MISTERI Dusun Alas

MISTERI Dusun Alas
#27


__ADS_3

"Oke, berarti udah 70% proker kita finish dan tinggal 2 minggu lagi kita di sini. Gimana? Ada masalah, selama kalian di sini? Mungkin bisa kita sharing bareng..." Riswanto mengawali brefing malam.


"Ya paling masalah sama makhluk astral aja sih sejauh ini, Ris. Yang lain mah, lancar lancar aja, gue nggak ada kendala apa-apa." Ebot berkata dengan santai.


"Iya. Lagian, warga juga selalu dukung kita, dan banyak bantu juga." Sambung Aisyah.


"Moga aja sih nggak ada masalah lagi yang aneh aneh kayak kemaren." Imbuh Tiwy sambil bersandar dilengan Ebot.


(pettt!)


Tiba-tiba listri padam dan semua menjadi gelap tanpa cahaya lampu.


"Yaaah! Kenapa nih?!" Penik Vhie dengan panik.


"Biar gue liat meteran di depan." Ucap Saiful sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menyalakan senter.


Saiful kemudian keluar ke teras rumah bersama Abid juga.


"Wahh, mati listrik nih!" Teriaknya setelah mengecek.


"Duh, nggak asik benget sih, ditempat kayak gini pake mati listrik segala!" Rengek Sekar.


"Iya! Apaan sih PLN? Ngapain coba matiin listrik disini? Desa lain aja napa?" Wulan ikut bete.


Yah, semua pasti bete kalau malam malam seperti ini malah mati listrik. Ditambah, tempat ini juga horor.


Untung saja Riswanto punya lilin, dan kini suasana di dalam rumah posko menjadi temaram, hanya diterangi oleh cahaya lilin saja.


"HP, ntar aja dipakenya kalau lilin udah mati. Buat jaga jaga." Saran Riswanto.


Takutnya, hal ini berlanjut sampai tengah malam, atau bahkan sampai pagi.


Suasana menjadi lebih hening.


"Mending tidur aja, yuk!" Saran Tania ke teman-temannya.


"Iya tuh, bener banget!" Sahut Kevin.


Akhirnya beberapa dari mereka mulai beranjak masuk ke kamar masing-masing dengan berbekal senter dari ponsel.


'Tuk tuk tuk'


Rasanya, ada yang mengetuk jendela kamar Tania.


Tiwy yang menyadarinya, seketika langsung melompat ke tempat tidur Tania. "Siapa tuh, Tan?" Bisiknya dengan wajah yang sudah memucat karena takut.


"Mm, aku liat dulu coba. Mungkin serangga malam kali." Ucap Tania mencoba menghibur dirinya sendiri.


Tania beranjak turun dan sengan perlahan mendekat ke jendela, lalu sedikit mengintip dari balik korden.


Seketika, tubuhnya terasa lemas begitu melihat sesuatu di luar jendela.


Sekalipun listrik sedang mati, namun sinar bulan tetap membuat apa yang ada di luar sana, bisa jelas terlihat. Apalagi dengan kostumnya yang putih kusam.

__ADS_1


Dengan cepat, Tania langsung menutup kordennya dan menarik tangan Tiwy untuk segera keluar kamar.


Kalau dengan sosok yang seperti ini, jujur saja Tania sangat takut. Katanya, kalau diludahi sosok itu, baunya akan sulit hilang, dan juga bisa mengakibatkan korengan yang sulit disembuhkan. Katanya!


Bahaya banget kan?


"Tan, kamu liat apa sih?" Tiwy terus bertanya karena Tania tak kunjung memberi jawaban kepadanya, hanya terus menariknya keluar dari kamar.


Di ruang tamu masih ada Riswanto, Saiful dan Ebot.


"Kenapa sih ini? Pake gandengan kayak truk aja!" Seru Ebot dengan heran melihat dua gadis cantik ini keluar kamar dengan tergesa-gesa.


"Tau nih, Tania. Habis liat apaan sih, lu tadi?" Tanya Tiwy sambil duduk disamping Ebot, sedangkan Tania masih belum menjawabnya.


"Kamu kok belum tidur sih, yank?" Tanya Ebot ke Tiwy.


"Tadi di kamar ada yang ketuk-ketuk jendela, terus Tania liat ke jendela, eh dia malah langsung narik aku keluar." Jawab Tiwy sambil mengerucutkan bibirnya merasa kesal karena Tania masih belum juga menjawab pertanyaannya.


Tiwy ini keponya minta ampun pokoknya. Tapi, penakutnya luar biasa.


"Lo liat apa, Tan?" Kali ini Riswanto yang bertanya.


"Pocong." Jawab Tania dengan malas. Kemudian duduk di kursi sebelah Riswanto.


Tiwy makin mepet ke Ebot, sedangkan Ebot yang dapat kesempatan itu langsung memeluk Tiwy yang ketakutan.


"Duh, kenapa sih harus dikamar kita nongolnya ya, Tan?" Tanyanya.


"Ya mana gue tau." Tania sambil menatap ke arah jendela depan, lalu bicara kepada Riswanto. "Ris, kordennya kenapa nggak ditutup sih?" Tania malah makin paranoid.


"Tutup aja lah. Ntar kalau ada yang ngintipin kita gimana coba?"


"Iya, Tan. Oke..." Riswanto segera menutup beranjak menutup kordennya.


Namun, saat akan menutup kordennya, gerakan tangannya terhenti sejenak dan melihat ke arah luar rumah.


"Shiiittt!!" Pekiknya dan dengan cepat langsung menutup kordennya, lalu kembali duduk dengan wajah yang sudah berubah pucat.


"Kenapa?" Tanya Tania pura-pura tidak tau.


"Pake nanya lagi. Ya tuh pocong ada didepan sekarang!" Riswanto mendengus.


"Iihhh, gimana dong yank? Masa tiap hari kita mesti gini sih? Perasaan, masalah Pak Soman udah kelar...ini apa lagi coba?!" Tiwy makin heboh.


Tania seketika menjadi pusing mendengar Tiwy yang terus mengoceh di saat seperti ini. Dia menekan kepalanya sendiri dengan kedua tangannya sambil menunduk.


"Wy, berisik tau! Tuh, Tania jadi pusing." Ucap Saiful sok perhatian.


"Ih, suka suka kali! Lagian, Tania juga nggak kenapa-napa, ya kan Tan?" Tanya Tiwy kepada Tania.


Tiba-tiba.......


"Aaaaaaa..."

__ADS_1


Terdengar suara teriakan dari dalam kamar dan sepertinya, itu suara Sekar dan Aisyah.


"Tolooong!!! Bukaaaaa!!!"


Mereka yang berada di ruang tamu kemudian saling pandang dengan tatapan serius, dan langsung bergegas menuju kamar Sekar dan Aisyah.


"Sekar, Aisyah! Kenapa?" Teriak Tania dari depan pintu kamar.


"Tan, tolongin! Ada setan!" Jawab Sekar sambil menangis.


"Duh, malah ke kamar mereka, tuh!" Ebot bingung.


"Ris, dobrak aja!" Pinta Tania.


Riswanto mengangguk, kemudian dia bersama Saiful dan Ebot segera mendobrak pintu kamar Sekar.


'Brakkk!'


Pintu terbuka.


Aisyah dan Sekar langsung berlari keluar kamar dengan wajah ketakutan dan panik. Tania memeluk mereka.


"Udah, nggak apa-apa. Gue ambilin minum, ya?" Ucap Tania mencoba menenangkan mereka, dan mereka hanya diam sambil mengangguk dengan sisa sisa air mata yang ada matanya.


Tiwy kemudian mengajak mereka duduk di ruang tamu.


Tania membuatkan mereka semua teh hangat agar lebih tenang. "Nih, diminum dulu mumpung masih anget."


Satu per satu, mereka mengambil cangkir teh hangat buatan Tania.


"Kalian liat apa tadi?" Tanya Saiful setelah menyeruput tehnya.


"Kita liat pocong! Dia bahkan masuk ke kamar! Astaga, serem banget, sumpah!!" Aisyah terdengar sangat semangat sekali ceritanya.


"Tuh pocong, dateng dari mana yak? Perasaan, kemaren kemaren kagak ada deh." Sambung Ebot sambil berpikir.


"Liat sendiri kan di sekeliling kita ada pohon dimana mana, banyak pohon pisang juga. Ya wajar aja kalau dia nongol." Ucap Tania.


"Iya juga, ya? Hufft." Ebot mendengus sebal.


"Terus gimana nih? Kita tidur dimana dong?" Rengek Sekar.


"Ya di kamar kalian lah. Apa mau pindah ke kamar belakang noh, masih kosong dua." Sahut Saiful dengan memberi pilihan.


"Iihh, ogah!!" Seru Sekar dan Aisya dengan kompak.


Karena malam semakin larut dan keadaan juga sepertinya sudah aman, mereka pun memutuskan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Tania merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang selama dua minggu ini selalu menjadi tempatnya mengantar ke alam mimpi.


Kasurnya memang terasa sedikit keras, namun ini satu-satunya yang bisa dia pakai.


Tak lama, Tania pun tertidur.

__ADS_1


...……………...


__ADS_2