
POV Dery
Melihat mobil Eko keluar dari pelataran rumah ku membuat aku berpikir keras, ada urusan apa? teringat lagi saat tadi aku melihat Renata ada didalam mobil Eko, ada hubungan apa mereka?
Aku masuk rumah dengan perasaan yang gusar, saat aku masuk kedalam kamar.. kulihat tempat tidur kami berantakan seperti habis ada aktifitas disana.
Gemericik air dari kamar mandi terdengar, mungkin Renata ada disana.
“Renata?” panggil ku dengan suara yang keras, berharap dia keluar dan menjelaskan semua nya pada ku. Pikiran-pikiran buruk kembali terlintas di pikiranku.
Tak lama, Renata pun keluar dengan masih menggunakan handuk yang dililit ditubuh nya. Kenapa dia mandi dijam segini?
“Kamu mandi?”
“Iya mas! emang kenapa.. gerah loh habis keluar tadi!” jawab nya tanpa menoleh padaku. Dan bukannya aku tidak tahu, dia langsung menutupi dadanya dengan baju tipis yang entah sejak kapan ada di ranjang kami.
“Kenapa kau menutupi nya dari ku?” aku langsung mendekati Renata dan melepas paksa kain yang ia tutupi dari sana. Aku membeliakkan mata ku dengan sempurna karena melihat banyak sekali bekas kissmark disana, dari mana semua itu.. jelas aku tidak menyentuh nya tadi malam.
“Apa ini Renata?”
“Apa sih mas, jangan begitulah.. aku gak suka!” ucap nya dengan menepis tangan ku dari sana. Aku mengeraskan rahang ku dengan kuat, tangan ku juga sudah mengepal dengan sempurna. Karena hatiku sudah diliputi dengan amarah, aku langsung mencekik dirinya tanpa sadar.
“Lepas mas! sakit..”
“Sakit ya? katakan dengan siapa kau melakukan ini?? apa kau jadi pel*c*r hah?”
“Lepas mas!” bukan nya menjawab, Renata justru masih berusaha melepaskan tangan ku dari leher nya. Bukannya mereda aku justru semakin kalap.
“Jawab aku Renata!”
__ADS_1
“E-ko! aku melakukannya dengan Eko barusan!” mendengar kata Eko aku langsung melepaskan cekikikan ku. Jadi benar kecurigaan ku? orang misterius yang selama ini memberikan ku teka teki pun sudah menunjukkan wajah Renata disana. Tapi aku masih belum percaya. Wanita yang ku cintai selama ini berbuat seperti itu. Mustahil! begitulah pikirku.
Tapi kenyataannya, Renata memang pemain ulung yang sudah menipuku mentah-mentah.
“Sialan kau Renata! pel*c*r!!”
“Apa kau bilang mas, aku pel*c*r?? selama ini kau terpuaskan dengan ku, sampai kau meninggalkan mbak Alin, kau lupa? lagian semua ini juga karena kau yang gak becus jadi suami!! dapat apa dengan nafkah 5 juta yang kamu kasih perbulannya mas?? kamu pikir semua kebutuhan ku bisa tertutupi dengan uang itu??”
“Jadi semua karena uang? selama ini apa yang kau inginkan selalu aku penuhi Ren, sampai tabungan ku menipis, Alin saja Tidak pernah menggunakan tabungan ku! lagian bukannya kau juga punya banyak uang?? nyatanya apa, rumah itu hanya sewaan saja kan, bukan murni milik mu!” jawab ku yang juga tak mau kalah, enak saja dia menjual tubuhnya tapi menyalahkan aku yang gak becus jadi suami katanya? gila! Selama ini dia bilang dia punya segala nya.. nyata nya apa, bahkan rumah itu saja hanya sewa.
“Kenapa jadi melebar kemana-mana! kalau kau penuhi segala kebutuhan ku, aku gak akan kayak gini, mas!”
“Halah, sudahlah.. aku muak Ren, Gak sangka kau akan berbuat begini, aku mati-matian belain kamu dan ninggalin anak-anak ku demi kami dan Nimas, tapi apa ??”
“Jadi kau menyesal?? dalam keadaan begini pun kau masih menyalah kan aku mas?”
“Iya aku menyesal! aku menyesal karena lebih memilih hidup dengan mu daripada Alin, karir ku, keluarga ku semua nya hancur!” Aku meremas kepala ku sendiri dengan frustasi.
“Apa?? enggak mas.. jangan gini dong.. aku minta maaf, aku janji gak akan berhubungan sama mas Eko lagi.. Maafin aku mas, tapi jangan usir aku, kami mau tinggal dimana.. kasihan Nimas, mas!” mohonnya padaku, tubuh yang masih mengenakan handuk itu langsung memeluk ku dengan kuat, rasa cinta yang menggebu dulunya dan hasrat yang membara ketika bersama dirinya menguar begitu saja. Bahkan aku merasa jijik jika bersentuhan dengan nya sekarang. Membayangkan dirinya berbagi peluh dengan laki-laki lain membuatku muak!
Disaat seperti ini dia baru meminta permohonan maaf ku?
“Lepaskan aku Ren, jangan pernah dekat dan menyentuh ku lagi! atau aku akan kehilangan kesabaran ku, Saat aku kembali, kau sudah harus pergi dari sini, terserah kau ingin kemana! Nimas bukan anak ku, jadi aku tidak bertanggung jawab atas dia!” Daripada berlama-lama dengan wanita murahan itu, aku lebih memilih pergi dari sana. Niat hati ingin istirahat dirumah, tapi yang kudapat kan justru membuat isi kepala ku seakan mau pecah.
Didalam mobil, aku menyugar rambut ku dengan kasar. Rasa bersalah tiba-tiba menyelimuti hatiku. Bayangan tentang aku meminta Alin menerima Renata kembali berputar. Terlebih saat aku mengingat kalau Alin punya perusahaan yang besar. Ternyata aku membuang Berlian demi kerikil kecil seperti Renata.
“Aaakkhhhh Sial!!”
“Aku harus kerumah Alin,” pikirku.. Selain aku ingin memintanya untuk menjenguk Ibu, semoga aku masih bisa memperbaiki semua nya, Aku yakin, Alin pasti masih sangat mencintaiku!”
__ADS_1
*
POV Author
Dery langsung melajukan mobil nya dengan cepat kearah rumah orang tua Alin, jam menunjukkan diangka setengah 5 sore.
Sementara itu Alin masih berkutat dengan laptop dihadapannya.
“Bu Alin.. Sudah sore, apa anda gak mau pulang?” Putra datang menyerahkan berkas pada Alin, memang saat ini Alin lah yang memegang kendali perusahaan. Putra hanya bertugas menjadi CO CEO saja.
“Sebentar lagi pak, lagi tanggung..”
“Alin..” panggil Putra lagi, Alin langsung menoleh ketika Putra sudah mengeluarkan panggilan nama saja. Sejak di kembar masuk kedalam pesantren keluarga Yudhistira, hubungan Alin dengan Putra sedikit lebih dekat. Mereka menjadi akrab satu sama lain. Hanya sebatas itu saja, tidak lebih.
“Oke.. Aku pulang sekarang! perasaan galakkan wakil dari pada ketua!” gerutu Alin yang masih bisa didengar oleh Putra.
“Apapun itu, Raka memintaku mengawasi mu.. jadi jangan berlebihan! inget umur.”
“Astaghfirullah Putra.. Harus ya begitu?”
“Harus! gak ada penolakan!” Alin mencebik, tangannya masih sibuk memasukkan ponsel serta barang-barang nya ke dalam tas. Lalu ia melangkah untuk keluar dari pintu, hendak pulang.
“Aku duluan Put..”
“Oke.. Hati-hati dijalan.. see you ya..”
Saat pulang kerja, Alin tak langsung pulang. Karena malam ini Raka akan kembali dari Singapura, Alin memutuskan untuk membeli beberapa makanan lalu pergi menjemput kakak nya itu.
Sedangkan Dery, ia sudah sampai di rumah orang tua milik Alin, tapi pagar rumah nya dikunci.
__ADS_1
“Apa Alin belum pulang kerja ya?” pikir Dery sendiri, berulang kali ia melihat kedalam, namu. seperti nya tak ada tanda-tanda orang didalam.
“Mungkin mereka sedang keluar, lebih baik aku tunggu disini saja!”