Misteri Hotel 27

Misteri Hotel 27
Kematian Kak Ratih


__ADS_3

Aku melihat Mbak Ratih dibalik jendela lantai dua. Menggantung dengan kursi di sampingnya.


Rasa panik dan gugup membunuh akalku. Aku hanya ingin menyelamatkan Kak Ratih saat ini juga.


Baru saja aku di depan pintu gerbangnya bisa aku lihat Kak Farhan yang saat ini berdiri disana juga.


Walaupun sempat ditahan oleh security rumahnya tetapi tetap saja aku menerobos paksa masuk.


Ibu-ibu dirumah Kak Ratih justru membantuku dengan cepat membukakan pintu.


Aku berlari ke lantai dua dengan sangat panik. Banyak pertanyaan yang membuat otakku membeku sempurna.


Harapanku hanya satu, Kak Ratih baik-baik saja. Aku tidak berharap banyak Tuhan.


"Sial, pintunya terkunci" Umpatku geram. Tetapi ibu Art langsung datang membawakan kunci meskipun begitu tangannya menahan gemetar.


Dengan bantuannya aku berhasil masuk ke teras lantai dua ini. Karena tadi aku melihat Kak Ratih disini.


Teras yang hanya dibatasi oleh kaca bening dan bisa di lihat dari kejauhan.


Melihat pemandangan di depanku. Lututku terasa sangat lemas. Bahkan Art tadi juga tersungkur karena kaget.


Mbak Ratih sudah tergeletak di lantai yang dingin, tali dan kursi yang sempat aku lihat sudah tidak ada disini. Hanya ada sebilah cutter dan kertas permohonan maaf.


Pelaku pasti ingin merancang bahwa Kak Ratih mati bunuh diri.


Aku menangis histeris, suara yang tersisa dalam kesunyian sekarang keluar ke dunia dalam bentuk teriakan dan lengkuhan menyedihkan.


Tubuh Kak Ratih sudah dingin. Aku sangat ingin memeluknya lebih lama. Pasti Kak Ratih kedinginan apalagi lantainya dingin.


Aku langsung menelepon polisi dan tidak butuh waktu lama. Polisi datang dan membawa jenazah Kak Ratih.


Aku memberikan keterangan bahwa melihat Kak Farhan juga disini. Tetapi dia kemudian menghilang membawa Manda anak perempuan mereka.


Ibu Art yang baru ketahui namanya adalah Hartati itu memberikan keterangan yang mengisyaratkan dia tidak tahu apapun tentang nyonyanya itu.


"Hartati? "

__ADS_1


Ternyata ibu ini juga bernama Hartati. Bisa saja data yang di masukkan oleh Kak Ratih adalah nama ibu ini. Atau ini sudah direncanakan oleh seseorang dari awal.


Atau jangan-jangan aku saat ini sudah berada di dalam perangkap dengan banyak mata di sisiku.


Dia hanya menambahkan jika Ratih kerap mengkonsumsi pil penenang karena kesulitan tidur setiap malamnya. Insomnia yang dia alami cukup parah.


Untuk saat ini kesimpulan polisi bahwa Kak Ratih bunuh diri. Namun mereka juga terus mencari keberadaan dari Kak Farhan untuk dimintai keterangan lebih lanjut.


Rasanya laporanku tidak terlalu di gubris oleh polisi jika tidak ada bukti konkrit. Menyesal rasanya tidak merekam kejadian tadi dengan ponsel canggih yang baru dua minggu lalu aku beli ini. Padahal jarak zoom nya sangat maksimal dan juga jernih.


Jika sudah seperti ini aku hanya bisa mencari bukti dan mengungkapkan kematian Kak Ratih yang sebenarnya.


Tidak ada waktu lebih lama untuk merancang apapun. Terpenting saat ini adalah pengurus jenazah Kak Ratih.


Di perjalanan menuju Rumah sakit aku menghubungi Mas Bagas untuk mengabarkan kondisi yang telah terjadi.


Aku ke rumah sakit tidak sendiri melainkan ditemani oleh Ibu Hartati. Di perjalanan ini aku tidak banyak bicara karena air mata mengalir tanpa perintah.


Luka menjadikan mataku lebih sensitif dan hatiku meredam luka lebih parah. Meskipun aku dan Kak Ratih ketika sudah dewasa kerap berpisah jauh tetapi aku selalu ingat kebaikannya dari dulu dan selalu mengutamakan diriku.


Sampai di rumah sakit jenazah Kak Ratih di periksa oleh tim forensik lebih dulu. Cukup lama menunggu dan akhirnya jenazahnya bisa kami makamkan secara islami.


Mas Bagas datang bersama Kak Farhan, wajah Kak Farhan begitu sedih dan menunjukkan raut wajah pria menyedihkan yang kesepian.


"Munafik." Geram ku menarik kerah bajunya dengan suara tinggi penuh emosi.


Mas Bagas menenangkan dengan terus menahan tubuhku yang masih bergetar hebat. Menahan rasa marah yang membakar tubuhku kuat-kuat.


Kak Farhan membelai wajah Kak Ratih dengan lembut. Air matanya mengalir dan memainkan drama culas menyebalkan.


Padahal aku tahu betul semua ini adalah permainan yang dia mainkan dengan kedua tangan kotornya sendiri.


Aku hanya bisa berusaha tenang saat ini dan meredam diriku. Agar semua hal tidak menjadi rumit juga luka kehilangan saudara ku satu-satunya membuatku tidak berdaya.


Tiga hari berlalu dengan cepat tetapi wajah pilu dan tubuh penuh darah Kak Ratih masih melayang di fikiranku setiap harinya.


Aku berjanji pada diriku sendiri akan mengungkap semuanya suatu hari nanti. Tidak akan kubiarkan pembunuhnya berkeliaran dengan bebas.

__ADS_1


Tangan yang kotor karena bau amis darah setelah berhasil merenggut nyawa orang lain adalah satu kenyataan sebagai dosa besar berujung pembalasan lebih pedih.


Ketika di hotel aku banyak melamun dan tidak banyak bicara seperti biasanya. Hal ini menarik perhatian Mbak Tati dan menghampiriku.


Aku hanya mengatakan baik-baik saja. Tetapi sorot mata Mbak Tati seolah mengharapkan cerita jelas keluar dari bibirku.


Aku lalu menceritakan segala yang aku alami tanpa menyangkutkan ke beliau kisah atau musibah yang menimpaku.


Mbak Tati nampak terkejut saat mendengar aku mengatakan Kak Ratih meninggal dunia. Dia bahkan langsung memanggil Pak Bisma dengan sangat gugup.


Mereka berdua begitu terpukul terlihat dari ekspresi Pak Bisma yang langsung bengong diam seribu bahasa.


Dari sinilah juga aku ketahui bahwa Kak Ratih sebenarnya bukanlah anak kandung dari ayah. Tetapi anak dari adik ayah yang juga adik Pak Bisma tentunya yang meninggal ketika menggarap tanah warisan ini.


Sebuah fakta yang berhasil mengecoh semuanya. Jika memang demikian mengapa ibu kak Ratih seolah sangat tersakiti oleh ayah.


Jika memang dia salah satu dari pembangun hotel ini mengapa namanya tidak ada di saksi kertas warisan.


Tidak ada pilihan lain selain berbasa-basi mengapa aku tidak pernah mengetahui namanya juga identitasnya.


Pak Bisma kemudian menceritakan tragedi dan masalah yang tahun itu menimpa keluarga ayah. Tentu saja dengan tetap menyembunyikan identitasnya sebagai adik dari ayah.


Tahun itu sebelum ayah menikah dengan Jasmine dia lebih dulu menikah dengan ibu Kak Ratih. Pernikahan mereka berjalan khitmat dan penuh syukur.


Hingga belakangan Pak Juan menjadi sangat sibuk mengurus bisnis perkebunan di desa sebelah. Dia selalu meninggalkan istrinya sendirian.


Tak lama dari itu Ibunya Ratih mengandungnya. Saat usia kandungannya 9 bulan. Pak Bisma dan Pak Juan dengan kedua telinga mereka sendiri mendengar perkataan Danang yang mengatakan anak itu pasti anaknya.


Mereka juga melihat langsung bagaimana keakraban diantara mereka berdua terjalin layaknya suami istri.


Pak Juan gelap mata dan sangat marah tanpa sengaja membunuh Danang dengan kedua tangannya sendiri.


Danang saat itu juga mempunyai seorang istri yang namanya sama dengan istri saya. Ucap Pak Bisma.


Dia sudah lama meninggalkan desa dan tidak diketahui lagi keberadaannya.


"Berarti istri dari Om Danang ini adalah Hartati.... "

__ADS_1


Jangan-jangan Hartati itu....


__ADS_2