
Proker Tania dan Tiwy berjalan mulus, sehingga mereka bisa selesai dengan cepat.
Sebenarnya Tania berniat ingin kembali ke posko, namun Tiwy ngotot ingin melihat pujaan hatinya yang sedang nguli.
"Wy, kenapa nggak balik aja, sih? Capek tau. Ngantuk!" Tania mulai menggerutu.
"Heleh! Lo juga pasti seneng kan bisa ketemu Nathan. Sok pura-pura, cih!" Ucap Tiwy sinis.
Tania pun tertawa dan langsung mendapatkan gelitikan dari Tiwy bertubi-tubi.
Tak lama, mereka berdua sampai ti tempat proker para cowok, kemudian mencari tempat untuk duduk yang nyaman.
Nathan yang melihat Tania datang lalu tersenyum. Walaupun terlihat lelah, tapi laki-laki tampan itu tetap selalu tersenyum bersama teman-teman yang lain.
Hanya memakainya kaus singlet, Tania dapat melihat tubuh Nathan yang atletis. Lengan berotot, dada bidang dan perut kotak-kotak. Walau ini bukan yang pertama kalinya Tania melihat Nathan seperti itu, namun Tania tetap saja merasa kagum. Sampai-sampai, Tania tidak melepaskan pandangannya sedikitpun ke Nathan.
Tapi tiba-tiba Tiwy menyikutnya, membuat Tania tersadar. "Segitunya, memandang." Sindirnya sambil terkekeh.
Nathan kemudian menghampirinya membuat Tania menjadi salah tingkah.
"Yuk balik. Udah kelar, besok lagi." Ucap Nathan pada Tania sambil memakai kemeja yang dia letakkan diatas batu besar bersama teman-teman yang lainnya.
"Eh, iya ayok." Ucap Tania sambil menunduk malu, lalu bersiap mengambil ranselnya dan berdiri hendak pergi menyusul teman-teman yang lain karena mereka sudah berjalan terlebih dahulu.
Namun tiba-tiba, Tania merasakan ada hembusan angin. Bukan angin sejuk dari pepohonan yang rindang, tapi terasa seperti hembusan nafas. Akhirnya Tania berhenti dan melihat ke sekelilingnya.
Tak jauh dari Tania berdiri, Tania kembali melihat sosok bapak-bapak yang pernah dia lihat di dekat sungai waktu itu. Sosok itu masih memegang golok ditangannya sambil menatap tajam pada Tania.
"Tan..." Panggil Nathan sambil menyentuh bahunya. "Kenapa?"
"Enggak kok. Yuk, balik. Udah sore. Kamu juga harus siap-siap, kan?" Ucap Tania kemudian berjalan mendahuluinya.
Nathan meraih tangannya dan bertanya lagi. "Kamu kenapa? Apa yang kamu liat?" Nathan kemudian melihat sekelilingnya, tapi tidak melihat sesuatu yang aneh.
"Enggak, Nath. Aku cuma capek aja." Jawab Tania bohong.
"Ya udah yuk, balik."
Mereka kemudian pulang kembali ke posko.
Sampai di posko, Nathan segera mandi dan berkemas akan pulang.
Sedangkan Tania masuk ke kamar dan berbaring. Rasanya berat Tania melepas Nathan untuk pergi.
Tiwy membuka pintu kamar dan berdiri diambang pintu. "Tan, Nathan udah mau balik, tuh." Tiwy mengerti bagaimana perasaan Tania.
"Iya." Tania menjawab dengan lesu kemudian beranjak turun dari tempat tidurnya dan keluar kamar.
__ADS_1
Nathan sedang duduk di ruang tamu sambil menatap dalam Tania begitu melihatnya keluar.
Tania memaksakan senyumnya agar tidak terlihat berlebihan atau mendramatisir keadaan. "Mau balik sekarang?" Tanyanya berusaha tegar.
"Iya, kamu baik-baik di sini, ya?" Ucap Nathan juga dengan hati yang berat karena harus meninggalkan Tania.
"Iya. Kamu sama siapa ke balai desa?" Tanya Tania lagi.
"Sama Ebot."
Ebot yang sudah siap di teras hanya memperhatikan Tania dengan iba.
"Aku ikut, ya?" Pinta Tania.
Nathan terdiam sesaat, kemudian menganggukkan kepala.
Akhirnya, Tania, Tiwy dan Ebot ikut menemani Nathan sampai ke balai desa.
Setelah berjalan selama kurang lebih lima belas menit, mereka sampai di balai desa. Mobil Nathan masih terparkir ditempatnya dan terlihat sedikit berdebu. Mereka berjalan sampai ke mobil untuk meletakkan barang bawaan Nathan.
"Mm...Tan, kita masuk ke balai desa dulu ya. Ada perlu sama Pak Kades." Ucap Ebot sambil menarik tangan Tiwy yang terlihat plonga plongo karena bingung tiba-tiba ditarik oleh Ebot.
Tania tau maksud Ebot. Dia sengaja ingin memberi waktu untuk Tania dan Nathan hanya berdua saja.
Nathan menyematkan rambut Tania yang sedikit menutupi wajah ayunya ke belakang telinga.
Tania menunduk dan tersipu mendapat perlakuan manis seperti ini dari Nathan. "Kamu hati-hati ya, Nath." Ucapnya masih menunduk.
Karena terbawa suasana, Tania pun menyambut ciuman darinya. Walau awalnya dia merasa terkejut dengan sikapnya ini.
Tak lama, Nathan melepaskan ciumannya dan menbelai wajah cantik Tania. "Kamu yang harusnya jaga diri. Aku pasti bakal ke sini lagi." Nathan kembali memberi kecupan di kening Tania.
Ini ciuman pertama Tania. Dia memang memang belum pernah berpacaran selama ini, karena tragedi di masa lalunya itu yang membuatnya merasa trauma dan sulit untuk mempercayai laki-laki.
Dan anehnya, semua rasa itu luruh seketika semenjak kedatangan Nathan dalam hidupnya.
Tidak ada komitmen dalam hubungan mereka berdua. Tapi, Tania juga tidak pernah menolak perlakuan manis Nathan terhadap dirinya. Dia sangat percaya kalau Nathan adalah laki-laki yang baik, yang akan selalu bisa menjaga dan memberikan perlindungan untuknya.
Tak lama, Ebot dan Tiwy keluar dari balai desa dan mereka bersalaman dengan Nathan. Setelah berpamitan, Nathan masuk kedalam mobilnya dan langsung melesat pergi meninggalkan desa ini.
"Udah nggak usah sedih. Besok-besok dia pasti dateng lagi kesini, Tan." Ucap Ebot mencoba menghibur Tania.
Tania hanya diam dan menghela nafas panjang agar tidak sampai menangis. Kemudian mereka segera kembali ke posko karena hari sudah semakin sore.
…
Malam ini, kembali lagi seperti malam sebelumnya. Tanpa Nathan.
__ADS_1
Andai saja ponselnya dapat berfungsi, mungkin Tania tidak akan terlalu merindukan Nathan seperti ini. Terlebih lagi, tadi Nathan telah menciumnya, mengambil ciuman pertamanya.
Tania berteriak frustasi setiap mengingat kejadian itu. Rasanya, itu adalah momen terindah sekaligus terbodoh yang Tania alami dalam hidupnya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar. Aisyah dan Tiwy masuk kamar dengan tergesa-gesa.
"Tan, lo kenapa?" Tanya Tiwy terlihat panik.
Tania melihat mereka lalu menyengir. "Hehe, nggak apa-apa kok."
Apa gue teriak terlalu kenceng ya? Sampai bikin mereka masuk dan panik gitu? Batin Tania sambil menekan bibirnya.
"Eh, pada makan dulu yuk!" Seru Sekar yang membawa piring berisi makanan, melongokkan kepala dari belakang Aisyah dan Tiwy.
Hari ini adalah jatah dia memasak dan mereka keluar kamar untuk makan bersama. Walau masih mendapat tatapan aneh dari Tiwy dan Aisyah.
Saat makan, tanpa sadar Tania senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi. Bahkan kalau bisa, dia ingin melaminating bibirnya biar rasa itu tidak hilang.
"Tan, ditinggal Nathan malah jadi gila lu, ya?" Ejek Ebot sambil menatapnya aneh.
Tapi Tania hanya diam seolah tidak mendengarkan perkataan Ebot dan masih terus tesenyum.
"Serius nih! Ini anak gila beneran!" Lanjut Ebot.
Tania masa bodo, terserah Ebot mau berkata apa, dia tidak peduli.
Mereka semua seperti biasa, makan di ruang tamu, ruangan yang paling luas dengan banyak kursi yang mampu menampung mereka.
Sambil makan, mereka juga sambil membahas mengenai proker mereka masing-masing.
Kebetulan, proker untuk penerangan jalan sudah selesai semua dan beberapa proker kelompok dari mereka juga sudah selesai. Hanya tinggal proker pembangunan batas desa saja yang masih butuh waktu.
Karena para warga tidak mau membantu mereka. Alhasil hanya teman-teman pria saja yang mengerjakan semua itu.
Saat mereka sedang asik membahas proker, Wulan yang duduk di depan Tania terlihat terus memegangi tengkuknya sendiri sambil menggerak-gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Dia juga terus menunduk. Sikapnya terlihat aneh.
Tania menyikut Aisyah yang duduk disampingnya dan memberi isyarat dengan sorot matanya untuk melihat ke arah Wulan.
Aisyah yang paham langsung melihat ke arah Wulan.
Setelah memperhatikan tingkah aneh Wulan, dia kemudian memberi isyarat kepada teman-teman yang lain untuk waspada, dan membuat mereka yang tadinya duduk didekat Wulan seketika bergeser menjauh. Bahkan ada yang masuk ke kamar karena takut.
"Wulan, lo kenapa?" Tanya Riswanto.
Wulan hanya diam tidak menjawab. Dia menghentikan gerakannya dan menunduk. Wajahnya bahkan tertutup oleh rambutnya sendiri.
Kemudian, Wulan tiba-tiba menggeram. "Kalian berani menggangguku!"
__ADS_1
Suara Wulan berubah menjadi suara laki-laki yang terdengar berat dan menakutkan.
...……………...