MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#31


__ADS_3

Hari ini Tania dan Riswanto jatah masak lagi.


Tania sengaja memasak sayur asem, goreng ikan asin, dan sambal terasi untuk kakaknya yang hari ini akan datang. Rasanya, Tania sudah kangen banget dengan kakaknya yang satu ini.


Kabar kakaknya yang akan datang ke sini merupakan angin segar bagi Tania dan yang lain. Setidaknya mereka punya solusi atas masalah di tempat ini.


"Tan, kak Iqbal!!" Teriak Aisyah dari depan.


Tania langsung menatap Riswanto yang juga sedang menatapnya. Senyum Tania melebar saat mendengar nama itu.


Sontak, Tania langsung berlari ke luar rumah. Dan benar saja, kak Iqbal sedang duduk di teras bersama Ebot.


"Kakak!" Panggil Tania dengan gembira, lalu menyalami kakaknya dan mencium punggung tangannya.


Walau hanya berbeda beberapa tahun saja, tetap dia adalah kakaknya, orang yang lebih tua darinya, sudah sepantasnya Tania hormati.


"Hei, gimana kamu? Sehat, kan?" Tanya Iqbal dengan wajah yang terlihat segar dan cerah, namun juga tetap terlihat tenang dan berwibawa.


Iqbal datang bersama empat temannya, yaitu Amir, Hanif, Ilham dan Anas. Mereka teman-teman Iqbal saat di pondok pesantren.


Aisyah ke belakang membuatkan minum untuk mereka. Tamu jauh yang benar-benar jauh, dan sengaja menyempatkan datang ke tempat ini demi mereka.


"Jauh juga ya, Tan." Kata Amir sambil melihat sekeliling rumah.


"Iya, kak. Dapetnya disini." Ucap Tania sambil menatap gelagat mereka yang mulai mengendus seperti polisi yang mendatangi TKP.


Mereka berempat mulai mengelilingi rumah hingga ke pinggir jalan lalu kembali lagi.


"Kamu kuat ya Tan di sini?" Tanya Anas.


"Ya dikuat-kuatin lah kak, mau gimana lagi coba?"


"Terus, desa yang dimaksud mana, Tan? Jauh dari sini?" Tanya Ilham dengan tidak sabar.


"Mm, nggak jauh banget sih, kak. Emang mau ke sana sekarang?" Tanya Tania.


"Makan dulu kali, Tan." Sahut Ebot.


Kebetulan hari ini, teman-teman Tania banyak yang sudah pergi keluar. Jadi, rumah tampak sepi.


Setelah santap hidangan yang Tania masak tadi, mereka sholat dhuhur berjamaah dulu.


Ebot dan Riswanto kemudian menjemput Pak Ustad di rumahnya. Mereka janjian bertemu di desa itu saja untuk mempersingkat waktu.


Sampai didepan desa itu, mereka diam sejenak sembari menatap kondisi desa itu yang sungguh memprihatinkan.


Anas geleng-geleng kepala sambil bersedekap, lalu Amir hanya diam dengan menatap dingin ke dalam desa itu, dan Ilham berjalan mondar-mandir di depan desa itu.


Sedangkan Iqbal berdiri disamping Tania dan mengobrol dengannya. "Kamu dapet kalung ini dari mana, dek?" Tanya Iqbal sambil menatap kalung dileher adiknya.


"Oh ini, aku dipinjemin Nathan kamaren." Jawab Tania sambil memegangi kalung yang melingkar dilehernya.


"Dia sering ke sini?"


"2 kali aja sih kak."


Iqbal hanya manggut-manggut, lalu tak lama Pak Ustad datang bersama Ebot dan Riswanto.


Setelah mengobrol sebentar, mereka kemudian mulai beraksi.


"Kalian di sini aja." Pinta Iqbal kepada Tania, Ebot dan Riswanto yang di angguki mereka bertiga.


Mereka memang malas sekali kalau harus masuk ke desa itu.


Mereka bertujuh masuk kedalam desa itu. Pak Ustad membawa muridnya juga untuk ikut membantu.


Tania, Ebot dan Riswanto menunggu di luar desa itu.


"Kira-kira, diapain ya?" Celetuk Ebot.

__ADS_1


"Yang jelas di doain lah, Bot!" Jawab Riswanto.


"Semoga nih desa udah nggak horor lagi ya gaes..." Sahut Tania penuh harap.


Butuh waktu kurang lebih satu jam, kemudian mereka bertujuh keluar dari desa itu dengan keringat yang berpeluh-peluh dan nafas yang tersengal-sengal seperti habis lari maraton.


"Gimana, kak?" Tanya Tania dan mereka mengangguk.


"Besok, saya akan bilang ke Pak Kades, agar desa ini dibersihkan dan dibenahi lagi. Agar kesan horor bisa hilang sepenuhnya." Kata Pak Ustad.


"Wah, kami bakal bantu Pak Ustad." Sahut Riswanto dengan semangat.


"Serius, Tan? Udah aman?" Bisik Ebot pada Tania.


"Insya Allah, aman..." Jawab Tania yakin.


Merdeka, lalu kembali ke rumah dan Pak Ustad juga langsung pamit pulang.


Sampai rumah, teman-teman yang lain juga sudah ada di posko.


Teman-teman Tania terlihat agak sungkan dengan kedatangan Iqbal dan kawan-kawan.


Mereka kemudian duduk diruang tamu.


"Nginep kan, kak?" Tanya Tania penuh harap.


"Kakak nggak bisa nginep, dek. Yang lain juga masih ada urusan ditempat lain." Jelas Iqbal.


"Yaaaah, masa nggak nginep...?" Rengek Tania.


"Iya. Lagian, kamu seminggu lagi juga balik, kan?" Tambah Iqbal.


"Iya sih, tapi kan---"


"Udah ah, jangan gitu. Kakak juga ada urusan lagi, dek." Sahut Iqbal memotong ucapan adiknya.


Amir tiba-tiba berdiri dan berjalan ke belakang.


Sepertinya, radarnya mulai jalan nih, Amir.😁


Riswanto dan Ebot mengikuti Amir yang berjalan ke belakang.


Karena penasaran, Tania juga ikut.😅


Sampai di pintu belakang, Amir membukanya lalu mengerutkan dahi. Dia hanya diam menatap lurus ke depan, lalu mulutnya menggumam sesuatu.


Tak lama, Amir berbalik dan tersenyum melihat mereka bertiga yang penasaran mengikutinya.


Amir kemudian kembali ke depan. "Pegerin, Bal?" Tanyanya pada Iqbal.


"Iya,ayok! Biar aku tenang ninggalin Tania disini." Jawab Iqbal lalu bangkit berdiri diikuti teman-temannya.


"Banyak juga ya..." Kata Ilham.


Walaupun Tania tidak diajak diskusi, tapi dia yakin kalau mereka sedang membahas penghuni dirumah ini.


Mereka lalu keluar dan mulai melakukan pagar ghaib mengelilingi rumah ini. Jadi, jika mereka berada di dalam rumah, para makhluk astral tidak akan bisa masuk ke dalam.


Alhamdulillah. Batin Tania.


Walaupun di luar horor, setidaknya seteleh berada didalam rumah, mereka akan aman dari gangguan makhluk astral.


Sore hari, Iqbal dan kawan-kawan pulang. Mereka akan pergi kembali ke pondok pesantren karena ada beberapa urusan di sana.


Tania memeluk kakaknya cukup lama.


"Kamu hati-hati di sini ya, dek." Kata Iqbal.


"Iya, kak. Makasih ya udah dateng." Ucap Tania.

__ADS_1


Iqbal mengecup puncak kepala adiknya dengan sayang, lalu berpamitan pada Ebot dan Riswanto.


Akhirnya, mereka pergi meninggalkan desa.


Tania masih berdiri diam menatap ke tempat Iqbal pergi.


"Udah. Bentar lagi juga kita balik, Tan." Kata Ebot sambil menepuk pundaknya.


"Iya, Bot."


"Yuk, balik. Udah sore, bentar lagi maghrib loh."


Riswanto benar juga. Tidak asik juga kan kalau maghrib-maghrib mereka masih berkeliaran di luar.


Tapi, rencana tinggal angan saja, karena saat adzan maghrib berkumandang, mereka masih jauh dari posko.


Mereka mempercepat langkah mereka, namun tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang memanggil mereka dari rumahnya.


"Orang bukan tuh, Tan?" Tanya Ebot sedikit cemas.


"Nggak tau." Jawab Tania kemudian minta pendapat pada Riswanto. "Gimana, Ris? Samperin nggak?"


"Ayok, kita ke sana dulu. Siapa tau memang ibu itu butuh bantuan dari kita." Ajak Riswanto.


Sebenarnya, Tania ragu untuk menghampiri ibu-ibu itu. Tapi, apa boleh buat.


"Ada apa ya, bu?" Tanya Riswanto dengan sopan.


"Mas, tolongin saya sebentar, ya?" Pinta ibu-ibu itu, lalu mengajak Riswanto masuk ke dalam.


Tapi Tania langsung menahan tangannya dan menggeleng pelan. Tania merasakan perasaan yang tidak enak.


"Nggak apa-apa, Tan." Kata Riswanto dengan yakin.


Akhirnya, Tania membiarkan Riswanto masuk ke dalam.


Dia dan Ebot menunggu di teras.


"Tan, seinget gue nih, emang ada rumah di sekitar sini ya? Kok gue baru tau ya?" Tanya Ebot dengan heran.


Benar juga!


Selama bolak-balik di desa ini, bahkan mereka sudah puluhan kali melewati jalan ini, dan setau Tania rumah di daerah sini hanya ada 3, itu pun letaknya berada di ujung sana yang belum pernah mereka lewati.


Tania juga masih ingat jelas kalau rumah ini kosong, tidak berpenghuni.


Terus, tadi itu siapa???


Sesaat kemudian, terdengar suara berisik dari atap rumah.


"Apaan tuh, Tan? Tikus kali, ya?" Tanya Ebot sambil mendongak ke atas.


Tiba-tiba, badan Tania terasa panas dan telinganya berdenging.


Lalu..... 'Bugh!'


Ada sesuatu yang jatuh dari atas dan menggelinding seperti buah kelapa.


"Perasaan, nggak ada pohon kelapa ya, Tan?" Celetuk Ebot penasaran lalu berdiri melihat apa yang terjatuh.


Betapa terkejutnya mereka setelah melihat apa yang menggelinding di depan mereka.


Sebuah kepala dengan mata yang menyala lalu tertawa meringis.


"Tan! Apaan tuh???" Pekik Ebot panik.


"Gundul pringis!!" Pekik Tania.


...……………...

__ADS_1


__ADS_2