
POV Alin
Mobil mas Dery sudah hilang dari pandangan, aku masih belum habis pikir, kenapa dia bisa bersikap seperti itu. Meminta ku kembali hanya karena ia tahu kalau Renata tak sebaik yang dia kira?
Memang dia mengakui kesalahannya, tapi maksud dari kesalahannya tak ia sadari sama sekali.
“Sudah pulang dia?” tanya mas Raka yang entah sejak kapan berdiri dibalik pintu.
“Sudah.. ” Jawab ku singkat, ku langkahkan kaki memasuki rumah, dan sampai didalam aku langsung mendudukkan diriku di sofa, aku tahu pasti mas Raka ingin tahu apa maksud dan tujuan mas Dery datang kemari. Benar saja, mas Raka langsung duduk berhadapan dengan ku.
“Renata selingkuh?” mas Raka mulai membuka percakapan. Raut wajah yang tadi nya biasa saja, kini nampak mulai serius.
“Kata nya begitu, lagian bukan urusan kita juga kan..” meskipun mas Dery mantan suami ku, dan Renata mantan istri mas Raka, perihal urusan pribadi mereka bukan lah ranah kami kan, selain tidak ada ikatan apapun, aku juga malas berurusan dengan Renata ataupun mas Dery selain dari urusan sikembar. Hatiku masih belum baik-baik saja berhadapan langsung dengan mereka.
“Memang, tapi mas gak sengaja dengar dia meminta rujuk demi si kembar kan?”
“Gak sengaja, apa nguping mas?”
“Sedikitlah, lagian mas udah tahan-tahan loh Lin, setiap liat wajah nya yang brengsek itu mas pengen nonjok tahu gak!! gaya-gayaan sok punya istri dua.. hidup dia amburadul sekarang!”
“Mas gak lagi cemburu kan?” aku sengaja menaikan satu alis ku untuk menggoda mas ku ini.
“Ngapain mas cemburu, Perempuan murahan kayak Renata gak pantes buat dicemburui, Lin. Mungkin dulu mas Terlalu bodoh pernah Secinta itu sama dia! udahlah gak usah bahas mas, sekarang kamu.. Jadi apa keputusan kamu... mau terima cecunguk itu lagi?”
__ADS_1
Aku mengambil nafas ku dalam-dalam, lalu membuang nya perlahan. Cara itu aku lakukan untuk menetralisir rasa amarah yang kerap timbul setiap membahas mas Dery. Meskipun 8 bulan telah berlalu, tapi rasa sakit itu masih ada. Bagi kebanyakan orang mungkin aku terlalu lebay. Tapi mencoba berdamai dengan keadaan itu tak segampang menjabarkan teori.
“Luka yang mas Dery berikan masih basah mas, aku sendiri gak tahu kapan semua itu bisa sembuh! apa aku akan jatuh kelubang yang sama lagi? lalu suatu hari dia mengkhianati aku lagi?? sekarang mungkin aku masih bisa kuat, tapi kelak.. apa ada jaminan dia gak akan mengulangi hal yang sama? Jadi jangan tanya apa aku mau kembali lagi sama Mas Dery atau enggak, karena jawaban nya tetep sama!”
“Baguslah...Soal Za tadi, kamu minta petunjuk sama Allah ya.. Kalau Allah meridhoi akan ada yang membuat hati kami condong ke dia..” sambung mas Raka, jujur aku bersyukur mas Raka bisa kembali bersama ku lagi setelah perpecahan tempo lalu. Dan soal mas Za, jujur aku bingung harus bagaimana.
“Iya mas.. Nanti Alin coba istikharah, rasanya kalau mau pendekatan dulu,udah gak zaman nya ya kan..”
“Nah itu..”
“Oh ya.. Aku mau hubungi mbak Rara dulu ya mas, tadi mas Dery juga bilang kata nya Ibu sakit, kaki nya mau di amputasi, dan dia kepengen ketemu si kembar,” sambung ku lagi.
“Coba aja izin.. meskipun kamu udah gak sama Abi mereka, tapi Rafa dan Rafi tetap anak nya Dery..”
*
Dery pulang kerumah dengan wajah yang kusut, dia masih merasa kalau Alin masih berkeras hati tidak mau menerima nya kembali.
“Mas tahu ego kamu tinggi Lin, tapi mas masih yakin.. kalau rumah tangga kita masih bisa berlanjut lagi!” oceh nya sendiri.
Dery membuka kunci rumah nya, jika pintu dalam keadaan terkunci, pasti Renata sudah pergi dari sana kan. Saat Dery tiba didalam, benar saja Renata sudah tidak ada disana lagi. Dia berasa lega.. Dihidupkannya lampu kamar nya yang semula gelap. Semua peralatan Renata sudah tidak ada lagi.
Dery membaringkan tubuhnya di ranjang nya, ia menatap langit-langit kamar nya. Setelah ini ia harus memikirkan biaya operasi ibu nya, tabungan nya tinggal sedikit lagi. Dery takut semua nya masih kurang. Berulang kali ia mengusap wajah nya dengan kasar, hidup nya jadi kacau sejak kemunculan Renata.
__ADS_1
“Kenapa hidup ku bisa sial begini! mati-matian aku bekerja keras membangun karir ku, tapi.. hilang dalam sekejap! semua gara-gara wanita murahan itu!” katanya dengan diri sendiri.
“Tapi tenang saja Der.. Sebentar lagi kalau Alin dan anak-anak kembali pada mu, semua akan kembali normal lagi, bahkan kau tidak perlu bersusah payah menjadi kepala proyek seperti sekarang ini! kau akan duduk manis menjadi CEO di perusahaan besar!” Dery mengembangkan senyum nya kala membayangkan hidup nya akan jauh lebih baik saat Alin mau kembali pada nya. Otomatis Alin akan menyerahkan perusahaan untuk ia kelola. Tak mungkin Alin masih akan turun tangan disana.
Permintaan maaf nya tidak tulus, hanya ada udang dibalik batu. Nyatanya Dery memang Tidka sepeduli itu terhadap anak-anak nya sendiri. Ia pikir dengan pergi nya Renata dalam hidupnya semua akan kembali normal.
Sementara itu dirumah Alin, setelah ia bicara pada Rara untuk meminta izin anak-anak nya besok hari, Alin langsung shalat istikharah, meminta petunjuk dari yang maha memberikan jodoh. Dia Tidak ingin terburu-buru tapi disaat seperti ini dia juga butuh sosok teman yang bisa menemani nya. Untuk masalah anak, Alin tak mungkin bisa hamil di usia yang sekarang, karena pasti resiko nya akan tinggi.
Menerima Zayn juga bukan hal yang mudah, keputusan menikah ini bukan ia ambil sendiri, melainkan ada kedua putra nya yang harus di mintai pendapat. Karena ia tak sendiri saat ini, ada paket komplit jika hendak meminang dirinya.
Pagi hari, Alin tak masuk ke kantor hari ini. Karena jadwal nya untuk mengunjungi mantan ibu mertua nya, bersama dengan anak-anak nya.
Setelah menjemput sikembar, kini Alin langsung melaju menuju Rumah sakit yang dimaksud Dery semalam.
“Nenek sakit, mi?”
“Iya sayang.. Nenek kangen sama kalian..”
“Tapi kan udah lama kita gak ketemu nenek, terakhir nenek marah-marah kan waktu itu di mall?”
“Sayang.. Nenek tetep nenek nya kalian ya, meskipun umi udah gak sama Abi lagi, saat ini nenek sakit.. sudah kita lupakan saja yang waktu nenek marah-marah kemarin, anggap saja nenek gak pernah bilang begitu! oke.. disana juga ada Abi, Abi juga kangen sama kalian!”
“Abi??” Rafi nampak kaget mendengar kalau Abi nya ada disana. Bayangan saat ia terserempet mobil dan kesakitan, Abi nya bahkan tidak bergeming sama sekali.
__ADS_1