Misteri Hotel 27

Misteri Hotel 27
Misteri Kematian Kak Ratih Bagian 2


__ADS_3

Ketika terbangun di tengah malam Mas Bagas sudah duduk di tepi ranjang diam. Aku yang merasa sangat pusing dan kepalaku seperti di tusuk paku bersamaan hanya bisa memanggil namanya pelan sekali.


Mas Bagas dengan cepat meraih tubuhku agar tidak banyak gerak dulu katanya. Lalu membantuku untuk minum setelah aku menunjuk kearah meja.


Dia kembali ke mode merawat. Walaupun aku tidak ingin mempercayai apapun tetapi suamiku sendiri menyimpan banyak rahasia bagiku. Sampai saat ini sekalipun dia belum menceritakan apa sebenarnya pekerjaan dia.


Suamiku menjadi sangat sibuk dan banyak keluar hotel. Tidak lagi nyaman di sampingku kecuali ketika aku sakit seperti ini. Dia akan 24 jam disampingku tanpa bergerak seinci pun bahkan tidak tidur sama sekali untuk menjagaku.


Malam ini aku habiskan dengan tidur dan rasanya sangat nyenyak karena Mas Bagas ada disampingku yang membuatku tidak takut pada apapun. Padahal disisi lain suamiku juga menjadi sosok menakutkan untuk di hindari saat ini.


Keesokan paginya aku terbangun dengan suara perutku yang sudah kriak kriuk dari tadi. Mas Bagas sedang tertidur di sofa kamar kami dan sudah menyiapkan makanan di meja untukku.


Pasti dia baru saja tidur karena susu yang dia siapkan untukku masih hangat beitupun juga roti panggang yang saat ini aku kunyah.


Aku memperhatikan wajah Mas Bagas yang terlihat sangat kelelahan dengan istrinya yang sering sakit-sakitan ini. Tapi sepertinya ada satu hal yang hilang dari ingatanku.


Terakhir yang aku ingat tentang perjalanan pulang dari rumah Syukur terus aku sudah tidak ingat lagi yang membuatku sampai pingsan. Mungkin aku kurang darah lagi hingga pusing yaa.


Ingatanku hanya tersisa tentang informasi mengenai Hartati, aku menjadi tidak ingin kapan dan dimana aku pingsan. Karena penasaran aku turun kebawah menemui Mbak Tati yang sedang sibuk di mejanya.


Aku duduk dengan santai disampingnya. Dengan memperhatikan apapun yang di kerjakan.


“Eh Ibu Laras, gimana Bu kepalanya udah mendingan?”


Mbak Tati yang baru menyadari keberadaanku langsung mendekat dan menanyakan keadaanku dengan antusias.

__ADS_1


“Udah enakan Mbak.” Jawabku lemah.


Aku menanyakan kenapa Mbak Tati tahu aku sakit, dia menjelaskan bahwa Mas Bagas yang memberitahunya. Juga menelepon agar datang lebih pagi untuk membuatkan sarapan untuk ibu.


“Mas Bagas itu suamiable banget loh Bu.” Ujar Mbak Tati yang berhasil membuatku tersipu.


Pak Bisma yang kebetulan mendengar percakapan kami malah ikut nimbrung.


“Suamibel, bel..hahah, sudah kayak orang kota saja.” Tawa Pak Bisma yang moodbosster berhasil membuatku juga ikut tertawa dan Mbak Tati mencubit lengannya ngambek.


Melihat mereka berdua seperti itu rasanya menyenangkan jika aku dan Mas Bagas bisa menua Bersama dan menjalani hari-hari bahagia yang menyenangkan. Pasti akan sangat indah jika kami bisa seperti mereka yang selalu ada satu sama lain.


Kegiatan kami bubar ketika ada tamu yang datang dan segera Pak Bisma juga Mbak Tati layani dengan ramah. Aku juga kembali ke kamar untuk menemani Mas Bagas.


Ketika sampai dirumah Anggrek dia enggan bicara banyak seolah takut ataupun mendapatkan ancaman dari seseorang hingga memilih untuk mengusirku pergi. Bahkan ibu yudi tidak ingin membukakan pintu saat aku datang berkunjung.


Aku tidak ingin pulang tanpa informasi yang berharga jadi aku kembali kerumah Kak Ratih ingin mengecek ke dalam. Pintunya terkunci tetapi aku bisa menemukan pintu belakangannya hanya di ikat dari luar.


Begitu saja akhirnya aku bisa masuk ke dalam rumah Kak Ratih. Rumahnya bagiku sangat bersih untuk menunjukkan rumah yang sudah lama tidak di huni oleh siapapun. Bahkan semua pajangan diatas meja hampir tidak berdebu sama sekali.


“Tante Laras….” Suara tidak asing menyapaku dari balik pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka. Aku mengikuti sumber suara dan sampai di ruangan yang menurutkan menyeramkan.


Banyak lilin-lilin padam yang disusun mengelilingi ruangan ini, aroma dupa bekas perapian menyengat begitu aku masuk kedalam rumah ini. Sepertinya ruangan ini digunakan untuk ritual perdukunan atau semacamnya. Bisa aku lihat dari patung besar di depan yang biasanya dijadikan penyembahan atau media penghubung manusia dan makhluk lain.


Sosok Endru tiba-tiba terlihat berdiri menunjuk kearah lemari freezer yang berada di sisi ruangan ini. Mengikuti petunjuk anak itu aku menyeret kedua kakiku kesana sembari menutup hidungku karena merasa tidak nyaman dengan aroma aneh disini.

__ADS_1


Ketika aku membuka lemari, mataku tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat. Bagaimana mungkin ada manusia yang bisa melakukan hal sekeji ini. Banyak sekali bola mata yang di simpan didalam toples plastik bening dengan air. Jadi bola mata itu mengambang begitu saja.


Setiap toples mempunyai masing-masing nama, aku memeriksa satu persatu toples. Dihitunganku ada 15 toples di dalam lemari ini.Pun ada beberapa toples yang sudah kosong di luar freezer dan masih tertinggal bercak merahnya.


Kembali fokusku di alihkan dengan toples dengan banyak nama disini, otakku berfikir cepat dan memotret semuanya dibalik ponselku. Alih-alih bisa digunakan sebagai bukti suatu hari nanti.


Aku juga menemukan satu toples kosong lagi dibalik toples lain di dalam freezer ini dengan nama Ratih Widyaningrum.


Ini nama lengkap Kak Ratih dan masih kosong, berarti benar dugaanku ada seseorang dibalik semua ini. Tepat ketika aku masih sibuk dengan semua fikiran dan pradugaku yang tidak-tidak.


Aku mendengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah ini. Seseorang pasti datang kemari. Aku berlari kecil dan bersembunyi dibalik tabung aneh yang berada di mimbar depan ruangan ini.


Suara kaki kemudian memasuki ruangan. Tapi tidak lama ada suara langkah kaki lainnya juga ikut masuk kedalam ruangan. Aku mengintip dibalik celah jari tangan patung ini.


Tampak dua orang pria sedang berdiri di hadapan freezer. Salah satu pria itu mengeluarkan sebuah wadah yang didalamnya berhasil membuat kedua tanganku spontan menutup mulut.


Pria itu membawa dua bola mata yang dia letakkan kedalam toples kosong tadi. Mereka kemudian berincang sebentar. Suaranya terdengar sayup bagiku. Aku hanya bisa mendengar perkataan bahwa makanan ini cukup bagi tuan mereka.


Pekerjaan mereka kemudian selesai dan berlalu pergi. Aku tidak bisa melihat wajah mereka. Karena keduanya memakai topi hitam dan juga masker.


Aku hanya bisa melihat tato bunga Teratai di balik punggung tangan keduanya. Sepertinya itu adalah sebuah symbol sebuah perkumpulan atau apalah namanya. Intinya-mereka sangat kejam dan menyedihkan bagi korban-korbannya.


Ketika mereka pergi aku bisa bernafas lega dan merasa penasaran siapa tuan mereka yang memakan bola mata manusia. Dia kira cemilan kali ah.


Aku seorang yang ambis apapun yang aku inginkan, aku harus menemukan apapun yang aku cari. Jadi mau bagaimanapun aku akan menunggu disini dan menangkap dalang dibalik kematian banyak orang termasuk Kakakku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2