
Kehidupan tidak selalu sesuai prediksi yang di inginkan. Banyak hal tidak sepenuhnya sempurna. Termasuk rencana yang sudah aku susun.
Awalnya aku ingin lebih dulu mencari tahu tentang Kak Ratih tetapi mendadak pagi ini aku disibukkan dengan penghasilan hotel yang banyak jadi harus mengurus semuanya dulu.
Rencana awal aku mulai dengan mencari tahu tentang kehidupan Mbak Ratih dan Pak Bisma pasti ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk bagiku di rumah mereka.
Besoknya aku memperhatikan kegiatan mereka berdua dan ketika mereka sibuk di dapur aku langsung mencari kunci rumahnya. Aku akan bergerak cepat jadi ketika menemukannya langsung aku pergi diam-diam.
Sesampai di depan rumah Mbak Tati dan Pak Bisma aku merasakan firasat buruk yang entah hal macam ap aini. Aku juga tidak mengerti.
Aku melangkah pelan kedalam rumah megah dihadapanku saat ini. Sangat besar dan mewah tetapi mereka berdua bahkan tidak mempunyai pembantu ataupun security sama sekali.
Mereka sudah seperti pasangan yang sangat pelit dan berlebihan hematnya hingga membuatku merasa jengkel saja.
Aku memasuki ruangan demi ruangan dan langkahku terhenti di depan kamar Mbak Tati dan Pak Bisma. Seolah dewi fortuna berpihak padaku hari ini kamarnya tidak terkunci jadi aku bisa masuk kedalam.
Kamarnya cukup luas dan membuatku kewalahan mengelilingi seisi kamar untuk mencari informasi yang bisa menjadi petunjuk.
Semua sudut kamar sudah ku sisir sepenuhnya tetapi belum juga menemukan apapun selain ruangan yang hampa.
Saat akan keluar rumah rak di sudut membuatku merasa desainnya begitu familiar. Yah tepat sekali persis desain yang ada di hotel. Firasat yang membawa diriku melangkah maju dan menggeser buku sesuai ingatanku dalam mimpi.
Ajaibnya ini berhasil membuatku semakin penasaran dan juga berpacu dengan waktu. Aku masuk kedalam dan menyelusuri semuanya pelan-pelan.
Ruangan ini cukup besar jadi aku harus berjalan jauh dan mencari ke berbagai sudut. Disini penuh dengan buku-buku dan juga dokumen yang sepertinya penting semua.
Ku telusuri rak demi rak hingga mataku tertuju pada dokumen bermap hitam yang berada ditumpukan paling bawah.
Firasatku sangat kuat terhadap dokumen ini hingga aku pilih untuk bawa pulang saja karena aku juga sudah terlalu lama disini.
__ADS_1
Sesampainya di hotel Mbak Tati dan Pak Bisma sedang sibuk menyiapkan makan siang jadi aku bisa kembali menyimpan kunci rumah mereka dengan aman.
Mbak Tati menanyakanku karena tidak biasanya aku pergi tanpa tujuan. Aku hanya bisa berdalih mencari udara segar. Aku menyapa pak Bisma sebentar lalu kembali ke kamar.
Dokumen di tanganku sekarang menambah rasa penasaranku apalagi ketika membuka lembar pertama. Ini adalah data tentang kepemilikan tanah hotel ini.
Justru bukan hanya nama ayah diatas kertas ini tetapi ada juga nama lain. Tanah ini ditulis sebagai tanah sengketa warisan. Ada nama ayah dan juga pak Bisma.
Sepengetahuanku Pak Bisma hanyalah pelayan hotel yang selalu setia membantu ayah dulu sampai sekarang tetapi ternyata tidak sesederhana itu.
Kembali ku lanjutkan ke lembar kedua terdapat perjanjian didalamnya bahwa pengelolaan tanah akan di atas namakan oleh Pak Bisma sebagai anak tertua.
Jadi selama ini Pak Bisma bukanlah pelayan hotel biasa melainkan adalah kakak ayah yang berarti dia adalah pamanku. Tetapi dia sama sekali tidak mengungkapkan apapun. Pasti dia mengetahui semuanya dengan baik.
Dilembar ketiga semua alihkuasa diberikan secara sukarela oleh Pak Bisma kepada ayah dalam kurung waktu 1 tahun dari surat keterangan di lembar kedua semuanya berubah.
Sepertinya Kakek Jarwo dan juga Mbah Baso dulu adalah rekan kerja sesame masyarakat umum disini. Namun sekarang menjadi rival dan musuh sejati di dunia perdukunan.
Lembar keempat berisi dokumen sertifikat asli hotel yang tertuliskan nama Pak Bisma sebagai pemilik tanah tempat hotel ini berdiri secara sah.
Jika sudah seperti ini aku bisa membuat hipotesis bahwa yang membuat postingan pelelangan hotel milikku adalah Mbak Tati dan sekarang yang menjadi tanda tanya adalah relasi antara Mbak Tati dan juga Kak Ratih.
Semua hal ini pasti sudah diketahui oleh Pak Bisma atau malah dia yang mengatur semua ini. Dari awal tingkah Pak Bisma memang selalu mencurigakan.
Jangan-jangan dia ingin membalas dendam atau ada motif tersembunyi lainnya yang belum terungkap saat ini. Jika benar seperti itu akan sulit bagiku mengatasi semuanya yang rumit.
Tentu saja Pak Bisma dan Mbak Tati mengenal Kak Ratih karena di dokumentasi lembar keempat ada foto ibunya yang masih muda.
Tidak ingin menunggu lebih lama aku langsung bergegas menuju rumah Ratih lagi. Bedanya kali ini aku pergi sendirian dan tidak ditemani lagi oleh Mas Bagas.
__ADS_1
Di depan gerbang perumahan aku secara tidak sengaja berpapasan dengan mobil Mas Bagas yang sepertinya juga dari rumah Kak Ratih.
Ku telepon ponselnya tetapi tidak diangkat padahal aku ingin menanyakan dari mana Mas Bagas. Sudahlah aku juga tidak ingin memusingkan hal tersebut. Mungkin saja Mas Bagas ada perlu dengan Kak Farhan yang memang saling kenal.
Sesampainya di depan rumah Kak Ratih aku disambut lagi dengan ibu-ibu yang kemarin. Dia hanya diam tanpa senyuman sedikit pun. Wajahnya masam dan membuatku sedikit canggung kali ini.
Sesampainya di dalam rumah hanya ada Kak Farhan yang duduk dengan santai membaca koran. Dalam fikiranku mengapa Kak Farhan tidak bekerja atau lain sebagainya tetapi malah bersantai.
Aku di persilahkan duduk olehnya sembari disajikan the oleh si ibu yang entah siapa namanya. Dia tergolong cepat dan seolah sudah menyiapkan minuman untukku.
Entahlah tetapi kali ini bahkan mencurigai Kak Farhan apalagi setelah aku tanyakan tentang Mas Bagas tetapi dia mengelak dan menjawab tidak bertemu dengannya.
Tidak mungkin juga Mas Bagas kemari untuk diam-diam menemui orang lain selain Kak Farhan.
Manda ikut duduk ditengah-tengah kami. Gadis kecil yang sangat manis dan senyuman yang ranum. Dia juga begitu cerewet yang tidak kalah penting dia sangat paham bersopan santun.
Jika Manda ada dirumah berarti Kak Ratih juga sudah pulang. Jadi aku meminta Manda memanggilkan mamanya. Tetapi Manda langsung tertawa kencang yang membuatku langsung kaget.
Kak Farhan langsung menenangkan anaknya dan menjelaskan bahwa Manda punya kebiasaan tidak bisa menempatkan ekspresi.
Aku yang tidak ingin ambil pusing hanya bisa mangut-mangut saja. Tidak paham.
Kak Farhan bilang Kak Ratih sedang keluar kota dengan teman-temannya untuk liburan menghabiskan penat jadi merasa tujuanku tidak akan tercapai. Aku hanya bisa pamit pergi.
Ketika sudah diluar rumah. Aku tidak langsung pulang melainkan memarkir mobilku di luar portal dan berdiri mengawasi rumah Kak Ratih dibalik pohon beringin yang cukup lebat.
Cukup lama aku berdiri tetapi tidak ada hal mencurigakan sedikit pun. Aku terlalu overthingking akhir-akhir ini hingga semua hal bagiku bukan kenyataan.
Tepat ketika aku akan pergi, pemandangan di kejauhan mataku di rumah Kak Ratih membuatku tidak percaya….
__ADS_1