MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#26


__ADS_3

Tania sampai menelan ludahnya dengan mata melotot melihat sebuah tangan yang menempel dibahu kanan Ebot.


Tangan itu hitam, gosong, dan ada beberapa luka yang keluar nanah.


Seketika, tercium bau busuk yang menyengat. Mungkin dari tangan itu.


Tania dan Ebot saling pandang lalu mengangguk pelan dan.......


"Aaaaaaaa..." Mereka berdua berteriak sambil berlari secepat mungkin ke arah teman-teman yang lain.


"Apaan sih?!" Tanya Abid dengan heran.


"Ada setan!!!" Ebot terlihat ketakutan.


"Mana?" Tanya Saiful.


"Tuh, di rumah itu! Ngeri deh, hiiii!" Ebot bergidik ngeri.


"Ris, masih lama?" Tanya Tania mulai tidak sabar karena Tania sama paniknya seperti Ebot. Hanya saja, Ebot lebih heboh dan ngoceh terus.


Kalau Tania justru sebaliknya. Dia hanya diam, namun pikiran dan hatinya terus bergejolak.


Nathan berdiri dihadapan Tania, lalu membelai wajahnya dengan lembut. "Kamu nggak apa-apa, kan?"


Duh, malah makin dag dig dug!


"Nggak apa-apa kok." Jawab Tania dengan gugup.


"Yuk, kita lanjut. Insya Allah, kali ini lancar!" Seru Riswanto, kemudian dia berjalan memimpin didepan dan semua mengikutinya.


Dan, benar saja! Hanya butuh waktu lima menit, mereka sampai di depan sebuah rumah yang letaknya paling ujung. Ini rumah satu-satunya yang letaknya paling ujung di desa ini.


"Ini kali, ya?" Tanya Riswanto sambil memperhatikan rumah tersebut.


"Masuk aja!" Sahut Nathan dan langsung nyelonong masuk begitu saja. Dia berhenti diteras rumah, dengan santai menyuruh yang lain untuk masuk. "Ayo masuk, anggap aja rumah sendiri..."


Enak banget ya jadi dia? Dia kan nggak bisa liat sosok makhluk tak kasat mata. Jadi, cuek aja dia masuk.


Nathan menyuruh teman-temannya mengitari rumah ini untuk mencari jasad Pak Soman di sekitar rumah.


"Kita cari di dalam." Riswanto menyuruh yang lain mencari di dalam rumah.


Mereka mulai mencari. Setiap ruangan mereka periksa dengan teliti, bahkan sampai di dalam lemari juga di bawah kolong mereka periksa sedetail mungkin.


Namun, belum juga mereka menemukan tanda-tanda keberadaan jasad Pak Soman di dalam rumah ini.


Tania berjalan sampai ke belakang rumah ini yang berbatasan dengan kebun.


Di sana ada teman-teman Nathan yang juga sedang mencari bahkan sampai semak-semak.

__ADS_1


Tania melihat Heru berjalan ke arah sumur, dia pun ikut ke sana.


"Her, gimana? Ada disini, tah?" Tanya Tania.


"Mm, nggak tau nih, Tan. Sumurnya dalem banget. Kemungkinannya sih ada." Jawab Heru sambil melongok melihat ke dalam sumur lalu menoleh melihat Tania. "Di dalem rumah gimana? Nggak nemu, ya?"


Tania menggeleng sambil menatap ke dalam sumur yang terlihat sangat gelap karena begitu dalam.


Nathan tiba-tiba sudah ada disamping Tania dan ikut melihat ke dalam sumur juga. "Gimana, Tan?"


"Harusnya masuk ke dalem deh buat ngecek ada apa enggak. Tapi masalahnya, sumur ini dalem banget kan, Nath? Harus pake alat atau apa, tali mungkin?" Jawab Tania sambil tengak tengok.


"Mm, bentar." Nathan kemudian pergi entah kemana, tapi tak lama dia kembali dengan membawa gulungan tali yang terlihat panjang dan berat.


"Dapet dari mana?" Tanya Ebot yang juga ikut mendekat ke sumur.


"Tadi gue liat ada di dalem rumah."


Nathan mulai mengikat tali yang dibawanya ke sebuah pohon besar dengan sangat kuat, lalu melempar tali itu ke dalam sumur, dan dia bersiap untuk masuk ke dalam sumur itu.


"Nath!!" Pekik Tania sambil menahan tangan Nathan.


Nathan menaikkan sebelah alisnya menatap Tania.


"Ati-ati ya, Nath." Ucap Tania.


"Iya..." Nathan tersenyum senang.


Tania mengecup pipi Nathan, membuat Nathan sontak menyentuh pipinya yang dikecup oleh Tania dengan senyum yang mengembang.


"Makasih, ya." Ucap Nathan.


"Kamu harus balik, Nath! Awas kalau nggak!!" Ancamnya dengan mata berkaca-kaca.


"Iya,Tan. Kamu nggak udah takut. Aku pasti balik."


Nathan kemudian masuk kedalam sumur setelah sebelumnya tadi dia mengikat pinggangnya dengan tali yang kuat.


Tali yang satunya dipegang erat oleh Heru dan teman-teman yang lainnya.


Sudah sekitar dua puluh menit, Nathan masih di dalam sumur.


Tania terus berjalan mondar-mandir dan sesekali menengok kedalam sumur. Dia benar-benar sangat khawatir.


Tak lama, tali bergerak-gerak, pertanda Nathan minta dibantu untuk menarik talinya keatas.


Mereka pun segera menarik tali Nathan ke atas bersama-sama, dan Nathan muncul, lalu dibantu Heru dan yang lainnya keluar.


"Gimana, Nath?"

__ADS_1


Nathan mengangguk sambil terbatuk-batuk.


"Di bawah ada tulang, aku yakin...itu tulang Pak Soman. Dan...sumurnya kosong nggak ada air. Cuma, jangan kelamaan. Oksigen terbatas." Ucap Nathan dengan nafas tersengal.


Teman-teman Nathan kembali melihat ke dalam sumur dengan berbekal senter.


Tania mendekat pada Nathan dan langsung memeluknya erat.


"Heiii, aku nggak apa-apa kok, Tan." Ucap Nathan sambil mengusap punggung Tania dengan lembut.


Tania melepas pelukannya dan segera mengambil air mineral dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Nathan. "Minum dulu..."


Nathan meminum air mineral yang Tania berikan sambil tersenyum.


Sesuai kesepakatan dari team Nathan, satu orang dari mereka akan turun ke bawah untuk mengambil tulang-tulang itu. Dan yang turun ke bawah adalah Heru. Dia termasuk pemberani juga.


Dan hanya butuh waktu beberapa menit saja, tulang belulang itu sudah diangkut ke atas.


"Ini beneran, punya Pak Soman?" Tanya Ebot sambil menatapi tulang-tulang itu.


"Perlu kita cek juga sih ke dokter. Yang penting, kita bawa dulu dan segera lakukan penguburan dengan layak." Ucap Nathan.


Setelah semua urusan beres, mereka segera pergi meninggalkan desa itu.


Sebelumnya, mereka mampir terlebih dahulu ke rumah Pak Min untuk mengabarkan tentang penemuan tadi dan kembali ke posko dengan perasaan puas, tenang dan bahagia.


Dan semoga, teror ini segera berakhir.



Keesokan harinya, tulang-belulang itu dikuburkan dengan layak. Dan setelah dicek, memang benar itu tulang Pak Soman.


Dan hari ini, Nathan juga harus segera pulang bersama teman-temannya yang lain.


Mereka mengantar Nathan dan teman-temannya sampai ke balai desa tempat biasa mobil Nathan terparkir disana.


"Aku pulang dulu, ya." Pamit Nathan pada Tania.


"Iya, makasih ya Nath, kamu udah bantuin. Kamu ati-ati..."


"Ehheemmm, kita nggak liat kok, santai aja! Ayok semua, kita liat ke sebelah sana!" Seru Ebot membuat Tania dan Nathan tersenyum karena malu.


"Ya udah, kamu hati-hati ya, Tan. Semoga semua udah selesai, dan nggak ada teror lagi." Ucap Nathan kemudian......'cup'


Nathan mengecup kening Tania dan membelai pipinya dengan lembut.


"Ciieeeeeeee..." Teriak teman-teman Tania dengan kompak.


Nathan dan teman-temannya segera masuk ke mobil, lalu melesat pergi meninggalkan desa.

__ADS_1


...……………...


__ADS_2