
“Enggak Lin, mas tahu kamu itu masih cinta sama mas, gak usah malu begitu.. sudah jangan marah-marah lagi, sekarang kamu siap-siap untuk kita rujuk lagi ya..”
Alin mengetatkan rahang nya mendengar ucapan Dery yang semakin menjadi. Entah apa yang ada didalam pikiran laki-laki itu, sampai dia mempunyai tingkat kepercayaan diri yang besar begitu.
“Mas, kamu punya kaca gak sih dirumah? Aku udah terang-terangan loh nolak kamu, kenapa bicara sama kamu seperti sedang bicara dengan anak TK? Mereka aja pasti bisa ngerti arti kata Ya dan tidak!! Lah kamu.. umur udah tua tapi pikiran mu dangkal banget!”
“Alin! Kenapa bicara mu seperti itu? kalau soal mas pernah salah sama kamu, mas minta maaf.. Apa kamu gak kasihan sama ibu.. dia pengen kita kembali bersama lagi , Lin..”
“Jangan bawa-bawa Ibu mas! sudahlah.. Aku buru-buru.. aku ingatkan sekali lagi sama kamu, hubungan kita sudah selesai, gak ada yang bisa diperbaiki atau disambung lagi mas, pengkhianatan kamu sangat fatal menurut ku, dan lagi.. kalau kamu mengkhawatirkan umur ku, jangan khawatir.. aku bisa menghabiskan sisa umurku sendirian,”
Dery mengatupkan bibirnya mendengar ucapan Alin. Lidah nya mendadak keluh untuk sekedar mengeluarkan suara. Bayangan saat pertama kali meminang Alin serta kesedihan Alin saat ia mengatakan kalau ia sudah menikah lagi dengan Renata kembali muncul seperti tampilan video.
“Apa aku sudah melangkah terlalu jauh sampai sulit untuk kembali mengisi hati mu Lin?” lirih nya dengan suara parau.
Alin terkesiap, ia benci dengan situasi seperti ini. Tapi sepertinya luka hatinya sudah untuk sentuh, bahkan terasa iba pun tidak.
“Maaf mas, lanjutkan hidup mu sendiri.. kau masih tetap bisa bertemu sikembar, kau bisa mengunjungi mereka juga dipondok.. tapi kalau untuk kita kembali bersama.. maaf aku gak bisa!” tegas Alin. Ia tak Ngin Dery berharap padanya terus. Entah laki-laki tulus atau tidak. Tapi hati Alin tidak terenyuh sama sekali.
Alin memutar tubuhnya dan mulai melangkah perlahan menjauh dari Dery.
“Aku akan mendapatkan hatimu kembali seperti dulu,Lin! takkan aku biarkan berlian yang ditangan ku dimiliki orang lain!” tekad Dery berucap sendiri.
Kini Alin sudah bersama anak-anak nya lagi, beruntung Zayn masih disana menemani mereka. Tak sengaja Alin mendengar gelak tawa kedua putra nya disela-sela obrolan mereka. Hal yang tak pernah ia dengar saat bersama Dery dulu. Bahkan untuk sekedar menemani anak lelaki nya mewarnai saja Dery selalu mencari alasan.
Ia pikir dulu, Dery terlalu lelah mencari nafkah untuk dirinya dan anak-anak. Sekarang Alin mengerti, kalau Dery tak benar-benar bahagia mempunyai mereka bertiga.
“Hei.. seru banget.. Umi udah selesai, kita pergi sekarang yuk, nanti keburu siang.. kan kalian harus balik ke pondok sebelum jam 3 sore kan?”
“Iya mi, om Za gak ikut?”
__ADS_1
“Om harus balik ke kantor nih.. kalian sama umi aja ya?”
“Oke om.. hati-hati ya om.. kapan-kapan kita main bareng ya?”
“Siip!” Zayn mengacungkan kedua jempol nya.
“Kami pergi mas,” pamit Alin pada Zayn, laki-laki tampan itu mengangguk serta mengembangkan senyum nya termanis nya.
Alin dan kedua anak nya melenggang pergi menuju mobil mereka, namun saat langkah Alin akan sampai pada mobilnya, Zayn kembali mengeluarkan suara nya.
“Alin!” panggil Zayn.
“Ya mas?”
“Hati-hati..” Alin mengangguk dan langsung masuk kedalam mobil, perhatian kecil dari Zayn sukses membuat pipi nya bersemu merah.
Dery kembali kedalam kamar ibu nya karena ponsel nya tertinggal, ia harus buru-buru kembali ke kantor sebelum Zayn menegur nya lagi.
“Dery?”
“Ya Bu..”
“Jangan paksa Alin untuk kembali sama kamu!”
“Kenapa Bu? Apa ibu gak mau lihat anak ibu bahagia kumpul lagi sama anak dan istrinya?”
“Ibu mana yang tidak bahagia Dery!! tapi sikap kamu keterlaluan.. dulu sebelum kau menikahi Renata, kau juga bilang pada Ibu kan, apa ibu gak mau liat anak nya bahagia menikah dengan orang yang mereka cintai? saat itu ibu melarang kamu kan? kamu ingat?? ibu sampai mengatakan hal buruk pada Alin demi mendukung ambisi gila mu itu, sekarang Alin sudah bahagia, ia tampak lebih segar setelah berpisah dengan mu, jangan rusak itu.. ibu mohon..”
Dery mengetatkan rahang nya, kenapa sekarang ibunya pun seakan tak mau mendukung nya.
__ADS_1
“Bu.. bukannya dulu ibu bilang untuk tidak meninggal kan Alin? meskipun kami pernah pisah, tapi Dery masih yakin kalau Alin akan menerima Dery kembali, hanya butuh sedikit usaha lagi, ada anak diantara kami, Bu?”
“Jangan libatkan anak mu dalam hal ini, ibu paham bagaimana egomu Der.. berhentilah sebelum dia membakar mu!! umur Ibu mungkin tak lama lagi.. sebelum ibu benar-benar pergi.. berubah lah nak.. renungi kesalahan mu, jangan ulangi lagi!” Bu Lisda berucap dengan lirih, ia tahu sakit nya sudah memasuki tahap yang parah, sangat Tidak mungkin untuknya kembali normal, apalagi setelah kaki nya akan diamputasi sebelah. Rasa nya Bu Lisda sudah tak sanggup dengan rasa sakit yang setiap hari menggerogoti tubuhnya perlahan. Usia nya sudah renta, ia tak ingin meninggalkan anak nya yang terus-menerus melakukan kesalahan.
“Jadi ibu menganggap aku salah?”
“Ya.. apa kau tidak sadar, kejadian Renata itu sebagai bentuk karma untuk mu?”
Mendengar nama Renata disebut, emosi nya kembali tersulut. Wanita yang ia bela mati-matian ternyata hanya memberikan luka untuknya, menghancurkan karir nya serta meluluh lantahkan hidup nya.
“Bu, jangan sebut-sebut wanita J*Lang itu lagi!”
“Karena dia biang masalah mu saat ini! kalau saja dia Tidak hadir lagi, tentu saat ini kau masih bersama Alin dan anak-anak mu! Der.. Ibu sudah tua.. temani ibu sebelum akhir nya ibu pergi menyusul bapak mu.. jangan ganggu lagi hidup Alin..”
Dery membuang wajah nya kesamping, agar ibu nya gak tahu kalau saat ini ia sedang marah.
“Dery mau ke kantor Bu, nanti kalau ibu akan memasuki ruang operasi, Dery akan usahakan datang lagi! Assalamualaikum!”
Bu Lisda menjawab salam anak nya dalam hati. Perlahan punggung anak mulai menghilang dari pandangan nya.
“Aku sudah gagal menjadikan anak kita pria dewasa pak.. dia hanya dituakan oleh umur, tapi tidak dengan sikap nya.. Jangan marah sama ibu ya pak.. ” ucap Bu Lisda sendirian, pikirannya menerawang jauh, seakan suami nya kini berada disisi nya. Sebagai seorang Ibu, ia merasa gagal mendidik anak laki-laki nya.
Sesaat setelah Itu.. Perawat masuk kedalam ruang rawat nya. Ternyata jadwal operasi nya di majukan, yang harus nya pukul 4 menjadi saat ini.
Bu Lisda merapalkan do‘a sebelum memasuki ruangan operasi.
Suara detak jantung Bu Lisda menjadi musik tersendiri didalam ruangan operasi tersebut, 3 jam para dokter berkutat dengan tugas nya hingga suara monitor jantung terdengar sama rata.. pertanda si empunya tubuh sudah pergi jauh kealam barzah..
Bu Lisda pergi meninggalkan dunia yang fana ini..
__ADS_1