Menyelesaikan Masalah Dan Permasalahan Remaja

Menyelesaikan Masalah Dan Permasalahan Remaja
Sore yang Dingin


__ADS_3

“Hanya terlihat baik belum tentu dalamnya baik juga, seperti itulah telur busuk” - Takuya Danpachi yang bernasib sial



Jam pelajaran telah usai, saatnya murid untuk pulang atau mengikuti kegiatan lainnya.


Masih dengan perasaan kesal karena soal ulang tahun tadi, tapi aku berusaha melupakannya.


Aku kini berjalan menuju ruang diskusi untuk belajar matematika bersama Mei-san.


Lalu ku buka pintu ruang itu


Ternyata masih dikunci, Mei-san belum datang dan aku memutuskan untuk duduk bersandar di tembok.


“Takuya?”


Aku menoleh dan ada Mei-san yang hendak membuka pintu ruang diskusi itu.


“Tumben sekali cepat kesini” ucapnya tatapan lemas.


“Justru kamu yang tumben terlambat” ucapku membalikan.


“Ah tadi aku menghapal dulu sebentar dikelas karena tanggung”


Aku tersenyum karena dia juga sedang berusaha memperbaiki nilainya.


“Kenapa kamu tersenyum? Apa jangan-jangan...” ucapnya sambil mengamankan tubuhnya itu.


“Aku tidak berpikir begitu!” ucapku.


“Baiklah baiklah” lalu dia masuk ke ruangan itu.


Dan kini kita berdua tengah duduk sambil mengeluarkan buku pelajaran.


“Takuyaaa aku sudah menghapal semua pelajaran matematikan mulai dari trigonometri, persamaan linier, logaritma dan masih banyak lagi” ucap Mei-san senang.


“Baguslah” ucapku tersenyum.


“Kamu tidak perlu memberiku test, aku susah mengerjakan beberapa latihan soal di bukuku, kamu bisa mengeceknya” ucapnya memperlihatkan bukunya.


Dan aku mulai mengecek jawaban soal Mei-san. Memang mengejutkan sekali soal matematika berhasil dia selesaikan dengan benar.


“Ahh ini semuanya benar” ucapku kaget sekaligus senang.


“Aku sekarang bukanlah Reita yang bodoh lagi karena ingin membuktikan padamu bahwa aku juga bisa” ucapnya sombong.


“Aku percaya kamu bisa melakukannya Mei-san” Aku pun tersenyum kecil.


“Takuya?” dia kemudian memanggilku.


“Iya kenapa?”


“Kamu baik-baik saja kah?”


“Eh??”


“Soalnya hari ini kamu terlihat lesu, mau ku buatkan kopi atau teh untukmu?” ucapnya menawariku.


“Mi-minuman?” ucapku bingung.


“Minum teh panas atau kopi panas membantu kamu rileks, nah sekarang pilih mau kopi apa teh?” ucapnya membawa sebuah termos dan gelas disini karena ini membuatku aneh.


“Sejak kapan kamu membawa termos itu Mei-san?” aku benar tidak habis pikir lagi padanya.


“Karena aku sangat suka minuman hangat agar pikiranku tenang, jadi sekalian saja aku bawa termos kesini” ucapnya tersenyum.


“Iya tidak apa-apa juga sih, tapi itu aneh”


“Hehe, ayo cepat kamu pilih mau yang mana?”


“Kopi deh”


“Baiklahh akan kubuatkan” Lalu Mei-san membuatkan kopi untukku. Aroma kopinya benar-benar tercium harum sekali.


Lalu dia menyuguhkan kopi itu padaku.


“Terimakasih Mei-san” aku tersenyum malu kali ini.


Lalu didalam ruangan diskusi ini kami meminum minuman panas ini bersama.


Rasanya lega sekali setelah minum kopi buatan Mei-san ditengah cuaca dingin seperti ini.


Lalu Mei-san menundukan kepalanya sedikit


“Takuya aku tau kita hanya sekedar menyelesaikan misi bersama bukan sebagai teman sungguhan, tapi jika kamu memiliki masalah kamu bisa menceritakan padaku dan aku siap mendengarkanmu atau membantumu juga boleh kok” ucapnya dengan nada lembut yang sejujurnya ini membuatku nyaman dengannya.


Aku hanya tersenyum kecil lagi padanya dengan wajah memerah.


“Terimakasih Mei-san, ngomong-ngomong kenapa kamu jadi peduli padaku?” ucapku balik menanyakan padanya.


Lalu wajahnya memerah malu yang sebetulnya sangat imut.


“Yaaa kamu juga yang membuat aku jadi rajin belajar seperti ini dan aku juga sepertinya harus membalas perbuatanmu itu”


Lalu aku bertanya pada Mei-san yang ingin sekali ku tanyakan padanya.


“Jika misalnya Akiko-sensei tidak lagi memberi kita sebuah misi, apakah kita akan terus berteman Mei-san?” ucapku memandang wajahnya.


“Heh? Yaaa soal itu aku memikirkannya juga, karena mungkin aku tidak akan selamanya bergantung pada Toruu-san dan Maida-san, mereka juga sebentar lagi mau lulus dari sekolah ini, jadi kupikir mendapatkan teman walau satu itu sangat berguna bagiku” ucapnya dengan wajah memerah itu lagi.


“Aku juga ingin kita terus berteman Mei-san” ucapku tersenyum kecil.


“Heh?? Ahh iya ten-tentu saja! Takuya” dia mulai salting.


Lalu pintu ruang terbuka

__ADS_1


Set...


“Takuyaaa!”


Wakuda-san ada disini.


“Soal tadi aku minta maaf ya” ucapnya dengan raut wajah sedih menghampiriku.


“Aku sudah bilang tidak masalah” ucapku sedikit gugup.


“Eh kalian kenapa?” ucap Mei-san yang bingung.


Lalu aku menjelaskan semuanya.


“Begitu ya, jadi hanya karena tidak diajak briefing soal ulang tahun Daikou, pantas saja kamu tadi terlihat murung” ucapnya dengan tangan berada di dagunya.


“Menurutku Amano juga tidak bersalah, karena memang disuruh oleh mereka juga” dia pun menambahkan.


“Iyaa soal itu... Aku juga sudah melupakannya sih, karena ini salahku juga jarang berbicara pada semua teman sekelasku”


“Kamu memang introvert akut, Takuya” ucapnya dengan senyuman.


“Iyaa setidaknya aku sekarang memiliki kegiatan yang berfaedah”


“Berada di ruangan ini menjadi kegiatan berfaedah?” ucapnya memberi jawaban kepadaku.


“Iya itu benar” ucapku.


“Heh?? Jadi benar ya kalian sedang belajar bersama” ucap Wakuda-san.


“Ayo Amano juga ikut bergabunglah sekalian ku buatkan teh buatmu” ajak Mei-san.


“Heh!! Ada acara minum teh juga ya, tentu saja aku ikut!” ucap Wakuda-san semangat.


Lalu Wakuda-san duduk dan bergabung dengan kami.


“Selanjutnya pelajaran apa yang ingin kamu hapalkan Mei-san” ucapku.


“Sekarang pelajaran olahraga!” ucapnya semangat.


“Woii itukan tidak dihapal tapi tinggal praktek saat jam pelajaran olahraga” ucapku memandang aneh dia.


“Bagaimana dengan sains?” ucap Wakuda-san menyarankan.


“Ahh iya benar juga” ucap Mei-san.


“Yosh, baiklah kita mulai belajar sains!” ucapku sambil mengeluarkan buku paket sainsku.


Kami mulai belajar sekarang!


Ujian tinggal 1 minggu 5 hari lagi!


Wakuda-san dan Mei-san kali ini saling berbagi informasi mengenai sains dan sejujurnya aku sangat suka belajar bersama ini.


Setelah setengah jam kita belajar....


Set...


Azumi-senpai dan Shouyo-senpai datang.


“Halooo” ucap Azumi-senpai yang ceria seperti biasa.


“Heh?? Belajar tidak ajak-ajak nih” ucap Shouyo-senpai yang melihat-lihat kesini.


“Selamat datang” ucap Mei-san.


“Reita... Reita... Jika nilai ulanganmu bagus saat ujian nanti aku traktir loh makan di restoran yang bagus” ucap Azumi-senpai menghampiri Mei-san.


“Ahh, Maida-san jangan repot-repot” ucap Mei-san malu-malu.


“Tidak masalah!! kapan lagi kita akan makan bersama-sama direstoran mewah, ya kan Takuya-kun? sekalian juga kita akan merayakan perpisahan kita!!” ucap Azumi-senpai melihat ke arahku.


Aku mulai risih dia menatapku begitu.


Seperti, Takuya kamu harus bersama dengannya selalu!


“Ahh aku tidak usah terima kasih” ucapku pura-pura melihat ke arah lain.


“Pokoknya kamu juga harus ikut dan Amano-kun juga ikut oke!”


Wakuda-san mengangguk senang.


Azumi-senpai itu memang orang yang energic sekali, sepertinya Mei-san akan sedih jika mereka berdua sudah lulus nanti.


“Baiklah aku dan Wakuda-san ikut juga” ucapku.


“Yohooo, aku percayakan usaha kalian!! Dan makan-makan!!!!” ucap Shouyo-senpai sangat girang.


Suasana ruangan yang tadinya tenang berkat adanya dua pasangan ini jadi ramai karena kita tertawa ria disini.


Memang benar apa yang dikatakan Wakuda-san rasanya memang bukan seperti Takuya yang dingin lagi jika bersama dengan mereka itu.


Dan juga saat Azumi-senpai mengatakan bahwa kami akan berpisah dari sekolah ini rasanya berat sekali mengingat mereka juga lah sang penyemangat di tim kita.


...****************...


Waktu sudah menunjukan pukul enam sore, aku sudah berada di luar sekolah untuk membeli coke di vending machine.


Sementara itu Wakuda-san sudah pulang. Azumi-senpai dan Shouyo-senpai masih didalam sekolah karena ada urusan sebentar.


Lalu Mei-san ada disini juga sedang duduk menunggu.


“Ini ku belikan satu untukmu” ucapku memberi dia minuman susu kaleng.


Lalu dia mengeluarkan sejumlah uang padaku.

__ADS_1


“Ahh tidak usah bayar aku traktir”


“Heh? Ah iya terimakasih” lalu dia menerimanya.


“Tidak terasa sekarang sudah musim dingin lagi” ucapku.


“Kamu Benar, musim yang selalu kutunggu-tunggu adalah musim dingin” ucapnya.


“Kenapa kamu menunggu musim dingin?” tanyaku.


“Entahlah, mungkin karena suasana dinginnya yang membuatku nyaman”


Aku memandang heran dia.


Dan aku melihat juga ada banyak orang dari club sepak bola hendak pulang.


Lalu Mei-san dengan bergegas pergi.


“Woii, Mei-san mau kemana?” ucapku memanggilnya dengan keras.


“Diam saja dulu disana” ucapnya menyuruhku diam disini.


Sepertinya dia mau ke toilet.


“Danpachi!” ucap suara seperti Tatsuya dan memang benar dia.


“Kamu belum pulang ternyata” ucapnya menghampiriku.


“Ahh iya aku sedang menunggu seseorang” ucapku.


“Belakangan ini kamu sangat sibuk ya Danpachi” ucapnya.


“Memangnya kenapa?” ucapku memandang kesal dia.


“Soalnya kamu itu bisa melakukan hal apa saja” ucapnya dengan nada menyentuh.


Apa dia itu ingin mengejekku? Lebih baik aku hiraukan dia saja!


“Ahh ini hampir malam, aku harus pergi” ucapku yang hendak meninggalkannya.


“Danpachi!” dia memanggilku yang membuat langkahku terhenti.


“Iya?” ucapku.


“Apakah kamu menghindarku?” ucapnya murung.


Bi-bicara apa dia ini!


Momen ini seperti seseorang yang hendak menyatakan perasaannya, tapi sejujurnya aku muak juga dengan situsi tegang ini, tapi harus ku jawab agar dia puas dan tidak pernah menggangguku lagi.


“Tolong menjauhlah dariku Tatsuya, maaf” ucapku yang agak bodoh juga kenapa harus mengatakan itu!


“Heh?” kagetnya.


Aku sebetulnya tidak ingin melihat wajahnya sama sekali karena aku tau wajahnya tampak sedih.


“Aku juga bukanlah orang yang baik seperti yang kamu kira, tapi aku sangat membukakan selalu pintu pertemanan jika kamu bersedia” ucapnya.


“Bagaimana dengan temanmu? Apakah menurutmu dia juga akan memperlakukanku dengan baik?” ucapku yang membuat dia terpojok.


“Kalau begitu aku bisa menjauhi Hataruki dan yang lainnya jika kamu mau” ucapnya.


Heh?


Di-dia ini terobsesi padaku kah!!!


“Cihh, jangan mengatakan hal itu! lagian bukan itu yang aku inginkan” ucapku malu.


“Kalau begitu apa yang harus ku lakukan?” ucap Tatsuya.


“Diam saja seperti biasa, aku tidak mau apa-apa darimu!” sekarang aku agak risih dengannya.


“Baiklah, aku harap kita bisa berteman dengan normal tanpa rasa bersaing seperti ini” dia pun melakukan senyuman manis itu lagi.


Sial!


“Kalau begitu aku pergi dulu” ucapku yang kemudian berlari mencari Mei-san.


Sial


Sial


Sial


Kenapa dia berbicara seperti itu, rasanya mau muntah!!!


Aku berlari sejauh mungkin agar terhindar dari Tatsuya si jeruk pemakan jeruk itu!


Aku masuk kembali ke dalam sekolah, namun sudah tidak ada siapa-siapa, dan aku mengecek ponselku dan benar saja Shouyo-senpai mengirim pesan padaku.


“Kami duluan Danpachi! Meijima ada bersama kami” isi teks pesan dari Shouyo-senpai.


Pada akhirnya aku pulang sendiri.


Baiklah aku pulang sekarang....


Hari ini benar-benar hari yang paling gila menurutku.


Rasanya jadi ingin mandi dengan air hangat! Pulang nanti aku langsung mandi deh biar rileks otakku yang mumet ini.


Jadi ingin lagi di buatkan kopi oleh Mei-san seperti tadi.


Aku memikirkan beberapa poin penting tadi, seharusnya jika ada orang yang mengajak berteman terima saja kenapa malah kutolak, tentu saja ini berbeda yang kutolak ini adalah Tatsuya, kenapa akh menolaknya? Bisa saja mereka hanya mempermainkanku karena bukan sekali dua kali teman sekelasku melakukan perbuatan jail padaku kecuali Wakuda-san, karena itu aku harus berhati-hati. Berbeda lagi dengan Mei-san, Mutsuke-chan, Wakuda-san, Akiko-sensei, Shouyo-senpai dan Azumi-senpai yang menerima aku yang seperti ini.


__ADS_1


...****************...


🎵Now Playin : Kana Nishino - If


__ADS_2