Menyelesaikan Masalah Dan Permasalahan Remaja

Menyelesaikan Masalah Dan Permasalahan Remaja
Kena Kau!


__ADS_3


(Ilustrasi dari Okito Sano)


...----------------...


“Heh?” ucap Mei-san dengan tersenyum tipis.


“Baiklah aku harus pergi” ucapku pada Mei-san.


“Lebih baik kamu istirahat dulu, melihatmu normal saja sudah jelek apalagi dengan wajah masam seperti itu jadi makin jelek” ucapnya mengejekku.


“Tidak ada waktu untuk itu!” ucapku kini meninggalkan Mei-san.


“Takuya! Aku akan bekerja di akhir saja setelah kamu mati!” ucap Mei-san berteriak.


Dia ini membuatku menjadi gila.


...****************...


Ada saatnya aku harus melakukan sendirian dengan caraku sendiri dan pemikiranku sendiri tanpa mengandalkan orang lain, aku yang kini hanya memikirkan ego sendiri tanpa memperdulikan rasa kesalahan orang lain karena amarah yang begitu meluap seakan-akan ingin segera meletus.


Aku harus pergi ke tempat Mutsuke-chan, karena sebentar lagi hampir istirahat dan sepertinya memang harus kumulai di jam istirahat saja.


Tot... Tot... Tot...


Bel istirahat berbunyi, aku masuk ke kelasnya di kelas 1-H


Aku melihat dia yang hendak makan dengan temannya.


“Mutsuke! Ayo berbicara sebentar” ucapku langsung menggandeng tangannya.


“Eh senpai, kenapa ini?” ucap Mutsuke-chan yang bingung.


Maafkan aku Mutsuke-chan aku tidak bermaksud menyakitimu tapi kali ini aku harus sedikit lebih kasar.


“Dia pacarmu ya Riri?” ucap salah satu temannya.


“Iya aku pacarnya, jadi aku pinjam dia sebentar” ucapku serius.


“Eh? Senpai?”


Aku menggandengnya dengan kuat.


“Senpai lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri!” ucapnya membentakku.


“Kalau begitu percepat lah”


“Sebenarnya kamu itu kenapa? Dan kita akan kemana?”


“Ke ruang osis, cepatlah kita tidak ada waktu”


“Kenapa kamu ini jadi memarahiku?”


“Aku tidak marah”


“Tapi kamu tidak seperti biasanya”


Cihh kenapa banyak nanya sekali!


“Senpai! Jawab aku!”


“Aku akan menjawabnya saat di ruang osis nanti”


Kami sampai di ruang Osis dan ada Sanae-senpai ketua Osis juga Sano-senpai wakil ketua Osis, baguslah mereka ada disini.


“Aku membawa korbannya” ucapku.


“Heh?” ucap Sanae-senpai sempat bingung.


“Senpai kamu ini bicara apa?” Mutsuke-chan jadi gugup.


“Mungkin kalian bisa menanyakannya” ucapku lagi.


“Astaga anak ini” Sano-senpai kemudian menghampiri Mutsuke-chan.


“Anak ini bilang bahwa kamu dirundung dan juga di terror secara seksual, apa itu benar?”


“Apa?” ekspresi Mutsuke-chan benar-benar jadi tambah takut.


“Jawab saja” ucapku padanya.


“Senpai. Kamu ini benar-benar ya mana mungkin aku dirundung dan diperlakukan seperti itu” ucapnya tersenyum.


Apa!!!? Kenapa dia tidak mau jujur!


“Oii Mutsuke-chan kenapa kamu bo-”


“Takuya Danpachi! Aku benar-benar muak denganmu kali ini!” Sano-senpai kesal denganku.


“Kamu tau kesalahanmu? Yaitu Memberontak, Menuduh, Melecehkan, dan juga Berbohong” ucapnya.


“Hah? Aku tidak melakukan semua itu, Mutsuke-chan apa salahnya kamu berkata jujur!?” ucapku marah.


“Senpai seharusnya kamu istirahat dan makanlah” ucap Mutsuke-chan.


“Ehem!” suara batuk di buat ini adalah suara Sanae-senpai. “Bisakah kalian tenang?”


“Oii! Kalian ini Osis kan? Kenapa tidak memanggil para seksi kemanan dan melakukan investigasi sana!” ucapku kesal.


“Karena tidak ada laporan tentang kasus perundungan dan juga pelecahan secara online” ucap Sano-senpai.


“Jadi harus ada kejadian dulu baru kalian akan bertindak!? Cih sepertinya percuma saja”


Aku meninggalkan mereka dan kini aku sangat frustasi.


Bagaimana caranya?


Kenapa aku tidak bisa melakukannya?


Ohh ayolah Takuya bodoh!


Isi otakku kali ini seperti itu.


Aku kembali ke kelas dan merenungkan semua kejadian buruk yang tadi, aku lelah tapi aku tidak bisa ingin berdiam. Semua orang di kelas memandang jijik padaku kali ini benar-benar jijik.


“Takuya?” ucap seseorang


Aku menoleh ternyata itu Wakuda-san.


“Apa yang terjadi? Kamu sepertinya kelelahan”


“Tidak ada”


“Lebih baik kamu meminta bantuan kepada Reita”


“Jangan menyebut namanya”


“Baiklah aku tau, tapi jika pemikiranmu sudah habis sempatkan datang padanya oke” Wakuda-san pergi ke kursinya.


Tapi memang benar kini pemikiranku sudah habis aku tidak memiliki cara lain. Wakuda-san benar aku harus datang pada Mei-san!


Jam pelajaran selesai. Aku tidak ada mengikuti pelajaran tambahan kali ini, saat ini aku harus pergi ke ruangan diskusi.


Aku membuka pintu itu sedikit dan melihat Mei-san sedang membaca buku, namun di belakangku ada seseorang memanggilku.


“Takuya-kun!” suara itu berasal dari Azumi-senpai.


“Wahh, jadi kamu sedang mengintip Meijima ya” ucap Shouyo-senpai yang tersenyum.

__ADS_1


“Bu-bukan begitu” ucapku malu.


“Ahh jangan malu-malu, masa remaja itu memang begitu kok”


Lalu Shouyo-senpai membuka pintu itu.


“Selamat datang” ucap Mei-san.


“Nee, Reita tadi Takuya-kun mengintipmu loh” ucap Azumi-senpai.


“Heh! Benarkah? Sudah kuduga dia ini pria cabul” ucap Mei-san sambil mengamankan tubuhnya.


Oii bisakah kalian hentikan!


“Maaf tidak ada basa-basi kali ini” ucapku.


“Wah, wah. Takuya sudah berbicara serius kali ini” ucap Mei-san.


“Aku ingin meminta bantuan kalian”


“Akhirnya kamu mau juga. Baiklah, aku hanya memberimu saran dan kamu yang akan melakukannya” ucap Mei-san.


“Ucapanku yang akan bekerja di akhir saja setelah kamu mati, aku serius loh” dia kembali menambahkan.


“Kata-katamu menyeramkan sekali Meijima” ucap Shouyo-senpai ketakutan.


“Saran apa itu?” ucapku pada Mei-san.


“Temui Mutsuke-chan kembali dan lakukanlah hal yang brutal” ucapnya.


“Oii kamu jangan main-main” ucapku memandang jijik dia.


“Aku serius!” ucap dia kembali dengan wajah memerah.


“Bagaimana caranya?” ucapku memandang tajamnya.


“Pikirkan sendiri! Oh iya Toruu-san dan Meida-san akan selalu ada dibelakangmu, jika ada hal yang tidak-tidak” ucap Mei-san.


“Serahkan saja pada kami, Danpachi boleh aku minta nomor hp mu?” ucap Shouyo-senpai.


“Soal itu aku lupa tidak membawa hp”


“Dasar tidak berguna, kalau begitu kita harus tetap ada dibelakangnya tapi jangan membuat gerak-gerik mencurigakan” ucap Shouyo-senpai.


“Baiklah aku percaya pada kalian kakak-kakakku” ucap Mei-san tersenyum.


Kami melakukan operasi 'Hal Brutal' kali ini.


Aku, Shouyo-senpai, dan Azumi-senpai melakukan misi hari ini. Mereka berdua ada di belakangku melihat sekitar sementara aku memancing si pelaku.


Pertama : Cari Mutsuke-chan dikelas.


Tanpa lama aku berhasil menemukannya di kelas.


Melihatnya jadi merasa malu dengan perbuatanku tadi.


“Eh senpai?” ucapnya melihatku di luar kelasnya.


“Mutsuke-chan aku minta maaf atas kejadian tadi” ucapku menundukkan kepalaku.


“Aku juga minta maaf karena tidak mau jujur karena aku sangat malu ada Sanae-senpai disana” ucapnya.


“Tidak masalah bagiku saat itu aku hanya terbawa emosi saja, mau kah kamu ikut denganku?” ucapku


“Kemana senpai?” ucapku


“Aku mau mengatakan perasaanku padamu” ucapku dengan wajah memerah begitupun juga Mutsuke-chan.


“Eh senpai?”


Kedua : Membawa dia ke taman


Jahhh dimana kau sekarang? Aku tau si penguntit itu ada disini mengikuti kita tapi aku masih tidak tau dimana mereka bersembunyi.


Baiklah mau tidak mau aku harus melakukan hal brutal pada Mutsuke-chan.


Kali ini aku menyedernya di tembok dan kita berhadapan sangat dekat sekarang.


Sial! Dia begitu imut!


“Se-senpai!” ucap Mutsuke-chan gugup.


Aku mulai mendekatkan wajahku pada wajah Mutsuke-chan.


“Sstt... Aku hanya ingin...” aku memegang pundaknya dan kita akan berciuman.


Saat aku hampir menciumnya lalu...


“Hentikan!!!! Dasar orang jelek!! kamu tidak pantas dengan Riri milikku!!” seseorang menghentikan aksiku. Dia pelakunya!


Kena kau!


Dia akhirnya kena jebakanku.


Lalu dengan cepat Shouyo-senpai dan Azumi-senpai menangkap si pria itu.


“Senpai bodoh!” Mutsuke-chan lalu berlari.


Lalu ada Mei-san dengan cepat mengejar Mutsuke-chan juga.


“Danpachi cepat kejar mereka! biar kami yang urus orang cabul ini” ucap Shouyo-senpai yang sedang menghadang orang itu.


Cihh! Padahal aku sedang ingin berhadapan dengan pria itu!


“Ba-baiklah” aku pun mengejar mereka.


Aku kehilangan jejak Mutsuke-chan dan juga Mei-san.


Dan aku melihat ada Wakuda-san disana.


“Ahh Wakuda-san!!” ucapku berlari mengahampirinya.


“Takuya, aku mencarimu” ucapnya


“Apa kamu melihat Mei-san dan Mutsuke-chan?” ucapku terengah-engah.


“Ah aku sempat mendengar ada orang berlari, sepertinya ada di sebelah sana” ucapnya menunjuk tangga.


“Ah baiklah! Terimakasih, oh iya kamu juga pergi lah ke ruang diskusi pelakunya sudah ditemukan”


“Eh? Benarkah? Yoshh aku segera kesana”


Aku pun masih berlari.


Saat menuju lantai paling atas ada pintu atap terbuka, dengan nafas berat aku pun membukanya.


Ketiga : Tenangkan Mutsuke-chan


Benar saja mereka berdua ada disana.


Aku melihat Mei-san sedang menenangkan Mutsuke-chan, lalu Mei-san mengahampiriku.


“Anu... Mutsuke-chan maafkan aku”


PLAK!!!


Mei-san memberikan tamparan keras padaku saking kerasnya pipiku terasa berdenyut-denyut.


“Aku yakin Riri-chan ingin sekali menamparmu tapi aku juga sangat yakin dia tidak akan melakukannya, jadi aku yang mewakilkan dia untuk menamparmu” ucapnya dengan memberiku tatapan mengerikan itu.

__ADS_1


Alasan apaan itu!


“Berhentilah mempermainkan perasaanku senpai!” ucap Mutsuke-chan menangis.


PLAK!!


Tamparan kedua mengenai pipiku sebelahnya oleh Mei-san.


“Dengar dia? Berhentilah mempermainkan perasaan seorang wanita” ucapnya seperti senang menamparku.


Sakit sekali!


Tunggu dulu bukankah dia yang memberikan ide gila 'Brutal' itu!!!


“Bisakah kamu berhenti menamparku? Lagipula ini kan ide mu!” ucapku memarahi Mei-san.


“Heh? Padahal aku tidak terpikirkan sampai sana loh, maksudku itu kamu hanya perlu berbicara dengannya sementara Toruu-san dan Meida-san yang mengambil tindakan” ucapnya beralasan.


Aku tau rencananya itu memang seperti yang aku pikirkan saat itu 'Menciumnya'


“Aku sungguh tidak bermaksud mempermainkanmu apalagi sampai kamu menangis seperti ini, jika aku memberitahumu duluan maka rencananya akan gagal. Maafkan aku sungguh maafkan aku Mutsuke-chan” ucapku menyesal.


“Aku benar-benar tidak menyangka kamu melakukan hal itu, tentu saja Riri-chan tidak akan memaafkanmu” ucap Mei-san yang ingin membuat Mutsuke-chan terpengaruh kata-katanya itu.


“Bisakah kamu diam” ucapku kesal


“Senpai yang seharusnya diam” ucap Mutsuke-chan.


“Eh? Aku?” ucapku bingung.


“Aku sudah memaafkanmu kok, kamu tidak usah merasa bersalah lagi” ucapnya dengan senyuman.


“Hah! Kamu mau memaafkan orang dengan tatapan cabul ini?” ucap Mei-san tidak terima.


“Lagipula Danpachi-senpai tidak menciumku beneran kok”


“Ta-tapi tetap saja!” ucap Mei-san jadi kesal.


“Tidak apa Meijima-senpai, lagipula pelakunya sudah ditemukan” Mutsuke-chan benar-benar berhati malaikat.


Aku pun tersenyum.


Saat itu kami mengantar Mutsuke-chan ke ruang club cheerleader. Setelah selesai aku dan Mei-san berjalan kembali menuju ke ruang diskusi.


“Kerja bagus Takuya tidak sia-sia aku menyerahkannya padamu, seharusnya aku abadikan saat kamu ingin menyium Riri” Mei-san adalah seorang Dou****i tingkat akut bisa dilihat ekspresi mesumnya itu.


“Jangan mengungkit hal itu lagi”


“Ehh, bukannya seharusnya kamu senang? Bisa memiliki kesempatan seperti itu”


“Mana ada!”


Kami sudah ada di ruang diskusi dan melihat pria cabul itu lagi yang kini terikat di kursi, kenapa berlebihan seperti ini? Tapi tidak kusangka kerja mereka berdua memang bagus.


“Cihh!” ucapku memberikan tatapan menjijikan padanya.


“Pelaku ini bernama Kiyoya Kamashi kelas 2-C” ucap Azumi-senpai


“Toruu-kun sudah menggeledah tas pelaku ini dan isinya adalah berbagai kamera untuk memotret saat aku melihat isinya ternyata semua foto cewek SMA semua” ucap Azumi-senpai lagi.


“Aku sudah bilang pada kalian bahwa aku memotret cewek-cewek itu untuk sebuah acara pom disekolah nanti” ucap pelaku itu tampak takut.


“Pom? Heh bajingan cabul sejak kapan sekolah kita mengadakan pom? Lagipula ini kan di jepang bukan di negara barat” kali ini Azumi-senpai marah.


“Sudah Azumi-san jangan marah-marah nanti cantikmu hilang” ucap Shouyo-kun yang merupakan tipe pacar idaman.


“Sudah ketahuan jangan mengelak! apakah kamu bekerja sama dengan seseorang juga? Jika ada, berapa orang?” ucap Shouyo-senpai bergetak.


“Aku kan sudah bilang bahwa aku-”


Lalu pintu terbuka sangat keras.


Wakil Ketua Osis beserta rombongannya berada di sini.


-


-


“Saat begini malah nongol, menyebalkan sekali para Osis itu” gumamku.


-


-


-


“Jadi pelakunya sudah ditemukan, maaf aku diberitahu oleh Riri Mutsuke-chan jika dia memang di teror oleh pria cabul” ucap Sano-senpai.


“Dan juga hari ini sampai nanti kami akan melakukan razia besar-besaran pada semua siswa di sekolah ini baik manga erotis, kamera digital, dan juga beberapa hal yang berkaitan dengan pelecehan, agar tidak ada hal yang terjadi seperti ini” ucapnya kembali dengan tegas.


Aku melihat ekspresi Mei-san yang sepertinya tidak terima karena dia selalu membawa majalah mesumnya itu.


“Karena sebagai seorang wanita sekaligus wakil ketua osis aku merasa tidak terima dengan pria yang melakukan pelecahan baik secara verbal maupun non verbal” ucapnya lagi dengan keren.


“Baiklah kalau begitu kami menguruskan semuanya pada kalian” ucap Azumi-senpai


“Terimakasih, kalian cepat bawa anak ini untuk diperiksa” ucap salah satu mendor itu.


Lalu Sano-senpai menghampiriku.


“Aku terlalu begitu naif dan tidak mendengarkanmu, maafkan aku Danpachi-san” ucapnya jadi lemah lembut.


“Oh iya satu hal lagi, jika kamu berkenan kamu boleh kok meminta bantuan pada kami” ucapnya sambil tersenyum manis. Cantiknya!


“Tentu saja, tapi aku tidak terpikirkan untuk meminta bantuan para osis, aku sudah menerima tantanganku sendiri” ucapku.


“Takuya Danpachi ini memang selalu sok keren begitu ya?” ucapnya tertawa.


“Bukan sok keren melainkan dia itu suka menghalu tingkat dewa” ucap Mei-san.


Dan kemudian kami tertawa.


Pelaku telah diamankan oleh para osis sisanya biar Osis dan keamanan lainnya mengurus.


Dan kini hanya ada aku, Wakuda-san, Mei-san, Shouyo-senpai dan Azumi-senpai di ruangan ini.


“Meida-san dan Toruu-san benar-benar hebat, aku sungguh beruntung memiliki kalian, dan juga Amano-san kamu juga keren, tanpamu mungkin website itu dan pelakunya tidak akan pernah kita temukan”


Wakuda-san tersenyum malu.


“Tentu saja kita ini satu tim!” ucap Shouyo-senpai.


“Oh iya kita harus memberitahu Miyari-sensei juga” ucap Mei-san.


“Sepertinya tidak perlu, dia pasti sudah mengetahuinya juga” ucapku.


Kemudian Mei-san mengurungkan niatnya untuk membuka hp nya.


Walaupun aku tidak melakukan apa-apa terhadap pelaku tapi rasanya lelah ini terbayarkan oleh misi sukses besar.


Misi Selesai....



(ilustrasi Takuya dan Riri)


...----------------...


🎵Now Playing : 7!! : この広い空の下で (Kono Hiroi Sora no Shita de) / Di Bawah Langit Yang Luas Ini

__ADS_1


__ADS_2