MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
BAB 16


__ADS_3

Di dalam kamar Dini memberenggut, ia duduk dia tas sofa sambil memeluk lututnya. Saat Zaviir memasuki kamarnya, ia menggeser duduknya ke pinggir.


Zaviir yang melihatnya terkekeh melihat istri kecilnya yang sedang merajuk bagai anak kecil yang tidak dibelikan mainan.


Dengan sengaja ia duduk di dekatnya, otomatis Dini pun menggeser. Zaviir kembali menggeser namun saat Dini mau menggeser tubuhnya mentok di sandaran sofa. Maka dia pun memilih bangkit.


Belum juga Dini melangkah tubuhnya sudah limbung dan jatuh di pangkuan suaminya, itu karena Zaviir sengaja menarik tangam Dini hingga terjatuh.


"Ih, lepas!" teriak Dini ketika tangan Zaviir menahan pinggangnya.


"Coba aja kalo bisa! Katanya jago karate tingkat kota?" tantang Zaviir.


Semakin Dini melepaskan tangan Zaviir malah makin kuat melingkar. Tidak hanya tangan bahkan kedua kaki Zaviir menjepit betis kaki Dini. Sehingga kini hanya tangan Dini yang masih terbebas.


Tidak habis akal, Dini menggunakan sikut yang menganggur utuk memukul perut suaminya. Tapi gerakan Dini kalah cepat, kedua tangan kecilnya berhasil di cengkram dan di tarik ke belakang tubuhnya.


"Aa... lepas!! Dasar Om Om mesuuum!!" Sini terus memberontak untuk melepaskan diri dari kurungan Zaviir.


"Cuma segini kemampuanmu gadis nakal? Asal kamu tau saya sudah menyandang sabuk hitam dari beladiri pencak silat dan taekwondo." Zaviir memberikan sedikit peringatan.


"Lepasin gue Om, pliis!"


Menyadari kesalahan dalam ucapannya, Dini mengkatupkan bibirnya dengan rapat. Zaviir menyeringai mendengar kesalahan Dini. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dini dan langsung menggigitnya pelan.


"Akh..." Dini mendesah karena rasa geli yang menjalar.


Melihat bibir Dini yang terbuka Zaviir tidak menyia-nyiakan. Ia langsung melu**t bibir istrinya dan menyes**nya kuat. Dini memberontak tetapi ia kalah kekuatannya dengan suaminya.


Setelah dirasa puas dan Dini yang kehabisan nafas, Zaviir melepaskan pagutannya. Dini meraup nafas dalam seiring dengan detak jantung yang tidak beraturan.


"Dasar mesum!" umpat Dini.


"Kamu harus bertanggung jawab!" ucap Zaviir dengan suara berat menahan has**t yang tertahan.


"Tanggung jawab apa sih? Yang ada Om tuh yang harus tanggung jawab, udah melakukan pelecehan sama aku."


Zaviir tergelak, "bahkan saya sudah bertanggung jawab sebelum berbuat hal lebih."

__ADS_1


Sebelum melepaskan istrinya Zaviir menyempatkan diri mengecup pipi Dini. Setelah berhasil lolos, Dini mengambil bantal sofa dan memukul-mukulkan kepada suaminya.


"Kamu akan kena pasal KDRT karena menganiyaya suami sendiri."


"Dan Om akan kena pasal pelecehan terhadap istri." Dini melempar bantal sofa tepat di wajah Zaviir, dengan sigap Zaviir menangkapnya.


Dini pergj mengambil pakaian ganti dan memasuki kamar mandi dan menutupnya dengan kencang. Sedang Zaviir malah tertawa.


'Ya, kamu harus bertanggung jawab. Karena sudah membuatku candu, ini pasti karena sumpah serapahmu. Aakh... aku tidak bisa melupakannya.' Zaviir merasa aneh dengan dirinya sendiri karena ia tidak bisa mengendalikan diri dan perasaannya ketika bersama Dini.


Ia juga mengumpat dirinya sendiri karena ada sesuatu yang tertahan, yang harus segera dituntaskan. Zaviir keluar dari kamar dan memasuki kamar sebelahnya untuk mencari kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Dini membasuh wajahnya berkali-kali guna untuk menghilangkan bekas cumbuan suaminya. Tapi otaknya masih terua memikirkan hal tersebut.


"Ih dasar Guru mesum, pake acara curi kissing gue lagi. Nyebelin banget sih, aakh... mana ini lagi bekas kissmark. Aduh pake ninggalin jejak segala sih."


Walau ia madih kesal tetapi di hati kecilnya ia teringat akan kejadian tadi. Ia masih merasakan basahnya bi bir itu, saat mema**t dan menyes** bahkan aroma tub*h Zaviir masih tercium di dirinya.


"Ah si al, kok gue malah kepikiran itu sih. Enggak-enggak gue nggak boleh baper. Dia pasti lagi ngerjain gue biar gue takluk sama dia. Gue harus bikin dia yang jatuh cinta duluan sama gue."


Setelah selesai bersih-bersih, Dini keluar dan telah berganti pakaian ia menggosok rambutnya yang masih basah.


Jiwa kepo Dini meronta-ronta. Ia mendekati nakas tangannya mengulur perlahan, ia menarik laci nakas. Terlihat tumpukan kertas dan map. Baru saja tangannya menyentuh map, pintu kamar terbuka. Dengan cepat ia menutup kembalu laci nakas, dan bertingkah seperti tidak terjadi sesuatu.


Zaviir melewati Dini begitu saja, ia memasuki kamar ganti. Kerena sepertinya dia habis mandi di kamar sebelah.


Dini mengernyit heran melihat Zaviir yang terlihat biasa saja, padahal tadi ia sudah membuat perasaan dini kalang kabut. Dini berfikir apa yang sudah dilakukan Zaviir tidak ada artinya. Sedang perasaan Dini saat itu sangat tidak karuan dibuatnya.


"Ih dasar nyebelin!"


"Ngomong apa kamu?" tanya Zaviir saat keluar dari kamar ganti.


"Enggak ngomong apa-apa," elak Dini.


Zaviir tidak bersuara lagi, ia menyisir rambut lalu keluar lagi dari kamar tanpa sepatah katapun.


"Ih aneh banget sih tuh orang, tadi aja dia ngomongnya kemana-mana."

__ADS_1


Baru saja tangan Dini terulur untuk kembali membuka laci. Pintu kamar diketuk dari luar.


"Non Dini!" panggil Mba Tri.


"Iya, Mba." Dini menjawab dan beranjak membukakan pintu.


"Non mau dimasakin apa buat nanti makan malam?" tanya Mba Tri.


"Dini sih apa saja suka, Mba. Tapi apa Dini boleh bantu masak buat makan malam?"


Mba Tri terdiam dan berfikir, "pliiis" mohon Dini.


"Baiklah Mba."


"Yee...,"


Dini ikut turun dengan Mba Tri untuk ke dapur dan memasak makan malam. Ia sebenarnya tidak ahli memasak, tapi sedikit-sedikit ia bisa memasak.


Berada di dapur yang seluas ruang tamu di rumahanya. Dini merasa kagum dan terperangah dibuatnya. Perabotan dan peralatan masak yang mewah kompor yanh mengkilat. Sangat berbeda dengan dapur di rumahnya yanh hanya sebesar kamar ART di rumah ini. Bahkan di belakang rumah Dini terdapat tungku kecil, sengaja di buat husus untuk musim hujan.


"Mau masak apa ya Mba?" tanya Dini.


"Bahan makan semua ada di lemari es, komplit. Non tinggal dipilihin, nanti kami bantu," ucap Mba Tri.


Di rumah Zaviir memiliki dua ART, nyuci gosok dan beres-beres di kerjakan secara bergiliran. Dan untuk masak dilakukan bersama-sama.


"Apa semua orang rumah suka ayam?" tanya Dini.


"Suka Non, apalagi Mas Zaviir. Ia paling suka sejenis ayam, mau di masak apapun suka."


"Suka pedes juga?"


"Suka Non."


"Ya udah, masak ayam suwir rica-rica aja. Sama sayurnya capcay," putus Dini.


"Iua Non."

__ADS_1


Dini dibantu kedua ART memasak, dengan cekatan Dini melakukannya meski ia terus meminta para ART untuk mencicipi masakannya sudah pas atau belum. Karena lidah Dini kurang peka soal rasa masakan.


__ADS_2