
Samar-samar Tania mendengar suara dua orang pria di depan kamar.
Itu suara Nathan dan sepertinya Heru.
Tania melirik jam dinding yang ada di dalam kamar Nathan, seketika matanya melotot. Astaga! Udah jam 8 malam? Gue tidur lama banget.
Tania merasa dirinya sangat tidak tau diri. Sudah menumpang dan tidurnya ke enakan sampai malam.
Ah, bodo amat ah...
Tania memutuskan untuk keluar dari kamar Nathan karena sudah tidur cukup lama.
Saat didepan kamar, Nathan dan Heru menoleh ke arahnya.
"Eh, ada Tania? Sorry, gue ganggu nih.." Ucap Heru sungkan.
"Nggak apa-apa kok, Her. Gue tadi numpang tidur disini, eh malah kebablasan." Kata Tania lalu ikut duduk bersama mereka.
"Ya nggak papa lah, Tan. Tapi, sorry banget loh." Ucap Heru. "Elu juga kagak bilang kalau ada Tania!" Runtuknya ke Nathan.
"Lah, ya nggak apa-apa kali..." Kata Nathan santai.
"Iya, kalian lanjutin aja ngobrolnya." Tania kemudian beranjak ke dapur hendak mengambil segelas air.
"Tan, kamu udah laper? Mau aku pesenin sesuatu?" Tanya Nathan sedikit berteriak.
"Mm, apa ya?" Tania berpikir sejenak. "Tapi aku lagi males makan. Perutku rasanya lagi nggak enak, Nath." Jawab Tania kemudian kembali duduk bersama mereka.
"Terus mau makan apa?" Tanyanya lagi.
"Pizza aja!" Sahut Heru.
"Gimana Tan?" Nathan meminta pendapat Tania.
Tania mengangguk menyetujuinya. "Boleh deh."
Malam ini pun mereka bertiga makan pizza bersama-sama.
Heru juga di sini sampai jam sebelasan malam, lalu pamit pulang karena harus menjemput tunangannya di stasiun.
Nathan menyuruh Tania menginap dirumahnya.
Tania pun setuju, karena dia masih takut kalau harus kembali ke kostnya.
Sepertinya, dia perlu melapor ke Iqbal mengenai boneka tadi. Kalau seperti ini terus, Tania bisa benar-benar stress!
……
Keesokan harinya.
"Tan, hari ini kamu mau ngapain?" Tanya Nathan saat mereka berdua sarapan bersama.
"Mm, nggak kemana-mana. Paling ketemu temen-temen sama ke kampus bentar." Jawab Tania santai.
"Oh gitu. Ya udah, kamu bawa kunci cadangan rumahku aja. Aku balik malem kayaknya deh." Kata Nathan.
"Nggak usah deh, Nath. Aku balik ke kost aja." Timpal Tania sungkan.
"Lho, emang kamu udah nggak takut? Udah deh, Tan. Mending sementara ini kamu istirahat disini dulu. Lagian, deket kampus juga kan?"
Nathan benar. Jujur, Tania juga lelah kalau harus bolak balik kampus ke kost yang jaraknya lumayan jauh. Lagipula, Tania juga masih merasa trauma di kostnya sendiri.
"Ya udah deh." Dia pun pasrah dan menyetujui untuk disini dulu sementara waktu.
Nathan tersenyum lega. Setelah sarapan, dia pamit untuk berangkat kerja.
Tania lalu beres-beres kamar Nathan. Dia mencuci semua pakaian kotor Nathan di mesin cuci. Dia merapikan semua ruangan.
Bahkan Tania mengisi dapurnya dengan berbagai bahan makanan yang dia beli melalui aplikasi online ke dalam kulkas.
"Astaga, Nathan! Dia makannya nggak teratur banget sih! Masa yang ada cuma bungkus fast food aja? Jangan-jangan selama sebulan ini, dia makan fast food terus?" Tania mengomel sendiri.
Sorenya, Tania memasak beberapa hidangan untuk Nathan.
Rencana awal ingin bertemu dengan teman-temannya dan pergi ke kampus, akhirnya batal. Tania merasa, lebih baik kalau dirinya dirumah Nathan saja. Lagipula, dirinya juga malas kemana-mana.
__ADS_1
Tania memasak beberapa makanan kesukaan Nathan dan ada juga hidangan penutup.
Tania membuat klappertaart dan salad buah agak banyak agar bisa untuk stok Nathan selama beberapa hari ke depan. Dia merasa kalau Nathan sepertinya perlu perbaikan gizi.
Selesai memasak, Tania mandi lalu membuat kopi dan langsung stay tune di depan televisi berukuran besar yang ada diruang tengah rumah Nathan.
Tania mulai menonton film yang selama sebulan ini sudah dia lewatkan.
"Wah, koleksi Nathan banyak juga." Gumamnya lalu menyingkirkan film yang bertema horor karena tidak akan mau menonton itu kalau sedang sendirian seperti ini.
Tak terasa, Tania tertidur di sofa depan tv dengan tv yang masih menyala. Mungkin karena Tania terlalu lelah seharian menjadi asisten rumah tangganya Nathan. 😁
……
Tania merasakan tubuhnya hangat, seperti ada selimut yang membungkusnya. Perlahan, Tania membuka matanya. "Loh Nath, udah pulang?" Tanyanya begitu mata terbuka lalu duduk dan menguap.
"Iya, baru aja sih." Jawab Nathan.
"Mati listrik ya, Nath? Kok redup gini?" Tanya Tania sambil melihat sekeliling.
"Enggak. Emang sengaja. Kamu liat dulu deh yang bener, baru komentar."
Tania mengedarkan pandangannya melihat ke seluruh ruangan, ada banyak lilin yang tertata rapi di lantai, meja, bufet dan hampir memenuhi sampai sudut ruangan.
Ini Nathan apa-apaan sih?
"Aku disuruh jaga lilin gitu? Terus kamu yang keliling?" Gurau Tania yang langsung mendapat sentilan dikenkingnya oleh Nathan. 'Pletakkk!'
"Aaw...Nath, sakit tau!" Tania mengusap-usap keningnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu lupa Tan, ini hari apa?" Tanya Nathan sambil menatapnya.
"Hari apa? Hari jumat kan, ya? Eh, kamu ultah ya? Tapi, bukannya udah 4 bulan yang lalu?" Ucap Tania dengan polos.
"Ya Allah, Tania!" Nathan malah makin kesal.
Lalu tiba-tiba, dia mengambil sebuket bunga mawar putih dari balik punggungnya.
"Happy birthday." Ucapnya dengan tersenyum.
"Duh, Gusti! Ini cewek kadang lemotnya minta ampun, tapi juga bikin gemes." Nathan mencubit kedua pipi Tania dengan gemas.
Tania terkekeh sambil memegang buket bunga mawar pemberian Nathan.
Perhatian Tania beralih pada sebuket bunga ditangannya. Mawar putih, bunga kesukaannya yang sering Nathan berikan untuknya.
Tania tersenyum senang. Dia sangat menyukainya. Bunga ini sangat indah, apalagi Nathan yang memberikannya. "Makasih ya, Nath. Kamu inget aja sih, aku malah lupa, hehe.."
"Ya inget lah! Oh iya, aku ada sesuatu buat kamu." Nathan kemudian mengambil kotak kecil dari saku celananya.
Tania mengira kalau Nathan mungkin akan melamarnya ketika melihat Nathan mengeluarkan kotak kecil tempat menaruh perhiasan.
Aku mau dilamar kali ya? Kayaknya cincin tuh...
Nathan memeberikan benda itu pada Tania. Dengan perlahan, Tania membukanya. Gelang?
Sebuah gelang rantai yang dihiasi bulan dan bintang kecil kecil, ditengahnya ada simbol hatinya. Cantik sekali.
Mata Tania berbinar melihatnya. "Wah, bagus banget, Nath!" Pekiknya.
Tania segera mengambil dan langsung memakainya ditangan kanannya.
"Sini, aku bantu pakaikan." Nathan membantu memakaikan gelang itu di tangan Tania.
Tania tertawa dalam hati ketika mengetahui kalau ternyata ini bukan cincin seperti yang ada dalam bayangannya tadi. Tapi, itu tidak masalah baginya karena Tania juga sangat menyukai gelang ini.
"Suka nggak, Tan?" Tanya Nathan sambil menatap gelang yang sudah terpasang di pergelangan tangan Tania.
"Suka banget! Ini bagus banget, Nath. Kamu beli dimana?" Tanya Tania.
"Di Singapura." Jawabnya singkat.
Tania mengerutkan kening, seolah-olah salah mendengar perkataan Nathan barusan. "Singaparna kali."
Nathan kembali mencubit pipinya dengan gemas. "Itu aku beli di Singapura, Tania! Singapura luar negeri!"
__ADS_1
"Hah? Serius? Kamu kapan pergi ke sana? Ngapain coba jauh-jauh ke sana cuma beli gelang doang?" Tanya Tania heran.
"Beberapa hari yang lalu, aku ada tugas ke sana. Eh liat gelang ini, terus aku beli deh buat kamu. Aku pikir kamu bakal suka, ternyata bener kan?"
"Kamu beli ini doang? Yaah, tau gitu aku nitip yang lain..." Sahut Tania.
Jiwa betinanya keluar, mupeng belanja. 😅
"Kapan-kapan, kita ke sana deh." Nathan bangkit berdiri dan berjalan ke dapur lalu kembali lagi dengan membawa kue ulangtahun yang terlihat indah sekali dengan dihiasi beberapa lilin kecil diatasnya.
Sambil berjalan membawa kue, Nathan bernyanyi lagu selamat ulangtahun untuk Tania membuat Tania makin berbinar dan tersenyum bahagia.
"Ayo tiup lilinnya."
Tania berdiri didepan Nathan dan meniup lilinnya kemudian bersorak sambil bertepuk tangan.
Kejutan yang mungkin sederhana, namun mampu membuat hati Tania meleleh, luluh seketika.
Tania sangat menyukai cara Nathan memperlakukan dirinya, apapun itu.
"Oh iya, tadi aku masak. Kamu pasti belum makan, kan?" Tanya Tania.
"Belom."
Tania menarik Nathan sampai ke ruang makan dan menunjukkan hasil karyanya yang sudah tertata rapi di meja makan, meskipun Tania tidak tau kalau sebenarnya Nathan sudah melihatnya tadi saat Tania tertidur.
Setelah meletakkan kue ulangtahun di meja, Nathan duduk.
"Nih, aku masakin banyak buat kamu. Bisa-bisanya dalem kulkas isinya sampah fast food! Kamu selama sebulan ini makan fast food terus?" Tanya Tania dengan wajah galaknya membuat Nathan terkekeh.
"Maaf, habisnya chef pribadiku nggak ada, dia lagi KKN kemarin. Ya udah, aku makan yang gampang-gampang aja, yang penting kan makan." Ucap Nathan yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya oleh Tania.
"Awas, kalau kamu makan makanan kayak gitu lagi! Itu nggak sehat tau, Nath!" Tania terus mengomel sambil menyiapkan makan malam untuk Nathan.
"Iya, Bu. Maaf. Nggak lagi lagi deh, janji!" Ucapnya sambil memegangi kedua telinganya seperti seorang anak kecil yang bandel sedang dimarahi ibunya.
Nathan kemudian segera makan dengan lahap.
"Tan, enak banget, sumpah! Aku kangen masakan kamu tau." Dengan mulut yang penuh makanan, dia terus memuji semua masakan Tania.
Tania hanya diam dan memandangi Nathan yang selalu lahap menyantap makanan masakan darinya. Tania sangat senang melihatnya. Dengan melihatnya yang makan lahap seperti ini, membuatnya sudah merasa kenyang.
"Ini kamu coba deh. Kamu pasti juga belum makan, kan?" Nathan menyuapi Tania.
Selesai makan, Tania mencuci piring dan gelas kotor dibantu oleh Nathan. Benar-benar sebuah kolaborasi yang sangat kompak dan kerja sama tim yang solid.
Malam ini, Tania akan kembali menginap disini bersama Nathan dan pastinya mereka tidur di kamar yang berbeda. Rumah dua lantai milik Nathan ini ada 4 kamar.
Nathan meminta Tania untuk tidur dikamarnya yang ada di lantai dua. Sedangkan dirinya, tidur di kamar lain di lantai bawah.
Hubungan mereka berdua sudah seperti ini sejak lama, sejak mereka berdua bertemu untuk yang pertama kalinya dulu. Mereka menjadi semakin akrab.
Tania merasa hidupnya menjadi lebih berwarna dengan kehadiran Nathan.
Nathan selalu menjadi tempat terakhirnya untuk pulang di saat semua tampat menjadi menyeramkan untuknya.
Tania tidak terlalu berharap kalau Nathan akan menyatakan cinta kepadanya karena Tania tau Nathan mencintainya dan Nathan juga pasti tau kalau Tania juga mencintainya.
Biarlah semua berjalan sesuai kehendak-NYA!
Jika Allah meridhoi hubungan mereka berdua, maka suatu hari nanti Nathan pasti akan melamarnya dan menikahinya.
Sekarang ini, Tania hanya ingin menjalani hubungan ini dengan cara seperti ini. Agar mereka berdua bisa sama-sama lebih saling mengenal lagi, sebelum mereka berdua berpikir akan melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius lagi.
Dan kejadian yang Tania alami selama KKN kemarin, sudah cukup meyakinkannya bahwa Nathan adalah laki-laki yang tepat untuknya.
Mungkin, hanya menunggu waktu yang tepat saja.
Semoga keadaan di desa itu menjadi lebih baik lagi sekarang. Mungkin suatu hari nanti, Tania akan berkunjung kembali ke sana.
Suana pedesaan yang masih asri, membuatnya selalu merindukan moment disaat dirinya berada disana.
Walau Tania sedikit mengalami trauma dan stress karena makhluk tak kasat mata, namun Tania merasa bahagia bisa merasakan hidup di sana walau hanya dalam waktu singkat.
...\=\=\=\=\=THE END\=\=\=\=\=...
__ADS_1