Merindukan Cinta Suami

Merindukan Cinta Suami
Bab.41 Pinangan Zayn


__ADS_3

Begitu Alin sampai di Bandara, Alin melihat ada Zayn disana. Ia masih belum mengerti kenapa teman kakaknya itu sudah ada disana lebih dulu.


“Loh mas Za?”


“Alin.. mau jemput Raka?”


“Iya mas, tadi mas Raka bilang pesawat nya udah landing dari 10 menit yang lalu, tapi kemana dia?”


“Itu disana!” tunjuk Zayn pada Raka yang kini tengah bersama dengan seorang wanita.


“Loh.. itu bukannya mbak Rara ya...adik nya Mas Putra?”


“Iya.. Cie akrab banget kayak nya sama Putra!”


“Gak gitu mas, kan kita setiap hari ketemu.. terus sikembar juga mondok di pesantren nya, jadi ya hanya sebatas itu saja!” Zayn merengkuh senyum yang hambar. Setiap kali membahas tentang Putra pasti ia akan merasakan tidak nyaman.


“Alin..”


“Mbak Alin..” ucap Raka dan Rara bersamaan.


“Ini maksud nya gimana sih mas, aku ada disini , mas Za juga nah mbak Rara juga??” selidik Alin yang menaruh curiga pada kakak serta adik dari kerabat kerja nya itu.


“Gak gitu Lin, Rara tadi nganterin orangtua nya untuk Umroh, kebetulan pesawat mas juga baru landing, jadi ketemu deh...kalau Za memang sengaja mas suruh jemput, karena ada hal penting yang ingin mas sampai kan ke kamu!” kata Raka.


“Iya mbak... saya duluan ya, itu supir kami sudah menunggu disana,”


“Oh iya mbak Rara, maaf ya.. tadi saya bicara gitu niat nya juga cuma becanda, mau ngusilin mas Raka..” ujar Alin karena takut Rara akan salah paham.

__ADS_1


“Gak apa-apa mbak.. Saya duluan ya.. mari, Assalamualaikum!” Rara berujar sembari mengulaskan senyum nya, senyum yang sangat manis menurut Raka. Laki-laki yang usia nya sudah tak muda lagi itu kembali merasakan getaran cinta didada nya saat usia nya menginjak 41 tahun.


Pandangan itu tak luput dari Alin, ia bisa merasakan kalau mas nya itu sedang menaruh hati pada pemilik pondok pesantren tempat anak nya menimba Ilmu selama ini.


“Mas! udah jangan diliatin terus.. kalau memang suka langsung datangi saja walinya mas, bukan usia mas lagi untuk memendam dan menyimpan,”


“Kamu ini.. kalau begitu ayo kita pergi makan dulu.. ada yang mas bicarakan penting sekali, itu kenapa mas buru-buru pulang!”


“Tentang?? Aku udah beli makanan loh..”


“Gak apa-apa, nanti makanannya bisa kamu kami bibik saja, sama mang Ujang..”


“Ya udah deh, mas Za juga ikut..” tanya Alin lagi dengan melirik ke arah Zayn.


“Tentu, Ayo!”


Alin dan Raka masuk kedalam mobil Zayn, mobil Alin ditinggalkan diparkiran Bandara agar nanti bisa di jemput oleh orang suruhan Zayn.


Setelah itu, Raka langsung mengambil posisi untuk mengatakan sesuatu pada adik semata wayang nya itu.


“Lin, ada Za disini.. mas mau ngomongin sesuatu!” Papar Raka, Alin menoleh pada kakak nya untuk mendengar kelanjutannya.


“Gini.. mas langsung ke intinya saja ya.. seperti yang kamu bilang, kalau ada seseorang uang suka pada seseorang langsung datangi saja wali nya, dan hal itu sudah dilakukan oleh Zayn! dia mendatangi kakak, dan meminta restu kakak untuk meminang dirimu..”


Deg!


Ucapan Raka barusan langsung membuat jantung Alin bertalu-talu, hal yang tak pernah ia bayangkan selama ini! padahal rasa nyaman itu Alin rasakan dari Putra selama ini. Tapi laki-laki itu tak menunjukkan perubahan lebih, hanya sebatas obrolan mereka yang sedikit mencair saja. Tapi dengan Zayn...meskipun mereka sering terlibat pekerjaan bersama, namun laki-laki itu juga tak menunjukkan kalau Zayn tertarik pada Alin. Entah dia yang tidak peka atau Zayn terlalu pandai menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Alin melirik ke arah Zayn yang terlihat menunduk kan wajah nya. Apa benar laki-laki disamping nya ini menyukai dirinya yang sudah tak muda lagi? bahkan bisa saja Alin sudah berisiko jikalau harus hamil lagi, seandainya.. Kelak dia meminta momongan darah daging nya sendiri.


“Alin.. mas tahu kamu kaget, mas juga gitu.. setelah bertahun-tahun kamu menolak dirinya dulu, dan dia pun telah menemukan pengganti mu, lalu.. ketika kalian sama-sama sedang sendiri lagi.. Zayn meminta hal yang sama lagi.. Rasa itu kembali ada setelah bertemu dengan mu lagi, Lin.” terang Raka lagi.


“Tunggu.. Mas Zayn pernah ku tolak? kapan mas?”


“Dulu, sebelum kamu menikah dengan Dery! kamu masih inget kan papa ingin menjodohkan kamu? itu sama Zayn!” Alin menutup mulut nya tak percaya, jadi Zayn orang yang ia tolak sebelum Alin bertemu dengan nya lebih dulu.


“Aku ditolak sebelum kita bertemu.” cicit Zayn pelan.


Alin merasa bersalah, dulu kenapa dengan bodohnya dia justru menerima Dery. Tapi apapun itu Alin tak menyesali jalan takdir yang ia alami selama ini, Allah menguji nya dengan diberikan suami yang ia pikir akan berjodoh dunia akhirat, nyata nya tega menyakiti hatinya.


“Mas, Mas Za.. jujur ini spontan banget buat aku, aku bingung harus menjawab apa.. Apa boleh aku minta waktu, aku takut salah mengambil keputusan.. Apalagi sekarang aku gak muda lagi kan, ada paket komplit si kembar kalau mas Zayn meminang ku, pun dengan kegagalan yang pernah aku rasakan sebelumnya, aku harus pikirin semua ini dengan matang.. bisa?” jawab Alin menatap mas Raka dan Zayn bergantian.


“Tentu.. Aku akan menunggu sampai jawaban itu ada Lin, jangan pikirkan bagaimana hatiku saat kau ingin mengatakan tidak, pikirkan itu dari hati mu sendiri.. Karena aku ingin kau merasa nyaman dengan ku, bukan keterpaksaan.. kelak, jika kau memutuskan menerima ku, kau harus juga pikirkan kalau aku tidak akan bisa memberikan kamu anak lagi, karena sejak kecelakaan dulu dengan mantan istriku, dokter memvonis ku tidak lagi bisa memberikan keturunan.”


Hah! lagi Alin membolakan mata nya.. kenyataan yang Zayn katakan barusan membuat Alin terperangah.. Apa semua ini sengaja Allah siapkan untuk dirinya?


Tapi tetap saja, Alin tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan, ia tetap harus shalat istikharah lebih dulu. Kali ini ia harus benar-benar memantapkan hati karena kebaikan-kebaikan didalam nya, bukan lagi mengutamakan rasa cinta dan sayang..


Menikahi orang yang kita cintai memang harapan, tapi mencintai orang yang sudah kita nikahi itu sebuah keharusan.


*


Sudah hampir 2 jam Dery berdiri dipintu gerbang milik Alin, namun tak ada tanda-tanda wanita itu akan kembali. Dery hampir putus asa, ia memutuskan untuk masuk kedalam mobil.


Namun saat langkah nya ingin menaiki mobil nya, sebuah sorot lampu mobil mengenai dirinya. Alin dan Raka telah kembali.

__ADS_1


Dery mengembangkan senyumnya melihat Alin lah yang datang. Alin yang mengenali siapa yang berdiri digerbang rumah nya pun turun.


“Mas Dery!”


__ADS_2