MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
Bab 9


__ADS_3

Mendengar suara klakson Dini pun menoleh ke sumber suara, "elo!"


"Hai, belum pulang? Mau gue anterin?" tanyanya.


"Nggak usah, gue naik angkot aja," tolak Dini.


"Angkot nggak akan lewat. Hari ini lagi ada demo para supir kendaraan umum," tuturnya.


"Gue pesen ojol aja." Dini tetap menolak tawaran orang itu.


"Lama, ini udah mendung lo. Mending gue anterin yuk!" Dia terus saja mengajak Dini untuk diantar pulang.


Dini mendongkak melihat langit yang sudah terlihat menghitam, tandanya sebentar lagi akan turun hujan. Ia berfikir sejenak apa dia terima saja tawarannya.


"Gue 'kan..."


"Udah cepetan keburu hujan!" ucapan Dini terpotong olehnya, ia lalu menarik tangan Dini untuk segera menaiki motornya.


Mau tidak mau Dini pun ikut naik motor dia. Tanpa mereka ketahui, seseorang sedang memperhatikannya di balik kemudi. Ia menggenggam setir erat.


Motor melaju dengan kecepatan sedang. Dini hanya diam dan enggan berpegangan, dan tiba-tiba orang itu menarik tuasnya. Membuat Dini tersentak dan otomatis memegang pingganngnya erat.


"Rendi, lo apa-apan sih?!" dengus Dini, dia memukul punggung Rendi.


"Ya kenapa lo nggak pegangan? Biasanya kan lo pegangan." jawabnya santai.


"Beda cerita sekarang, Ren. Gue 'kan udah bilang jangan temuin gue lagi!" sargahnya.


"Apa kita nggak bisa berteman kaya dulu, Ran. Gue kangen temenan sama lo. Apa karena status kita yang berubah, terus pertemanan kita juga berakhir..." lirihnya.


"Cowok dan cewek nggak bisa selamanya berteman, Ren."


"Gue capek terus terjebak dalam FriendZone. Gue ingin keluar dari Zona nyaman gue." Dini sebenarnya berat jika harus jauh dari Rendi. Tapi ia harus melakukan semua ini.


"Meski hanya berteman?" tanya Rendi.


"Meski hanya berteman!" ucap Dini.


Rendi terdengar menghela nafas berat. Jujur ini sangat berat baginya, merelakan wanita dan cinta pertamanya untuk orang lain. Ia meminggirkan motornya dan menghentikan laju kendaraannya.

__ADS_1


"Kenapa kita harus seperti ini, Ran? Kenapa takdir tidak memihak kita? Kenapa kita harus saling menyakiti seperti ini? Mengapa rasa itu ada, jika pada akhirnya kita harus menderita!"


Tes.


Dini tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mengusap airmatanya yang sudah lolos. Rendi melepas helmnya dan meletakannya di depan motor, lalu ia telungkup di sana. Ia meratapi nasibnya.


Gerak-gerik mereka tidak luput dari pantauan seseorang. Ia terus memperhatikan keduanya. Memang mereka tidak berbuat macam-macam. Tapi dia cukup faham dengan yang ia lihat.


"Apakah lelaki itu mantan pacarnya?" Gumamnya.


"Mereka saling mencintai?" Ia terus bermonolog.


Tidak ingin terlalu lama melihat pemandangan yang membuat hatinya jadi tidak menentu. Zaviir yang sedari tadi mengikuti Dini merasa sedikit kesal. Ia melajukan mobilnya, saat berada di samping motor Rendi ia sengaja membunyikan klakson.


Dini dan Rendi terkejut, Dini membulatkan mata saat melihat mobil siapa di sampingnya.


"P-Pak, Zaviir."


Rendi pun menoleh ke arah Dini, "siapa?"


Belum sempat Dini menjawab Mobil Zaviir sudah melaju dengan kecepatan tinggi.


"Apa?!"


________


Dini sudah sampai di depan gerbang rumahmertuanya, ia turun dari motornya Rendi. Awalnya ia meminta Rendi untuk mengantar sampai depan komplek, tapi Rendi menolak dengan alasan takut Dini kehujanan.


"Tanks, ya!" ucap Dini. Ia pun segera berlalu dan membuka pintu gerbang.


Belum sampai ke pintu gerbang, tangannya di cekal oleh Rendi.


"Tunggu, Ran!"


Dini melepaskan cekalan tangan Rendi di pergelangannya. "Lepas, Ren!"


"Sorry, Ran. Apa lo baik-baik aja dengan rumah tangga lo?" tanya Rendi.


"Baik, emang kenapa?"

__ADS_1


Rendi menunduk dan menghela nafas, setelahnya ia kembali mendongkak.


"Kalo lo ada masalah, lo datang aja sama gue. Gue akan selalu ada buat lo, Ran," ucap Rendi dengan mata sayu.


"Lo nggak perlu hawatir, Ren. Gue akan baik-baik aja. Lo nggak perlu se care ini sama gue. Gue akan baik-baik aja tanpa lo. Begitupun elo tanpa gue. Jadi stop lo perhatian sama gue. Walau bagaimanapun gue sekarang udah punya suami. Ada hati yang harus gue jaga. Ada keluarga yang harus gue jaga kehormatannya. Jangan sampai gue mencoreng nama baik dua keluarga."


Usai berucap Dini berlari memasuki gerbang. Meninggalkan Rendi yang masih diam mematung.


Zaviir kini tengah memperhatikan merka di jendela kamarnya, ia menutup tirai saat melihat Dini berlari masuk ke dalam rumah. Sekilas Rendi melihat seseorang yang sedang melihat ke arahnya, ia pun berlalu dari sana dengan motornya.


Saat menutup pintu rumah Dini mengusap airmatanya kasar. Ia tidak ingin orang rumah melihat ia sehabis menangis. Apalagi jika suaminya melihat ia menangis.


Saat memasuki kamarnya ia melihat suaminya Zaviir sedang berpangku tangan di depan dad4, dan menatap tajam ke arahnya.


Dini meremat jarinya dan tertunduk, "dia teman lama," jawab Dini tanpa di tanya.


"Pacar?!" tanya Zaviir datar.


Dini menggeleng, "bukan, dia teman dari sejak kecil."


"Teman tapi mencintai?" tanyanya penuh selidik.


Dini tidak menjawab, ia tertunduk dengan jantung yang berdebar.


"Elo udah nggak sendiri lagi. Lo udah menikah sekarang. Jadi jangan sampe lo ngelanggar norma-norma!" peringatnya.


Dini mendongkak, "iya, gue tau, Om. Gue faham dengan status kita ini. Meski cuma di atas kertas. Tapi gue nggak akan berulah dan bikin malu, gue sadar dengan posisi sekarang. Jadi nggak perlu ngingetin gue."


Dini berjalan melewati Zaviir ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Didalam kamar mandi Dini melihat dirinya yang terlihat berantakan dengan wajah sembab.


"Gue pasti bisa lewatin ini semua, gue akan jalani ini, dan memerima kenyataan yang harus gue hadapi." gumamnya.


"Apa yang terjadi sama gue, kenapa gue nggak suka liat Dini dekat dengan cowok lain. Gue nggak mungkin suka sam cewek bar-bar itu. Di hati gue masih ada wanita lain, dan belum bisa tergantikan," gumam Zaviir yang saat ini sedang merenung di ruang kerjanya.


Kedua insan yang sedang terkurung dalam rasa terjebak dalam kenangan masa lalu, berusaha menerima keadaan dan menyambut masa depan. Tetapi, mereka tidak bisa menepis kenyataan bahwa rasa itu masih ada dan sulit untuk di gantikan.


Sekuat apapun mengubur kisah lalu, tetap saja mereka masih menyimpannya sedikit di dalam hati. Dini ingin sekali keluar dari bayang-bayang masa lalu. Dia tidak ingin mengahncurkan sesuatu yang baru saja dibangun.


Mencintai dalam diam kepada teman kecilnya membuat Dini meresa cukup terluka, ia mengharapkan sesuatu yang tidak dapat digapai. Di saat ia ingin melepaskan kenapa semua itu seakan kembali menjerat. Dini tidak ingin terus terjerat.

__ADS_1


selamat tinggal masa lalu, aku akan membuka lembaran baru tanpa mengingat lagi dirimu.


__ADS_2