Misteri Hotel 27

Misteri Hotel 27
Kebenaran Nyata


__ADS_3

Kak Ratih menyapa kami dengan lembut seperti biasanya. Lalu berpamitan sebentar untuk mengantarkan Manda kedalam kamarnya.


Mas Bagas mewakiliku untuk bertanya identitas gadis kecil tersebut. Kak Farhan menghela nafas sebentar dan menceritakan bahwa itu adalah anak angkat mereka.


Anggrek meminta kami menumbalkan janin di rahim Ratih saja jika tidak ingin Endru menjadi tumbal tetapi kami membatalkan semua yang kami rencanakan.


Namun anehnya tidak lama Ratih dan aku terus menerima mimpi yang aneh dan menakutkan. Kami terus dikejar oleh orang yang berkepala kuda dan mengancam akan membunuh kami.


Kak Ratih bergabung dengan kami dia sedikit menghela nafas panjang terlihat dia sangat kelelahan hari ini.


Kak Ratih menatap kearahku penuh arti. Matanya begitu sayu dan mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa aku pahami maknanya sama sekali. Dia juga bergantian menatap Mas Bagas tatapannya terlihat sama sayunya.


Mungkin semua ini karena Kak Ratih sedang Lelah dengan banyak hal terjadi disekitarnya sangat masuk akal juga karena Kak Ratih dikatakan depresi oleh Kak Farhan tadi. Hal ini biasa terjadi pasca trauma berat yang memupuk rasa sakitnya.


Kak Farhan kemudian melanjutkan ceritanya bahwa selama ini Kak Farhan dan Kak Ratih bekerja sebagai influencer di media sosial dan merangkap sebagai konten kreator. Pekerjaan yang biasanya dilakukan dirumah tentu saja akan menimbulkan banyak fitnah tidak jelas.


Aku membuka akun media sosial mereka berdua dan benar saja followersnya saja sampai 5 jutaan dengan jumlah penonton yang sangat banyak. Sistem kerja sebagai seleb di media sosial memang sangat menggiurkan keuntungannya.


Semuanya menjadi sangat masuk akal sekarang. Semua itu hanyalah Fitnah belaka yang dilakukan oleh orang-orang yang iri dan tidak senang dengan kehidupan orang lain yang sedang berkembang.


Dapat aku simpulkan sekarang bahwa Anggrek dan ibunya Yudi hanyalah bagian dari tetangga julid yang telah diceritakan tadi. Sekarang yang ingin aku tahu lagi adalah pengunjung yang mengatakan bahwa café milik Kak Ratih adalah pusat konsultasi pesugihan.


Kak Farhan dan Kak Ratih saling menatap sebentar dan tersenyum. Kak Ratih menceritakan tentang pengunjung fanatik yang selalu percaya bahwa dia adalah ahli pesugihan. Hal ini dia lakukan juga semata-mata untuk mematikan rezeki café milik kak Ratih.


Dari cerita Kak Ratih terungkap jika pengunjung itu adalah pemilik ruko kosong yang berada di sebrang jalan. Usahanya bangkrut dan semua asset jualannya di Tarik oleh pihak Bank.


Terlalu tenggelam dengan smeua cerita hari ini, aku masih terjebak dengan kisah Endru mengapa mereka tidak pernah mengabarkan kepadaku. Mereka seperti menganggap aku orang luar saja.


Kak Ratih hanya diam membisu. Melihat hal tersebut Kak Farhan menengahi dan menceritakan bahwa saat kejadian Ratih sangat frustasi jadi Farhan tidak tega berbagi luka denganku yang saat itu juga jauh dari kota.


Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan semuanya. Mas Bagas sudah mengkode dari tadi agar kami bisa bergegas pulang. Pasti Kak Ratih dan Kak Farhan ingin istirahat. Tetapi entah mengapa aku terus merasa Kak Ratih ingin menyampaikan sesuatu padaku.

__ADS_1


Mas Bagas juga tidak ingin pergi duluan harus bersamaku. Mungkin karena sakit jadi dia tidak membiarkanku tanpa dirinya saat ini.


Aku masih ingin berlama-lama ada disini tetapi aku belum menemukan alas an yang tepat. Rasanya aku sangat ingin bicara berdua dengan Kak Ratih juga menemui anaknya yang jelas tidak asing bagiku.


Aku sangat yakin pernah melihat anak itu tetapi entah dimana. Aku hanya ingin memastikan itu dan juga tentang hotelku yang dia iklankan dengan memakai nama Mbak Tati apa hubungan mereka berdua.


Rasa penasaran dikepalaku ini tidak bisa aku biarkan membunuhku hari ini, jadi aku buru-buru memutar otak mencari celah.


Aku kemudian beralasan jika sedang halangan dan lupa membawa pembalut dan minta tolong ke Kak Ratih untuk menemaniku. Mas Bagas dan juga Kak Farhan mengatakan bahwa Ibu Art disini bisa membantu. Kasihan juga Kak Ratih yang sedang Lelah dipaksa bolak balik. Namun aku bersikeras bahwa tidak terbiasa dengan orang asing.


Di perjalanan menuju toilet aku menarik tangan Kak Ratih menjauh ke sebuah ruangan yang seisi ruangan tanpa lampu hanya ada lilin redup di tengah-tengah ruangan. Aku meminta Kak Ratih segera jujur apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Aku memaksanya terus menerus dengan terus menggoyang-goyangkan bahunya. Kak Ratih akhirnya mau bicara namun air matanya juga ikut mengalir di balik pipinya. Suaranya bergetar menahan tangisnya.


“Maafkan kakak Ras..”


“Maafkan Kakak”


“Apa yang sebenarnya Kakak rahasiakan dariku.”


“Maafkan kakak karena tidak bisa menjaga kamu.”


“Maafkan kakak.”


Kak Ratih terus mengucapkan kata yang sama hingga membuatku kehilangan kesabaran dan ingin langsung pergi. Tetapi ditahan olehnya sembari membisikkan sesuatu yang membuatku sangat syok saat ini juga.


Kak Ratih membantuku memperbaiki semua hal termasuk perasaanku juga. Dia juga menyeka air matanya. Setelah itu aku dan Mas Bagas berpamitan untuk pulang. Aku memeluk Kak Ratih erat-erat.


“Jaga dirimu kak, tunggu aku.” Bisikku sembari melepas pelukanku yang dibalas senyum hangat olehnya.


Diperjalanan pulang Mas Bagas melirikku dengan intens karena aku hanya terus diam dan tidak bicara sepatah katapun setelah pulang dari rumah Kak Ratih.

__ADS_1


“Ada apa sayang?”


“Apa yang membebani fikiranmu saat ini?”


Mas Bagas menatapku dalam-dalam dia begitu khawatir bahkan perubahan suasana hatiku sekalipun.


Aku belum bisa menceritakan apa yang disampaikan oleh Kak Ratih karena saat ini aku tidak bisa mempercayai siapapun entah itu Mas Bagas ataupun ucapan kak Ratih sekalipun.


“Aku gak apa-apa Mas. Cuman agak capek aja.”


“Mas gimana kalau besok kita pulang saja yuk.”


“Kangen deh Mas suasana hotel”


Jawabku mengalihkan topik pembicaraan yang direspon hangat oleh Mas Bagas. Moodku juga membaik dan kami bercanda sepanjang jalan membahas pertama kali datang kehotel.


Berbicara tentang hotel, rasanya aku mengingat sesuatu yang identik tetapi aku belum juga menemukan apa yang sebenarnya ingin aku hubungkan satu sama lain. Mungkin belum waktunya ingatanku menyatu sebagai ingatan dan informasi.


Sesampainya di hotel Harmonika aku memilih mandi dan kemudian akan tidur, rasanya sangat lelah seharian diluar. Sedangkan Mas Bagas izin keluar Bersama teman-temannya. Sejujurnya aku mendengar percakapan Mas Bagas di telepon bahwa dia akan menyelesaikan misinya secepat mungkin.


Entahlah namun aku masih ingin yakin bahwa Mas Bagas adalah suamiku yang selalu berjalan diatas jalan kebenaran dan kebaikan meskipun sesekali juga melenceng tetapi dia bukan sosok yang melakukan pekerjaan haram.


Tidak ingin ambil pusing dengan Mas Bagas dan juga perkataan Kak Ratih aku memilih tidur untuk saat ini namun beberapa kali aku berusaha tidur tetap saja ucapan Kak Ratih menahan daya sadarku untuk melemah.


Kak Ratih memintaku untuk menyelamatkan dirinya, karena ada orang yang ingin membunuhnya, ada satu orang dalang dari semuanya juga berusaha untuk membunuhku juga. Satu kalimat lagi yang berhasil membuatku kaget adalah kata bahwa orang tersebut bukanlah manusia. Dia juga berpesan untuk meninggalkan hotel.


Semuanya menjadi masuk akal jadi Kak Ratih menangis karena tidak tahu caranya membantuku dia juga tidak tahu harus membantu seperti apa. Aku rasa Kak Ratih juga dalam tekanan batin yang kuat.


Banyak hal yang belum terjawab sepenuhnya. Aku masih ingin bertemu Kak Ratih lagi untuk memperjelas semuanya. Tentang mengapa dia ingin menjual hotelku. Dan siapa ingin membunuh Kak Ratih dan juga diriku. Kak Ratih ingin diselamatkan dari apa? Sedangkan Kak Farhan selalu setia disisinya.


Bisa jadi Kak Ratih mengatakan semua ini hanya agar bisa memiliki hotel milikku sepenuhnya dengan menakut-nakutiku dengan cerita karangannya.

__ADS_1


__ADS_2