MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#23


__ADS_3

Malam ini, mereka semua berkumpul dan berdiskusi tentang bagaimana cara menemukan jasad Pak Soman. Beberapa teman yang lain tidak setuju, karena terlalu beresiko katanya.


"Kalau kalian nggak mau ikut ya udah! Biar gue sendiri sama Riswanto aja!" Ucap Tania dengan tegas setelah diskusi panjang.


"Tan, kita disini kan mau KKN. Bukan buat mengungkap kasus." Sahut Vicky yang tidak sependapat.


"Tan, minta tolong Nathan aja. Suruh dia mengerahkan pasukannya buat bantuin nyari itu jasad." Sambung Ebot memberi ide.


Tania tampak berpikir sejenak kemudian hatinya tersenyum. Mm...sepertinya, itu ide yang Bagus!


"Tapi Bot, apa iya pada mau bantu kita? Ini bukan kasus besar, kan?" Tanya Tania pura-pura merasa ragu, tapi dalam hatinya sangat menyetujui ide Ebot.


"Ya kan ini masalah udah menyangkut banyak orang. Gue yakin Nathan bakal bantuin." Ucap Ebot kemudian menambahkan lagi. "Lagian, pujaan hati lu itu disini juga terancam, kan? Pasti dia bakal mengerahkan semua kemampuannya buat bantuin kita. Udah ah! Biar gue yang kabari dia!"


"Iya bener tuh kata Ebot. Besok, lo coba cari sinyal ke balai desa, terus kabari Nathan dan minta bantuan sama dia." Sahut Riswanto memberi perintah.


Asik!


Tania bersorak dalam hati.



Keesokan harinya.


Pagi ini suasana posko agak ramai karena teman-teman dari Nathan.


Tania melihat ke teras, ada Tiwy, Aisyah, Sekar dan Vhie sedang pada asik memandangi teman-teman Nathan yang sedang berolahraga.


Jadi teringat dengan drama korea yang berjudul 'Descendants Of The Sun' . Persis seperti itu, saat dokter Kang dan teman-teman perawatnya terbengong, terkesima melihat sekelompok tentara yang selalu berolahraga dipagi hari dengan bertelanjang dada, menampilkan tubuh ideal dan atletisnya.


Itu benar-benar pemandangan yang sama seperti yang Tania lihat saat ini. "Lagi pada ngapain sih?" Tanya Tania merasa heran karena tumben sekali mereka bangun sepagi ini.


"Tan, liat deh! Hmm...pemandangan yang jarang banget kita liat di pagi-pagi begini." Ucap Tiwy tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa polisi di depan rumah.


"Lebay lu! Gitu aja sampe melotot liatnya. Malu-maluin." Sahut Tania dengan acuh kemudian memilih kembali masuk ke dalam meninggalkan para betina ini yang masih melongo.


Tapi, Aisyah dengan cepat memanggilnya. "Eh Tan, tunggu! Nathan juga ada disana noh." Tunjuk Aisyah dengan sumringah. "Lo nggak mau ikut melototin juga?" Tambahnya.


Seketika, langkah Tania terhenti lalu berbalik dan memang ada Nathan di sana. Dan kini malah Tania ikut bergabung bersama para betina ini. Damn!


Teman-teman betinanya pun langsung melirik Tania sambil mendengus karena Tania seperti kemakan omongannya sendiri.


"Cih! Yang bilang lebay, nggak taunya dirinya sendiri juga ikutan melototin si Nathan. Dasar ababil lu!" Gerutu Aisyah, tapi Tania tidak memilih mendengarnya.

__ADS_1


Dia malah senyum lebar tanpa melepaskan pandangannya dari Nathan.


Nathan terlihat keren, dengan keringat yang bercucuran disekujur tubuhnya. Nathan juga terlihat......seksi!


"Tan, gimana rasanya bibir Nathan?" Bisik Aisyah dengan tiba-tiba yang langsung membuat senyum Tania memudar dan melotot kepadanya.


"Apa sih? Maksud lo apaan?" Tanya Tania pura-pura tidak mengerti.


Sial! Jangan-jangan kemarin Ebot sama Tiwy ngeliat pas gue dicium Nathan? Huwaaaaaa...😫


"Heleh! Dikira kita ini nggak tau apa? Nathan kemaren cium lo kan? Hayo ngaku!" Aisyah malah makin gencar membuat Tania tersudut.


"Kata siapa? Nagarang lo!!" Tania masih berusaha mengelak.


"Saksi mata, noh! Masih idup dan sehat walafiat, dia juga berani di sumpah pocong." Jawab Aisyah sambil menunjuk ke arah Tiwy dengan mengedikkan dagunya.


"Syah! Lo, iiiih! Tau ah!" Tania merasa kesal sekaligus malu.


"Ecieee, malu nih ye! Asik, ihirrr!" Aisyah malah semakin keras meledek Tania, tidak lagi dengan berbisik, dan suaranya sudah mirip dengan toa masjid. Dia masih menambahkan lagi. "Wy, beneran kan yang kemaren lo bilang? Si Nathan udah kiss kiss Tania? Ahahahaha..."


"Eh iya, Syah! Wuiiih, gilak, sumpah! Kalo liat, mupeng beneran! Hahahaha..."


"Setttan!!" Umpat Tania kemudian mengejar mereka berdua.


Mereka berlarian seperti film tom and jerry yang tidak pernah akur.


Nathan heran melihat tingkah mereka. "Kenapa sih ini?" Tanyanya sambil menatap Tania.


"Mereka tuh, nyebelin!" Rengeknya dengan manja.


"Ada yang malu, Nath. Liat tuh muka Tania merah gitu, ahahaha..." Aisyah malah semakin menjadi.


"Emangnya kenapa?" Tanya Nathan yang masih tidak mengerti.


"Jiaaah, si bapak. Ya gara-gara elu lah! Lu apain coba tuh anak orang kemaren? Abis lu pergi, Tania jadi kayak orang gila senyum-senyum sendiri tau?!"


Seketika, Nathan paham dengan situasinya. Dia hanya diam menahan senyumnya sambil melirik ke arah Tania.


"Setan! Awas ya kalian!" Umpat Tania lagi dengan jengkel kemudian langsung pergi meninggalkan mereka begitu saja masuk ke dalam rumah.


"Eh Tan! Taniaaa!!" Teriak Aisyah. "Yah, ngambek. Kita cuma bercanda kali, Tan!"


Tania tidak peduli dengan teriakannya dan terus berjalan masuk ke dalam rumah dengan perasaan dongkol karena sudah terlanjur malu.

__ADS_1


Dia segera mandi. Bahkan saat mandi pun, dia masih terus teringat dengan olokan mereka yang tau kalau dirinya dan Nathan berciuman kemarin.


Duh! Mau ditaruh dimana muka gue? Malu banget, sumpah!


'Tok Tok Tok!'


"Tan! Udah belom?! Gantian napa?!" Teriak Abid dari luar kamar mandi.


"Iya bentar! Udah nih." Jawab Tania.


Saat membuka pintu kamar mandi, Tania melihat Abid sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. "Mau mandi?" Tanyanya.


"Ya iyalah, pake nanya lagi. Gue ada proker nih pagi-pagi. Cepetan! Awas minggir."


Tania langsung menyingkir sambil geleng-geleng kepala. Lalu mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk. Sekalian ingin membuat kopi, mumpung masih berada di dapur.


Saat mengaduk kopi, tiba-tiba ada yang berdeham. Tania sedikit tersentak kaget, tapi tidak menoleh karena dia tau suara siapa yang berasal dari belakang punggungnya. Tania masih merasa sangat malu untuk menunjukkan wajahnya saat ini.


"Kamu lagi bikin kopi, ya?" Tanya Nathan dan Tania sedikit menoleh kebelakang sebentar sambil mengangguk. "Aku buatin dong." Lanjut Nathan yang semakin mendekat pada Tania.


Membuat tubuh Tania gemetaran, jantungnya berdegup dengan kencang dan panas dingin tidak karuan.


"Ini...ini aja. Aku lupa kalau aku belum sarapan. Takut asam lambungku naik." Ucap Tania sedikit gugup sambil menyodorkan secangkir kopi yang baru saja selesai dibuatnya.


Saat Tania hendak melangkah pergi kembali ke kamar, Nathan meraih dan menahan tangannya. Dan itu membuat tubuh Tania terasa seperti tersengat aliran listrik.


Waduh, nggak normal nih gue. Ada yang nggak beres pasti nih!


"Tan..." Panggil Nathan.


Tania hanya diam sambil menunduk karena malu. Dia yakin kalau Nathan pasti ingin membahas masalah tadi.


"Maaf ya soal kemarin. Aku terbawa suasana." Ucap Nathan sambil menatap lekat-lekat Tania, dan Tania bisa merasakan meski tidak melihatnya.


"Iya, nggak apa-apa." Jawab Tania masih menghindari tatapan Nathan.


"Kamu nggak marah, kan?" Tanya Nathan sambil berusaha menangkap tatapan mata Tania.


Namun, Tania masih terus menghindarinya."Enggak kok."


"Tan, di tungguin Tiwy tuh! Katanya mau proker." Seru Sekar yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan mereka berdua.


"Oh, oke!" Jawab Tania pada Sekar kemudian berpamitan ke Nathan. "Ya udah, Nath. Aku pergi dulu."

__ADS_1


Nathan hanya diam dan melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Tania pergi tanpa melepaskan pandangan matanya sampai Tania masuk kedalam kamar.


...……………...


__ADS_2