Merindukan Cinta Suami

Merindukan Cinta Suami
Bab.44 Mengunjungi mantan mertua


__ADS_3

Ada pepatah mengatakan kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ada juga yang mengatakan kalau madrasah pertama anak-anak itu adalah orang tuanya .. apa yang kita perbuat pada mereka itu juga yang akan kita dapatkan di kemudian hari.


sebagai orang tua kita diwajibkan mendidik mereka dengan cara yang baik memberikan kasih sayang yang berlimpah , perhatian serta cinta. Kita harus bisa membuat rumah menjadi tempat ternyaman bagi anak-anak untuk kembali.


Apa yang Dery lakukan Beberapa bulan yang lalu Masih membekas dengan jelas di pikiran Raffi, meskipun di bibir ia mengatakan kalau dia tidak mengapa.. tapi jauh di lubuk hatinya ia mengecam perlakuan Abinya. Kalau soal mereka tidak diperdulikan dan diperhatikan itu masih bisa menjadi tolak ukur bagi mereka berdua yang sudah mulai beranjak remaja. Mereka masih bisa berpikir mungkin Abinya sibuk dengan pekerjaannya, tapi bagaimana jadinya kalau orang tua yang kita harapkan perhatiannya justru memperhatikan orang lain di depan mata kita sendiri.


Pasti sakit rasanya bukan, kita sebagai anak kandung bagaikan Anak tiri dan anak tiri bagaikan anak kandung.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Alin saat melihat perubahan di raut wajah Putra keduanya begitu membahas soal Abinya. Alin berpikir, apa kejadian beberapa bulan yang lalu meninggalkan jejak yang luar biasa di hati anaknya tentu sebagai ibu, Alin merasa teriris hatinya.. anak yang harusnya mereka jaga sepenuh hati perasaannya diberikan luka yang mungkin Jika dia sendiri yang mengalaminya ia akan merasakan sakit.


“Nggak apa-apa Umi, cuma Kalau boleh jujur rasanya agak aneh aja kalau kita ketemu sama Abi ataupun sama nenek lagi,” jawab Raffi mencoba menutupi kegelisahan di hatinya, ia tidak ingin Alin merasa tidak enak pada mereka.


Kini mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit, begitu turun dari mobil ternyata Deri juga sudah ada di sana.


“Rafa, Raffi.. Ya Allah Abi kangen banget sama kalian berdua.. kalian mondok ya sekarang?” Dery berlarian kecil menghampiri kedua putranya, maksud hati ingin memeluk mereka untuk melepas rasa rindu di hatinya. Namun kedatangannya tidak disambut sama sekali oleh kedua anak kembarnya. Rafa terlihat memasang raut wajah yang tidak menyenangkan sedangkan Raffi wajahnya terlihat jauh lebih murung bahkan lebih murung dari sebelum ia bertemu dengan Dery. Entah apa yang anak itu rasakan tapi yang pasti hatinya belum siap untuk bertemu dengan laki-laki yang berperan sebagai ayahnya tersebut.


Alin tercenung melihat pemandangan di depannya.. Sempat terbesit dalam pikirannya andai saja perpisahan dulu tidak mungkin terjadi .. andai saja suaminya tidak berkhianat ... andai saja suaminya tidak jatuh cinta lagi pada masa lalunya, mungkin sekarang rumah tangga mereka akan sangat bahagia. Tapi apa daya semua andai-andai itu tidak ada artinya sekarang semuanya sudah berubah dan Tak lagi sama.


Melihat penolakan dari kedua putranya Dery mengurungkan niatnya untuk memeluk mereka.


“Kalian marah sama Abi ya? Terutama Raffi, maaf kalau dulu Abi pernah menyakiti dan mengabaikan kalian termasuk Umi.. Abi benar-benar menyesal sayang tapi sekarang, Abi bener-bener minta maaf.. kalian nggak kangen sama Abi?”

__ADS_1


“Kita ketemu nenek aja dulu Bi!” jawab Rafa mengalihkan pembicaraan.


“Ah ya.. nenek sudah kangen sama kalian Mungkin dengan kehadiran kalian hatinya akan terhibur.. jadi nenek ada semangat untuk sembuh!” papar Dery setelah nya. Namun kedua anak nya tak merespon sama sekali, mereka sibuk dengan dentingan suara sepatu yang menginjak lantai keramik rumah sakit.


Dery melirik ke arah mantan istrinya itu, pagi ini Alin terlihat sangat cantik. Baju gamis polos berwarna navy, dilengkapi dengan pasmina lebar dengan motif bunga. Sudah lama tak bertemu , mantan istrinya terlihat jauh lebih muda dari usia nya yang berusia lebih dari 35 tahun.


Alin tak sengaja menangkap basah tatapan Dery pada diri nya. Ia merasa risih sekali.


Begitu sampai di ruangan mantan ibu mertua nya. Bu Lisda nampak mengembangkan senyum nya begitu melihat Alin dan cucu-cucu nya.


“Cucu nenek..” Rafa dan Rafi langsung memeluk nenek mereka, tak dipungkiri ada rindu disana. Tapi melihat sikap nenek nya sebelum ini, membuat pertemuan itu seperti ada bongkahan batu yang seperti memisahkan jarak mereka.


“Kondisi Ibu seperti ini, Lin! dokter bilang akan diamputasi .. Rasanya semangat ibu untuk sembuh sudah tidak ada lagi.. Ibu minta maaf soal sikap Ibu dulu ya.. Ibu tahu Ibu salah..” kata-kata Bu Lisda tercekat di tenggorokan. Rasanya sulit sekali meneruskan obrolan itu. Rasa bersalah menyelimuti hati Bu Lisda. Jika dia bisa mengulang waktu, ingin sekali ia mengehentikan anak nya untuk menikah lagi.


“Sudahlah Bu, semua itu sudah berlalu.. Ibu jangan hilang semangat untuk sembuh ya.. Tetep optimis aoke ..”


“Kamu mau maafin Ibu kan,Lin?”


“Alin sudah maafin Ibu, sudah jangan bahas itu lagi ya Bu..”


Bu Lisda tersenyum getir, meskipun Alin berkata telah memaafkannya tapi ia tahu, kesalahan nya tak mungkin segampang itu dimaafkan begitu saja.

__ADS_1


“Makasih kamu udah izinin anak-anak buat jenguk ibu..” sambung Bu Lisda lagi. Ia menatap si kembar bergantian. Wajah sikembar lebih mendominasi wajah Alin ketimbang Dery.


“Meskipun Alin dan mas Dery sudah bercerai, anak-anak tetap cucunya Ibu dan anak nya mas Dery Bu, gak mungkin Alin menghalangi Ibu maupun mas Dery ketemu mereka.”


“Iya Lin, mas tahu kamu ini pandai memposisikan diri, apalagi kalau kita kembali bersama.. mas yakin_”


“Mas, ada anak-anak disini.. ” tegur Alin.


“Nek, nenek cepet sembuh ya.. kami gak bisa lama disini Nek, waktu dari pondok cuma setengah hari, Sehabis ini Kami mau beli kebutuhan pribadi dulu sebelum pulang.. ” sambung Rafa, ia tahu kemana maksud tujuan Abi nya bicara begitu.


“Kalian mau ke mall, ini nenek masih sakit loh.. masa kalian tega sih ninggalin nenek sendirian disini..” tanya Dery, seperti nya ia keberatan kalau Alin dan anak-anak nya pergi dari sana.


“Sudah peraturan dari pondok begitu, mereka bisa lebih dari saru hari.. kalau akhir semester.. kalau hari biasa seperti ini gak bisa! lagian kamu kan ada disini, mas!”


“Tapi aku kan harus kerja Lin, kamu jangan egois begitu dong, ini ibu aku.. nenek nya anak-anak dan akan jadi mertua kamu lagi kalau kita rujuk!”


“Kalau kita rujuk kan? apa aku pernah mengatakan kalau aku mau?” panas dingin rasanya amarah dihati Alin mendengar Dery yang terang-terangan begitu didepan Ibunya serta anak-anak nya.


“Ck! Alin ,Alin.. lupakan ego mu itu.. mas tahu kamu itu masih cinta sama mas!”


“Dery! sudah.. biarkan mereka pergi! Alin.. sekali lagi terimakasih ya karena kamu sudah berkenan menjenguk ibu.. kalau kamu gak sibuk kapan-kapan boleh kan ibu ketemu kalian lagi?”

__ADS_1


__ADS_2