
“Ibu meninggal??” Dery yang mendengar kabar dari pihak rumah sakit langsung terduduk lesu dilantai. Tanpa izin dari siapapun Dery langsung menginjak pedal nya untuk segera sampai kerumah sakit.
Pikirannya berkecamuk, antara percaya dan tidak. Beberapa jam yang lalu bahkan ia masih beragumen dengan ibu nya untuk tak mengganggu Alin lagi, apa itu pertanda kalau Ibu nya akan pergi dari sisi nya?
Begitu sampai dirumah sakit Dery langsung berlari kesana kemari seperti orang bingung, padahal tujuan nya jelas yaitu keruangan jenazah.
Beruntung ada salah satu perawat yang melihat Dery begitu, ia langsung ditanyai akan kemana, Dery langsung menjelaskan tujuannya dengan air mata yang sudah mengajak sungai disana.
“Ibu..” Dery langsung memeluk tubuh ibunya yang sudah terbujur kaku diruangan jenazah.
*
“Apa? Inalillahi wainnailaihi rojiuun.. Ibu Ya Allah..” Alin batu saja tiba di pondok pesantren anak nya.
“Kenapa mbak?” tanya Rara cemas.
“Nenek nya anak-anak meninggal mbak!”
“Inalillahi.. yaudah mbak, anak-anak bisa dibawa lagi kok.. saya turut berbela sungkawa ya mbak.. semoga Almarhumah mendapatkan tempat terbaik disisi nya..”
“Aamiin, makasih atas do‘a nya mbak.. saya permisi dulu ya, ayo sayang..”
Begitu sampai dirumah ibu Dery, ternyata sudah banyak orang disana, menurut kata tetangga, jenazah belum datang dari rumah sakit.
“Kamu Alin kan?” tanya laki-laki yang sudah sepuh itu. Alin ingat kalau itu adalah kakak dari Ibunya mas Dery.
“Iya Wak.. kabar nya gimana Wak?”
“Alhamdulillah Uwak masih sehat, kamu sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah Wak,” memang keluarga Dery tak ada yang julid dengan nya sewaktu mereka masih menjadi suami istri, semua nya ramah, meskipun Uwak nya Dery terbilang masih kekurangan uang.
“Uwak dengar kamu pisah sama Dery ya? benar dia menikah lagi dengan Renata?”
“Uwak kenal Renata?”
“Kenal, karena dia mantan Dery yang bisa dibilang sering menginap disini, padahal dulu kami selaku keluarga sudah mewanti-wanti agar Dery jangan membawa perempuan untuk menginap disini.. salah nya Lisda terlalu sayang sama anak nya, sampai apapun yang Dery lakukan dia seolah tutup mata!” sambung pak Manto lagi.
__ADS_1
Alin terkesiap mendengar fakta tentang mantan suami nya, selama ini dia hanya tahu Dery itu sangat family man, sayang keluarga ,bijak dan Sholeh tentunya. Hal itu pula yang membuat Alin merasa kagum, dan mati-matian meyakinkan papa nya kalau Dery suami yang tepat untuk nya, hingga perjodohan nya dengan Zayn ia tolak mentah-mentah.
‘Mas Zayn? apa aku perlu mengabari nya?’
Alin langsung merogoh tas nya dan mengirimkan pesan pada Zayn.
“Maaf ya.. Uwak jadi bicara panjang lebar begini, harus nya gak perlu.. tapi karena kalian sudah bukan suami istri lagi, Uwak rasa gak ada yang perlu ditutupi dari kamu Lin..”
Alin mengerutkan kening nya mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang Uwak nya Dery katakan.
“Maksud nya Wak?” tanya Alin, kedua anak nya sedang duduk diteras rumah bersama dengan keponakan dari sepupu mas Dery.
“Kamu orang baik Lin, pas pertama Dery memperkenalkan kamu dengan kami sebagai istrinya, Uwak rasa kalian jomplang sekali.. tapi istri Uwak bilang kalau mungkin Dery sudah berubah jadi lebih baik, Uwak rasa benar juga..” Alin semakin tidak mengerti maksud dari Uwak Manto ini.
“Uwak maaf.. Tapi Alin gak ngerti maksud Uwak gimana.. memang nya mas Dery kenapa Wak?” Ingin masa bodoh tapi Dery tetap ayah dari anak-anak nya kan, benar urusannya , masa lalu nya bukan menjadi urusan Alin lagi, tapi dia harus tetap jaga-jaga kalau-kalau hatinya luluh karena bujukan Dery yang tidak gencar mengajak nya rujuk.
“Dery pernah punya anak dari Renata!”
Deg!
“Anak??”
“Apa Wak?? maksud nya mereka sudah melakukan itu..”
“Iya Lin, anak itu masih ada sampai sekarang.. diasuh oleh uwak Hasan, adik nya Uwak, dan kakak nya mantan mertua mu! karena mereka yang belum punya anak diusia nya waktu itu..” Alin membekap mulutnya tak percaya, anak yang Alin tahu kini sudah bekerja disalah satu Bank swasta itu adalah anak sambung nya??
“Ali Wak?”
“Iya.. ”
“Astaghfirullah mas Dery..”
Saat pak Manto ingin kembali membuka mulut nya, suara sirine ambulance terdengar begitu nyaring, pertanda kalau mantan ibu mertua nya sudah tiba di kediaman nya.
Dery terlihat kuyu dan berantakan, ia membantu petugas menurunkan jenazah Bu Lisda. Saat ia bersitatap dengan Alin, ia langsung berhambur ingin memeluk nya. Namun secepat kilat Alin menghindar.
“Lin, ibu sudah pergi..”
__ADS_1
“Aku tahu mas.. relakan Ibu pergi, ini sudah menjadi ketentuannya,” jawab Alin, ia tahu Dery merasa sangat kehilangan, dan laki-laki itu perlu ditenangkan. Tapi ia tak ingin maksud baik nya disalah artikan oleh laki-laki yang sudah menjadi mantan suami nya itu. Apalagi baru saja Alin mengetahui fakta baru yang membuat nya ilfeel.
“Mas sendirian sekarang Lin.. mas gak punya siapa-siapa lagi!” ucap nya dengan tergugu pilu.
“Sabar mas, kamu masih punya Uwak Manto, Uwak Hasan, dan juga Ali serta anak-anak .. kamu lupa itu?”
Mendengar nama Ali. disebut, mendadak tangis nya berhenti. Ia justru menyorot tajam mata Alin, entah apa yang ia selami didalam sana.
“Kenapa kau menyebut Ali?”
“Apa salah nya?? bukan nya dia keluarga kamu juga?”
“Tapi dia anak Uwak ku! bisa apa dia.. aku cuma butuh kalian Lin..”
Alin mendesah dalam hati, ingin sekali ia mengungkapkan fakta yang dibeberkan Uwak Manto tadi, tapi niat itu ia urungkan mengingat saat ini suasana sedang berduka. Tak pantas rasanya membahas itu dulu.
“Alin..” panggil seorang laki-laki dari arah belakang Alin.
“Mas Za!”
“Laki-laki itu lagi! ngapain dia disini!” gerutu Dery yang masih didengar oleh Alin.
“Jenazah nya sudah tiba ya?”
“Sudah pak!” jawab Dery, meskipun ia malas bermanis-mania seperti itu pada Zayn.
“Turut berduka cita ya pak Dery.. saya mewakili kantor dan teman-teman yang lain mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya!”
“Terimaksih pak!” hanya itu saja jawaban ya g keluar dari mulut Dery.
“Alin kamu pergilah.. temani anak-anak!” titah Dery, namun Alin tak menggubris perintahnya. Siapa Dery..
“Raka sudah dikabari Lin?”
“Belum mas! aku lupa..”
“Kamu ini.. Dia khawatir tadi kamu belum juga pulang, tapi syukurlah kamu mengabari mas.. apa itu artinya kamu menerima mas,Lin?” tanya Zayn dengan lirih, meskipun waktunya tidak pas untuk menanyakan ini, tapi melihat sikap Dery yang masih saja protektif, Zayn takut ia akan kalah lagi kali ini.
__ADS_1
“Menerima?? apa maksudnya ini, Lin?”