MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#35


__ADS_3

Esok harinya.


Pagi-pagi sekali, anak-anak KKN sudah siap untuk pulang.


Pukul 6 pagi, mereka semua sudah berkemas dan segera berjalan menuju balai desa karena di sana, mereka akan dijemput oleh pihak kampus.


Tania menghirup dalam-dalam udara segar pagi hari didesa ini yang baunya khas pedesaan. Dia merasa kalau dirinya pasti akan merindukan suasana seperti ini nanti yang tidak akan mereka dapatkan hal seperti ini lagi.


Dalam perjalanan menuju balai desa, sesekali mereka menyapa warga desa yang mereka lewati sekaligus berpamitan.


Banyak dari warga desa yang menyayangkan mereka cepat sekali pergi meninggalkan desa ini. Bahkan, ada yang memberi mereka pisang, umbi-umbian dan segala macam makanan sebagai oleh-oleh dari mereka.


Sesampainya anak-anak KKN di balai desa, mereka juga berpamitan dengan Pak Kades dan semua staf di sana.


Mereka juga mengucapkan banyak terimakasih karena selama kegiatan KKN, orang-orang Pak Kades banyak membantu mereka.


Jemputan mereka sudah datang.


Kali ini, mereka dijemput naik bus berukuran agak besar dan ber-AC.


Tumben nih!


Kata Pak Kades, itu sebagai ucapan terimakasih dari Pak Kades dan pihak kampus, karena selama sebulan ini anak-anak KKN sudah banyak sekali membawa perubahan didesa ini.


Setelah berpamitan, mereka semua segera naik ke dalam bus.


Raut wajah mereka terlihat sedikit sedih dan haru karena meninggalkan desa ini.


Bus mulai berjalan meninggalkan desa.


Setelah desa sudah tidak terlihat lagi, mereka pun duduk dikursi masing-masing.


Karena bus lenggang, mereka duduk sendiri-sendiri dengan posisi di samping jendela.


Mereka hanya diam sambil menatap ke luar jendela.


Deg!


Tania melihat ada sosok anak kecil yang sering dia lihat ketika di desa itu. Anak Pak Sobri.


Sosok anak itu berdiri di pinggir jalan sambil memeluk boneka yang kemarin dan melambaikan tangannya kepada mereka.


"Gaesss! Itu ada anak kecil bawa boneka, kayaknya gue kenal deh." Celetuk Ebot.


"Iya, itu kayak anak kecil yang ada di desa itu ya, Bot?" Sahut Kevin.


"Ngapain ya dia berdiri dipinggir jalan?" Tanya Abid.


"Ngucapin selamat tinggal kali." Ucap Aisyah.


Jadi, ternyata mereka semua melihat anak itu? Bukan hanya Tania saja?


Selamat jalan, dek. Semoga kamu bahagia di sana. Ucap Tania dalam hati sambil tersenyum.


Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan menyalakannya.


Ada beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Dari papanya, kedua kakak laki-lakinya Adit dan Iqbal, dan juga dari Nathan.


Mereka hampir menanyakan hal yang sama.


Tania membalas satu per satu pesan dari mereka.


Setelah membalas, Tania mengambil earphone dan menyalakan musik favoritnya.


Tania memejamkan matanya sambil bersedekap, mencoba untuk tidur karena perjalanan menuju kota lumayan lama.


……


"Tan! Bangun!" Seseorang menggoyang-goyangkan tubuh Tania.


Tania memaksakan matanya untuk terbuka. Dan ternyata, mereka sudah sampai di kampus.


"Udah sampai, Wy?" Tanyanya pada Tiwy yang entah sejak kapan sudah duduk disampingnya.

__ADS_1


"Iya lah. Mau turun nggak? Tuh, babang lo udah nungguin didepan." Kata Tiwy sambil menunjuk keluar.


Tania menoleh ke sampingnya, ternyata memang benar. Nathan sedang berdiri bersandar di samping mobilnya dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.


Dia memakai kaus polo berwarna putih dan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Dia tersenyum melihat Tania.


Tania kemudian segera turun dari bus mengikuti Tiwy. Dia mengambil kopernya yang diletakkan di bagasi bus.


Nathan berjalan menghampirinya. "Hai.." Sapanya sambil tersenyum lalu segera meraih koper Tania.


"Hai, Nath. Udah lama, ya?" Tanya Tania.


"Mm, lumayan. Sejam lah, Tan." Jawabnya sambil menatap jam tangannya.


Tania tersenyum


Nathan menggenggam tangan Tania dan berjalan menuju mobilnya.


Setelah koper dimasukkan kedalam bagasi mobil, Nathan membukakan pintu mobil untuk Tania di bagian co-driver.


"Silahkan, Nona." Ucapnya dengan senyum yang terus terukir dibibirnya.


Tania hanya membalasnya dengan sebuah senyuman manis saja tanpa sepatah katapun terucap dari bibir manisnya.


Dia merasa sudah lama tidak duduk di mobil Nathan, disampingnya.


Semua masih sama.


Gantungan mobil doraemon pemberian Tania, masih ada di tempatnya.


Nathan masuk dan duduk dibalik kemudi.


"Nona, mau dianter kemana?" Tanya Nathan yang sengaja iseng menggoda Tania.


Tania langsung mencubit perut six pack nya. "Kemana aja Bang. Ke hatimu juga boleh, Bang." Jawab Tania asal.


Nathan pun tertawa. "Kamu udah makan?"


"Siap, 86!" Nathan segera melajukan mobilnya menuju kost Tania yang lumayan jauh jaraknya dari kampus.


Selama perjalanan, Tania dengan semangat menceritakan banyak hal dalam beberapa hari kemarin saat masih berada di desa. Hingga tak terasa mobil Nathan sudah sampai di depan kost Tania.


Nathan membantunya membawakan koper ke kamar.


Sebenarnya, Tania bisa membawanya sendiri, tapi Nathan terus memaksa. Jadi, apa boleh buat.


"Mampir dulu, Nath?" Tawar Tania.


"Nanti aja kali, ya. Kamu istirahat dulu aja deh, Tan. Nanti aku balik lagi, sekalian bawain kamu makanan." Kata Nathan.


"Boleh deh."


Nathan memang benar. Tania benar-benar merasa lelah sekali. Rasanya, dia ingin tidur seharian ini. Bahkan, Tania melupakan rasa laparnya karena matanya yang sudah terasa berat mebelihi berat badannya ini.


Tania lalu masuk dan menutup pintu kamar. Dia sengaja tidak mengunci pintunya karena takutnya saat Nathan datang, Tania masih belum bangun dan Tania tidak mendengar Nathan mengetok pintu.


Hal itu sering terjadi, sampai Nathan menunggu lama di depan pintu kamar kostnya.


Tania meletakkan kopernya di dalam kamar begitu saja dan dia segera meluncur ke kasur kesayangannya.


Hmm, nyaman banget...


Dalam hitungan detik, matanya sudah mulai bereaksi terhadap gravitasi kasur yang begitu kuat.


Tania meraih gulingnya yang biasa dia letakkan diatas kepala.


Namun.....glek!


Tania menelan ludahnya saat merasakan sesuatu yang aneh.


Apa ini, ya?


Dia merasakan ada sebuah benda berbulu halus, sepertinya boneka.

__ADS_1


Tapi perasaan, semua bonekanya sudah dia tata rapi di bufet khusus untuk menaruh koleksi bonekanya saat sebelum dia berangkat KKN.


Lalu, ini boneka yang mana? Dia tidak sepikun itu karena lupa menaruhnya.


Tania kembali mengingat-ingat sebelum dirinya berangkat KKN. Dia sudah merapikan kamarnya dan juga menata semua bonekanya di tempatnya.


Tania membuka matanya dan menoleh ke boneka yang dia pegang itu. Dan tiba-tiba......


"Aaaaaaaaa..." Tania berteriak histeris karena boneka milik anak penghuni desa itu kini ada di dalam kamarnya, bahkan berada di atas kasurnya.


Karena panik dan takut, Tania segera berlari keluar kamar dan langsung keluar dari kostnya sambil terus berteriak.


Kebetulan, suasana kost sepi. Teman-teman kostnya sedang tidak ada didalam kamar mereka.


Sebagian, masih melakukan kegiatan KKN juga. Dan ada yang mudik.


Sesampainya dihalaman kost, Tania mendongak ke atas melihat ke arah kamar kostnya dari bawah dia berdiri.


Sosok anak Pak Sobri dan boneka itu terlihat berdiri di dekat jendela kamar kost Tania.


Tania menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menekan kapalanya sambil berjalan mundur.


Dia benar-benar merasa stres. Ingin istirahat di kamar kostnya dengan tenang saja tidak bisa.


Bugh!


Seketika tubuhnya terpaku dan menegang ketika merasakan punggungnya menabrak seseorang entah siapa itu.


Ya Allah...siapa lagi ini? Please, jangan 'mereka' lagi...


'Mereka' yang maksud adalah sosok astral dari desa itu.


Sumpah! Dia sudah benar-benar sangat lelah dengan semua ini.


"Tania?" Panggilnya.


Tania langsung menoleh dan ternyata Nathan.


Seketika dia menghela nafas lega.


"Ada apa? Kenapa kamu pucet gini? Kamu sakit?" Tanya Nathan dengan cemas.


"Emm..enggak kok Nath. I..itu..tadi disana..ada.." Tania tergagap sambil menunjuk ke arah kamar kostnya yang letaknya ada di lantai dua.


"Ada apa, Tan?" Tanya Nathan sambil melihat ke arah kamar kost Tania.


"Boneka yang tadi aku ceritain, Nath. Tau tau ada dikamar..." Jawab Tania lalu dia berjongkok dan meremas rambutnya merasa frustasi.


Nathan mensejajarinya. "Ya udah, kita ke rumahku aja yuk."


Nathan berdiri sambil meraih tangan Tania dan mengajaknya masuk ke mobil.


Tadi, setelah Nathan keluar dari kost Tania, Nathan menerima panggilan telepon dari mamanya.


Mamanya sudah biasa mengajaknya bicara cukup lama ditelepon. Karena itu, dia masih berada di halaman kost Tania.


Beruntungnya Tania karena Nathan masih belum pergi dan kini laki-laki tampan itu membawanya untuk beristirahat dirumah barunya.


Tania hanya bisa pasrah.


Sepanjang perjalanan, Tania hanya diam. Dia merasa, mungkin dia perlu pergi menemui psikolog.


Sesampainya di rumah Nathan, Tania berjalan mengikutinya masuk menuju kamarnya.


"Ya udah. Kamu bobo dulu sana. Kalau ada apa-apa, aku ada diluar ya." Ucap Nathan sambil membelai kepalanya dengan lembut.


Tanpa disuruh dua kali, Tania langsung masuk ke kamar Nathan tanpa menutup pintu kamarnya. Lalu segera tenggelam dalam selimutnya.


Bau harum parfum Nathan yang khas menempel di bantal, guling dan selimut.


Tania menghirup dalam-dalam dan dia merasa lebih tenang, terlebih ada Nathan disini. Semoga, dirinya bisa tidur dengan nyenyak kali ini.


...……………...

__ADS_1


__ADS_2