MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#34


__ADS_3

Setelah Pak Ustad berbicara dengan Pak Kades, akhirnya desa sebelah mulai dibenahi. Seluruh warga diminta partisipasinya untuk membantu. Bahkan ada beberapa warga dari desa lain juga ikut membantu mereka.


Pak Kades berencana akan membangun masjid dan sekolah di sana. Dan anak-anak KKN ada di desa ini hanya tinggal 3 hari saja. Waktu yang sebentar.


Namun, rasanya berat untuk meninggalkan desa ini. Banyak sekali pengalaman baru yang mereka dapatkan di sini.


Malam ini, mereka semua berkumpul di teras rumah. Mereka membuat api unggun dan bakar jagung sebagai perayaan kecil-kecilan karena KKN mereka di sini berjalan sukses. Sekaligus sebagai salam perpisahan, sekalipun nanti mereka pasti akan bertemu kembali di kampus, namun rasanya pasti akan berbeda.


Vicky memainkan gitarnya sambil nyanyi nyanyi tidak jelas, walau falsetto-nya kebangetan, tapi mereka cukup merasa terhibur.


Ebot dan Tiwy saling berpelukan sambil suap-suapan makan jagung bakar.


Riswanto mendekati Tania dan duduk disampingnya. "Nggak nyangka ya, Tan. Kita hampir sebulan di sini." Katanya sambil memperhatikan Vicky dan Kevin yang sedang ribut rebutan gitar.


"Iya, Ris. Banyak banget pengalaman baru juga. Rasanya berat buat pulang. Pasti gue bakal kangen sama suasana kayak gini, sama kalian juga." Ucap Tania haru.


"Sama, Tan. Gue juga ngerasain hal yang sama." Lanjut Riswanto.


"Oh iya, besok kalian jadi ikut bantuin beresin desa sebelah, Ris?" Tanya Tania.


"Iya lah Tan, pasti. Kalau nolongin orang harus tuntas dong." Jawabnya.


Sreek..sreekk


Tiba-tiba ada seorang nenek-nenek yang berjalan di depan rumah dengan pelan dan kaki diseret.


Tania menyenggol Riswanto agar dia melihat nenek itu.


"Setan apa orang, Tan?" Bisiknya bertanya.


Tania mengangkat bahunya karena benar-benar tidak tau. Dia juga sering tertipu, dikiranya orang eh ternyata bukan.


"Malem, nek. Nenek mau kemana malem-malem gini?" Abid menyapa dengan sok akrab.


"Tuh anak pake nyapa segala. Nggak dicek dulu gitu, itu orang apa bukan.." Celetuk Ebot.


Tania pun berpikiran sama dengan Ebot.


Mereka hanya memperhatikan Abid dari tempat mereka duduk.


Si Abid baik banget, ya? Kalau gue mah, secara logika...ini udah malem gaesss. Lagian ngapain coba, malem-malem gini ada nenek-nenek masih berkeliaran diluar? Batin Tania.


Nenek itu menghentikan langkahnya, dengan perlahan menoleh ke Abid. "Mau pulang." Ucapnya datar.


"Memangnya, rumah nenek dimana?"


Duh, Abid kepo banget sih, sumpahh!!


"Di sana..." Nenek itu menunjuk ke arah depan.


"Saya kok baru pernah liat nenek, ya?" Tanya Abid lagi.


Abid memang beberapa kali berurusan dengan para lansia untuk kegiatan prokernya. Jadi wajar saja kalau dia lebih hafal daripada teman-temannya.


"Iya, nenek memang baru..." Jawab nenek itu dengan tatapan dingin.


"Baru? Baru dari mana, nek?" Abid masih penasaran.


"Baru bangkit dari kubur!!!" Pekik nenek itu disusul dengan tawanya yang melengking, dan suara tawa nenek itu mirip sekali dengan nenek lampir.


Seketika membuat mereka melotot karena sangat terkejut mendengarnya. Sedangkan Abid langsung terdiam sengan tubuh membeku disana.


Lalu, terdengar bunyi 'kreekkk' disusul suara 'bugh', kepala nenek itu jatuh ke tanah. Namun, suara tawanya masih terus menggema ditelinga mereka.


"Semuanya, masukkk!!!" Teriak Riswanto memberi perintah.


Dengan cepat, mereka langsung berebut masuk ke dalam rumah.


Tapi Abid masih terpaku ditempatnya berdiri tak bergerak.

__ADS_1


"Ris! Abid!!" Tania sambil memukul lengan Riswanto karena panik.


Riswanto meremas rambutnya sendiri sekilas, lalu segera menyeret Abid masuk ke dalam rumah.


Pintu mereka kunci dan korden juga mereka tutup rapat-rapat.


"Ya Allah...kok masih aja ya ada ginian..?" Rengek Vhie.


Tania melirik jam dinding di ruang tamu.


Pantas saja, ini sudah pukul sebelas lebih. Memang di jam jam segini, sosok sosok astral mulai bermunculan.


Merekanya saja yang kurang kerjaan. Harusnya tidur, malah masih berisik diluar.


"Mending kita tidur aja, yuk! Udah malem nih, besok kita juga harus kerja bakti, kan?" Ucap Tania ke meraka.


Kemudian, satu per satu dari mereka masuk ke kamar masing-masing.


Tania juga masuk ke kamarnya bersama Tiwy.


Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mencoba untuk memejamkan mata.


Rasanya, kangen yang tadi dia rasakan dengan suasana di desa ini, hilang sudah.


Mending ceper pulang aja deh kalau gini. Beneran!



Keesokan harinya, pagi pagi sekali mereka memasak banyak makanan. Rencananya, mereka ingin menyumbang makanan untuk kerja bakti di desa sebelah.


Teman-teman pria sudah lebih dulu pergi ke sana untuk membantu para warga desa.


Sekitar pukul 11 siang, mereka selesai memasak, lalu mereka berangkat ke desa sebelah dengan membawa masakan mereka.


Sampai di sana, sudah ada beberapa ibu-ibu yang juga memberikan makanan ke para warga yang kerja bakti.


Tania dan teman-temannya meletakkan berbagai sayur dan laup pauk yang mereka bawa di atas tikar yang sudah digelar di sana.


"Akhirnya ya Tan, desa itu nggak lagi jadi desa angker. Rasanya lega banget, kita bisa bikin perubahan sebesar ini untuk desa sebelah." Ucap Aisyah dengan mata berkaca-kaca penuh haru.


"Iya, Syah. Gue juga lega banget. Seenggaknya, tempat itu akan jadi lebih bermanfaat nantinya." Ucap Tania.


"Eh, kita jalan-jalan bentar yuk kedalem! Pengen liat, untuk terakhir kalinya deh." Ajak Tiwy.


"Ayokkk!" Sahut Vhie bersemangat.


Mereka, lalu masuk ke desa itu.


Hampir semua rumah di sana sudah rata dengan tanah. Beberapa barang dan benda yang tersisa dikumpulkan dan akan dibakar.


Dari kejauhan, Tania melihat sebuah boneka teddy bear yang sudah kotor. Dia mendekat lalu mengambilnya.


"Tan, mau ngapain?" Tanya Wulan menyelidik.


"Bonekanya masih Bagus, ya? Gue bawa pulang aja kali ya, buat kenang-kenangan." Ucap Tania sambil menepuk-nepuk boneka itu agar debunya hilang.


"Jangan, Tan! Tinggal aja deh!" Ucap Wulan serius.


"Kenapa? Daripada dibakar, sayang tau." Tania masih tetap ngeyel.


"Tania, mending jangan deh. Boneka kan bisa lo beli yang baru di toko. Nggak perlu bawa dari sini. Feeling gue nggak enak tau!" Wulan kembali memperingatkan Tania.


"Kenapa sih ini?" Tiba-tiba Aisyah muncul di belakang Tania.


"Ini Tania, masa bonekanya mau dibawa pulang. Kalau tu boneka ada yang punya gimana? Terus ngikut sampe rumah, kan nggak lucu?" Kata Wulan kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Iya, Tan. Bener tuh kata Wulan. Lagian, lo kan punya boneka bejibun. Masih kurang?" Aisyah sewot.


"Iya iya! Gue tinggal nih, nggak jadi bawa!" Tania kembali meletakkan boneka itu ke tempat asalnya.

__ADS_1


Sesekali, Tania menoleh melihat ke arah boneka itu sebelum pergi dari sini.


Sekarang sudah pukul 15.00. Mereka memutuskan untuk pulang karena rasanya juga sudah sangat lelah.


Warga juga banyak yang sudah pergi, karena besok akan dilanjutkan lagi.


Begitu sampai rumah posko, Tania langsung menuju ke kamar mandi dengan berlari kecil karena ingin buang air kecil. Dari tadi sudah menahan, membuat perutnya sedikit sakit.


"Tan! Taniaaa!!" Teriak Aisyah dari depan.


Tania kemudian buru-buru keluar dari kamar mandi dan menemui Aisyah. Ada apa sampai dia terdengar heboh seperti itu.


"Kenapa, Syah?" Tanya Tania yang melihat Aisyah dan Tiwy menatap ke dalam kamarnya dengan wajah aneh.


"Kan udah gue bilang, bonakanya nggak usah dibawa! Lo kok ngeyel sih dibilangin?!" Gerutu Aisyah dengan kesal.


"Lah emang nggak gue bawa. Kan tadi udah gue balikin lagi." Ucap Tania heran.


Tiwy bergidik ngeri, kemudian langsung ngacir ke teras rumah.


Tania mendekat ke Aisyah dan melihat ke dalam kamar.


Deg!


Boneka itu sudah ada di atas. tempat tidurnya.


*Ini nggak mungkin. Gue inget banget kalau bonekanya tadi udah gue taroh lagi di tempatnya.


Masa udah ada disini? Nggak mungkin tuh boneka jalan sendiri, kan*?!


"Sumpah, Syah! Gue nggak bawa tuh boneka." Ucap Tania sambil menatap lebar ke boneka itu.


"Tuh, kan! Mulai lagi deh ini." Aisyah mulai panik. "Riswan!!" Teriaknya memanggil Riswanto lalu mencari keberadaan laki-laki itu ke luar.


Tak lama, Aisyah bersama Riswanto kembali dan melihat ke kamar Tania.


Wajah mereka mendadak pucat.


"Tan--"


"Jangan tanya, kenapa tuh boneka ada disini!! Karena gue nggak tau!!" Tania langsung memotong ucapan Riswanto dengan kesal.


Tania kemudian berjalan ke teras dan duduk disana. Dia menekan kepalanya karena dia benar-benar merasa stress. Dia pikir kalau teror di desa ini sudah berakhir, lalu ada apa lagi?!


Tania sudah lelah, benar-benar sangat lelah!


"Gue ke rumah Pak Ustad ya? Gue bawa bonekanya." Riswanto kemudian pergi ke rumah Pak Ustad bersama Kevin dengan membawa boneka itu.


Terserah deh!


Tania sudah malas untuk memikirkan hal hal semacam itu lagi.


Malam harinya, Riswanto dan Kevin masih belum kembali. Membuat Tania merasa cemas, kenapa mereka pergi selama itu.


Namun tiba-tiba, mereka berdua sudah muncul dari pintu depan dengan raut wajah yang terlihat lebih berseri.


"Gimana, Ris?" Tanya Tania.


"Udah diamanin sama Pak Ustad, Tan. Lo tenang aja." Jawabnya.


Fyuhhh!


Lega rasanya.


Tania memutuskan untuk sholat isya' terlebih dahulu dan mengirim doa untuk para arwah warga desa sebelah, agar mereka tenang disana.


Selesai sholat dan mengirim doa, Tania melakukan packing karena besok dia dan teman-teman KKN nya akan kembali pulang ke kotanya.


Tiwy terlihat sedikit kerepotan malam ini. Karena bawaannya yang banyak, membuatnya pusing sendiri untuk bebenah.

__ADS_1


Haaah...Akhirnya pulang juga! Kangen Nathan deh. Dia lagi ngapain ya sekarang?


...……………...


__ADS_2