
Tania dan Ebot langsung mundur karena mereka sama-sama takut.
Glundung pringis adalah sosok makhluk astral golongan jin yang dekat dengan golongan manusia seperti layaknya kuntilanak dan pocong.
Hantu glundung pringis ini berwujud sebuah kepala gundul tanpa badan, bertaring dan menyeramkan.
Glundung yang artinya menggelinding, dan pringis yang artinya tertawa meringis. Hantu tersebut biasanya banyak ada di pulau jawa.
"Ris!! Riswan!!" Teriak Ebot memanggil Riswanto yang tak kunjung keluar.
"Riswan ngapain sih di dalem? Lama banget." Imbuh Tania.
"Liat yuk, Tan! Jangan-jangan dia disate lagi sama ibu-ibu tadi. Gue yakin tadi itu bukan manusia!" Kata Ebot.
Tania menyetujuinya dan mereka pun segera masuk ke dalam.
Keadaan di dalam rumah gelap, berbeda dengan tadi.
Tania segera mengeluarkan senter yang dia simpan di saku celananya.
Rumah ini sudah rusak, berdebu dan seperti sudah lama sekali tidak dihuni.
"Ris, Riswan?" Panggil Tania.
"Tan, itu Riswanto!" Seru Ebot sambil menunjuk ke arah Riswanto yang tergeletak dilantai.
Dengan cepat, mereka langsung menghampirinya.
Tania menepuk-nepuk pipinya agar dia sadar. "Ris! Bangun, Ris!!" Bahkan Tania menamparnya cukup keras.
Perlahan, Riswanto bergerak.
"Ris, kok lu bisa pingsan disini?" Tanya Ebot setelah Riswanto membuka matanya.
"Yuk, kita keluar aja deh, cepet!!" Riswanto memaksakan dirinya bangun dengan sempoyongan agar bisa cepat pergi kembali ke posko.
Ebot membantu Riswanto dengan memapahnya berjalan keluar dari rumah ini.
Tania mengamati halaman depan, memastikan gundul pringis itu sudah tidak ada disana. "Aman, Bot. Yuk, buruan pulang! Belum sholat maghrib lagi..."
Tania dan Ebot memapah Riswanto yang terlihat lemas dan tidak bertenaga.
Sesampainya di posko, Riswanto duduk di kursi ruang tamu sambil meringis.
"Kalian lama banget sih?!" tanya Tiwy dengan kesal.
"Kita habis dikerjain, yank." Jawab Ebot lalu melihat Riswanto. "Lu kenapa, Ris? Bisa pingsan gitu?"
"Tadi pas gue ngikutin ibu tadi masuk ke dalem, ternyata ibu itu lagi masak. Dia minta tolong buat mindahin wajan yang guede banget. Gue pikir karena berat kan, jadi gue nggak mikir yang aneh-aneh. Eh pas gue angkat tuh wajah...tau nggak apa yang ada didalemnya?" Tanya Riswanto dengan menatap serius pada mereka satu per satu.
Mereka menggeleng masih mendengarkan dengan serius juga.
"Jari tangan manusia! Bahkan ada mata, kuping, hidungnya juga, gilakkk!" Lanjut Riswanto sambil menekan kepalanya.
Riswanto benar-benar trauma berat.
Tiwy dan Sekar yang mendengarnya langsung merasa mual sampai lari ke belakang dan muntah.
__ADS_1
"Lagian, udah dibilang jangan masuk, tapi elu masih aja nekad, Ris!" Ucap Ebot sambil mendengus kesal.
"Ya gue pikir nolongin orang, Bot. Kasian, kan?"
"Eh, kita juga ketemu penampakan tauk!!" Seru Ebot.
"Apaan???" Tanya mereka serentak.
"Gundul nginyis!!" Jawab Ebot ngasal karena lupa nama hantunya.😅
'Plakkk!'
Tania langsung memukul lengannya. "Gundul pringis, begoo!" Kata Tania membenarkan.
"Huuu! Nginyis, ngarang lu!" Sahut Kevin yang ikut kesal dengan jawaban Ebot.
Yang lain malah pada tertawa.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu, mendengarkan cerita dari Ebot dan Riswanto.
Sedangkan Tania hanya diam ikut karena malas membahas lagi. Rasanya, kejadian tadi sudah hampir membuat jantungnya copot.
…
Keesokan harinya.
Karena kegiatannya sudah selesai, Tania memutuskan untuk berdiam diri dirumah posko saja. Tania merasa malas untuk kemana-mana.
Kegiatan kemarin cukup menyita tenaga dan waktu, membuatnya jarang bisa bersantai di rumah ini.
Hanya tinggal beberapa hari lagi, mereka akan pulang dan meninggalkan desa ini. Tania merasa tidak percaya, bahwa waktu berjalan begitu cepat.
Sebenarnya, Tiwy juga sudah selesai sama seperti Tania. Hanya saja, hari ini dia ikut Ebot, sebagai solidaritas sepasang kekasih barang kali. Jadi, tinggallah Tania sendirian di rumah.
Tidak banyak kegiatan yang dilakukan Tania di dalam rumah ini. Dia pun benar-benar memanfaatkan waktunya untuk bersantai.
Salah satu cara untuk membunuh waktu adalah dengan bermain game di ponselnya.
Saat sedang asyik main game dengan ekspresi gemas, tiba-tiba Tania mendengar suara pintu berderit yang memang khas setelah dirinya tinggal di rumah ini cukup lama, membuat Tania hapal dengan suaranya.
Tania menghentikan permainan gamenya dan berpikir. Seingatnya, pintu sudah terkunci dan mereka membawa kunci cadangan, kecuali Aisyah dan beberapa teman laki-lakinya.
Tapi, jika mereka pulang dan tidak bisa membuka pintu, harusnya ada suara ketukan dan sapaan untuknya, kan?
"Siapa yang udah pulang, ya?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
Kerana merasa tidak penting, Tania juga tidak mempedulikannya lagi, dia tetap diam ditempat, kembali melanjutkan bermain game.
Sambil terus fokus dengan layar ponselnya, Tania menjulurkan tangannya ke meja yang ada disamping, mencari keberadaan gelas karena kini dia merasa haus.
Ternyata gelasnya kosong dan tepat sekali, permainan gamenya juga berakhir alias game over.
Tania merasa sangat kesal karena sudah mencapai level tinggi, tapi nyatanya dia kalah di menit terakhir.
Dengan kesal Tania beranjak lalu melempar ponselnya dengan kasar ke atas tempat tidurnya. Sepertinya, dia memang harus keluar dari kamarnya.
Entah sudah berapa jam Tania berdiam diri dalam kamar, sampai benar-benar lupa waktu.
__ADS_1
Saat Tania membuka pintu kamar, keadaan diluar tampak sepi.
Tania kembali merasa gelisah karena merasa ini tidak wajar. Dia sangat yakin kalau tadi dia mendengar suara pintu dibuka.
Kemudian Tania pergi ke ruang tamu. Di sana juga tidak ada satu pun manusia. Kini, dia memutuskan untuk memeriksa tiap kamar sambil berjalan ke dapur.
Sangat yakin kalau tidak mungkin ada makhluk tak kasat mata di rumah ini, karena rumah ini sudah di pagar ghaib oleh kakaknya dan kawan-kawan.
Keadaan kamar hampir sebagian tertutup, dan Tania tidak berani membukanya. Karena itu adalah tempat pribadi mereka.
Sampai didapur, Tania segera mengambil gelas dan menuang air putih dari cerek.
Tania menajamkan pendengarannya, merasa ada suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dia lalu segera menoleh ke arah pintu dan di sana muncul seseorang yang sangat tidak ingin dia lihat.
Saiful? Jadi, dia yang ada di rumah sekarang? Batin Tania sambil meletakkan gelasnya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
Merasa keadaan ini cukup tidak nyaman, Tania segera pergi dari dapur. Tapi, langkahnya terhenti ketika mendengar panggilan dari Saiful.
"Apa?!" Ketus Tania.
"Akhirnya, aku punya kesempatan juga berduaan sama kamu." Ucapnya dengan menyeringai.
Deg!
Perasaan Tania semakin tidak nyaman mendengar perkataannya itu.
Maksud dia apa? Dia mau apa?
"Mau apa lo?!" Tanya Tania dengan lantang, sedikitpun tidak ada rasa takut menghadapi Saiful.
"Aku mau kamu, aku kangen kamu, Tan. Udah lama banget kita nggak ketemu." Tuturnya. "Oh iya, makasih untuk luka yang udah kamu buat." Lanjutnya sambil meraba lehernya sendiri.
Tania memicingkan matanya agar dapat melihat luka yang dia maksud.
Tunggu!
Luka di leher?
Tania tampak berpikir. Seingatnya, dia tidak pernah berkelahi dengan Saiful ataupun membuat keributan dengannya selama ini. Justru, Tania selalu menjaga jarak dengannya, walau dia selalu mengikutinya selama di kampus.
Tapi, luka dileher itu.....
Astaga!!!
Tania menggeleng pelan sambil berjalan mundur. Ini tidak mungkin!
"Nggak mungkin..."
"Nggak ada yang nggak mungkin, Tan. Aku ada disini dan aku kembali buat kamu." Ucap Saiful.
Tania makin mundur dan mulai dapat membaca maksud dari perkataannya.
"Gimana kabar papa kamu yang dulu ngotot mau memenjarakan aku?" Lanjutnya lagi bertanya.
"Lo.....Beno?!!" Tanya Tania sambil melotot manatapnya. Karena tidak mungkin kalau Tania lupa dengan wajah laki-laki itu.
Dan Saiful sama sekali tidak mirip dengan Beno. Memang sih, Tania selalu tidak suka dengannya.
__ADS_1
Saiful tersenyum lebar. "Akhirnya kamu mengenaliku, Tan. Aku kangen sama kamu."
...……………...