MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#28


__ADS_3

"Hahh! Apaan tuh?!" Pekik Tania yang langsung terbangun dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur.


Tania merasakan dibalik selimutnya, seperti ada yang menarik kaki. Dia langsung menyingkap selimutnya, namun tidak menemukan apa-apa.


Karena takut, Tania menghempaskan selimutnya jauh-jauh. Biarlah dirinya tidur tanpa selimut.


Sebelum tidur, Tania sempatkan untuk berdoa. Tidak hanya doa mau tidur saja, namun dia menambah surat al-fatihah, ayat kursi, surat an-nas, surat al-falaq, dan juga al-ikhlas. Tak lupa dua ayat terakhir, surat al-baqarah.


Setelah membaca doa, akhirnya Tania tertidur tanpa ada gangguan lagi hingga dia terbangun di pagi hari.


Tania meraih handuknya, lalu berjalan gontai ke kamar mandi. Dia merasa pusing, mungkin karena semalam kurang tidur.


Setelah mandi, Tania mengambil sarapan sekalian dan duduk di ruang tamu bersama teman-teman yang lain. Lalu, terlihat dari arah luar ada seseorang yang datang. Orang itu seperti kurir dengan membawa sebuket bunga berjalan ke arah rumah posko.


"Buat siapa tuh bunga? Seneng banget pasti yang dapet." Celetuk Aisyah.


Ebot yang sedang berada di teras rumah, bicara sebentar dengan kurir itu lalu melihat ke dalam.


"Tan! Taniaaa!" Panggilnya.


Gue?? Tania menoleh dengan menatap bingung.


"Cieee, yang dapet kiriman bunga. Nathan romantis banget sih!" Seru Sekar meledek.


Tania segera beranjak keluar.


Setelah menandatangani bukti terima, Tania mengamati bunga itu lalu dia menciumnya sekali.


Bunga mawar merah?


Tania merasa heran, karena tumben sekali Nathan memberinya hunga mawar merah. Biasanya, laki-laki tampan itu memberinya mawar putih, karena Nathan tau kalau Tania suka dengan bunga mawar putih.


Senyum dibibir Tania mengembang. Nathan romantis banget sih, jauh-jauh ngirimin bunga ke gue.


"Eh Tan,ada kartu ucapannya tuh." Kata Ebot.


Ah, iya Ada kartu ucapan yang menyelip di antara tangkai bunga. Tania segera mengambil dan membacanya.


Namun, tulisan yang tertulis dalam kartu itu seketika menghilangkan senyum dibibir manisnya.


Benar-benar membuat Tania sangat terkejut sampai melotot.


..."I miss you so much, Tania"...


...(from. Beno)...


Tania pun langsung melempar buket bunga itu setelah membaca siapa pengirimnya. Perasaannya seketika menjadi panik, takut dan bingung.

__ADS_1


Kenapa Beno bisa tau kalau dirinya sedang berada di desa ini? Jadi, dia benar-benar kuliah di kampus yang sama dengannya kah?


"Lho Tan, kok dibuang?" Tanya Ebot dengan mengerutkan dahinya.


Tania tidak menghiraukan pertanyaan Ebot. Dia langsung masuk kedalam rumah dan menuju kamar Riswanto.


"Ris! Riswan!" Panggil Tania dengan tidak sabar.


Riswanto membuka pintu kamarnya dan keluar dengan bingung melihat Tania. "Kenapa, Tan?"


Tania melirik sekilas ke dalam kamar Riswanto ada Saiful. Dia kemudian menarik Riswanto keluar menuju dapur yang sepertinya sepi.


"Apa sih, Tan? Lo kenapa?" Tanya Riswanto lagi.


"Ini..." Tania menyodorkan kartu ucapan dari buket bunga tadi kepada Riswanto.


Riswanto kemudian membacanya dengan dahi yang mengkerut. "Lo dapet ini dari mana?"


"Tadi ada kurir dateng kesini kirim bunga dan itu dari Beno!" Jawab Tania dengan cemas sambil menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.


Riswanto terdiam sejenak seperti berpikir, kemudian kembali bicara. "Berarti bener kalau Beno memang kuliah di kampus yang sama ma kita. Tapi, gue masih nggak nemu jejaknya, Tan." Ucap Riswanto dengan serius.


Tania hanya mendengus kesal.


"Ya udah lah Ris, biarin aja. Kalau memang dia mau nemuin gue, silahkan aja. Gue nggak takut!" Tania sudah tidak peduli lagi. Dia juga tidak takut kalau memang harus bertemu kembali dengan orang yang sangat dia benci dan pernah membuatnya trauma.



Tania memutuskan ikut mereka bersama-sama pergi ke batas desa sebelah. Para teman laki-laki akan menyelesaikan pembangunan batas desa, karena hanya tinggal sedikit lagi sudah selesai.


Daripada dirinya hanya tidur-tiduran saja di dalam posko, lebih baik ikut mereka saja.


Tania bersama teman-teman perempuannya juga membawa tikar dan juga makanan yang sudah mereka masak.


Karena ini hari minggu, jadi mereka masak bersama-sama tadi.


Berasa seperti piknik. Mereka mulai menggelar tikar dan menata makanan yang mereka bawa di tengah-tengah. Anggap saja sedang piknik di hutan. 😅


"Eh, Tan. Tadi yang kirim bunga siapa sih? Kok lo kayak nggak suka gitu." Tanya Tiwy miss kepo.


"Oh, jadi buket bunga Mawar yang ada ditempat sampah itu tadi memang buat elo, Tan?" Sambung Aisyah.


"Wah, sayang banget bunga bangus kayak gitu malah dibuang. Buat gue aja sih, Tan." Imbuh Vhie.


"Ambil aja kalau lo mau." Singkat Tania dengan acuh tak acuh.


"Lo lagi berantem ya sama Pak Polisi itu, Tan? Perasaan kemaren baik-baik aja." Tanya Wulan.

__ADS_1


"Enggak. Bukan dari Nathan. Makanya gue buang." Jawab Tania sambil memperhatikan teman-teman yang sedang sibuk membuat batas desa.


"Terusss, dari siapaaa??" Tanya mereka hampir bersamaan.


"Nggak penting! Males bahas, aah!" Rengek Tania dengan kesal.


Akhirnya mereka mengalah untuk tidak mewawancarai Tania lagi. Mereka sudah seperti infotainment gosip saja.


Wulan tiba-tiba menekan tengkuknya dan menengok ke belakang.


"Kenapa, Lan?" Tanya Tania yang duduk didekatnya.


"Kok merinding gini ya? Lo ngerasain juga nggak, Tan?" Tanya Wulan.


Duh! Kok feeling gue jadi nggak enak ya kalau Wulan udah mulai bereaksi nggak wajar gini.


Tania mengamati belakang Wulan tidak ada apa-apa. Tapi, samar-samar dia melihat beberapa anak kecil berada di dalam desa sebelah. Wajahnya sama seperti sebelumnya, pucat sekali, dan mereka terus menatap ke arahnya.


Tania menjadi terdiam.


Kenapa ya? Kenapa mereka masih terus ada disana? Kasian banget. Apa mereka belum tenang?


"Tan?!" Aisyah tiba-tiba menepuk bahunya karena melihatnya diam saja.


"Eh, ya ampun. Ngagetin deh." Tania menekan dadanya karena kaget.


"Lagian, lo ngelamun, ntar kesambet loh!" Ucap Aisyah dengan serius.


Tiba-tiba, Wulan melakukan gerakan yang aneh seperti saat dia kesurupan waktu itu. Membuat mereka dengan spontan melihat ke arahnya.


"Duh, kumat nih bocah. Gimana dong ini, Tan?" Tiwy mulai panik.


Mereka pun langsung berdiri dan menjauh dari Wulan.


Wulan hanya diam sambil terus menunduk.


Tiwy dan Aisyah berteriak-teriak memanggil yang lain membuat mereka yang sedang bekerja seketika menghentikan aktifitasnya dan segera menghampiri.


"Wulan kenapa lagi?" Tanya Riswanto.


"Kayaknya kesurupan lagi deh." Sahut Ebot.


"Gimana nih?" Vhie juga mulai ikut panik.


Wulan yang masih duduk, perlahan mendongak. Wajahnya pucat, sama seperti sosok anak-anak yang Tania lihat tadi.


"Mas...mbak...tolooong..." Ucap Wulan dengan menjulurkan tangannya.

__ADS_1


...……………...


__ADS_2