
Pagi ini aku bersiap untuk pergi ke kantor polisi karena mendapatkan panggilan sebagai saksi di sidang kasus Kak Farhan. Dengan perasaan berapi-api aku sangat ingin melihat wajahnya.
Kak Farhan dan Hartati sudah sangat keterlaluan jadi aku ingin membuat mereka membusuk di penjara saja rasanya. Kak Ratih adalah seorang yang sangat baik tetapi malah di bunuh dengan perlakuan yang tidak manusiawi.
Mengambil nyawa manusia adalah dosa besar yang akan membuat siapapun tubuhnya akan menempel bau darah seumur hidupnya.
Sesampainya di kantor polisi, detektif Arman sudah menungguku di ruang introgasi. Dia ingin aku bersaksi di pengadilan yang akan berlangsung 5 hari lagi. Persidangan akan dihadiri juga oleh keluarga korban yang lainnya.
Aku kemudian menjelaskan semua hal yang aku ketahui, lihat dan dengar tentang Kak Farhan. Termasuk yang Anggrek jelaskan tentang kehidupan mereka di kompleks perumahan lama mereka.
Inti dari introgasi hari ini aku akan berada di kursi saksi untuk memberikan keterangan di hadapan jaksa dan hakim nantinya. Aku juga bertekad untuk membantu pihak kepolisian mencari bukti sebanyak mungkin.
Aku tidak ingin psikopat sejahat Kak Farhan bisa lolos begitu saja dengan mudah. Setelah selesai semua urusan di kantor polisi aku mampir untuk meminum kopi lebih dulu sekedar mengurangi lelah di tubuhku.
Tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan Wira untuk ketiga kalinya. Dia izin untuk duduk disampingku. Kami mengobrol sebentar dan bertukar kabar kehidupan masing-masing. Aku tidak banyak bercerita tentang kehidupan keluargaku karena bagiku itu masih ranah privasi.
Wira ternyata mengetahui bahwa aku mempunyai bisnis sendiri. Percakapan kami hanya berlangsung sebatas itu karena Mas Bagas yang menghubungiku segera pulang. Perpisahan dengan Wira lagi-lagi membuat hatiku berdesir meski sesaat.
Sepanjang perjalanan pulang aku mengingat sosok Wira yang dulu sangat menyayangiku hingga akhirnya aku tinggalkan begitu saja. Padahal bukan tanpa sebab itu karena ibunya yang sangat membenci diriku.
Wira sama sekali tidak mengetahui hal itu sebab aku hanya beralasan bahwa Wira terlalu miskin dan tidak akan sanggup membahagiakan diriku.
Di hotel terjadi konflik antara tamu hotel dengan Anggrek. Tamu hotel tidak terima dengan perlakuan Anggrek yang tidak sopan kepada anak mereka. Anak pasangan mereka seorang anak perempuan yang cantik dan juga menggemaskan.
Ibu si anak marah-marah karena pegawai hotelku malah mencekik anak mereka hingga anak mereka menjadi sesak nafas untungnya orang tua mereka segera menemukan mereka.
Ibu dengan rambut pirang itu ingin Anggrek di bawa ke kantor polisi. Aku sudah mencoba untuk membujuknya dan bahkan menawarkan untuk memberikan uang kepada pasangan tersebut.
Tetapi sebagai orang kaya bukannya menyelesaikan masalah saranku hanya menjadi boomerang karena mereka merasa terhina dan diremehkan. Harga diri orang kaya memang selalu diutamakan kali ini aku malah memperkeruh suasana.
Anggrek malah diam saja dan tidak membela diri mengatakan yang sebenarnya. Karena Anggrek tidak mungkin melakukan hal yang aneh seperti ini.
Tepat ketika aku ingin menyerah dan mulai muak dengan ocehan yang sangat berisik si ibu anak itu. Anggrek kembali menarik anak tersebut dengan kuat.
Anggrek sangatlah kuat bahkan Pak Bisma dan bantuan Mas Bagas juga ayah anak itu tidak bisa melepaskan cengkraman Anggrek.
__ADS_1
Aku yang kelimpungan tanpa fikir panjang melemparkan air kepada Anggrek. Benar saja Anggrek melepaskan cengkramannya.
Anak perempuan itu berlari ke dalam pelukan ibunya dan terisak.
Setelah Anggrek berhasil kami tenangkan. Dia kemudian buka suara jika anak itu terkutuk.
Tentu saja ucapan Anggrek berhasil memancing emosi ayah dan ibu anak tersebut. Anggrek kemudian menjelaskan kehidupan keluarga mereka yang sebenarnya sedang berantakan.
Si ibu pirang baru saja kehilangan aset karena investasi ilegal yang dia lakukan dan ternyata di tipu oleh teman baiknya sendiri.
Ayahnya juga tidak mempunyai nasib lebih baik lagi. Dia tercatat sebagai nama karyawan yang akan di PHK dalam waktu 2 bulan kedepan.
Kehidupan keluarga mereka juga tidak baik-baik saja. Mertuanya selalu meminta si Ayah meninggalkan istri dan anaknya karena selama ini mereka tidak hidup dengan bahagia.
Semua kekayaan yang mereka miliki adalah hasil merebut hak orang lain. Dan naasnya orang tersebut mengutuk anak mereka saat masih di dalam kandungan.
"Anak itu.... " Anggrek menunjuk kearah Anak perempuan yang masih terus dalam dekapan ibunya.
"Diaaaa anak terkutuk.. "
"Dia titisan Iblis yang lahir dari rasa dendam dan luka yang basah. "
Diantara mereka berdua bahkan tidak mengetahui satu sama lain tentang situasi yang mereka alami. Itulah menjadikan mereka melunak dan duduk dengan tenang bersama kami saat ini.
Mbak Tati dengan gerak cepat juga menyiapkan minuman dingin setidaknya bisa meredakan emosi kedua orang tua ini.
Mereka berdua menatap Anggrek dengan tatapan sayu penuh harap. Bahkan si Ibu malah yang awalnya keras dan tegas sekarang malah menangis pilu.
Dia tidak tahu jika selama ini suaminya melewati hal-hal yang menyedihkan. Dia bahkan jauh lebih terpukul mengetahui anaknya terkutuk.
Aku meminta Pak Bisma segera memanggilkan Kakek Jarwo untuk membantu pasangan suami istri ini menyelamatkan putri satu-satunya mereka.
Tidak lama dari itu Kakek Jarwo pun datang dengan membawa beberapa perlengkapan ritualnya yang biasa dia bawa.
Baru saja duduk Kakek Jarwo kaget melihat anak perempuan tadi.
"Anak ini terkutuk.. " Ucapnya spontan membuat ibunya semakin histeris. Sedangkan si anak hanya diam dan terus menatap lurus kedepan.
__ADS_1
Kakek Jarwo meminta si Ibu dan suaminya untuk jujur dan mengakui yang sebenarnya terjadi dan mengakui kesalahan mereka.
Meskipun gugup mereka mulai bercerita bahwa 5 tahun lalu di tengah hujan. Secara tidak sengaja mereka menabrak seorang pedagang gorengan yang saat itu menyebrang.
Karena panik dan takut mereka memutuskan untuk lari. Tetapi tanpa mereka sadari saat itu. Anaknya melihat semuanya dan menghafal plat mobil mereka.
Si anak datang ke rumah mereka membawa polisi karena ternyata bapak penjual yang mereka tabrak meninggal dunia akibat pendarahan di otaknya.
Anak penjual itu meminta polisi mengadili mereka saat itu. Tetapi 2 minggu kemudian ketika di persidangan.
Pasangan suami istri bisa lolos dari hukum dengan mudah. Bahkan bisa menghirup udara segar dengan tenang.
Hanya karena memiliki uang mereka bisa membeli hukum dengan cuman-cuman.
Istri penjual itu juga datang di hari persidangan. Dia dengan di peluk anaknya sangatlah rapuh dan juga menangis sejadi-jadinya.
Perempuan itu mengatakan hal-hal buruk kepada si ibu yang saat itu sedang hamil. Sumpah serapah yang akhirnya menjadi kuburan bagi mereka sendiri sekarang.
Ketika mendengar cerita mereka aku bergumam sebentar. Justru apa yang mereka alami sekarang belum apa-apa sama sekali.
Nyawa manusia bukanlah sesuatu yang tidak bisa di nilai dengan apapun. Malah mereka bercerita tanpa sesal dimata mereka.
Sangat jauh dari setimpal karena mereka selama ini masih bisa hidup bahagia dan menjalani kehidupan dengan baik.
Sedangkan keluarga korban akan kehilangan dan terluka selama-lamanya.
Kakek Jarwo meminta agar pasangan tersebut segera meminta maaf agar anak mereka bisa hidup dengan normal.
Tetapi aku lihat dari wajahnya mereka jauh lebih takut jika harus masuk penjara.
Meskipun begitu Kakek Jarwo melanjutkan untuk ritual menetralkan anak perempuan itu.
Anggrek menambahkan jika anak mereka berbau darah itu berarti dia sudah melukai atau bahkan membunuh.
Kedua orang tua itu pun mengingat anjing di rumah mereka yang mati tiba-tiba. Juga kucing maupun ikan hias yang ditemukan mati.
__ADS_1