
Sepulang sekolah Dini dihadang oleh Rocky CS di depan gerbang sekolah. Dini menatap malah ke arahnya. Ia berusaha menghindar seperti yang ia janjikan kepada suaminya, bahwa ia tidak akan dekat dekan lelaki manapun.
"Ck, minggir nggak sih lo. Sana jauh-jauh!" usir Dini.
"Jangan sok jual mahal lah jadi cewek," ujar Rocky.
Dini hanya mengerlingkan matanya malas.
Rocky turun dari motornya ia mencekal pergelangan tangan Dini, tanpa diduga Dini membalik badannya dan memelintir tangan Rocky hingga ia meringis.
Seorang yang melihat hal itu langsung menendang Rocky dari belakang hingga ia tersungkur. Dini menoleh ke samping melihat siapa yang sudah membantunya.
"Ren."
"Kurang ajar lo, siapa yang berani nyerang gue?!" Rocky murka ia membalikan badannya.
"Gue?!" tantang Rendi.
"Sia lan lo! Cari mati sama gue?!"
"Lo yang cari mati sama gue. Berani banget lo gangguin Dini. Lo berurusan sama gue!"
"Apa urusan lo. Gue nggak ada urusan sam lo!"
"Udah Ren, lo mending pergi deh dari sini. Jangan cari masalah."
"Ya udah ayok gue anterin pulang!"
"Tapi--"
Rendi menarik Dini dan membawanya pergi dari sana.
"Urusan kita belum selesai bang***!"
Tapi Rendi tidak mengindahkan, ia terus membawa Dini pulang menggunakan motornya. Tanpa Dini tau seseorang sedang kebakaran jenggot melihat Dini di bonceng pria lain.
"Anak mana dia? Kayaknya bukan daru sekolah kita!" tanya Rocky kepada teman-temannya.
"Dari atribut yang ia kenakan sih sepertinya dari SMA Bangsa."
"Cari mati dia. Ayo cabut!"
***
Dini meminta Rendi menghentikan motornya saat terdengar suara telepon.
"Ada apa Ran?"
__ADS_1
"Bentar ada yang nelpon ... waduh!"
Dini kaget saat melihat siapa yang nelpon, ia pun segera mengangkat telpon tersebut.
"Ha-halo!"
[Turun!!]
Tanpa mendengar dua kali perintah, Dini langsung turun dari motor Rendi ia melihat sekeliling.
"Ada apa Ran?" tanya Rendi yang penasaran kenapa Dini tiba-tiba turun.
[Belum cukup hukuman dari saya Andini Maharani?]
Dini menelan saliva kasar, ia tidak bisa membayangkan akan hukuman yang ia teruma nanti, repleks ia memegang lehernya yang terkena gigitan Zaviir tadi.
Hal itu membuat tatapan Rendi pun turut ke sana. Matanya membola saat melihat ada tanda merah di leher Dini, ia tidak bodoh, ia tau tanda apa itu sebenarnya. Tetapi ia tidak angkat bicara.
[Sini!!]
Dini menengok ke arah belakang ia melihat mobil terparkir sekitar lima puluh meter darinya. Ia tau mobil siapa itu.
Segera Dini berlari menghampiri mobil tersebut, dan ia tidak mendengarkan panggilan Rendi. Tujuannya saat ini segera menuruti perintah suaminya.
"Ran! Mau kemana?"
Setelah berad di dekat mobil Zaviir Dini langsung membuka pintu mobil, belum juga siap Zaviir sudah menjalankan mobilnya dengan kencang. Hingga membuat Dini teroeranjat, hampir saja ia terbentur.
"Nggak kira-kira. Mau buat gue mati hah?!"
"Mulai saat ini jangan pernah ngomong lo-gue. Atau kamu akan kena hukuman dari saya."
"Lagian lo--"
Ckiiit.
Zaviir menghentikan mobilnya mendadak, ia menatap Dini tajam dan tiba-tiba.
Hmmph... hmmph...
Zaviir membungkam mulut Dini dengan mulutnya. Entah keberanian dari mana Zaviir melakukan itu. Ia sudah dikuasai rasa cemburu kepada istri kecilnya sejak dari semalam. Hari ini dua kali istrinya itu berdekatan dengan lelaki lain. Membuat emosi Zaviir semakin menggunung. Dan ia melampiaskan kemarahannya dengan membungkam mulut Dini.
Dini berusaha menjauh namun tangan Zaviir menahan dan menekan tengkuknya. Zaviir semakin melu**t bi bir Dini menyes**nya bahkan menggigitnya, membuat Dini membuka mulutnya dan kesempatan itu Zaviir gunakan untuk mengaksen seluruh rongga mulut Dini. Ciu m*n itu semakin menuntut Dini, ia mencoba melepaskan dengan memukul-mukul dada bidang Zaviir.
Setelah Dini mulai kehabisan nafas barulah Zaviir melepaskannya, ia lantas mengusap bi bir Dini yang basah akibat ulahnya. Terlihat bi birnya membengkak dan di sudutnya sedikit memerah akibat gigitan dari Zaviir.
Dini mendorong bahu Zaviir hingga ia menjauh, ia mengatur nafasnya yang terasa memburu.
__ADS_1
"Gimana masih kurang?"
"Nyebelin ya l--"
Dini menutup mulutnya kala ia hampir mengucapkan kata larangan tersebut.
"Ngomong Lo-Gue saya ulangi hukumannya. Dekat dengan laki-laki lain. Akan ada hukuman tambahan yang membuat kamu tidak akan pernah lagi berani membantah."
Dini menggelengkan kepala, ia merasa takut akan hukuman yang diberikan suaminya.
Dini bukanlah gadis penakut, tantangam apapun ia sanggup menghadapinya, hukuman seberat apapun ia bisa menjalaninya. Tetapi hukuman yang diberikan sang suami ia sama sekali tidak bisa berkutik. Ia sangat ketakutan, karena hukumannya berbeda dari yang lain.
Sedangkan Zaviir kini merasa lega, kembali ia bisa menaklukan gadis bar-bar di sampingnya. Entah mengapa ada perasaan aneh saat ia melakukannya dengan Dini.
Untuk pertama kalinya ia melakukan hal demikian kepada wanita, da ia bisa menebak kalau Dini juga melakukannya untuk ertama kali.
Dini tidak lagi berani bersuara, ia takut dengan ancaman dari Zaviir. Ia juga masih menetralkan degup jantungnya karena ulah Zaviir barusan.
Ia menyentuh bi birnya sendiri 'gi la, bi bir gue udah nggak perawan lagi. Tapi gue nggak suka dengan cara dia ngambil first kiss gue dengan cara paksa. Harusnya jika pertama kali melakukannya harus penuh dengan perasaan bukan paksaan kayak tadi. Mana bisa gue nikmatin kalk kaya gitu. Duh gue mikir apaan sih. Enggak-enggak.'
"Kenapa tu bi birnya di pegangin terus? Mau nambah lagi?" ujar Zaviir.
"Apaan sih. Dasar nyebelin, pake nagmbil first kiss-ku secara paksa lagi," gerutu Dini.
"Ya impas dong. Kita sama-sama pertama kalinya."
"Bodo amat, emang gue fikrin. Ups, enggak maksudnya bukan gitu." Dini langsung meralat ucapannya. Ia tidak ingin terkena hukuman lagi.
***
Setibanya di rumah Dini langsung turun dari dalam mobil Zaviir ia langsung masuj rumah tanpa peduli dengan Zaviir yang masih di dalam mobil.
Saat masuk rumah ia bertemu Ziva, langsung saja ia menyalimi Mama mertuanya. Saat menunduk Ziva melihat sekilas ada bercak merah di leher Dini. Tapi ia tidak perduliakan. Setelah menyalami Mamanya Dini langsung naik ke lantai atas
"Eh, mau kemana?"
"Kamar ma, istirahat."
"z
"Zaviir, mama mau tanya. Kamu nggak macem-macemin Dini di sekolah 'kan?" tanya Ziva.
"Pertanyaan macam apa sih Ma? Kami ini sudah Suami Istri, Mama ngomong kaya sama anak yang baru pacaran aja."
"Bukan apa-apa. Kalo mau yang aneh-aneh jang di sekolah. Kamu kan bisa di rumah, hotel atau apartemen." ujar Ziva.
"Tenang Ma. Aku bisa main cantik," ukar Zaviir kemudian berlalu mengusul istrinya ke dalam kamar.
__ADS_1
"Dasar ya kamu Zaviir, Zaviir."