersilahkan.


" Sudah Bu, ini ada Gus Alwi mau nengok Gita. Gimana Gita Bu, lagi apa dia?."


Kata pak Burhan pada istri yang kelihatan masih shock setelah menyadari akan kedatangan Gus idolanya itu.


Gus Al hanya tersenyum sekilas pada istri pak Burhan lalu menunduk kembali.


Istri pak Burhan juga membalas senyum Gus Al dengan senyum penuh semangat, pandangan terputus saat suaminya menepuk pundaknya. Ia terkaget


" Ehh iya pak, Gita didalam baru selesai ibu suapi makan." jawab istri pak Burhan.


" Monggo Gus, anak saya sedang di kamar." ucap pak Burhan mengajak Gus nya untuk melihat anaknya.


Gus Al mengangguk dan berdiri dari duduknya mengikuti langkah pak Burhan menuju kamar putrinya.


Setelah sampai kamar yang dituju ia melihat seorang gadis berusia sekitar 17 tahun tanpa penutup kepala sedang terbaring di kasurnya.


" Ibu ... bisa minta tolong pakaikan kerudung untuk putrinya, biar saya merasa nyaman melihatnya." ucap Gus Al halus


" Ohh nggeh Gus. "


Setelah tak memerlukan waktu lama Gus Alwi masuk kamar gadis itu diikuti pak Burhan dibelakangnya.


Ia mengamati sejenak gadis itu, wajah pucat tanpa rona merah sedang menutup mata. Entah itu sedang tidur atau pingsan, tapi yang ia lihat seperti tak ada jiwanya.


Setelah cukup mengamati Gus Al membaca ayat-ayat Al-Qur'an pelan dengan mata tertutup, ia dapat melihat sosok gadis yang tadi tidur terpejam sekarang sedang berada di tempat seperti gua.


Lantunan ayat-ayat masih terus ia ucap secara pelan. Ia berusaha untuk membebaskan gadis itu dari ruang yang lembab tanpa penerangan itu.


Keringat dingin keluar dari tubuh gadis depannya, dan terlihat tubuh mungilnya juga menggigil hebat.


Pak Burhan dan istri berusaha menenangkan tubuh Gita yang sudah terguncang karena menggigil.

__ADS_1


Istri pak Burhan tak hentinya menangis melihat putrinya seperti begitu tersiksa. ia terus menyeka keringat dingin yang keluar dari tubuh itu dengan sayang.


Setelah beberapa waktu tubuh itu kembali tenang, dan mata hitam milik anak pak Burhan terbuka.


Gadis itu menengok kanan kiri yang ada ayah dan ibunya setelah tersadar. Dan ia memandang pria tampan yang sedang terpejam matanya serta bibirnya komat kamit karena membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang ia tak mengerti.


Gus Alwi menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya, ia begitu lega karena masalah gadis depannya itu sudah berhasil ia tangani.


Sambil mengucapkan Alhamdulillah Gus Alwi membuka matanya , dan terlihat mata mempesona miliknya membuat gadis depannya itu salah tingkah karena kepergok sedang memandangnya.


Muka Gita memerah, ia memalingkan wajahnya ke arah ibunya dan tersenyum cantik kepada sang ibu.


" Gita sudah tak apa Bu."


" Syukurlah nduk, kamu sudah tak apa." ucap istri pak Burhan sambil memeluk putrinya.


Pak Burhan tersenyum lebar sambil mengusap punggung putrinya itu , ia begitu bahagia melihat putrinya sembuh setelah selama 5 hari hanya bisa terbaring di kasurnya.


" Terimakasih Gus... sungguh saya sangat terimakasih atas pertolongan Gus Al."


Ucap pak Burhan sambil mencium tangan Gus Al berulang kali, karena melampiaskan kebahagiaan dan syukur atas pertolongan Gus Alwi.


" Ehh jangan begini pak, saya hanya membantu dan itu semua atas kehendak Allah SWT saya hanya sebagai perantara saja." ucap Gus Al


" Dek Gita, apa sebelum sakit ini pernah bermain ke hutan x ???." Tanya Gus Al pada gadis depannya itu.


" Iya Gus, saya sebelum merasa tak enak badan saya berkemah di daerah x, karena itu acara sekolah jadi wajib ikut."


Jawab Gita sambil menunduk, ia tak mau membuat Gus depannya tak nyaman bila ia terus memandang, terbukti kalau ia memandang Gus Al akan menunduk dan sebaliknya.


Gus Al mengangguk, tanda mengerti


" Besok lagi kalau sedang menstruasi bila ikut kemah atau keluar ke daerah lembab baca bismillah dulu dan ucap permisi ya."


Gita mengangguk mendengar ucapannya Gus Alwi. Ia teringat saat itu ia memang lagi menstruasi, walaupun sudah hampir selesai menstruasinya.


" Kalau begitu saya pamit pak Burhan, ibu karena saya sudah ditunggu teman saya di depan."


" Loh ...siapa yang nunggu Gus, dari tadi tak ada tamu mengucapkan salam."


Tanya pak Burhan dengan perasaan tak enak hati karena meninggalkan tamu sendiri di depan rumah.


" Tidak apa pak, teman saya hanya menjemput saya. kalau begitu saya permisi pak Bu assalamualaikum."

__ADS_1


" Eeee waalaikumsalam...tapi Gus njenengan belum di minum teh nya."


Ucap pak Burhan sambil mengikuti Gus Al ke depan, ia jd tak enak hati karena dari tadi belum sempat membuat kan minuman karena mendampingi Gus di kamar anaknya.


Teh Buatan istri pak Burhan masih mengepul uap panas, sedangkan ia sudah terburu buru mengejar waktu.


" Tak apa pak, jangan merasa tak enak begitu. Saya pamit mari."


Pamit Gus Al sekali lagi diikuti mas abdi ndalem yang dari tadi mendampingi dia selama tausiyah.


Akhirnya mobil milik Gus Al melaju meninggalkan rumah sederhana pak Burhan dengan tujuan pulang ke pesantren.


Mobil melaju dengan kecepatan yang begitu lambat sesuai permintaan aneh Gus Alwi dengan disupiri kang Abdul, dan Gus Al duduk di samping kursi kemudi.


Tak ada suara keluar dari mulut dua anak manusia itu, hanya suara lagu sholawat yang mengiringi perjalanannya.


Kang Abdul begitu sungkan dengan putra kyai nya itu, jd tak berani untuk mengeluarkan suaranya bila Gus nya tak berbicara lebih dulu.


" Kang, di rumah ber cat orens, tiga rumah dari depan itu tolong berhenti sebentar ya??"


Pinta Gus Al sambil matanya terus mengawasi jalan.


Walaupun otak kang Abdul bertanya tanya Gus nya mau bertamu dirumah siapa, tapi tak berani bertanya, ia hanya mengangguk kepala sambil menjawab nggeh.


Setelah sampai pas didepan gerbang rumah sederhana ber cat orens, kang Abdul menghentikan mobilnya, tapi setelah beberapa lama tak ada pergerakan dari Gus nya itu kalau akan turun dari mobil, lalu dia menatap Gus Al dengan pandangan aneh dan bertanya-tanya.


Apalagi Gus Al hanya menengok kesana kemari sepeti sedang mencari sesuatu dengan wajah resah.


Kang Abdul mengernyit heran, ia sudah tak bisa mengunci mulutnya karena saking penasarannya dengan tingkah Gus Alwi itu dan akhirnya pun bertanya.


" Gus, ada yang di cari kah??." tanya kang Abdul.


" Tidak kang." jawabannya pelan tapi mata masih menatap liar kesana-kemari seperti sedang mencari seseorang.


" Terus kita kenapa berhenti Gus?."


" Ohh iya... ya... ya udah kita jalan lagi sebelum magrib harus smpe pesantren kang."


Dengan gugup Gus Alwi menjawab kang Abdul, ia juga heran kenapa jadi seperti orang bodoh.


Hembusan nafas Gus Alwi terdengar ditelinga kang Abdul, ia tau Gus nya sedang resah tapi tak tau penyebabnya. Biarlah itu bukan urusannya pikirnya.


Mobil kali ini melaju dengan kecepatan tinggi sesuai permintaan Gus Alwi, Jang Abdul hanya meng iya kan saja.

__ADS_1


__ADS_2