
Beberapa teman Tania mundur dan menjauh sambil melihat Wulan dengan tatapan ngeri.
"Mengganggu? Siapa kamu?" Tanya Riswanto lagi.
"Kalian mengganggu ketentramanku!" Teriak Wulan dengan keras sambil menggebrak meja, membuat teman-teman yang lain berteriak ketakutan dan berlarian masuk ke dalam kamar.
Namun tidak dengan Tania dan Riswanto. Mereka berdua masih diam saja melihat apa yang Wulan lakukan. Tania hanya tidak ingin sampai Wulan pergi lagi keluar dari posko dan membuat semuanya harus mencari-carinya lagi seperti kemarin. Itu sangat melelahkan!
Riswanto menggeser duduknya dan mendekat pada Tania. Entah kenapa Tania tidak bisa melepaskan pandangannya dari Wulan. Bahkan mereka berdua saling menatap dengan tatapan tajam.
Jujur saja, Tania merasa sangat lelah dengan teror ini. Ini sudah keterlaluan. Tania harus mengakhiri semuanya, walau tidak tau bagaimana caranya.
"Kamu siapa?" Tanya Tania dingin.
"Hahaha! Aku? Kita pernah bertemu sebelumnya, gadis cantik!" Wulan duduk dengan mengangkat satu kakinya ke meja dan meletakkan tangannya bertumpu pada kakinya, duduk dengan gaya seorang laki-laki.
Siapa ya? Apa dia sosok laki-laki yang sering gue liat membawa golok itu? Karena selama ini, sosok laki-laki cuma dia yang sering gue liat. Batin Tania menebak-nebak.
"Apa kamu pembunuh itu?!" Tanya Tania lagi dengan suara lantang dan Wulan kembali tertawa keras.
"Betul sekali, gadis pintar!"
"Mau apa kamu?!" Tanya Riswanto tanpa rasa takut.
"Mengulangi hal yang sama beberapa tahun lalu!"
"Bagaimana caranya?!" Pertanyaan yang bodoh! Tania jelas tau apa yang akan dia lakukan.
Dia pasti akan merasuki seseorang, dan mulai melakukan hal yang pernah dia lakukan dulu di desa sebelah.
Dan sepertinya dia sudah menemukan targetnya, Wulan!
Dia tertawa dengan keras.
"Kamu gila?! Untuk apa kamu melakukan semua itu?!" Tanya Tania yang merasa semakin geram.
__ADS_1
"Balas dendam!" Jawabnya dengan sorot mata yang semakin tajam.
"Balas dendam?" Tanya Riswanto mengulai ucapan dia dengan heran.
Tania juga tidak mengerti dengan ucapan dia barusan.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" Ucap Tania dengan nada perintah.
Dia pun mulai bercerita. Namanya adalah Pak Soman, seorang tabib dari desa kramat. Dia merupakan tabib yang cukup terkenal karena ilmu pengobatannya.
Setiap orang yang berobat kepadanya, pasti sembuh hingga menimbulkan iri dengki seorang tabib lainnya yang bernama Pak Sobri dari desa ini.
Pak Sobri melakukan fitnah terhadap Pak Soman dengan membuat beberapa santet ke warga telah disembuhkan oleh Pak Soman.
Singkat cerita, warga marah dengan apa yang terjadi pada orang-orang yang telah berobat ke Pak Soman dan warga menuduh bahwa Pak Soman melakukan santet terhadap orang-orang tersebut. Hingga Pak Soman diarak keliling desa, lalu dibakar oleh warga.
Saat nafas terakhirnya, Pak Soman sempat mengucapkan sumpah bahwa dia akan menuntut balas atas apa yang telah dilakukan oleh warga desa kepadanya.
Sebulan setelah Pak Soman meninggal, warga pun mulai mendapat teror dan satu persatu warga meninggal.
Warga yang tersisa memutuskan untuk pergi dari desa. Dan saat itulah, Pak Soman mulai membunuh secara brutal semua warga dengan merasuki Pak Sobri.
"Apakah masih belum cukup bapak membunuh mereka semua? Semua warga desa udah meninggal, pak. Bapak jangan terus dipenuhi dendam, karena itu tidak baik. Kasihan orang-orang yang tidak bersalah." Ucap Riswanto dengan pelan setelah mendengar cerita dari Pak Soman.
"Untuk apa kasihan?! Mereka memperlakukan saya seperti binatang! Bahkan lebih buruk lagi! Mayat saya juga tidak dikuburkan dengan layak! Dibuang begitu saja! Siapa yang tidak punya perasaan?!" Ucapnya dengan penuh emosi yang berkobar-kobar.
"Lalu mau bapak apa?" Tanya Tania.
"Membunuh semua orang yang masuk ke desa itu! Terutama kalian semua yang telah melakukannya!" Ucapnya kemudian tertawa keras membuat bulu kuduk Tania berdiri.
Tidak ada cara lain selain melawannya. Tania kemudian melepas kalungnya dan mendekati Wulan yang sedang dirasuki. Tapi Riswanto langsung menahan tangannya.
Tania meyakinkan Riswanto kalau dirinya akan baik-baik saja. Tania meminta Riswanto ikut mendekat untuk membantunya memakaikan kalung miliknya ke leher Wulan.
Wulan menatapnya tajam.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat, Riswanto langsung memegang tangan Wulan dan Tania segera memakaikan kalungnya ke leher Wulan.
Wulan meronta kesakitan dan berteriak dengan suara yang begitu menyeramkan serta memilukan. Setelah itu, tubuh Wulan kemudian melemas lalu pingsan.
Setelah keadaan aman, teman-teman yang lain keluar dari kamar. Mereka membantu menggotong Wulan masuk ke kamar. Tania dan Riswanto baru bisa menghela nafas lega.
"Tan, Ris, gue bikinin coklat hangat, ya?" Ucap Vhie kemudian langsung lari ke belakang tanpa menunggu jawaban dari merek berdua.
Tania yakin kalau Riswanto juga merasa cemas seperti dirinya. Mereka harus segera bertindak sebelum arwah Pak Soman melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah dilakukannya dulu.
Tania berjalan ke teras, untuk sekedar menghirup udara malam yang dingin. Tania merasa penat, sumpek dan juga sangat lelah.
Riswanto mengikutinya. "Kita harus cepet bertindak kan, Tan?" Tanyanya sambil duduk disamping Tania.
"Iya. Arwah Pak Soman masih gentayangan di desa ini. Pertama kita harus cari dulu jasadnya. Walaupun itu akan sangat sulit, karena sekarang ini pasti tinggal tulang belulang aja kan, Ris?"
"Iya, Tan. Gue setuju. Kita harus kuburkan jasadnya dengan layak. Tapi..... " Riswanto menatap Tania dengan penuh keraguan. "Kita nyari jasadnya dimana coba?"
Inilah yang membuat Tania merasa frustasi. Desa itu cukup luas dan kemana harus mencarinya?
"Apa perlu kita cerita ke Pak Kades?" Tanya Tania dan Riswanto hanya mengangkat bahunya.
Mereka terdiam sejenak dan tampak berpikir.
"Eh, ustad! Kita cerita ke ustad aja, biar bisa bantu. Gimana?" Mata Riswanto seketika berbinar dengan idenya sendiri.
"Bener banget tuh! Pinter lo, Ris. Emang sih, kalau kita yang hadapi sendiri, bakal susah." Ucap Tania.
Vhie keluar dengan membawakan mereka berdua coklas hangat. "Ini buat kalian ghost buster jagoan kita semua." Ucapnya sambil meletakkan dua cankir berisi coklat hangat di atas meja teras rumah.
"Sembarangan aja lo! Ghost buster apaan? Dipikir kita ini nggak jantungan apa?" Sewot Riswanto.
Tania hanya tersenyum. Dia merasa menjadi lebih nyaman. Apalagi kalau ada Nathan disini.
Hizzz! Stop mikirin Nathan!
__ADS_1
...……………...