Misteri Hotel 27

Misteri Hotel 27
Titik Kebenaran Pertama


__ADS_3

Pukul 10 malam, Mas Bagas belum juga pulang. Ponselnya bahkan tidak bisa di hubungi sama sekali. Keadaan hotel yang begitu sunyi membuatku tidak nyaman.


Semalaman aku berjuang dengan rasa khawatir dan ketakutan jadi satu. Hingga tidak terasa aku ketiduran di sofa.


Ketika terbangun, aku begitu kaget karena aku sudah berada di tempat tidur lengkap dengan selimut hangat membungkus tubuhku. Padahal aku ingat betul aku tertidur di sofa.


Atau aku yang tanpa sadar pindah ketika tengah malam, entahlah tetapi bagiku ini masih terasa aneh. Untuk meminimalisir fikiran ini aku hanya bisa berusaha berfikir positif saja untuk ini.


Aku turun sebentar menyapa Mbak Tati dan Pak Bisma yang sibuk membersihkan. Hotel menjadi lebih sunyi dari biasanya setelah tidak ada pemasukan tiap pagi kami tidak sibuk menghitung uang.


Setelah sarapan aku kembali ke kamar dan bersiap-siap pergi lagi, aku ingin mencari tahu tentang Endru mengapa sampai menjadi arwah. atau dia hanya sekedar iblis yang menyamar untuk mengelabuiku.


Entahlah, tapi satu yang aku yakini sebuah musibah telah menimpa keponakan pertamaju tersebut.


Aku terus menelepon Mas Bagas walaupun tetap aktif. Jadi aku segera bergegas ke kota untuk mencari Mas Bagas.


Setelah menemukan jalan alternatif ke kota walaupun balik pulang dua kali sehari sangatlah mudah bagiku.


Pukul 9 pagi aku sampai di kota, aku singgah lebih dulu sarapan dan menanyai teman-teman Mas Bagas untuk menanyakan keberadaannya. Tetapi tidak ada juga jawaban yang aku inginkan.


Terakhir aku mengunjungi Anto teman baik Mas Bagas. Dia bekerja di sebuah bank swasta untungnya dia sedang tidak sibuk jadi bisa menemuiku sebentar.


Informasi yang bisa aku dapatkan dari Mas Anto bahwa Mas Bagas ikut bekerja dengan sebuah komunitas yang dia juga tidak tahu pasti.


Tepat setelah pertemuanku dengan Mas Anto, akhirnya ada telepon masuk dari Mas Bagas. Dia mengatakan sudah berada di hotel dan ingin istirahat sejenak.


Akhirnya aku bisa bernafas lega, setelah mendengar kabar dari Mas Bagas. Sekarang aku bisa fokus kepada tujuan utama ku untuk mencari Kak Ratih.


Ketika sampai di depan cafe milik kak Ratih semuanya nampak berbeda dari kemarin. Cafe milik kak Ratih nampak tidak terurus dengan banyak ilalang di halamannya dan ruko yang sudah terkunci dan terlihat sangat lama.


Sungguh banyak hal membuatku langsung merasa aneh, Tiba-tiba telepon dari kak Ratih membuatku tersentak.


"Halo Laras"


"Halo Kak"


"Kamu dimana? "


"Aku ada di depan cafe kak Ratih. "

__ADS_1


"Lah kakak ga liat kamu"


"Aku liat cafe kak Ratih kenapa jadi ga terurus"


"Kamu di ruko samping kali Ras "


Aku memutar pandanganku ke ruas jalan, benar saja ada cafe milik Kak Ratih di sebrang jalan. Mungkin aku terlalu banyak linglung hari ini.


Aku kini duduk dengan secangkir teh dan roti bakar bersama Kak Ratih yang sudah selesai melayani para pengunjung.


Tidak ingin terburu-buru, aku mulai berbasa-basi lebih dulu.


"Endru apa kabar Kak? "


Kak Ratih tidak langsung menjawab dan menatap lurus kedepan dan tersenyum kecut.


Kak Ratih menghela nafas panjang, kemudian terdiam lagi.


"Kenapa kak Ratih diam saja? "


"Kak."


Setelah duduk sekitar 40 menit, aku pamit kepada kak Ratih karena ingin melakukan pekerjaan lain.


Padahal aku kembali ke rumah Kak Ratih dulu, aku yakin ada sesuatu yang bisa aku jadikan petunjuk di dalam rumahnya tersebut.


Sesampainya disana keadaan rumah begitu sepi dan gelap. Untungnya ada orang yang berada tidak jauh dari rumah ini.


Lokasi perumahan disini memang agak berjarak satu sama lain. Segera aku bertanya kepada seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang menjahit.


"Permisi bu. " ucapku sopan.


"Iya silahkan Mbak. "


Ibu-ibu itu juga terlihat sangat ramah dan mempersilahkan aku duduk.


Aku bertanya tentang keluarga Kak Ratih dan Mas Farhan. Kemudian ibu yang memperkenalkan namanya sebagai Mirna menceritakan apa yang dia ketahui.


Semenjak kematian anak laki-lakinya Kak Ratih dan Kak Farhan meninggalkan rumah mereka. Anehnya mereka tidak mengadakan acara tahlilan atau semacamnya setelah kematian anaknya.

__ADS_1


Mereka juga bahkan tidak tahu dimana mayat anak laki-laki itu di makamkan. Warga disini juga tidak pernah tahu seperti apa dan bagaimana anak laki-laki keduanya meninggal dunia.


Satu hal yang pasti banyak warga yang sering mendengar suara anak-anak berteriak, menangis, dan tertawa ketika lewat di depan rumah.


Ratih hanya pernah datang sekali itupun pergi dari berlari dengan sangat terburu-buru. Seperti ada yang membuatnya takut. Karena Ibu Mirna saat itu mengintip di balik jendela.


Meskipun tidak terlalu dekat namun dia yakin betul itu adalah Ratih. Entah apa yang dia lihat sehingga sangat ketakutan seperti itu.


Namun ada juga kabar tersiar kalau Ratih dan Suaminya adalah penganut ilmu Hitam dan menjadikan anaknya sebagai tumbal.


Ibu Mirna tidak bisa memberikan kesaksian lebih jelas, dan memintaku untuk kerumah di blok A2-41 karena dia yang mengetahui banyak hal tentang hal itu. Kebetulan dia adalah seorang dukun.


Ibu Mirna juga meminta anaknya untuk menemaniku pergi ke rumah tersebut, sebab sangat susah bagi orang baru mendapatkan jalan yang benar di kompleks yang sempit ini. Juga tidak bisa di tempuh dengan naik mobil.


Tidak lupa aku mengucapkan Terima kasih dan pergi bersama anaknya yang dia panggil Yudi, anak lelaki yang masih kelas 7 itu begitu baik dan tidak banyak bicara sepanjang jalan dia hanya diam saja.


Kami akhirnya sampai di sebuah rumah dengan cat coklat bernuansa klasik yang unik. Di bayanganku dukun yang akan keluar entah itu nenek-nenek atau kakek-kakek.


Tetapi semua ekspektasi terpatahkan karena ketika dia membuka pintu nampak perempuan dengan kulit begitu bersih dan rambut ikal yang panjang.


Aku melirik sejenak nampak Yudi terlihat wajahnya memerah berseri. Terlihat jelas anak ini sudah puber dan jatuh cinta.


Gadis di hadapanku mempersilahkan kami masuk, rumahnya sangat jauh dari kesan dukun seperti biasanya. Rumahnya seperti rumah orang biasa saja.


Dia mengatakan bahwa kedua orangtuanya sudah meninggal dunia dia hanya seorang diri disini. Namun aku merasa aneh karena aku tidak menanyakan hal tersebut.


Dia langsung bisa menebak nama dan juga tujuanku kemari. Sedikit berlebihan tetapi dia juga tahu bahwa cintaku adalah kepingan yang terbagi dan aku mempunyai hati yang tidak teguh.


Meski begitu semua yang dia jelaskan begitu masuk akal dan menyentuh.


Dia kemudian aku minta menjelaskan apa yang dia ketahui tentang Kak Ratih dan keluarganya juga rumah yang dia tinggali beserta anak lelakinya.


Dulu Kak Ratih dan suaminya pernah datang kepadanya bertanya tentang ilmu pesugihan. Gadis yang biasa diberi nama Anggrek ini menjelaskan bahwa dia bukan dukun yang baik.


Dia memberikan informasi tentang cara menjalani ilmu tersebut, harus bersekutu dengan iblis dan membuat Perjanjian dan tumbal.


Satu bulan setelah kedatangan mereka dan juga belajar dari Anggrek semuanya berjalan lancar. Ratih dan keluarganya membeli banyak barang-barang juga suaminya membeli mobil pajero keluaran terbaru.


Awalnya semua berjalan lancar, tetapi akhirnya iblis meminta tumbal dan meminta anak laki-laki pasangan itu. Suami Ratih tidak ingin anaknya menjadi tumbal hingga bernegosiasi akan memberikan bayi yang saat itu masih ada di dalam perut Ratih dengan kata lain Ratih sedang hamil saat itu.

__ADS_1


Iblis setuju tetapi mereka mengingkari hal tersebut dengan memberikan bayi yang bukan anak kandung mereka, iblis menjadi marah dan menjadi malapetaka bagi keluarga tersebut.


__ADS_2