MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
BAB 1


__ADS_3

ANDINI MAHARANI seorang gadis berusia 17 tahun, cantik, mandiri dan apa adanya. Dia dipaksa menikah dengan sorang lelaki dewasa yang sama sekali tidak ia kenal. Hanya karena kesalahfahaman, membuat ia terjebak dalam sebuah pernikahan.


Andini merupakan anak pertama dari Lukman dan Desi. Mereka terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, orang tua Andini merupakan petani di kampung.


Meski dia terlahir dari keluarga yang tidak mampu, dia tidak pernah malu. Karna baginya menjadi petani merupakan pekerjaan yang mulia. Ia juga tak segan untuk membantu orang tuanya terjun ke sawah.


Karna kepintaran nya Andini mendapat beasiswa untuk sekolah di SMA CAHAYA HARAPAN, dimana sekolah tersebut merupakan sekolah paforit dan hanya orang kaya lah yang mampu bersekolah di sana.


ZAVIIR ABRHISAM seorang pemuda berusia 29 tahun, tampan, dingin, jarang senyum, berwibawa dan atletis. Wanita mana yang tak terpukau melihat ketampanan nya bak aktor korea. Namun sayang belum ada satupun wanita yang mampu meluluhkan hatinya hingga saat ini.


Dia merupakan putra tunggal dari seorang pengusaha, menjadi pewaris dari semua kekayaan keluarga nya. Namun ia memilih jalur menjadi seorang guru dibanding menjadi pengusaha seperti papanya. Karna baginya menjadi guru merupakan cira-citanya sejak kecil.


Menurutnya, menjadi Guru adalah hal yang sangat mulia. Karena ia bisa berbagi ilmu dengan orang lain. Ia tidak tertarik sama sekali untuk menjadi presdir seperti papanya.




"Ya ampun... gimana ini, tumben macet, kalo kayak gini terus bisa telat aku, mana hari ini ada ulangan lagi," gumam seorang gadis yang terus menggerutu karena angkot yang ia tumpangi mengalami kemacetan.



"Bang, kiri di sini aja!" teriak dia kepada sang supir. "Gak papa lah capek dikit asal cepet nyampe," gumamnya saat turun dari angkot.



"Bismillah." Tanpa ba-bi-bu setelah membayar ongkos angkot, dia langsung lari menerobos kemacetan demi cepat sampai ke sekolah.



Rasa lelah tidak dihiraukan, keringat bercucuran memenuhi sekujur tubuh. Dia berhenti sejenak untuk mengambil nafas.



"hosh... huh...huh... duh, capek banget Ya Allah. Semangat Dini, dikit lagi nyampe..." lirihnya dengan memberi semangat pada dirinya sendiri.



Melihat bangunan sekolah sudah nampak, lalu melihat jam yang melingkar di tangan nya, dia menyunggingkan bibir nya seraya tersenyum dan kembali berlari.



Saat hendak menyebrang tiba-tiba ada sebuah mobil yang hampir saja menabraknya.



CIIIT......



"Aaa...."



"Woy, nyebrang liat-liat napa? kalo lo ketabrak, terus gua lagi yang di salahin!" teriak seorang pemuda yang menampakan wajah nya dibalik kaca mobil.



Tapi gadis itu masih tak bergeming, mungkin dia masih merasa syok dengan kejadian barusan, hingga suara klakson menyadarkan dirinya.



TIIIT...



"Eh, om kalo bawa mobil jangan ngebut-ngebut dong, enggak liat apa ada orang mau lewat!" teriak gadis itu.



"Am om am om, kapan gua kawin ama tante lo? dan Itu salah elo kali, nyebrang nggak hati-hati. Makanya kalo jalan pake mata! minggir gua mau lewat!" semburnya.



"Jalan pake kaki Om, bukan mata. Aish... jutek amat si om. Aku sumpahin gak laku-laku ya!" umpat Dini.


__ADS_1


"kalo gua gak laku, gua bakal seret elo jadi bini gua, minggir!" maki pria tersebut.



Jder.



Tiba-tiba terdengar suara petir, 'aneh, pagi yang cerah begini masa ada gledek sih' gumam pria itu.



"Waduh, kok ada petir. Jangan-jangan gara-gara sumpahnya tadi..." lirih Dini.



TRIIT.



Mobil pajerro berwana hitam itu berlalu begitu saja meninggalkan Dini di tengah jalan. Tanpa megucapan kata ma'af, pemuda itu langsung tancap gas.



'Ganteng-ganteng kok jutek, nyebelin banget sih. bukannya minta ma'af malah maki-maki gak jelas. jangan sampe deh ketemu lagi sama 'tuh orang iiih amit-amit.'



Tiba di depan gerbang Sekolah, puntu gerbang hampir saja ditutup oleh Satpam. Beruntung ia berhasil menghentikannya.



"Pak, tunggu!" serunya pada Pak Satpam yang hampir menutup pintu gerbang.



"Eh Neng, tumben sih telat?" tanya Pak Satpam.




"Ya udah, buruan masuk. Udah bel tuh!" jawab Pak Satpam.



"Iya Pak, makasih banyak ya," ujarnya.



Setelah mendapat izin dari scurity Dini pun masuk kedalam sekolah. Ia kembali lagi berlari sekencang mungkin menuju kelasnya yang berada di lantai dua.



Dengan nafas memburu ia menuju kelasnya, beruntung hari ini bukan jadwal guru kiler. Ditambah Dini bukan orang yang suka bolos atau terlambat sekolah. Jadi jika hanya telat satu kali ia akan mendapatkan konfensasi.



Tok tok tok



Ceklek.



"Assalamu'alaikum, selamat pagi bu. Ma'af Bu saya terlambat."



"Wa'alaikum salam, Dini. tumben kamu telat? Cepat masuk!"



"I-iya, Bu," Dini langsung masuk setelah mendapat perintah dari gurunya, kemudian duduk di bangkunya.


__ADS_1


Baru saja dia duduk sudah mendapat teguran dari sahabatnya Aira.



"Din. Kamu kenapa telat gak kayak biasanya, deh?" tanya Aira.



"Panjang ceritanya Ra, nanti aku ceritain pas istirahat," jawab Dini sambil mengeluarkan buku di dalam tasnya. Aira hanya mengangguk paham.



"Tolong, buku-bukunya untuk di kumpulkan di depan!" perintah Bu Dewi sebagai guru Bahasa Indonesia. Setelah buku-buku terkumpul, "Kita mulai ulangannya sekarang!"



Dua puluh menit kemudian...



"Baiklah waktu kalian sudah habis, silangkan di kumpulkan kertas jawaban kalian!"



Semua kertas jawaban telah terkumpul Bu Dewi pamit undur diri. Kini semua siswa menghela nafas lega karena merasa seperti terlepas dari musibah. Ada yang menggerak-gerakan kepala, tangan dan pinggang.



Sedangkan Dini kini bersandar di sandaran bangku dengan memjamkan mata, karena merasa hari ini benar-benar melelahkan baginya.



Selang lima menit. Tiba-tiba pintu terbuka.



Ceklek.



"Selamat pagi semuanya..!" seru seorang lelaki tampan berperawakan tinggi dengan badan yang kekar. Membuat para siswi menganga melihat ketampanannya.



"Selamat pagi juga pak..." seru semua siswa serentak.



"selamat pagi pak ganteng," jawab Salsa siswi paling centil dan sombong, dia juga anak dari seorang pengusaha kaya. Dengan berpangku tangan di meja sambil kedip-kedipin mata seperti orang kelilipan.



Lain hal-nya dengan Dini yang masih memejamkan matanya. Melihat sahabatnya masih bersandar dengan mata terpejam. Aira menyenggol lengan sahabatnya.



"Sstt... Din, Din bangun!"



Dini yang sadar temannya memanggil dia membuka matanya dan kembali duduk, dia tidak langsung melihat ke arah depan, melainkan merenggangkan ototnya seraya menguap.



"Hoaaam, eh..." Tiba-tiba dia terhenti saat nentranya melihat sosok di depannya, tatapan keduanya terkunci untuk sesaat. Dini mengucek-ngucek matanya seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.



'Di--dia--dia kan cowok nyebelin yang tadi pagi. Kok bisa ada di sini sih?'



"Hemm... perkenalkan nama saya Zaviir, saya Guru baru disini menggantikan pak Marwan karena dia sudah pensiun," terang Zaviir memperkenalkan diri.



'A-apa? jadi dia guru di sini? kok bisa sih orang kayak gitu jadi guru? gak ada sopan-sopannya.'

__ADS_1


__ADS_2