
"Mas...mbak...tolooong..." Ucap Wulan dengan menjulurkan tangannya.
Namun hanya dalam hitungan detik, Wulan kemudian pingsan.
Sepertinya, yang merasukinya sudah pergi.
Beberapa dari mereka membawa Wulan pulang ke rumah posko dan sebagian melanjutkan pekerjaan mereka.
Memang, masalah Pak Soman sudah selesai. Tapi, desa itu sudah seperti desa angker, karena banyak sosok warga desa yang masih bergentayangan di sana. Dan sepertinya harus ditindak lanjuti.
Setelah mengantar Wulan, sebagian besar dari mereka memang melanjutkan prokernya. Sebagian lagi melanjutkan kegiatan mereka yang masih belum selesai.
Jadi, di rumah posko hanya ada Tania, Wulan, Aisyah dan Tiwy.
"Syah, gue mau ke rumah Pak Ustad dulu." Pamit Tania pada Aisyah.
"Mau ngapain, Tan?" Tanyanya.
"Ada yang mau gue obrolin."
"Ya udah ayok!" Ucap Aisyah sambil ikut siap dan meraih cardigan-nya.
"Gue sendiri aja, Syah." Kata Tania menolak Aisyah yang ingin ikut.
"Loh, kenapa?" Tanyanya dengan menatap heran.
"Yang jagain Wulan siapa? Masa iya cuma Tiwy doang? Tau sendiri kan dia gimana?" Ucap Tania mengingatkan.
Tiwy tidak mungkin ditinggal hanya berdua saja dengan Wulan. Bahaya benget.
Karena dia orangnya mudah panik dan juga sangat penakut. Berbeda dengan Aisyah.
Dia jauh lebih pemberani daripada Tiwy. Bahkan mungkin lebih berani daripada Tania.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Aisyah menganggukkan kepala tanda setuju.
"Tapi lo nggak apa-apa pergi sendirian, Tan?" Tanyanya dengan khawatir.
"Nggak apa-apa, Syah." Tania tersenyum. "Ya udah, gue pergi sekarang ya? Doa'in aja, semoga gue bisa ketemu sama Pak Ustad."
…
Tania berjalan sendirian ke rumah Pak Ustad yang tidak terlalu jauh dari rumah Pak Kades.
Karena ini masih siang, jadi Tania tidak terlalu merasa khawatir. Beberapa kali Tania berpapasan dengan warga desa ini dan mereka begitu ramah.
Setelah sampai di rumah Pak Ustad, Tania berjalan masuk ke halaman rumah Pak Ustad. Terlihat ada seorang wanita yang mengenakan jilbab panjang sedang menyapu halaman rumah. Sepertinya, itu istri dari Pak Ustad.
"Assalamu'alaikum." Ucap Tania dengan tersenyum ramah.
"Wa'alaikumsalam..."
__ADS_1
"Maaf Bu, Pak Ustadnya ada?" Tanya Tania dengan sopan.
"Oh, ada." Jawabnya. "Mari, silahkan masuk dulu, biar saya panggilkan." Lanjutnya dengan ramah mempersilahkan Tania.
Tania kemudian masuk dan duduk di ruang tamu.
Tak lama, Pak Ustad dan istrinya keluar. Mereka tersenyum melihat Tania.
"Eh, mbak? Sudah lama?" Tanya Pak Ustad berbasa-basi.
"Baru aja Pak Ustad. Maaf, saya ganggu nih." Ucap Tania dengan sungkan.
"Enggak kok, mbak. Nggak ganggu." Kata Pak Ustad. "Gimana?teman-temannya baik-baik saja kan?" Imbuhnya bertanya.
"Mmm...sejauh ini sih baik kok Pak Ustad." Jawab Tania ragu.
"Lho, ada apa? Apa ada yang kesurupan lagi? Ini mbaknya kok sendirian aja datang kesini?" Tanya Pak Ustad dengan serius.
"Saya sengaja datang kesini memang ingin bertemu Pak Ustad. Pengen sharing aja soal.....desa sebelah."
"Desa sebelah? Ada apa mbak?" Tanya Pak Ustad.
"Mmm...apa nggak sebaiknya diadakan pembersihan agar sosok disana tidak lagi menampakkan wujudnya?" Tanya Tania ragu.
Entah dari mana dirinya bisa mendapatkan ide seperti itu. Hanya saja, Tania pikir kalau desa itu memang sepertinya perlu dibenahi. Jangan sampai kesan angker terus melekat.
Pak Ustad tampak diam seperti sedang berpikir.
"Oh, gitu? Jadi, kalau misalnya ada yang bantu, berarti bisa ya, Pak Ustad?" Tanya Tania yang tiba-tiba mendapat ide untuk mengundang kakaknya beserta genk-nya ke sini.
"Insya Allah. Memangnya, mbaknya punya kenalan yang bisa bantu saya?"
"Insya Allah ada, Pak Ustad." Tania mulai bersemangat. "Saya punya kakak lulusan gontor dan mungkin bisa membantu. Nanti, saya akan coba hubungi kakak saya, siapa tau bisa."
"Wah, baiklah kalau begitu, saya tunggu mbak. Semoga kakaknya bisa." Ucap Pak Ustad ikut senang.
Tania masih asik mengobrol bersama Pak Ustad.
Pak Ustad dan istrinya sangat baik dan ramah, membuat Tania merasa betah ada dirumah beliau.
Pak Ustad melihat ke luar halaman lalu tersenyum tipis dan mengangguk. Sontak membuat Tania juga langsung menoleh kebelakang ikut melihat karena posisi halaman rumah Pak Ustad ada dibelakangnya.
Namun, Tania tidak melihat apapun kecuali tanaman dan pepohonan diluar sana.
"Untung saja mbak Tania ada mendampingi." Kata Pak Ustad.
"Mendampingi? Siapa ya Pak Ustad?" Tania malah menjadi bingung.
"Harimau putih yang selalu mengikuti mbak Tania." Jawab Pak Ustad lalu melanjutlan ucapannya lagi. "Selama mbak Tania disini, beliau yang selalu mendampingi mbak Tania, sehingga mbak Tania aman."
"Mmm, keliatan ya Pak Ustad? Kok saya nggak bisa liat ya? Tapi, kadang-kadang muncul kalau situasi gawat. Kadang juga nggak muncul." Kata Tania yang terkesan sedang bertanya.
__ADS_1
Pak Ustad tersenyum. "Mbak Tania ini sebenarnya cukup kuat karena menjadi keturunan beliau. Hanya belum dikembangkan. Dan beliau muncul jika keadaan benar-benar genting saja. Karena saya maupun beliau, sama-sama yakin kalau mbak Tania sebenarnya bisa mengatasi semuanya." Perkataan Pak Ustad ini malah membuat Tania semakin merasa bingung.
Kalau Tania bertemu dengan "mereka" malah tidak tau harus bagaimana. Kakaknya pernah memberitau beberapa doa untuk menghadapinya. Hanya saja ketika sudah didepan mata, rasanya semua doa itu hilang dari pikirannya. Tania mendadak lupa dengan doa itu. Yang ada malah rasa takut saja. 🤦♀️
Karena hari sudah sore, Tania pun pamit pulang.
Tania berjalan menuju ke depan gerbang desa ini untuk mendapatkan signal.
Dia mengangkat tinggi-tinggi ponselnya, bahkan dia goyang-goyangkan untuk mendapat signal.
Duh, apa gue perlu manjat pohon ya?? Gumamnya dalam hati sedikit kesal.
Tapi seketika senyumnya mengembang.
Ah, dapet!!
Tania segera menghubungi kakaknya dan menceritakan semua kejadian yang dia alami selama berada di desa ini juga memberitau rencanayanya bersama Pak Ustad tadi.
Kakak Tania bersedia datang bersama teman-temannya yang biasa melakukan pembersihan, dan katanya besok akan datang ke sini. Syukur Alhamdulillah!
Setelah menghubungi kakaknya, Tania mendapat pesan chat dari Nathan.
Tania merasa heran, karena tentu saja Nathan tau kalau di sini susah signal, tapi dia masih mengiriminya pesan.
Saat Tania hendak kembali pulang ke rumah posko, ponselnya berdering.
Nathan menelponnya.
"Assalamu'alaikum, Nathan?"
"Wa'alaikumsalam, Tan. Kok kamu ada signal, kamu lagi dimana?"
"Aku lagi didepan desa nih. Barusan aku telpon kak Iqbal buat nyuruh dia dateng ke sini."
"Oh, gitu..."
Tania kemudian menceritakan juga rencananya bersama Pak Ustad tadi mengenai pembersihan di desa sebelah.
"Ya udah, kalau gitu kamu hati-hati ya Tan? Aku belum bisa ke sana lagi."
"Iya nggak apa-apa kok, Nath. Ya udah ya, aku mau balik dulu."
"Iya, kamu hati-hati."
"Iya, Nath. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Tania segera kembali ke rumah posko dengan perasaan gembira.
Asiiik, kak Iqbal besok dateng, bakal gue kerangkeng dia disini, nggak boleh cepet-cepet pulang, hehehe! Batin Tania sambil ketawa sendiri.
__ADS_1
...……………...