Misteri Hotel 27

Misteri Hotel 27
Rumah Kak Ratih


__ADS_3

Kak Ratih menatapku dengan heran, tetapi aku mencoba menetralkan ekspresiku yang sebenarnya dari tadi ingin meledak.


Segera aku mencari alasan apapun untuk mengecoh Kak Ratih dan akhirnya aku melihat costumer yang kesulitan membuka cola yang dia pesan.


Kak Ratih pun percaya dan pergi ke arah costumer tersebut untuk membantunya. Aku masih menata perasaanku dengan mencoba tenang.


Mas Bagas akhirnya menjadi pelampiasan kekesalanku. Karena dandanannya yang sedemikian rupa dibuat seperti itu. Bahkan dselama menikah denganku dia tidak pernah serapi ini.


"Mas Bagas.. "


"Mas.. "


Aku terus memanggilnya untuk mencuri atensi darinya yang hanya dibalas anggukan malasnya yang khas.


Meski begitu Mas Bagas berjanji akan menceritakan semua hal di perjalanan pulang nanti. Aku hanya bisa diam sekarang juga mencocokkan puzzle di kepalaku.


Inti pencarianku justru membawa aku pada Kak Ratih yang menjadikan nama Mbah Tati sebagai penjual properti yaitu hotel warisan dari ayah.


Selain itu, tentu saja Kak Ratih tidak akan semena-mena menggunakan nama Mbak Tati jika tidak pernah mendengar namanya atau bahkan mengenalnya.


Hasilnya tidak sia-sia karena aku berhasil mengungkap satu fakta. Seseorang yang ternyata diam-diam ingin mengambil keuntungan adalah Kakakku sendiri, walaupun kami berdua tidak lahir dari rahim perempuan yang sama tetapi aku selalu menganggap kak Ratih sebagai kakakku yang terbaik.


Dari dulu dia selalu mengalah terhadap apapun yang aku inginkan, meskipun kami hidup secara sederhana tetapi Kak Ratih selalu memberikan apa yang dia punya kepadaku meski hanya sepotong roti.


Mas Bagas pamit untuk pergi ke satu tempat karena sudah di tunggu oleh kenalannya. Aku sudah merengek untuk ikut tetapi Mas Bagas meminta untuk disini saja kali ini. Dia juga sudah berjanji untuk menceritakan semuanya jadi harusnya aku tidak perlu khawatir.


Aku tidak langsung pulang namun memilih untuk berjalan-jalan sebentar kerumah lamaku. Aku ingin melepas rindu terhadap ayah dan juga kenangan dirumah.


Sudah penuh debu dan beberapa barang dirumah yang lapuk juga ada yang berjamur. Rumah ini bisa di sewakan tetapi ayah memberikannya kepada Kak Ratih mau tidak mau harusnya dia yang memikirkan peluang bisnis.


Aku hanya sebentar dirumah lalu memilih pergi ke toko swalayan sekedar untuk membeli perlengkapan dan juga makanan ringan.


Di toko secara tidak sengaja aku bertemu Wira, mantan kekasih ku dulu. Meskipun orang-orang menyebutnya cinta monyet tetapi sampai hari ini bagiku Wira mempunyai tempat istimewa.


Dia tidak melihatku jadi aku hanya menatapnya jauh tidak tahu juga harus memulai percakapan dari mana. Aku hanya bisa melihat dia bersama Arumi saat ini. Sesekali aku melihat Arumi mencubit bahu Wira.


Mereka terlihat sangat serasi dan juga sebagai pasangan yang bahagia. Aku hanya bisa menarik nafas Dalam-dalam membiarkan hatiku di bohongi oleh diriku sendiri yang sebenarnya aku masih berharap Wira masih menungguku.

__ADS_1


Saat aku menikah dulu, Wira bahkan mengatakan akan menungguku sampai kapanpun namun saat ini dia bersama Arumi sudah berbahagia. Arumi adalah sepupu Wira yang secara terang-terangan menyukai Wira dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan Wira.


Dari pada terus di bayangin hal-hal seperti ini, aku akhirnya memilih pergi, menaiki mobilku bersama tawa Wira dan Arumi yang bahagia.


Wira dulu masih sangat kesulitan, ekonominya tidaklah stabil, dia juga sekolah sambil kerja sebagai kuli. Hal ini membuatku malu jika teman-teman mengatakan seperti itu.


Pertamanya aku menyikapi biasa saja tetapi semakin lama aku semakin tidak nyaman dan tidak ingin tinggal diam.


Aku memutuskan Wira dan aku menghilang begitu saja. Wira merasa sangat sedih dan terpukul hingga memutuskan berhenti sekolah saat itu.


Setelah itu aku sudah tidak tahu kabarnya, lalu di hari pernikahanku aku mendapatkan sebuah kado gaun yang sangat indah. Gaun yang selalu aku ceritakan kepada Wira dulu. Aku sangat ingin memakai gaun ala princesa seperti itu.


Di dalam hadiah ada sebuah surat yang mengungkapkan isi hati Wira. Intinya dia mengatakan bahwa tidak pernah melepaskan aku selama ini, dia selalu mengawasi bagaimana aku bertahan hidup dan menjalani hidupku selama ini.


Wira juga tahu bahwa alasan aku memutuskannya karena dirinya yang miskin dan melarat. Dia bersumpah akan menaklukkan kembali hatiku dengan caranya. Sekalipun aku sudah menikah dia akan tetap menunggu waktu berpihak kepadanya.


Hingga aku melihat sosial media miliknya, Wira yang dulu hamya seorang kuli bangunan dengan upah perhari 50 ribu. Sekarang berpenghasilan fantastis. Dia bahkan mempunyai jutaan pengikut.


Bisnis endorse yang dia jalankan ternyata berkembang dengan sangat baik, dan berhasil membuka restoran juga toko swalayan yang terbesar saat ini di kota.


Sebut saja aku matre tapi lebih tepatnya realistis terhadap tekanan hidup yang keras.


"Endru... "


"Eh Tante Laras"


Endru yang masih kelas 5 di sekolah dasar itu berlari menghampiri mobilku.


Senyumnya mengembang dan terlihat sangat senang melihatku. Aku hanya bisa mengurungkan niat untuk pulang karena ingin mengantar Endru untuk pulang kerumahnya.


Endru selalu ceria seperti biasa, dia bercerita banyak hal tentang kehidupannya. Aku mengajaknya juga untuk makan lebih dulu.


Kami seharian ngobrol dan aku mendengarkan bagaimana Endru begitu bahagia. Meski begitu tatapan orang-orang di tempat makan ini begitu aneh.


Mereka melirik ke arah kami dengan tidak nyaman ada juga yang berbisik-bisik tetapi aku tidak bisa mendengar begitu jelas apa yang mereka bicarakan.


"Mereka kenapa Tante, kok liatin kita kayak gitu. " Tanya Endru yang ternyata juga menyadari hal tersebut.

__ADS_1


"Mereka iri sayang. " Ucapku mengelus rambutnya pelan.


Tepat pukul 4 sore, aku berkendara pulang dan mengantar Endru untuk pulang.


Aku sampai di depan rumah Ratih, yang berada di sudut desa dan agak masuk ke dalam dan terpencil. Jalanan juga becek dan licin.


Keadaan rumah Ratih begitu gelap, tidak ada suara apapun atau tanda-tanda lainnya.


"Mamamu biasa pulang jam berapa Endru? "


"Mama gak pernah pulang Tante. " ujar Endru sendu.


Tentu saja aku sangat kaget karena Ratih jelas-jelas siang tadi bertemu denganku di cafenya mengapa bisa tidak pernah menemui anaknya.


Endru bercerita jika dia hanya tinggal bersama kakek yang selalu merawatnya.


"Kakek siapa? " Tanyaku menatap lurus kearahnya.


"Kakek Juan. " Jawabnya tanpa ekspresi.


Suasana disini seketika membuatku beku, udara dingin mulai menjalar di seluruh urat nadiku.


Belum sempat aku bereaksi Endru sudah menghilang disampingku. Dia di lahap oleh kegelapan dan kesunyian disini.


Tiba-tiba suara ponsel mengangetkanku. Dengan keadaan yang masih gugup aku meraih ponselku.


Ternyata dari Kak Farhan suami dari Kak Ratih.


Ada apa, tumben kak Farhan meneleponku.


Aku tidak sempat untuk sekedar mengangkatnya, yang terpenting sekarang adalah aku ingin buru-buru pergi dari tempat ini.


Anehnya ketika sampai di jalan raya, keadaan sekitar masih cukup terang, berbeda di dalam sana sangat gelap dan mencekam.


Ku perbaiki perasaanku dan meminggirkan mobilku. Lalu menelepon balik Kak Farhan. Sayangnya ponsel Kak Farhan sudah tidak aktif.


Aku hanya bisa mengemudi pulang dan terbayang dengan sosok Endru. Bagaimana bisa aku bertemu Endru dengan cara seperti itu.

__ADS_1


Besok aku akan mendatangi Ratih untuk mengetahui semuanya.


__ADS_2