
Dalam perjalanan pulang, mereka berempat banyak diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba terdengar suara ranting yang terinjak. Mereka pun langsung menoleh mencari sumber suara tersebut.
Tania mengedarkan pandangannya dan kini sosok yang sedari mereka berangkat bersembunyi di balik pohon, malah mulai menunjukkan wujudnya.
"Jalannya agak cepet, yuk!" Pinta Tania dan mereka mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke posko.
Kali ini, suara seperti benda tajam yang begitu keras mulai mengusik membuat mereka menoleh ke belakang. Di belakang mereka berdiri sosok Pak Soman dengan membawa golok yang selalu dibawanya. Mereka semua melihatnya.
"Lari!!!" Seru Nathan.
Mereka semua langsung berlari. Tapi, sosok Pak Soman terus berjalan mengikuti mereka.
"Wah, jalannya cepet banget tuh setan! Sialan!" Umpat Heru sambil terus berlari.
Beruntung mereka sudah berada dekat dengan posko. Mereka semakin mempercepat larinya sampai ke posko, kemudian segera masuk dan mengunci pintunya serta menutup semua korden.
Teman-teman yang lain yang berada didalam hanya menatap heran kepada mereka berempat.
"Kalian kenapa? Pasti habis dikejar setan, ya?" Seloroh Ebot.
"Iya, hati-hati. Takut dia masuk, jagain, ya! Gue mau tidur." Ucap Tania lalu langsung berjalan masuk kedalam kamar.
"Serius?"
…
Hari berikutnya.
Pagi ini, Tania masih bermalas-malasan diatas ranjangnya. Rasanya, enggan untuk beranjak dan hanya ingin tiduran saja dikamar.
Pagi ini, beberapa rekan Nathan harus kembali ke kantor, sehingga hanya ada lima orang saja yang masih berada di posko.
Tania masih terus berfikir keras harus mencari ke mana jasad Pak Soman? Kenapa sosoknya selalu terlihat sangat mengerikan? Padahal, kalau bisa diajak komunikasi kan siapa tau Tania dan teman-temannya bisa merasa lebih mudah menemukan di mana jasadnya. Atau mungkin, Pak Soman memang sengaja tidak ingin jasadnya ditemukan?
Pak Soman tinggal tinggal di desa sebelah, dan pasti dia punya rumah kan?
Ah..iya, bener juga! Rumahnya! Mungkin aja jasad Pak Soman ada dirumahnya! Batin Tania dengan mata berbinar.
Sekarang ini, Tania harus segera mencari tau dimana tempat tinggal Pak Soman.
Dengan semangat 45, Tania segera beranjak mandi.
Saat keluar kamar dengan terburu-buru, Tania menabrak seseorang dan kali ini bukan Nathan. Bahkan, Tania sampai jatuh ke dalam pelukan Saiful.
__ADS_1
Seketika, Tania langsung mendorongnya dengan kuat dan segera menjauh.
"Ati-ati loh, Tan. Untung aja aku tangkap. Kalau enggak, kamu bakal jatoh." Ucap Saiful dengan lembut.
Tania hanya menatapnya sinis sambil mendengus. "Mending gue jatoh, daripada ditangkap sama lo!"
Saiful menyeringai dan Tania segera pergi dari hadapannya menuju kamar mandi.
Sial banget sih gue pagi ini! Kenapa harus ketemunya dia sih?! Bikin badmood aja! Tania menggerutu dalam hati.
Dia segera mandi dengan cepat dan dalam waktu 10 menit, dia sudah siap dan langsung ke depan.
Tania melihat teman-temannya juga Nathan sedang duduk di ruang tamu membahas masalah ini. Dia ikut bergabung dengan mereka sambil melirik sengit pada Saiful yang duduk disebelah Kevin.
"Kepana lu, Tan? Ngeliatinnya gitu amat." Tanya Kevin.
"Nggak papa!" Jawab Tania ketus lalu duduk di samping Riswanto.
"Gimana? Gitu aja, kan? Kita mulai lagi, biar cepet ketemu." Ucap Nathan yang sepertinya memimpin diskusi ini.
"Kalian mau cari ke mana?" Tanya Tania.
"Mencar lagi, Tan. Kita mau susuri sungai juga. Kali aja jasadnya ada disungai." Sahut Ebot menjawab pertanyaan Tania mewakili Nathan.
"Em, boleh kasih saran?"
"Kita cari di desa Pak Soman."
"Udah Tan. Tapi nggak ada. Lagian, desa itu luas banget." Sahut Riswanto.
"Kalau rumahnya Pak Soman? Udah?" Tanya Tania lagi.
Mereka pun saling pandang, lalu tersenyum sumringah.
"Pinter lu!!" Ebot sambil menjentikkan jarinya terlihat bersemangat.
Nathan memberikan senyum terbaiknya pada Tania yang mampu membuat para kaum hawa mungkin meleleh saat melihatnya, termasuk Tania sekarang ini yang menjadi panas dingin.
Mereka kemudian segera pergi ke desa sebelah lagi, setelah sebelumnya mereka bertanya-tanya kepada Pak Min.
Katanya, rumah Pak Soman terletak di sebelah paling ujung desa itu. Mungkin, mereka menjadi lebih mudah mencarinya.
Tania melihat pembuatan batas desa sudah hampir selesai, dan pasti akan segera selesai.
Saat masuk ke desa sebelah, seketika Tania merasa seluruh bulu kuduk ditubuhnya meremang. Dia memandangi sekelilingnya, namun tidak mendapati sesuatu yang aneh atau sosok sosok makhluk astral disana.
__ADS_1
Tania berjalan mengikuti yang lain.
Mereka semua memang belum pernah masuk ke desa ini lebih dalam. Saat mencari Wulan, hanya sampai tengah-tengah desa saja.
Dan sepertinya, untuk menuju rumah Pak Soman, butuh waktu dan perjalanan yang cukup panjang.
Beberapa kali Tania merasakan bulu kuduknya meremang dan perasaannya semakin merasa tidak enak. Sampai saat Ebot yang tiba-tiba menyelutuk dan menggerutu dengan tidak sabaran. "Lama bener? Nggak nyampe-nyampe. Hampir dua jam ini loh kita muterin desa ini."
Memang benar apa yang dikatakan Ebot. Mereka sudah hampir dua jam berjalan. Kaki Tania juga sudah merasa capek. Namun, ujun desa ini terasa makin jauh saja?
"Kita istirahat dulu." Ucap Nathan.
Mereka kemudian berhenti untuk beristirahat.
Tania duduk disebuah kursi bambu milik warga yang terlihat sudah berdebu, namun masih kokoh, sambil memijat kakinya sendiri yang terasa lumayan pegal.
"Ini bener nggak sih? Desa ini ternyata gede banget, melebihi desa tempat KKN kita." Tanya Kevin.
"Harusnya sih enggak, Vin. Desa ini justru lebih kecil dari desa tempat KKN kita, kata Pak Kades sih." Jawab Riswanto sambil berkacak pinggang dan melihat sekeliling.
"Kok kita nggak nyampe-nyampe?" Sahut Ebot bertanya yang terlihat mulai kesal.
"Mungkin kita sengaja diputer-puterin." Sambung Tania dengan spontan membuat mereka semua langsung mengarah kepadanya yang sedang duduk.
"Bisa jadi nih. Terus gimana dong, Tan?" Tanya Abid.
"Tanya Riswan aja tuh." Tania mengedikkan dagunya kearah Riswanto.
"Mm, sebentar ya." Riswanto kemudian memejamkan matanya.
Walau gimanapun juga, Riswanto ini lulusan pondok pesantren. Dia juga mempelajari ilmu kebatinan. Hanya saja, dia bukan seorang indigo, dan kemampuannya masih terbatas. Tapi, kalau hanya untuk mencari jalan keluar seperti sekarang ini, Tania yakin itu bukan masalah besar untuknya.
Ebot ikut duduk disamping Tania. "Cape ya Tan? Gua aja yang cowok engap gini. Apalagi elu yang cewek?" Ucap Ebot sambil mengatur nafasnya yang pendek.
"Untung aja Tiwy nggak ikut." Ucap Tania.
"Iyalah, kalau dia ngikut, udah pasti minta gendong, gue yang modyaaar!"
Perkataan Ebot seketika membuat Tania terbahak. "Ahahaha..."
"Tan, ketawa sih ketawa aja. Tapi tangan elu nggak usah merambat kemana-mana, napa?! Kalau sampai Nathan liat, gimana coba?" Kata Ebot langsung membuat tawa Tania terhenti dan kebingungan.
Tania melihat tangannya sendiri dan tangannya sama sekali tidak menyentuh Ebot. "Lah ini tangan gue ada disini semua." Tania mengangkat kedua tangannya menunjukkan ke Ebot.
Wajah Ebot seketika langsung pucat dan tubuhnya gemetar. "I...ini, tangan si...siapa dong, Tan?"
__ADS_1
...……………...