MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#33


__ADS_3

"Nggak mungkin kalau lo itu Beno!! Lo bohong, kan?!!" Teriak Tania.


"Masa kamu nggak bisa ngerasain aku selalu ada disini? Memang wajahku berubah karena aku pernah mengalami kecelakaan sampai wajahku rusak. Akhirnya, aku menjalani operasi plastik." Ucap Saiful dengan serius menatap Tania. "Huh, gimana? Aku tambah ganteng nggak?" Tanyanya dengan senyum sumringah sambil terus berjalan mendekati Tania.


Glek!


Tania menelan ludahnya, bingung harus berbuat apa. Jika dirinya mau teriak sekalipun, mana ada yang mendengarnya?


Jarak rumah posko ini dengan rumah warga, cukup jauh.


Tania melirik ke kamar dan langsung berlari masuk ke sana. Dia merasa, kamar adalah tempat yang tepat untuk menghindari Saiful atau Beno itu.


Saiful tentu saja tidak tinggal diam. Dia mengejar Tania dan berusaha menerobos masuk ke kamar Tania.


Pintu kamar yang belum tertutup sempurna, terus didorong oleh Saiful.


"Pergi lo, sana!! Mau apa lagi sih, lo?!!" Teriak Tania.


"Aku mau kamu, Tan!" Jawabnya.


Bagaimanapun juga, kekuatan Tania tidak akan sebanding dengan Saiful. Tentu tenaga dia lebih kuat dari Tania.


"Tolong!!!" Teriak Tania sekeras mungkin.


"Percuma juga kamu teriak minta tolong, Tan. Nggak ada yang denger." Saiful tertawa puas.


"Ada!! Ada Allah!!" Kata Tania penuh keyakinan.


'Brakkk!'


Pintu didorong dengan kuat oleh Saiful hingga terbuka dan Tania terjatuh.


Punggung Tania menghantam meja dibelakangnya membuatnya meringis kesakitan sambil memegangi punggungnya.


Melihat Tania tidak berdaya, Saiful tersenyum penuh kemenangan sambil perlahan melangkah masuk mendekatinya.


Tania beringsut mundur dan melemapar apapun yang ada didekatnya ke arah Saiful.


Saiful hanya tertawa senang menatap Tania yang tidak berdaya.


Tania berusaha berdiri saat Saiful mendekat. Dia menahan tangannya lalu menendang perutnya dengan lutut.


"Ough..." Saiful sedikit kesakitan tapi masih terus tersenyum.


Tania mengarahkan tinju ke wajahnya, namun tangannya berhasil diraih oleh Saiful. dia mendorong Tania mundur hingga Tania jatuh ke atas tempat tidur dan segera mengurung dibawahnya.


Kedua tangan Tania ditahan oleh Saiful ke samping. Dengan cepat, Tania menendang ******** laki-laki brengsek itu hingga terjatuh dan mengerang kesakitan.


Tania segera berlari keluar dari kamar. Namun, Saiful masih bisa meraih pakaiannya dan menariknya kuat.

__ADS_1


Tania terus berusaha untuk pergi dan robeklah baju yang dipakainya hingga sebagian punggungnya terlihat.


Dia meraih vas bunga yang ada di atas meja kamarnya lalu memukulkannya dikepala Saiful hingga kepalanya mengeluarkan darah.


Akhirnya Tania bisa melepaskan diri dan berlari keluar sambil menangis.


"Tania!!" Teriak Saiful.


Tania terus berlari sambil sesekali melihat ke belakang, memastikan kalau Saiful tidak akan bisa menangkapnya.


Tapi tiba-tiba, ada seseorang yang muncul dan memeluknya.


Merasa panik dan ketakutan, Tania berteriak dan memberontak. Dia tidak tau siapa yang saat ini sedang memeluknya. Rasa takut dan traumanya kembali hadir. Dia benar-benar ketakutan. Bagaimana kalau Saiful yang saat ini berada dihadapannya dan memeluknya erat seperti ini?


"Tan, Tania! Ini aku!"


Suara itu? Terdengar sangat familiar.


"Tania, lihat aku. Buka mata kamu."


Tania sontak membuka matanya dan yang dilihat adalah Nathan. Dia langsung bisa bernapas lega.


Dia langsung memeluk Nathan dengan erat dan kembali menangis dalam pelukannya.


"Udah ya nangisnya. Jangan takut. Ada aku disini." Ucap Nathan sambil membelai rambut panjang Tania dengan lembut untuk menenangkannya.


Sesaat kemudian, Tania berhenti menangis dan melepaskan pelukannya, lalu menatap Nathan dengan heran. "Kamu kok ada disini?"


"Nath, Saiful--"


"Dia Beno." Sahut Nathan memotong kalimat Tania.


"Dari mana kamu tau?" Tanya Tania semakin heran.


"Sejak kamu cerita, aku langsung mencari tau tentang dia selama ini. Akhirnya aku dapet info kalau dia melakukan operasi plastik. Bahkan aku datengin dokternya dan dokter itu menunjukkan foto Beno sebelum dan sesudah operasi plastik. Karena itu aku langsung ke sini." Nathan menjelaskan.


Tak lama, dari arah belakang Nathan datang juga beberapa anggota kepolisian.


"Langsung aja!" Nathan memberi perintah ke mereka.


Mereka langsung setengah berlari menuju rumah posko.


Nathan melepas jaketnya lalu memakaikannya ke tubuh Tania. Dia juga mengusap sisa air matanya dengan lembut.


Sesaat kemudian, teman-teman Nathan kembali dengan membawa Saiful yang berdarah-darah dibagian kepalanya. Mereka menyeret Saiful dengan kasar.


Kemudian dari kejauhan, terlihat teman-teman KKN Tania berjalan mendekat dan menatap heran pada Saiful yang dibawa paksa oleh polisi.


"Loh, Nathan? Ada apa? Kok, Saiful diseret gitu?" Tanya Abid bingung.

__ADS_1


"Kita ngobrol dirumah aja." Ucap Nathan pelan. "Syah, temenin Tania." Imbuhnya pada Aisyah.


Aisyah mendekat pada Tania kemudian merangkulnya dan mengajaknya kembali ke rumah posko.



Setelah semua berkumpul, Nathan mulai menjelaskan kepada mereka alasan dia datang dan kenapa menangkap Saiful.


Semua pun terkejut setelah mendengar penjelasan dari Nathan. Bahkan, Riswanto sampai menjambak rambutnya sendiri karena merasa tertipu selama ini. Dialah yang paling dekat dengan Saiful. Tapi dia sama sekali tidak bisa merasakan bahwa Saiful adalah Beno.


"Gila! Gue bener-bener nggak nyangka dia bisa sejahat itu." Kata Ebot.


"Yang sabar ya, Tan." Ucap Abid prihatin.


"Lo nggak apa-apa kan, Tan? Ada yang luka nggak?" Tanya Kevin.


Teman-teman Tania terlihat khawatir atas apa yang dulu pernah menimpanya dan yang baru saja dialaminya.


Namun, Tania merasa lega karena Beno sudah diamankan. Nathan juga akan memastikan kalau Beno akan mendapatkan hukuman yang setimpal.


Malamnya, Nathan pamit pulang karena dia belum mendapat cuti lagi.


"Kamu jaga diri baik-baik." Ucapnya pada Tania saat mereka semua berada diteras rumah melepas kepulangan Nathan.


"Iya. Makasih ya, Nath. Kamu juga ati-ati."


Nathan mengangguk sambil tersenyum.


"Semuanya tolong jagain Tania ya? Aku pamit dulu." Pamit Nathan pada mereka semua.


"Iya, Nath. Ati-ati..."


"Take care, Nathan..."


"Kalau libur main sini lagi, Nath."


Pesan dari mereka kepada Nathan.


Heru dan dua orang teman Nathan sudah ada dihalaman untuk menjemput Nathan. Karena mobil mereka ada di balai desa.


"Kamu nggak usah anter. Habis ini, langsung istirahat aja." Pinta Nathan dengan lembut lalu dia mencium kening Tania agak lama.


"Eheeem!" Ebot mulai iseng.


Nathan melirik ke arahnya setelah melepas ciumannya di kening Tania.


"Kenapa? Tenggorokan gue sakit. Serius, hehe..." Kata Ebot sambil nyengir.


Akhirnya, Nathan pamit dan kembali pulang.

__ADS_1


...……………...


__ADS_2