Merindukan Cinta Suami

Merindukan Cinta Suami
Bab.33 Alin kecewa


__ADS_3

Begitu sampai disekolahan dan meminta izin pak Tono untuk masuk ke UKS, Alin langsung berjalan dengan panik, ia takut anak nya kenapa-kenapa. Tak ketinggalan Putra yang turut serta.


Saat menemukan ruangan yang dimaksudkan, Alin langsung masuk kedalam.


“Rafi!” panggil Alin begitu melihat anak-anak nya. terlebih Rafi yang lutut serta tangannya diperban.


“Umi..” jawab Mereka serentak.


“Astaghfirullah sayang.. Kenapa bisa begini?” Alin langsung meraih tangan Rafi dan memeriksa nya. Kita ke klinik sekarang ya..”


“Tadi Rafi keserempet motor pas mau nyebrang Mi.. ” kata Rafa membuka suara. Ia paham kegelisahan Umi nya. Inilah sebab nya mengapa Rafi kekeuh tak mau pergi ke klinik, karena takut bunda nya akan panik. Seperti sekarang.


“Kok bisa? bukannya tadi bunda udah antar kalian sampai depan gerbang?”


“Iya, tadi kami mau nolongin Alvian.. terus gak sengaja kami liat Abi nganterin Nimas, sama Tante itu juga.. terus..”


“Tunggu! jadi pas kejadian ada Abi kalian disana?”


Rafa dan Rafi saling pandang, mereka bingung harus menjawab apa. Namun Alin mengerti apa maksud anak-anak nya. Sedangkan Putra masih diam saja berdiri ditempat nya. Menyimak obrolan Ibu dan anak didepannya.


“Jawab Umi! kenapa kalian diam begini?”


“Bu Alin.. sebaiknya kita bawa Rafi dulu ke klinik atau rumah sakit, seperti nya luka nya lumayan dalam, disana kita bisa tahu apa tulang nya aman atau enggak! Ibu bisa obrolin itu nanti, oke..” Putra menyela, bukan tanpa sebab, Putra paham kalau anak nya tak ingin Umi serta Abi nya terlibat percekcokan. Meskipun dari raut wajah Rafa bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya.


“Gak bisa gitu pak Putra, saya belum tenang sebelum mereka jawab! Abi nya anak-anak ada disana, tapi dia gak bawa anak nya kerumah sakit? apa itu manusia??”


“Umi.. sudah jangan marah.. Rafi gak apa-apa kok, mungkin..”

__ADS_1


“Tapi Umi bener Raf! Abi keterlaluan, dia lihat kamu kesakitan guling-guling di jalanan tadi, tapi Abi cuma liat sekilas terus malah gendong anak perempuan itu dan pergi dari sana! Apa kamu sebagai anak kandung gak lebih penting?” akhirnya Rafa membuka suara nya juga, unek-unek yang sejak tadi ia tahan tumpah juga.


“Jadi.. Abi kalian negebiarin Rafi kesakitan sendirian disitu? Ya Allah nak..” Alin langsung merengkuh putra nya yang sakit. Badan Rafi memang mulai terasa sakit nya pasca terpelanting kejalanan tadi. Benar yang dibilang petugas UKS tadi, sakit nya akan berasa setelah beberapa saat.


Air mata Alin tumpah, ia menangis senggugukkan mendapati kenyataan kalau pria yang ia nikahi selama ini, tak punya hati nurani. Sebagai seorang Ibu, hatinya sakit melihat anak nya sendiri tidak dipedulikan Ayah kandung nya.


‘Sepenting itukah urusanmu sampai kau meninggalkan anak mu tergeletak sendirian dipinggir jalan, mas! pengecut kamu Dery!’ maki Alin dalam hati.


Putra mengepalkan tangannya dibawah sana, melihat Alin menangis seperti itu menyayat hatinya. Rahang laki-laki itu mengeras. Jika saja saat ini Dery ada dihadapannya. Mungkin akan ia hajar habis-habisan.


“Apa yang sakit sayang?” tanya Alin disela-sela tangis nya.


“Badan Rafi rasanya sakit semua mi, tadi petugas UKS bilang, Rafi disuruh istirahat dan minum obat pereda nyeri ini, supaya sakit nya tidak begitu terasa, tapi tetep aja sakit!”


“Hai Boy.. anak laki-laki harus kuat ya.. Lihat tu Umi kalian jadi mewek begitu, sekarang kita kerumah sakit ya, buat diperiksa apa ada luka dalam atau enggak!” sahut Putra ikut menimpali, kini ia duduk disamping Rafa.


“Om ini siapa?” tanya Rafa sedikit heran, ia belum pernah bertemu dengan laki-laki yang bersama Umi nya tersebut. Sangking panik nya melihat umi nya tadi, mereka sampai tidak sadar kalau ada orang lain disana.


“Aku Rafa om, dan dua Rafi..” Putra tersenyum, lalu mengusap kepala Rafa dengan gemas.


“Ayo sekarang kita kerumah sakit ya.. Bu Alin biar saya bantu gendong Rafi aja..”


“Iih gak usah om.. aku udah besar masa masih digendong aja, dipegangin aja om!” Alin terkekeh geli mendengar penolakan Rafi, sedang sakit begini saja anak nya itu masih stay cool .


“Oke oke.. Om pegangin.. Ayo pelan-pelan!”


Putra memapah Rafi menuju mobil hendak kerumah sakit terdekat, Rafa duduk didepan bersama dengan nya, sedang kan Alin dibelakang bersama dengan Rafi.

__ADS_1


“Oh ya.. Om ini bukannya yang di pesantren kemarin, Mi?” tanya Rafa penasaran, rupanya sejak tadi Rafa mengingat-ingat laki-laki yang bersama Umi nya ini seperti pernah ia lihat.


Putra mengerutkan kening nya, dari mana anak nya Alin tahu kalau ia ada di pesantren.


“Iya, ini om yang di pesantren kemarin!” jawab Alin.


“Dari mana kalian tahu?” Tanya Putra penasaran.


“Kemarin kami ke pesantren milik keluarga Pak Putra, karena kebetulan sikembar mau masuk kesana setelah lulus ini, mereka mau mondok katanya, dan disana kami lihat bapak sedang mengajarkan anak-anak membuat miniatur kapal dari kayu jati,” papar Alin. Sejak tadi ia ingin bicara tentang hal itu pada Putra namun belum sempat.


“Eh masak sih, kok saya gak liat ya.. ”


“Gimana mau liat orang bapak lagi serius begitu!”


“Hehehe maaf ya.. emang bener nih sikembar mau masuk kesana?”


“Iya mereka cocok katanya sama pondok pesantren itu, emang bener ya itu punya keluarga Bapak?” tanya Alin lagi.


“Iya bener sih, tapi itu turun temurun, dari sejak kakek saya dulu.. sekarang kami tinggal menjalani aja dan mengusahakan agar pesantren itu lebih berkembang dan lebih baik kedepannya!” ujar Putra dengan pandangan yang masih fokus kedepan menatap jalanan.


“Seru gak om disana?”


“Seru dong, bagian santri dan santriwati terpisah jauh, kegiatan nya pagi subuh shalat berjamaah, setelah itu pagi sekolah seperti biasa, sampai Dzuhur.. Ba'da Dzuhur dilanjutkan mengaji sampai Ashar, tapi dijeda makan siang dulu ya.. Nanti lapar lagi kalau gak makan, karena belajar juga perlu nutrisi yang sehat, setelah shalat isya akan ada hafalan Al-Qur'an. seperti itulah rutinitas hariannya, setiap malam Rabu dan malam jum’at ada pengajian khusus, malam Minggu bagi santri akan ada latihan ilmu bela diri juga.. ada juga kegiatan berkuda, memanah dan masih banyak lagi.. Gak cukup kalau om jelasin disini, nanti dikira promosi!”


Rafa tergelak, setelah sekian lama Alin tak melihat senyum terbit dari bibir Rafa, bisa dibilang sejak satu tahun belakangan, saat Dery mulai berubah. Hari ini ia bisa melihat semua itu. Begitu juga dengan si bungsu Rafi.


“Seru ya om..”

__ADS_1


“Banget, jadi apa kalian tetap akan belajar disana??”


“Mau banget om!”


__ADS_2