Menyelesaikan Masalah Dan Permasalahan Remaja

Menyelesaikan Masalah Dan Permasalahan Remaja
Sejarah Kelam


__ADS_3


(Ilustrasi Takuya Danpachi dan Hiba Tatsuya)


...----------------...


Aku telah selesai membuat soal sejarah dan merangkum beberapa kata intinya untuk Mei-san serapih mungkin, semoga dengan ini dia benar-benar bisa menghapal dengan cepat.


Waktu menunjukan pukul 11:45 am dan akan segera menuju waktu istirahat.


Lalu saat aku ingin keluar mencari makan Tatsuya sepertinya menghalangi jalanku.


“Yoo Danpachi, ayo kita pergi ke kantin bersama” ucapnya ramah.


“Oii Tatsuya-kun kenapa kamu mengajak anak ini?” ucap Yokada-san yang tidak setuju.


Inilah mengapa aku tidak akan pernah menerima ajakan dia walaupun dia bersikap baik padaku, hanya saja teman-temannya itu selalu saja bersikap kasar dan rendah padaku, karena itu aku lebih menjauh dari nya atau seharusnya aku tidak pernah mengenal dirinya.


“Terima kasih, tapi aku harus menemui Akiko-Sensei” ucapku beralasan.


“Begitu ya, lain kali ayo kita berbicara seperti hal nya berteman Danpachi” dia tersenyum penuh.


“Ah i-iya” ucapku.


Lalu mereka pergi.


Dia itu apa-apaan coba sok baik seperti itu? Aku khawatir jika aku bersamanya dia malah mempermalukanku, lebih baik jangan pernah dekat dengannya Takuya.


Aku memeriksa sekitarku, suasana kantin begitu ramai, dan aku melihat stand yang menjual roti yakisoba. Pasti roti yakisoba itu akan habis jika tidak segera ku ambil tapi stand itu sangat ramai sekali tidak mungkin juga aku menerobosnya.


Dengan perasaan menyerah aku pergi menuju stand yang sepi saja, namun...


“Oii tunggu!” seseorang itu sepertinya berbicara padaku.


Lalu aku menoleh.


“Iya kenapa?” ucapku.


“Kamu itu si penyuka oppai besar itu kan?” ucapnya dengan nada lantang.


Oii dia mengatakan itu dengan keras, bagaimana jika ada yang mendengarnya bisa-bisa aku di cap tukang cabul beneran.


“Siapa ya?” ucapku tidak tau pria itu.


“Cih! Aku cowok yang di club badminton itu, ingat tidak? Yang diusir oleh kakak kelas yang seksi itu loh”


Aku memikirkan hal di club badminton lalu.


“Oh iya aku ingat” ucapku baru ingat.


“Kelamaan ah!” ucapnya membentakku.


“Jadi kenapa memanggilku?” ucapku memandang malas dia.


“Aku melihat dirimu memandang roti yakisoba itu! Karena kita ini sama-sama penyuka oppai besar maka aku...”


“Oii jangan samakan aku denganmu, lagian aku itu bukan penyuka oppai besar” ucapku memotong ucapan cowok aneh ini.


“Ehh, begitu ya? Jah ini aku berikan 1 untukmu” dia pun memberikanku roti dengan raut wajah sedih.


“Aku tidak tau kenapa kamu memberikan ini padaku” ucapku curiga.


“Roti ini aku beli tadi!! Aku juga takut ini kehabisan makanya aku beli dua, cih kenapa kamu begitu kepadaku!!” ucapnya dengan suara keras lagi. “Lagian aku tidak tega melihatmu seperti orang bodoh yang kelaparan begitu!!” ucapnya lagi.


“Ah... terima kasih” lalu aku menerimanya.


“Roti itu tidak gratis, kamu harus membayar 200 yen kepadaku!!!” ucapnya dengan lantang.


“Mahalnya!! di kantin saja hanya 100 yen, lagian kenapa aku harus bayar jika kamu memberikan ini padaku” ucapku sangat heran sekali pada orang aneh ini.


“Yahh karena aku tidak memiliki uang untuk pulang nanti!! Dan juga sekalian buruh aku mengantri tadi”


“Baiklah baiklah, terima kasih sudah mau peduli” tanpa pikir panjang aku langsung memberinya uang 200 yen.


Lalu dia merangkulku.


“Yosh, kamu memang anak baik. Oh iya siapa namamu?” ucapnya merangkul aku yang sebetulnya aku sangat risih karena dia sok kenal dan sok dekat padaku.


“Le-pas-kan!!!” ucapku, lalu dia melepakan rangkulannya. “Namaku Takuya” ucapku kesal.


“Terima Kasih Takuya!!” dia pun tersenyum lebar.


Akupun pergi karena merasa takut padanya, lalu aku menoleh ke belakang melihat wajahnya.


“Soal oppai, aku itu penyuka oppai tipe sedang” ucapku dengan senyum miring.


Lalu dia terpana.


“Takuyaaaaaa kamu hebat sekaliiiiii” ucapnya teriak dan membuat semua orang dikantin melihat.


Cih memalukan!


Aku langsung buru-buru pergi dan berharap tidak pernah bertemu dengan orang aneh itu lagi.


Benar-benar apes sekali hari ini, banyak orang bodoh juga ternyata di sekolah ini.


Aku kembali ke kelas lalu duduk dan mulai makan roti yakisoba ini, sungguh lezat nya....


Setelah itu,


Jam pelajaran selesai, aku langsung berlari menuju ruang diskusi untuk belajar bersama dengan Mei-san, entah kenapa dengan perasaan senang dan juga gugup kali ini.

__ADS_1



Aku sampai di ruang diskusi itu.


Dan membuka pintu.


Set....


Aku melihat Mei-san benar-benar serius belajar, aku terpaku melihatnya karena dia begitu cantik jika kalem seperti ini.


“Yoo halo” ucapku memecahkan keheningan ini.


“Takuya?” ucapnya heran.


“Eh? Kenapa?”


“Tidak! Hanya saja aku tidak mendengarmu membuka pintu”


“Karena kamu sangat serius membaca buku sejarah itu Mei-san” ucapku tersenyum.


“Sepertinya!”


Lalu aku duduk bersebelahan dengannya.


“Bagaimana? Sudah hapal kah?” ucapku.


“Sudah sih, tapi aku masih harus memikirkan beberapa kosakata yang sulit ku mengerti seperti percakapan Takeda Shingen dan musuhnya Uesugi Kenshin” ucapnya.


“Oh yang materi pertempuran Kawanakajima? Tenang saja aku sudah merangkum semuanya di dalam bukuku ini, kamu bisa mengahapalnya” ucapku memberikan bukuku yang sudah ku rangkum materi sejarah.


“Heh! Takuya? Sejak kapan?” dia kaget.


“Ke-kenapa Mei-san?” aku mulai gugup lagi.


“Kenapa kamu baik seperti itu? Jangan-jangan...” ucapnya mengamankan tubuhnya itu.


“Woii, aku tidak berpikir yang mesum-mesum tau!” aku menjadi kesal karena sifatnya itu.


“Heh? Benarkah? Soalnya aku sangat takut kalo kamu baik seperti itu padaku” ucapnya dengan tatapan tajam itu.


“Cihh! Jadi harus ku kasari begitu!?” ucapku mamandang kesal dia.


“Ehh, soal itu... Boleh saja kok” ucapnya malu-malu dengan wajah memerah.


Aku kaget, ternyata benar dugaanku dia ini cewek masokis. Astagaaa bagaimana bisa aku berhadapan dengan gadis aneh ini.


“Takuya? Kamu baik-baik saja kah?” ucapnya.


“Tentu saja tidak!” tegasku.


“Hehe, kamu mulai terangsang ya?” muka Mei-san pun berubah menjadi seperti tampang mesum.


“Hentikan! Hentikan!” ucapku mulai terbawa suasana olehnya.


Cihh! aku ini tetap saja lelaki, dasar tidak tau malu!


“Baiklah kita mulai saja pembelajarannya, dan berhentilah membuat kata-kata mesum itu!” ucapku penuh kesal dengannya yang tidak henti-hentinya bercanda.


“Baiklah Pak Takuya yang cabul”


“Bisakah kamu hentikan seolah-olah aku ini om om mesum?”


“Baiklah Takuya bajingan!” ucapnya membentakku.


“Nah begitu tapi jangan pake bajingan juga”


“Berisik! Aku mau ngapalin nih!” dia pun jadi memarahiku.


“Oke oke maaf deh”


Lalu kami berdua mulai serius dengan membaca buku.


Kurang dari 10 menit dia menghentikan membacanya itu.


“Takuyaaa!! Aku sudah selesai dan sekarang beri aku soal test”


“Cepatnya, memangnya beneran kamu menghapal?” ucapku tidak yakin.


“Tenang saja! Aku sudah menghapal tadi di kelas dan sekarang aku mulai mengerti berkat rangkumanmu ini” dia berubah jadi penuh energi.


“Baguslah, sekarang kerjakan semuanya” ucapku memberikan kertas berisi soal kepada Mei-san.


“Heh, jangan menganggap rendah diriku ini ya”


Terdapat 25 soal berisi pilihan ganda, aku yakin dia akan kesulitan haha.


“Yoshh, selesai” ucapnya sambil mengelap keringat.


Tidak kurang dari 10 menit dia selesai mengerjakan soal sejarah.


“Memang cepat sih, tapi kita lihat hasilnya” ucapku.


“Hah! Lihat saja” ucapnya penuh percaya diri.


Aku menilai hasil test miliki Mei-san dan sepertinya dia berhasil kali ini.


“Wahh, hanya ada salah 1 dari 25 soal, kamu hebat sekali Mei-san!” pujiku.


“Aku kan sudah bilang jangan menganggap rendah diriku” ekspresinya penuh sombong.


“Baiklah kita test secara lisan” ucapku.

__ADS_1


“Heh! Ke-kenapa harus lisan!”


“Hanya membuktikan kamu ini bisa apa tidak”


“Cih! Sialan sekali kamu Takuya memandang rendah diriku” tatapan seramnya muncul.


“Hehehe, baiklah aku mulai!”


Aku kemudian memberi test lisan padanya


“Dalam pertempuran, Takeda Shingen yang dijuluki "Harimau dari Kai" mengibarkan bendera perang yang disebut?”


“Hah mudah sekali” ucapnya penuh percaya diri. “Fūrinkazan!”


“Bisa kamu jelaskan apa itu Fuurinkazan?” ucapku yang ingin sekali dia kalah dalam test ini.


“Fūrinkazan secara harfiah berarti angin, hutan, api, gunung yang merupakan strategi perang yang digunakan Takeda Shingen” ucapnya.


“Wow, sudah sejauh itu kamu menghapal. Baiklah kita coba ke pertanyaan sulit” ucapku.


Kita jadi bersaing seperti pertempuran cerdas cermat versi neraka.


“Apa yang dimaksud dengan pembaruan Taika?” ucapku.


“Ahh sepertinya aku membacanya di bukumu itu” ucapnya “Pembaruan Taika adalah perintah kekaisaran untuk pembaruan pemerintahan yang dikeluarkan Kaisar Kōtoku pada tahun 645” ucapnya memandang tajam kearahku.


Aku bingung bagaimana dia bisa menghapal kurang dari sehari dan bisa sepasih itu menjawabnya. Kali ini aku berkeringat dingin.


“Di peristiwa 645 itu apa yang terjadi oleh Pangeran Naka no Oe?”


“Mereka membunuhnya” ucap Mei-san dengan singkat.


“Membunuh siapa?” ucapku memberi pertanyaan lagi.


“Pangeran Naka no Oe dibantu oleh ayahnya bernama Nakatomi no Kamitari bersekongkol untuk membunuh Clan Soga dan dia membawa putranya bernama Pangeran Naka no Oe untuk membunuh clan itu”


Lalu disana aku mendengar sekilas ada Azumi-senpai dan Shouyo-senpai datang dan menyapa kami, tapi aku dan Mei-san menghiraukan mereka, kami sama-sama harus berjuang dalam soal sejarah ini!


Kami disana sangat tegang dan serius, aku menyebutnya pertempuran cerdas cermat versi neraka, karena suasanya sangat panas dan mencekam.


“Ehh mereka begitu serius ya? Sampai tidak mendengarkan kita menyapa” ucap Azumi-senpai.


“A-ayo kita pergi saja, disini suasanya aneh” ucap Shouyo-senpai ketakutan.


“Ahh, mereka itu memang tidak pernah akur ya, berdebat saja harus memiliki energi negatif seperti ini hahaha ” ucapnya tertawa.


“Ayo Azumi-san kita pergi, lebih baik kita berduaan di kantin” ucap Shouyo-senpai.


Kemudian mereka pergi.


Lalu kami masih melanjutkan soal tadi yang dijawab Mei-san.


“Apa alasan mereka membunuh Clan Soga?” ucapku.


“Tentu saja karena mereka tidak menginginkan kendali pemerintah berada di tangan Clan Soga karena pemerintahan dibawah clan Soga itu sangat sewenang-wenangnya. Kamu mau tau siapa yang mereka bunuh duluan?” tambah Mei-san.


“Siapa?” ucapku memandang tajam dia.


“Soga no Iruka! Seorang politikus, pembunuhannya terjadi pada tanggal 10 Juli 645”


“Akan kujelaskan secara detail. Saat itu di Istana mengadakan sebuah upacara kenegaraan saat memorial dari cerita Tiga Negara Korea yang dibacakan oleh Ishikawa no Maro kepada Ratu Kogyoku”


“Pangeran Naka no Oe sudah mempersiapkan pembunuhan itu secara matang dan juga rumit. Pertama dia harus menutup gerbang istana yang pasti sangat sulit karena beberapa pasukan dari Soga no Iruka sangat banyak, karena itu dia menyuap beberapa pengawal istana. Pengawal istana itu diberi tugas masing-masing, seperti grup A berada di kawasan gerbang Istana dan grup B yang berisi 4 orang pengawal mengikuti si Pangeran untuk merancanakan pembunuhan dengan menyembunyikan tombak dalam aula upacara berlangsung. Namun, 4 orang yang dia suap untuk mengikutinya secara langsung mundur dari perintah karena terlalu takut dengan banyaknya pasukan di Clan Soga itu.” sambil melihat ke arahku Mei-san masih meneruskan sejarah kekaisaran itu.


“Lalu dengan bergegas Pangeran Naka no Oe langsung membunuh Soga no Iruka dengan tangannya sendiri yaitu dengan cara menggorok lehernya lalu mencabik bahunya menggunakan tombak tajam itu” seketika dia berubah dengan mukanya yang pyscho itu. Aku menatap dia dengan merinding.


“Bukannya mati Soga no Iruka malah meminta mohon kepada si Pangeran karena dia tidak bersalah atas pemerintahannya itu, lalu si Pangeran merasa bahwa apa yang dikatakan Soga no Iruka itu harus diselidiki dan dia jadi tidak niat membunuhnya, namun saat Soga no Iruka sedang sekarat malah keempat pasukannya membunuh si Iruka itu, dan alhasil dia pun mati.”


“Ayahnya Iruka bernama Soga no Emishi melihat kejadian anaknya yang mati dengan segera dia membakar rumahnya dan setelah itu membakar dirinya sendiri peristiwa bunuh diri itu terjadi di hadapan Ratu Kōgyoku langsung”


“Pokoknya Clan Soga berhasil di basmi  Setelah itu pemerintahannya di ambil alih oleh putra dari Nakatomi no Kamatari yaitu Pangeran Naka no Oe yang sekaligus pangeran pemilik mahkota.”


Setekah bercerita panjang lebar dia pun duduk.


Aku hanya terpana menyaksikan dia begitu hebat dalam membawakan sejarah dari peristiwa 645 itu.


“Wow Mei-san kamu benar-benar hebat!” aku menyanjunginya.


“Hah! Belum seberapa masih banyak kok yang sudah aku tau, jika aku belajar dengan serius tanpa membaca manga aku pasti sudah menjadi anak paling pintar” sombongnya.


“Sejarah itu kelam sekali menurutku, walau hanya test sejarah peristiwa 645 tapi dengan ini aku yakin kamu bisa” ucapku


“Ah... I-iyaa memang, apalagi dengan ilustrasi memenggal Iruka itu membuat aku membayangkan kejadiannya apalagi saat sekarat”


“Woi jangan berbicara seperti itu pada orang yang telah meninggal”


“Ahaha, maaf maaf hanya saja ternyata pelajaran sejarah cukup menyenangkan juga” dia pun tertunduk dengan muka merah.


Melihat itu akupun ikut tersipu.


“Selanjutnya aku mau matematika!” ucapnya semangat.


“Ahh mengenai itu, tadi barusan ada pelajaran matematika jadi aku mau kamu membaca bukuku ini, tentu saja ini lengkap agar kamu paham” ucapku masih dengan wajah merah itu.


“Terima kasih Takuya” ucapnya tersenyum hangat padaku. Untuk pertama kalinya aku merasakan hal aneh.


Hari tidak terasa sudah sore, Mei-san segera mencari Shouyo-senpai dan Azumi-senpai, dan aku juga harus menjemput Mutsuke-chan di club cheerleader yang sudah janji akan pulang bersama.



...****************...

__ADS_1


🎵Now Playing : Kana Nishino - If


__ADS_2