
Jam 11 siang nanti aku dan Mas Bagas memutuskan untuk pulang. Harusnya pagi-pagi tetapi Mas Bagas baru pulang jam 9 tadi dan belum tidur sama sekali katanya. Jadi aku meminta dia untuk istirahat saja dulu.
Selama Mas Bagas tidur aku memilih untuk jalan-jalan sebentar untuk berkeliling sebentar dan menikmati kudapan di hotel ini. Karena sakit dan mengurung diri aku belum sempat menikmati hotel yang sudah kami bayar ini.
Walaupun bukan hotel bintang 5 tetapi makanan dan fasilitas disini cukup membuat nyaman dan cocok untuk bersantai. Pukul 10.40 aku bergegas untuk kembali ke kamar karena harus packing dan membangunkan Mas Bagas juga.
Ditangga resto secara tidak sengaja aku menabrak seseorang secara tidak sengaja. Hingga beberapa dokumen yang dia pegang terjatuh. Aku kemudian membantu mwmungut dan meminta maaf kepadanya.
“Tidak apa-apa.”
Suara yang tidak asing menyapu ingatanku seperti magis. Suara yang dulu selalu menghiasa hari-hariku dibalik ponsel genggam yang jadul dengan baterai kembung di ikat karet gelang.
“Laras..”
Senyum mengembang diwajah simetrisnya dengan kacamata bulat dikedua matanya menyajikan kesan pria berpendidikan dihadapanku.
Kami saling menatap sepersekian detik hingga aku selesai membantunya menyusun dokumen yang berantakan. Aku masih ingin lebih lama dengan Wira meskipun hanya beberapa menit saja tetapi aku saat ini sedang buru-buru mengingat Mas Bagas yang harus aku bangunkan.
Sebelum berpisah Wira memberikan kartu namanya, tadinya dia ingin mengajak makan siang tetapi aku menolak halus dan tidak menjawab banyak kemudian berpamitan pergi. Meskipun hatiku masih berdebar tetapi aku ingat kembali Wira juga sudah punya pacar.
Baru saja aku membuka pintu kamar Mas Bagas sudah menatapku dengan alis ditautkan keatas.
“Darimana sayang?” Tanya Mas Bagas dengan wajah datar.
“Habis jalan-jalan Mas, sebelum pulang kan.”
“Kakinya gimana?”
“Kalau sakit lagi, awas yaa sayang.”
__ADS_1
“Iya Mas, iya..”
Aku hanya bisa mengiyakan semua yang dikatakan oleh Mas Bagas tanpa menceritakan pertemuanku dengan Wira. Aku takut akan terjadi perang dunia ketiga.
Semua barang sudah dibereskan semua oleh Mas Bagas bahkan semuanya sudah sangat rapi. Meski begitu Mas Bagas dengan genitnya tidak ingin langsung pulang.
“Sayang, masa langsung pulang sih.”
“Satu kali yaaa..”
Aku menatap Mas Bagas yang berusaha merayuku dan merengek seperti anak-anak minta mainan saja.
“Beneren yaa sekali saja Mas.” Jawabku terkekeh geli.
“Dua deh.”
Mas Bagas sangat gemes dan memelukku menyelesaikan semuanya dan membuat kami lebih harmonis lagi. Setelah istirahat sebentar ternyata sudah 11.43 jadi buru-buru aku dan Mas Bagas berangkat untuk kembali ke hotel kami.
Sebelum naik ke mobil aku menatap kearah hotel berharap bisa melihat Wira meski hanya sebentar untuk mengucapkan selamat tinggal dan sekedar bangga sudah melihatnya hidup bahagia dengan mencapai apapun yang dia inginkan sekarang.
Sayangnya aku tidak bisa melihat Wira lagi meskipun hanya bayangannya saja. Takut jika Mas Bagas menyadari tingkahku. Aku langsung masuk ke mobil dan Mas Bagas melajukan mobil pergi.
Perjalanan cukup Panjang dan juga melelahkan. Namun aku memikirkan uang dan harta kekayaan jadi menjadikan semua lelah sebagai kegiatan untuk memanen pahala. Pasti dengan waktu yang aku berikan Mbah Baso dan yang lainnya sudah menyelesaikan semuanya dengan rapi.
Aku masih bingung bagaimana menjelaskan ini nantinya ke Mas Bagas, aku belum memikirkan alasan yang lebih baik dari pada kejujuran. Jadi jika tidak ada pilihan lain aku akan jujur kepada Mas Bagas.
Sesampainya di hotel Mas Bagas tidak langsung masuk tetapi harus kembali karena mempunyai pekerjaan. Dia hanya mengantarku saja dan kemudian kembali lagi. Inilah juga hal yang selalu membuatku tidak bisa jauh dari Mas Bagas. Rasa tanggungjawab dan amanahnya yang luar biasa.
Aku kini duduk di lobi menunggu Mbak Tati dan Pak Bisma selesai melayani tamu. Baru ditinggal 4 hari saja keadaan hotel jauh berbeda. Tidak hanya pada malam hari tetapi kini sudah datang tamu pada siang hari meskipun hanya ada empat orang.
__ADS_1
Mbak Tati menjelaskan jika selama ini ternyata ada yang menaruh semacam ajian agar orang-orang yang ingin menginap disini tidak melihatnya sebagai bangunan yang layak.
Melihat tatanan hotel yang sedikit diubah perabotnya mengingatkanku pada mimpiku.
Benar…
Ini adalah desain dalam mimpiku. Jika aku mengikuti semua ingatanku maka aku akan sampai pada ruangan yang tersembunyi. Entah ruangan macam ap aitu tetapi aku rasa. Aku bisa mendapatka informasi dari sana dan kuat dugaanku Kak Ratih dan sangkut pautnya dengan ini semua ini.
Sebelum menyelesaikan pertanyaan tentang mimpiku. Aku akan lebih dulu menanyakan kepada Mbak Tati mengenai Kak Ratih apakah mereka saling mengenal satu sama lain atau tidak.
10 menit menunggu Mbak Tati kemudian menghampiri. Kami kemudian bercerita karena aku meminta Mbak Tati menceritakan semua hal yang terjadi di hotel.
Mbak Tati menjelaskan bahwa semua perubahan ini dikarenakan arahan dari Mbah Baso dan dia juga berhasil membuka hotel dari ajimat-ajimat penghalang dan membuka kembali peluang bagi arwah berlibur disini.
Mbak Tati kemudian mengantarkan aku ke atas, sesampainya di kamar aku menahan dia sebentar dan menanyakan tentang Kak Ratih namun dari ekspresinya dia menunjukkan gestur bingung dengan kata lain dia tidak kenal atau bahkan tahu Ratih yang mana aku maksudkan.
Kecurigaanku secara nyata malah sekarang semakin jelas kepada Mbak Tati karena setelah aku selidiki sendiri ketika akan mengiklankan properti bukan hanya langsung unggah foto dan sebagainya namun harus tahu semua detail bangunan.
Setahuku juga Kak Ratih tidak tahu sama sekali tentang hotel ini. Hanya ada dua pilihan saat ini dikepalaku jika bukan Kak Ratih maka orang itu adalah Mbak Tati karena tidak ada yang tahu semua hal tentang hotel ini sebaik pengetahuan Mbak Tati.
Nomor yang terpasang di layanan properti dan chat denganku jelas-jelas itu adalah Kak Ratih. Semua hal di dunia ini adalah ladang tempat manusia bingung kalau mau tenang ya nanti di syurga itu kata bang Aldi di media sosial yang sedang viral.
Rasanya begitu menakjubkan. Aku saat ini butuh ruangan khusus untuk menganalisis kasus satu persatu karena jika hanya aku fikirkan tidak aka nada satu hal pun yang menggangguku bisa selesai.
Semuanya sangat penting jadi tidak akan pernah aku lewatkan satu hal apapun. Sebelum menemukan ruangan yang cocok aku memilih menulisnya semua agar tidak ada yang terlupa nantinya. Semuanya aku urutkan sesuai prioritas dan tingkat kebahayaan kalau-kalau ada yang menghalangi ditengah jalan. Aku bahkan tidak punya rekan sebagai bestie.
Teman-teman sosialitaku tidak akan pernah terlihat satu orangpun jika aku kesulitan tetapi ketika aku Berjaya mereka seperti semut yang menjadikan aku sumber makanan bagi mereka. Kacau dan tidak bisa dibicarakan sebagai bentuk kasih sayang persahabatan.
Aku fokus menulis semua rencana yang akan aku lakukan satu persatu hingga semuanya bisa aku ceklis sebagai kasus terjawab dan terpecahkan. Aku tidak akan melibatkan siapapun karena ini adalah seluruhnya berkaitan dengan hidupku.
__ADS_1