
“Hartati….” Aku berfikir sejenak hingga kembali aku teringat dengan ibu yang bekerja di rumah Kak Ratih.
Kejadiannya sudah sangat lama dan juga dulu masih belum ada camera yang bagus untuk mengabadikan foto. Jadi Mbak Tati dan Pak Bisma tidak memiliki foto Hartati tersebut.
Pak Bisma hanya menceritakan secara ringkas seingatnya tentang ciri-ciri Hartati tersebut. Dia mempunyai tahi lalat dibawah dagunya yang cukup besar. Rambutnya selalu di potong pendek juga postur tubuh yang mirip dengan Mbak Tati.
Pak Bisma juga tidak lupa menambahkan bahwa dia sudah sangat lama tidak bertemu dengannya hingga bisa saja Hartati sudah berubah saat ini. Semua yang dijelaskan sesuai ingatan dulu.
Meskipun tidak mendapatkan informasi yang valid tapi aku sangat yakin bahwa ibu tersebut kemungkinan besar dia juga ada kaitannya dengan kematian Kak Ratih hari itu. Semua menemui titik terang saat ini.
Aku bisa memulai penyelidikan dari dia. Bisa saja dia Hartati yang dimaksudkan atau mungkin Hartati yang lain.
Tidak ada salahnya mengikuti firasat dan keyakinanku saat ini karena semua hal harus dicoba dan di tempuh untuk mendapatkan kebenaran yang tersembunyi.
Pagi-pagi sekali aku mengunjungi pusat penyalur Art di daerah kota yang merupakan pusatnya. Jadisudah pasti mempunyai data dari Art yang bekerja di rumah Kak Ratih apalagi Kak Ratih baru mempekerjakannya ketika pindah kerumah baru.
Aku bertemu dengan Ibu Yusti, beliau sangat sungkan dan membantuku dengan cermat. Akhirnya dia menemukan berkas tentang Ibu Hartati dan menjelaskan sedikit tentang dia. Ibu Hartati sudah lama bekerja sebagai Art lewat Yayasan ini.
Namun dia selalu berpindah tempat kerja karena di pecat dengan alasan yang sama yaitu tidak bisa menjaga sikap dan mempunyai tamprament yang tidak baik. Dia juga mempunyai rekam jejak yang kurang bagus hanya bisa bertahan dirumah seseorang bekerja kurang lebih 3 bulan.
Ibu Yusti menceritakan ketika ada orang yang justru memilih Hartati ketika dia mengusulkan banyak kandidat yang jauh lebih baik dan berpengalaman ditambah keluarga itu mempunyai seorang anak yang harus dirawat.
Meski begitu Pak Farhan yang saat itu datang sendiri malah memilih Ibu Hartati sebagai Artnya dan lebih membuat saya bingung Hartati dirumah ini bisa bertahan sampai sekarang sudah 1 tahun lebih.
Setelah mendapatkan informasi yang aku butuhkan mengikuti alamat yang tertulis di berkas itu aku langsung mengunjungi alamat rumah Ibu Hartati.
Rumahnya berada di lingkungan yang kurang bagus untuk diakses dengan mobil jadi aku memarkirnya di pinggir jalan lalu melanjutkan memasuki sebuah Lorong kecil untuk sampai dirumahnya.
Sebuah rumah kecil setapak yang di cat hijau dan banyak bunga-bunga yang tumbuh liar di halaman rumahnya. Aku berjalan mendekati dan mengetuk pintu dengan pelan juga mengucapkan salam.
__ADS_1
Lama aku berdiri tetapi tidak ada respon juga, seorang priayang kelihatannya baru saja datang dari kebun terlihat dari punggungnya yang memikul cangkul. Menyapaku dengan lembut.
“Cari siapa ya kak?.”
Pria itu bertanya kepadaku dengan tatapan heran.
Tentu saja siapapun akan merasa heran jika ada orang baru datang kerumahnya.
Aku memperkenalkan diri sebentar lalu menyebut nama Ibu Hartati dari raut wajah pria itu dapat aku lihat langsung berubah mendung. Dan mempersilahkan aku masuk.
Pria itu memperkenalkan dirinya Bernama Syukur. Dia tidak tinggal sendiri melainkan tinggal berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan.
Syukur menceritakan bahwa dulu Hartati bekerja sebagai Art di Yayasan yang sama bersama ibu Syukur. Ibunya pun menjalin keakraban dengan Hartati yang saat itu baru datang dari desa mengadu nasib.
Syukur masih berusia 16 tahun juga menyambut Hartati dengan panggilan Tante. Meskipun keluarga mereka hidup sederhana tetapi mereka tidak pernah kekurangan satu apapun. Bisa tidur dengan nyenyak dan makan tiga kali sehari.
Ayahnya seorang tukang bangunan meskipun gajinya tidak sepantaran PNS tetapi sangat cukup untuk membiayai hidup kami berdua. Jadi Ibu mulai berhenti bekerja.
Sampai akhirnya aku kuliah, karena kampus yang cukup jauh Syukur harus ngekost dan jauh dari rumah. Saat itu Hartati sementara datang lagi kerumah mereka. Jadi Syukur merasa aman meninggalkan ibunya yang saat itu sedang sakit.
Singkat cerita suatu hari Syukur di telepon oleh ibunya dengan menangis sangat keras. Syukur yang khawatir malam itu juga langsung memilih pulang.
Keadaan rumah sangat berantakan, ibunya bahkan tersungkur di lantai rumah yang dingin. Dia Nampak sangat menyedihkan. Sedangkan Hartati duduk diatas kursi menyilangkan kedua kakinya dengan angkuh.
Ayah Syukur berselingkuh dengan Hartati bahkan sudah bertahun-tahun lamanya hingga mereka mempunyai seorang anak perempuan. Ibu Syukur yang mengetahui itu semua sangat marah dan mengalami syok berat hingga mengalami stroke dan membuatnya lumpuh hingga saat ini.
Syukur juga tidak punya pilihan lain selain mengusir mereka berdua. Tetapi tiga hari kemudian ayahnya dikabarkan meninggal dan Hartati dibebaskan begitu saja. Padahal orang awam sekalipun bisa tahu jika itu adalah pembunuhan terencana.
Polisi hanya menutup kasusnya sebagai kasus bunuh diri dengan dalih ayahnya menggantung diri dan ada catatan permohohan maaf di tangannya untuk anak dan juga istrinya.
__ADS_1
Semenjak itu Syukur berhenti kuliah dan fokus mengurus ibunya yang sudah sakit-sakitan saat ini. Syukur memperingatkan aku untuk jangan dekat-dekat dengan Wanita ular itu.
Sebelum pergi Syukur juga memberitahu bahwa anak Hartati jauh lebih berbahaya dari dirinya. Anaknya mengalami keterlambatan pertumbuhan jadi seberapapun umurnya dia akan terus seperti anak-anak.
Syukur tahu hal itu saat datang kerumah Hartati diwaktu kematian ayahnya. Dia melihat anak Hartati dan ayahnya yang masih anak-anak menggemaskan. Padahal harusnya dia sudah belasan tahun.
Syukur mencoba mengingat-ingat namanya, hingga dia menyebut satu nama yang benar-benar diluar dugaanku.
“Mandaa..”
“Manda?”
“Iya, namanya Manda. Dia anak perempuan yang sama liciknya dengan ibunya.”
Kembali Syukur menekankan untuk tidak berurusan dengan ibu dan anak itu.
Di perjalanan pulang aku sangat pusing memikirkan semua ini. Kak Ratih kehilangan Endru dengan mendadak. Dia mengalami depresi kemudian bangkit dan punya kehidupan yang kaya raya.
Farhan lalu membawa pembantu rumah tangga kerumah untuk menemani Ratih. Lalu Ratih punya anak yaitu Manda yang sebenarnya anak dari Hartati yang seharusnya sudah dewasa saat ini.
Kak Ratih kemudian meninggal dan di laporkan sebagai kematian akibat bunuh diri. Kak Farhan sebagai suaminya seolah sudah mempersiapkan semua ini dengan matang dan tanpa celah.
Jika begini kebenarannya sesuai fikiranku, maka sebenarnya apa yang Kak Farhan inginkan dari Kak Ratih hingga melakukan semua ini kepadanya. Padahal Kak Farhan sangat mencintai Kak Ratih dulu juga sebagai sosok suami idaman banyak orang.
Mas Bagas juga pasti tahu semua ini, tetapi yang jadi pertanyaan bagiku sejak kapan Kka Farhan dan suamiku akrab hingga melakukan perbuatan melenyapkan hidup orang lain secara sengaja dengan Bersama-sama.
Kulajukan mobilku dengan kencang kembali ke hotel. Sesampainya di hotel Mas Bagas ternyata tidak ada. Jadi aku mengecek semua barang-barangnya. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali.
Sampai aku menemukan banyak jenis artikel dan bacaan yang membahas tentang -manusia jadi-jadian hasil pernikahan manusia dan arwah. Entha sejak kapan Mas Bagas tertarik dengan hal-hal seperti ini. Aku juga tidak tahu.
__ADS_1
Aku juga melihat banyak mantra-mantra aneh yang ketika aku baca mendadak membuat pandanganku menjadi gelap dan kepalaku terasa sangat berat. Setelah itu aku sudah tidak tahu apa yang terjadi….