MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#24


__ADS_3

Hari jni, proker cukup menguras tenaga Tania dan Tiwy. Sehingga mereka baru selesai sore hari. Tidak seperti biasanya yang semua akan selesai sebelum adzan ashar berkumandang.


"Tan, Nathan belum juga nembak?" Tanya Tiwy saat berjalan pulang ke posko.


"Belom. Kalau udah, gue pasti bilang ke elo kali, Wy. Ngapain juga sih nanyain itu mulu!" Cetus Tania sebal.


"Ya kali aja kalian udah jadian, tapi nggak bilang-bilang. Ampe kalian ciuman kemaren, kan gue pikir kalau Nathan nembak lo sekalian, Tan. Heran gue ama hubungan kalian bedua."


Jangankan elo Wy. Gue aja juga heran. Dia udah berani cium-cium gue, tapi nggak pernah bilang apa-apa. Apa guenya yang bego ya?


Batin Tania kemudian menghela nafas dengan panjang sambil memandangi pemandangan disekitarnya.


"Mbak..." Panggil seseorang.


Seketika merdeka berdua menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


Tania melihat Bu Min yang menghampirinya sedikit berlari dengan kepayahan. "Bu Min? Ada apa ya, Bu?" Tanyanya heran.


"Nanti habis maghrib, dateng ke rumah ya, mbak? Ditunggu suami saya." Kata Bu Min membuat Tania merasa senang sekali.


"Oh, iya Bu. Nanti habis maghrib saya datang ke rumah. Terimakasih ya, Bu." Ucap Tania.


Bu Min kemudian pamit pulang. Tania dan Tiwy kembali melanjutkan langkahnya menuju posko.



Tania menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tamu lalu tatapannya menerawang ke langit-langit.


Tania ingin sekali semua misteri ini segera terselesaikan, sebelum dirinya menyelesaikan KKN disini.


Kasihan juga warga desa ini, jika sampai ancaman dari arwah Pak Soman benar-benar akan dilakukannya.


"Tan, udah balik?" Tanya Heru teman baik Nathan membuyarkan lamunan Tania.


Tania segera membetulkan posisi duduknya dan Heru duduk disampingnya.


"Udah, Her. Kalian habis dari mana? Kok baru keliatan?" Tanya Tania.


"Nyari tulangnya Pak Soman, lah." Jawab Heru sambil mengusap keringat di dahinya menggunakan handuk kecil yang dibawanya, terlihat begitu lelah.


"Huss! Tulang, tulang! Emangnya ayam?" Tania bicara sambil memukul lengan Heru dan dia terkekeh kemudian mengucap maaf. "Eh, Nathan mana?" Tanya Tania karena sedari tadi belum melihat lagi keberadaan laki-laki tampan itu.


"Kenapa? Kangen ya?"


Tania kembali memukulnya lagi. "Hizzz! Biasanya kemana-mana kan sama elo. Tumben aja kalian nggak bareng." Kata Tania mencoba menutupi kegugupannya.


Tak lama sosok tinggi dan tampan yang sedang dibicarakan pun muncul lalu tersenyum kepadanya. Tania langsung membalas senyumannya.


"Nath, nih dicariin." Heru menunjuk Tania yang duduk disampingnya.

__ADS_1


"O ya? Ada apa, Tan?" Nathan kemudian duduk dikursi di hadapan Tania.


"Enggak kok. Ngaco si Heru." Tania mengelak sambil tersipu.


"Lah, yang barusan nanya 'Nathan mana' itu siapa?" Kata Heru sambil melirik Tania.


"Au ah!" Tania menatap ke arah Nathan. "O ya, Nath. Nanti temenin ke rumah Pak Min, ya? Habis maghrib. Katanya, kita udah ditunggu." Pinta Tania.


"Siap, tuan putri."



Jam 18.30 wib selesai sholat maghrib berjamaah di posko, Tania, Nathan, Heru dan Aisyah pergi ke rumah Pak Min.


Jujur, ini pertama kalinya mereka pergi malam-malam seperti ini selama tinggal di desa ini. Suara jangkrik dan serangga malam mengiringi langkah mereka. Desir dedaunan yang tertiup hembusan angin memecah kesunyian malam.


Tangan dan Aisyah berjalan paling depan. Sedangkan Nathan dan Heru berjalan dibelakang mereka.


"Tan, kenapa sih harus malem-malem gini perginya?" Tanya Aisya sambil menengok ke segala arah.


Diantara teman-teman perempuannya yang lain, hanya Aisyahlah yang paling berani menurut Tania. Karena itu, Tania lebih memilih mengajak Aisyah ikut bersamanya.


"Ya mau gimana lagi, Syah? Amanatnya gitu tadi." Tania menjawab sambil terus menatap ke arah depan dan lebih sering menunduk karena beberapa pasang mata yang tidak Tania lihat tubuhnya sedang mengawasi mereka. Dia merasa sedikit cemas.


"Eh, Pak Ustad kapan baliknya sih? Lama bener. Kalau ada beliau kan mending, bisa bantuin kita. Ya kan, Tan?" Tanya Aisyah lagi.


"Emang Pak ustad kemana?" Sahut Heru bertanya.


Pak ustad memang jarang berada di rumah. Karena sering diundang untuk mengisi ceramah ke desa lain atau ke kota.


"Tan, kamu nggak apa-apa, kan?" Nathan sepertinya terus memperhatikan Tania dan tau kalau gadis cantik yang berjalan didepannya ini terlihat cemas.


"Enggak. Kita jalan aja terus, biar cepet sampai." Tania menjawab sambil berjalan menunduk.


Dan tak lama, mereka pun sampai di rumah Pak Min.


Heru mengetuk pintu rumah Pak Min lalu muncullah istri Pak Min, dan langsung mempersilahkan mereka masuk.


Mereka duduk di ruang tamu sambil menunggu Pak Min keluar.


Tak lama, muncullah seorang laki-laki yang sepertinya sudah cukup berumur, lalu tersenyum ramah kepada mereka.


"Maaf, saya menyuruh mas sama mbaknya datang kesini malem-malem. Karena kalau siang, saya ada di sawah." Kata Pak Min sambil duduk.


"Nggak apa-apa kok, Pak." Ucap Nathan mewakili mereka.


Pak Min tampak diam, kemudian melihat ke arah halaman rumahnya dan tersenyum tipis.


"Mbaknya yang didampingi harimau putih di luar, ya?" Tanya Pak Min sambil menatap Tania.

__ADS_1


Mendengar penuturan Pak Min, membuat mereka langsung menoleh ke arah halaman rumah. Namun, mereka tidak melihat apa-apa melainkan pepohonan yang ada diluar sana. Bahkan, Tania sendiri pun tidak dapat melihat apa yang dimaksud oleh Pak Min barusan.


Wah, ini orang tau dari mana?


"Hehe, kayaknya sih gitu, Pak. Soalnya saya nggak liat." Tania sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jadi, kami ke sini mau minta tolong bapak....." Nathan kali ini mulai berbicara inti dari permasalahan mereka.


"Iya, saya tau." Sahut Pak Min yang seolah dapat membaca pikiran mereka.


"Terus, gimana ya Pak? Apa bapak bisa bantu kami?" Tania bertanya.


Pak Min tidak langsung memberi jawaban. Beliau menerawang melihat ke atas, tampak sedang berpikir, kemudian berkata. "Jujur, saya tidak tau ada di mana jasad Soman. Saya juga keget saat mendengar kalau Soman meninggal dengan cara seperti itu." Pak Min menghela nafas sejenak kemudian melanjutkan lagi. "Saat saya kembali, saya pun berusaha mencari jasadnya, tapi hasilnya nihil."


Mendengar itu, hati mereka menjadi kecewa.


"Terus gimana dong, Pak? Hantu Pak Soman ngancem mau balas dendam juga ke semua warga desa ini." Aisyah mulai cemas dan panik.


"Nanti saya akan coba panggil Soman dan bicarakan ini baik-baik. Semoga dia menarik kembali ucapannya pada kalian." Ucap Pak Min.


Manggil Pak Soman? Wah, Pak Min ternyata hebat juga! Batin Tania.


"Oh iya, Pak. Soal anak kecil yang sering saya liat itu, siapa ya?" Tanya Tania.


"Anak kecil? Apa dia ada tanda lahir di pipinya?" Tanya Pak Min.


"Tanda lahir?" Tania mengingat-ingat. "Oh, iya. Ada pak. Di pipi kanannya seperti ada tahi lalat." Lanjut Tania dengan semangat karena dirinya akan tau siapa sebenarnya anak kecil yang sering muncul di harapannya sebelum Pak Soman datang.


"Dia anaknya Sobri." Jawab Pak Min.


"Hah? Lho kok?"


Mereka terbengong tampak bingung.


"Pambantaian itu dilakukan oleh Sobri karena dirasuki Soman. Dan orang pertama yang dibunuh adalah anaknya Sobri." Kata Pak Min sambil menghela nafas dan kembali melanjutkan. "Kasihan sekali, dia anak yang baik. Tidak seperti bapaknya. Tapi dia yang harus menanggung semua perbuatan bapaknya." Jelas Pak Min.


"Jadi maksudnya, anak itu ditawan sama Pak Soman, Pak?" Tanya Heru penasaran dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Pak Min.


Mereka pun terdiam sambil saling melempar pandangan.


"Ya sudah kalau begitu, terimakasih ya, Pak? Kami pamit dulu." Nathan pun mewakili mereka berpamitan kepada Pak Min.


"Oh iya. Hati-hati ya, Nak."


Saat mereka beranjak keluar, Tania yang berjalan dibelakang dipanggil oleh Pak Min.


"Mbak, saya yakin kalau mbak bisa menemukan dimana jasadnya Soman."


Tania hanya memberikan senyuman ramah kemudian segera pergi meninggalkan rumah Pak Min.

__ADS_1


...……………...


__ADS_2