
05:00am
Ahhhh... Leganya saat kemarin aku sangat lelah dan mengantuk, kali ini aku segar kembali.
Aku kemudian mandi, lalu sarapan.
Aku melihat kamar adikku, Kamin-chan belum bangun ternyata.
Sementara aku sedang sarapan dengan ibuku.
“Danpachi nanti seperti biasa jika ibu pulang malam sekali makanan instan biasa ibu taruh di lemari ya” ucap ibuku.
“Siap bu” ucapku sambil makan.
Dan aku selesai makan...
Lalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
“Aku berangkat”
...----------------...
Seperti biasa aku berangkat menuju sekolah menggunakan kereta api.
Dan sampai menuju sekolah.
Lalu....
Aku diam sesaat di depan sekolah dan tersenyum, kemarin aku melakukan hal bodoh dan sekarang aku akan menjadi seperti biasanya menjadi Takuya introvert.
Aku berjalan lurus di koridor kelas menuju kelasku dengan tenang.
Lalu duduk dan seperti biasanya Tatsuya memberikan ucapan selamat pagi dengan senyuman itu “Selamat pagi Danpachi-san”
dan untuk pertama kalinya aku menyapa balik dia. “Yoo selamat pagi”
“Wah tumben sekali kamu menyapa balik aku Danpachi-san” ucapnya dengan senyuman itu.
Woii jangan buat moodku yang indah ini menjadi hancur karena kamu mengatakan itu!
Yokada juga tampaknya tidak mau ikut campur dengan ini.
Hah! Dia pasti takut karena kemarin aku memarahi dirinya.
Baiklah aku siap memulai hari baru ini...
Set....
Pintu kelas terbuka Akiko-sensei datang, karena hari ini adalah pelajaran sastra yang akan dibimbing oleh guru cantik dan killer yaitu Akiko-sensei.
“Yoo semuanya, pagi hari yang cerah bersinar tanpa mendung mendurang” ucap Akiko-sensei membuat kilasan indah namun sulit dimengerti.
“Semuanya berdiri dan ucapkan salam!” ucap Tatsuya yang merupakan ketua kelas disini.
“Selamat pagi sensei!” seluruh anak dikelas ini mengucapkan salam.
“Baiklah anak-anak, karena 2 minggu lagi akan ada ujian akhir, kita langsung saja mengadakan test”
Sontak semua yang ada di kelas tidak terima.
“Heh? Test apaan? Padahal Sensei tidak pernah memberikan materi pada kita” ucap Natsumi-san yang merupakan cewek paling aktif di kelas kita.
“Aku tidak memberi materi bukan berarti kalian bermalas-malasan jadi tidak belajar! justru aku ingin membuat kalian penasaran dengan materi yang tidak ku ajarkan dan segera mencari tau baik di perpustakaan maupun di internet” ucap Akiko-sensei.
Untung saja aku sudah tau pemikirannya seperti apa, jadi tentu saja aku sudah belajar dan menghapal semua materi sastra yang tidak diajarkan olehnya.
Guru semacam ini memang laknat tapi aku suka caranya seperti 'menyiksa tanpa ampun' kepada muridnya.
Suasana kelas disini jadi gaduh karena seharusnya guru itu memberikan pelajaran bukannya menyuruh mencari pelajaran.
“Dasar anak bodoh! Seharusnya kalian peka lah” ucap Akiko-sensei mengumam.
“Teman-teman, tenanglah. Akiko-sensei bisa beri kami waktu setengah jam saja untuk menghapal?” ucap Tatsuya memberikan negosiasi kepada Akiko-sensei.
“Heh? Padahal aku tidak suka membuang waktu. Pasti orang yang sudah tau materinya hanya Hiba Tatsuya dan Takuya Danpachi saja ya? Mau bagaimana lagi, baiklah aku beri waktu setengah jam untuk kamu memberi materi kepada semua siswa tidak berguna ini” ucap Akiko-sensei.
“Cihh, sensei ini!” ucap Maruko si cowok pemarah itu.
“Sudah sudah aku berikan materinya dan kalian hapalkanlah” ucap Tatsuya.
Tatsuya memberikan materinya lewat grup kelas.
Tatsuya ini ibaratkan pahlawan kelas, memang iya selain tampan dia juga berjiwa sosial dan sangat berbanding terbalik denganku. Tapi aku tidak mau membanding-bandingkan dengan dia lagi, karena memang kita itu sudah beda level.
“Takuyaaa, aku pinjam materi punyamu deh” ucap Wakuda-san dengan senyumannya.
“Ah ini” aku memberikan bukuku padanya. Imutnya Wakuda-san, sial aku terbawa suasana lagi!
Akiko-sensei membuka pintu kelas dan memanggilku.
“Kalo begitu orang pertama yang duluan ikut test adalah Takuya, ayo ikut ibu ke ruang guru”
Aku kaget kenapa aku dipanggil pertama? Kenapa tidak Tatsuya. Baiklah tidak masalah bagiku.
Aku tau semua anak di kelas merasa lega karena sensei telah pergi.
Aku mengikuti sensei itu ke ruang guru tanpa berkata apapun.
Kita sampai di ruang guru, lalu dia duduk dan membuka laci di meja itu lalu memberikan beberapa kertas padaku.
“Apa ini sensei? Punya siapa nilai mengerikan ini?” ucapku. Sensei memberikan beberapa kertas ujian yang semuanya nilai merah yaitu nilai dibawah 50 semua, mengerikan sekali!
“Semenjak kejadian itu, kamu hanya fokus pada Riri tanpa memperdulikan orang yang ada didekatmu juga” ucap Akiko-sensei. Ucapannya itu membuatku bingung.
“Memangnya siapa?” ucapku penasaran.
“Siapa lagi kalo bukan partnermu Reita Meijima, dia juga memiliki masalahnya sendiri” ucapnya tersenyum.
“Hah!!! Mana mungkin ini dia sensei!? Bahkan nilainya saja tidak ada yang diatas 50 semua!! Dia itu terlihat seperti orang pintar ya walau agak menyeramkan” ucapku tidak percaya.
“Iya memang kamu pasti tidak akan percaya karena dia itu seperti anak jenius, tapi sebenarnya dia itu sangat bodoh dalam hal pelajaran” ucap Akiko-sensei memegang kepalanya..
“Jadi dia itu hanya membaca komik saja tanpa membaca buku pelajaran sama sekali! Seharusnya sensei berhenti memberinya manga fujoshi itu!!” ucapku kesal.
“Yaa mau bagaimana lagi tanpa iming-iming manga fujo dia pasti menolak menyelesaikan misi bersamamu” ucapnya malu-malu
__ADS_1
“Nah sekarang! kamu berilah dia pelajaran dengan belajar dengannya tanpa ampun!” ucap Akiko-sensei lagi dengan suara lantang.
“Heh sensei? Apa maksudmu?” ucapku jadi gugup.
“Aku tidak akan memberimu test, karena aku percaya kamu sudah pintar tanpa aku beri test. Misi kali ini buat Reita mendapatkan nilai diatas 70 untuk ujian akhir nanti dan jangan sampai dia di-” belum sempat berbicara habis aku memotong pembicaraan Akiko-sensei.
“Maaf soal itu tidak mungkin aku bisa” ucapku pasrah duluan.
“Heh? Kenapa kamu malah menyerah begitu?” ucapnya jadi lesu.
“Sensei tau kan Mei-san itu sifatnya seperti apa? Dan lagipula waktu 2 minggu tidak mungkin bisa dengan orang keras kepala seperti dia” ucapku memalingkan wajahnya.
“Jika kamu berhasil akan ada hadiahnya loh” ucapnya menggodaku.
“Pokoknya aku tidak mau!”
“Cih, padahal Reita juga sangat bergantung padamu, dia juga memang ingin sekali kamu yang mengajarinya” ucapnya menggodaku lagi.
Entah kenapa aku jadi tersipu.
“Ba-baiklah kalau begitu, jadi dimulai kapan?” aku mulai menerima tawaran itu.
“Sekarang!!! kamu pergi ke perpustakaan dia ada disana!” Akiko-sensei berubah jadi girang lagi.
“Heh? Cepatnya, kenapa dia ada disana? Bukankah ini masih jam pelajaran” ucapku.
“Tenang saja, hari ini kelas dia pelajarannya olahraga jadi aku sudah meminta izin pada guru olahraga Tsuchi-san” ucapnya dengan senyum kecil.
Akiko-sensei sampai segitunya ingin membuat Mei-san lulus ujian musim dingin ini.
“Baiklah, aku akan pergi ke perpustakaan sekarang” aku meninggalkan Akiko-senpai.
“Semoga sukses Takuyaa!!” ucap Akiko-sensei memberiku semangat.
Aku berjalan menuju perpustakaan, arah ruang guru ke perpustakaan lumayan jauh.
Aku sampai di perpustakaan dan melihat ada Mei-san sedang membaca.
Cih anak yang pandai menyelesaikan misi melalui instingnya ternyata bisa juga menjadi anak bodoh. Pokoknya aku harus menjinak-nya agar dia bisa menghapal semua pelajaran dengan singkat.
“Selamat datang Takuya” ucap Mei-san yang melihatku dengan senyuman tipisnya.
Dia mengetahui aku ada disini.
“Ahh... I-iya, sepertinya kamu rajin sekali membaca buku Mei-san” kenapa aku jadi gugup begini?
“Kamu kesini pasti mau mengajariku dengan belajar bersama kan?” ucapnya dengan memnundukan kepala karena membaca buku.
Syukurlah ternyata dia peka, jadi aku tidak perlu berbicara lagi.
“Dengar! Kita ini hanya sebatas belajar bersama, dan aku juga tidak bermaksud membuatmu birahi karena tubuhku” ucapnya yang lagi-lagi mesum.
Cihh!!
“Mana mungkin aku birahi dengan monyet pemarah seperti mu” ucapku mengejekknya.
“Hah! Begitu ya? Kalau begitu bisakah kamu berjauhan denganku?” ucapnya dengan memejamkan matanya itu.
Dasar! Cewek ini membuatku geram.
Dan kemudian hening.....
“Sebenarnya kita ini mau belajar bersama kan? Kenapa harus berjauhan seperti ini!” ucapku menjadi kesal.
“Tenanglah bodoh, ini kan diperpustakaan. Baiklah kamu bisa geser tapi jangan dekat-dekat” ucapnya.
Dia ini menganggapku seperti kuman!
Aku mulai pindah kursi dekat Mei-san dengan jarak kurang lebih 1 meter.
“Jadi pelajaran mana yang ingin kamu pelajari sekarang?” ucapku
“Pertama biar aku bercerita sedikit” ucapnya
“Aku tau kamu ini sangat pintar saat itu aku tidak sengaja melihat daftar peringkat ujian harian teratas dan nama kamu ada disana, aku begitu iri melihatnya! Lalu Miyari-sensei sudah sangat menyerah denganku karena aku ini begitu bodoh tidak pernah mengerti setiap pelajaran yang semua sensei berikan, aku juga menyadari betapa bodohnya diriku ini karena aku tidak memiliki satupun teman dikelas sedangkan Toruu-san dan Azumi-san juga sama bodohnya denganku yang tidak bisa memahami pelajaran, jadi kurasa aku tidak memiliki kesempatan untuk bisa memahami semua pelajaran. Lalu Miyari-sensei begitu bisa membaca pikiranku dan dia mulai memiliki rencananya sendiri yaitu membuat aku dan kamu berteman dengan menyelesaikan misi bersama agar aku bisa berubah dengan kebodohan ini. Awalnya aku menolak namun sensei menggodaku dengan memberi satu kotak manga fujoshi limited edition yang tidak akan pernah di jual di manapun, akhirnya aku setuju dan tidak ku sangka semua pencapaianku berhasil dan kini kita berada di satu meja yang sama dan belajar bersama.” ucapnya mengatakan panjang lebar sambil melihat padaku.
Tanpa ku sadari pipiku jadi merah.
Kenapa aku tidak bisa tahan dengan godaan macam ini!?
“Jadi begitu ya, sayangnya aku juga sudah mengetahui itu dan aku juga merasa sangat senang karena bisa mengajarimu” ucapku tersenyum.
“Bo-bodoh! Jangan salah sangka aku hanya mengatakan itu agar kamu tau saja” aku melihat wajahnya jadi memerah.
“Sekarang mau ku ajari pelajaran apa?” ucapku memandang malas dia.
“Se-sejarah” ucapnya dengan suara yang kecil saking kecilnya tidak bisa ku dengar.
“Oii, kamu bilang apa?” ucapku.
“Cih” lalu dia menggertak. “Sejarah!” ucapnya dengan nada lantang.
“Heh? Kenapa memilih itu dulu?”
“Jangan banyak tanya! Sekarang mulai saja!” lalu dia memalingkan wajahnya padaku dan mulai mengeluarkan bukunya.
“Coba aku lihat buku sejarah itu” ucapku pada Mei-san, lalu Mei-san memberikan bukunya padaku.
“Aku yakin sekali soal yang akan datang adalah perang antara nihong dan tiongkok, lalu zaman prasejarah jepang, dan kekaisaran jepang juga akan ada pada ujian nanti, jadi kamu bisa menghapal dulu” ucapku memandang buku sejarah itu.
“Huh! Inilah alasanku tidak menyukai pelajaran sejarah karena terlalu banyak mengahapal” ucapnya pasrah.
“Bukannya kamu suka berteori Mei-san?” ucapku.
“Hanya saja jika soal pelajaran beda lagi” pipinya mulai memerah lagi, imutnya!
“Banyak alasan!” ucapku memandang rendah dia.
“Eh....” ucapnya dengan gugup.
“Baiklah kita mulai saja sekarang!”
Mei-san mulai menghapalkan pelajaran sejarah sementara aku sedang membuat soal test untuknya jika hapalannya telah selesai.
1,5 jam berlalu sepertinya Mei-san telah selesai membaca dan juga menghapal tapi aku masih ragu untuk memberikan test kepadanya.
“Mei-san, apakah kamu sudah siap jika ku beri test soal sekarang?” ucapku
__ADS_1
“Ahh te-tentu saja Takuya!” ucapnya, aku tau dia sebenarnya gugup.
“Ini soalnya, kamu kerjakan” aku memberi sebuah buku tulis yang terdapat soal yang kubuat disana.
“Astaga tulisan mu benar-benar rapih!” dia memujiku.
“Terimakasih” ucapku.
“Jangan salah paham! Aku hanya memuji tulisan ini” ucapnya seperti cewek tsundere.
Dia pun segera mengerjakan soalnya.
Aku melihat gerak-geriknya yang seolah dia itu bingung dengan soal yang kubuat.
“Soal ini sangat mudah loh, tidak mungkin juga baru menghapal langsung lupa” ucapku.
“Iya iya aku juga sedang berusaha ini” ucapnya lesu.
Aku hanya tersenyum melihat dia kebingungan seperti itu.
Setelah 15 menit berlalu Mei-san berhasil menyelesaikannya.
“Yosh!” ucapnya.
“Sudah selesai kah?”
“Iya, tapi besok saja di lihatnya” ucapnya malu.
“Tidak ada kata besok, langsung saja sekarang!” ucapku langsung mengambil kertasnya.
“Cih!” umpatnya.
“Oii! Apa ini!? Kenapa tulisannya begini!?” ucapku kebingungan saat melihat jawaban semuanya amburadul.
“Sangat sulit menulis kanji slogan penguatan militer itu” ucapnya seperti tidak bersalah.
Dia ini bodoh sekali!
“Kamu hanya perlu menulis memakai katakana nanti biar aku yang mengkoreksinya” ucapku
“Kenapa tidak bilang daritadi!” Mei-san mulai ngegas.
“Karena itulah kamu bodoh!” akupun ngegas juga.
“Aku tidak bodoh!”
Sontak kami jadi berdebat.
Lalu petugas perpustakaan membuat tanda agar tidak berisik.
“Sstttttt.....” ucap petugas perpustakaan.
“Tuhkan seharusnya kita tidak boleh berisik” ucapku memarahinya.
“Apa boleh buat, pelajaran olahraga telah selesai. Aku harus pergi ke pelajaran selanjutnya” ucapnya membereskan meja.
“Ahh benar juga, saat pulang sekolah kita ke ruang diskusi saja untuk melanjutkan pelajaran” ucapku.
“Aku setuju, sekalian aku di kelas nanti menghapal lebih banyak lagi” ucapnya jadi tersenyum.
“Baiklah kamu bisa kembali ke kelas sekarang” ucapku.
Lalu Mei-san pergi, sementara aku masih harus memikirkan strategi agar Mei-san lebih cepat menghapal.
Aku mungkin harus kembali ke kelas juga.
Sampainya dikelas jam pelajaran kosong, kami disuruh memahami kembali pelajaran matematika.
Yoshh ini kesempatanku untuk membuat soal sejarah yang sebelumya tidak bisa di kerjakan oleh Mei-san.
Lalu Wakuda-san menghampiri mejaku.
“Ano, Takuya! Sepertinya kamu sedang sibuk sekali” ucap Wakuda-san .
“Aku sedang membuat soal”
“Soal? Untuk siapa?” ucap Wakuda-san tidak tau.
“Menurutmu gaya mengajar apa yang diharuskan oleh guru agar si murid bisa cepat dalam menghapal” ucapku bertanya.
“Eh? Anu... Mungkin memberi materi lalu menjelaskannya” ucapnya.
“Begitu ya, yosh aku juga harus merangkum kata-kata intinya”
Aku memang tidak pernah salah jika bertanya padanya, dia itu memang bisa diandalkan.
“Eh?? Takuya, kamu semangat membuat soal ini untuk Mei-san kah?”
Aku terdiam.
“Ba-bagaimana kamu tau?” ucapku jadi malu.
“Soalnya terlihat sekali dari wajahmu” ucapnya tersenyum.
“Wajahku bagaimana emang?” mukaku mulai panas dan memerah.
“Kamu itu sangat peduli padanya, saat kamu bersamanya rasanya bukan seperti Takuya yang berhati dingin” dia tersenyum berseri lagi.
“Bu-bukan begitu! Aku hanya disuruh saja!” aku memalingkan wajah dari Wakuda-san.
“Ahahaha, mukamu sangat lucu jika seperti itu Takuya” dia pun tertawa.
“Jangan mengejekku seperti itu, lebih baik kamu menghapal sana” ucapku risih padanya.
“Benar juga, terima kasih Takuya”
“Kenapa harus berterima kasih coba” ucapku heran.
“Kamu juga sering membantuku jika aku kesulitan” lalu dia pergi menuju mejanya.
Astagaaa, justru dia yang membuatku deg-deg an karena perkataannya itu! Padahal kami sama-sama cowok tapi jika bersamanya rasanya berbeda.
...****************...
🎵Now Playing : 7!! - この広い空の下で (Kono Hiroi Sora no Shita de) / Dibawah Langit yang Sama
__ADS_1