
Pagi ini Dini bangun kesiangan. Ia terbangun hampir pukul 06.00. Ia bergegas ke kamar mandi, mandi pun asal. Ia sudah tidak ada waktu lagi, guru pelajaran matematika selalu tepat waktu. Ia tidak ingin terlambat datang ke sekolah.
Dini merasa kesal juga kepada Zaviir yang tidak membangunkannya. Malah membiarkan ia bangun kesiangan.
"Ma'af Ma, Pa. Dini kesiangan," ujar Dini saat tiba di meja makan.
"Nggak apa-apa sayang. Yuk sarapan dulu," ajak Ziva.
"Kenapa nggak bangunin sih? Nyebelin banget," bisik Dini kepada Zaviir.
"Lo nya aja yang ngebo."
"Enak aja, gue cepet bangunnya kalo dibangunin."
"Sudah-sudah. Jangan ngobrol terus." Lerai Ziva.
Dini sarapan dengan cepat, karena yang lain sudah hampir selesai, sampai mulutnya penuh dengan makanan.
"Jangan cepet-cepet napa, nanti kesel-"
Uhuk uhuk.
"Nah loh, kan? Apa gue bilang."
Cepet-cepat Dini minum hingga air di gelasnya tandas.
"Pake nyumpahin, keselek beneran kan jadinya."
"Ye, salah sendiri."
"Dah ah, berangkat duluan. Ma, Pa, Dini berangkat dulu ya!"
"Bareng aja sekalian sama Zaviir, Din."
"Eh, nggak us-"
"Ma, Pa. Zaviir berangkat dulu. Ayok!"
Zaviir menarik tangan Dini secara paksa, hingga membuat Dini kelimpungan. Dini berusaha melepaskan cekalan Zaviir, tapi malah semakin di eratkan. Membuat Dini mau tidak mau menurut.
Setelah tiba di luar rumah, barulah Zaviir melepaskan cekalannya. Dini mengusap-usap lengannya yang sedikit memerah.
"Apaan sih, narik-narik. Sakit tauk?" gerutu Dini.
"Ayo naik!"
"Ogah, mending gue naik angkot."
"E e eh, lepasin gue mau naik angkot." Dini berusaha memberontak karena Zaviir mendorong ia masuk ke dalam mobil.
"Lo, berangkat dan pulang bareng gue!" tegasnya.
"Nggak mau."
"Oh, jadi lo mau pulang bareng cowok lo itu kan?"
"Apa sih?"
Bug.
Zaviir menutup pintu kencang, membuat Dini terperanjat. Tanpa fikir panjang Zaviir menjalankan mobilnya membelah jalanan.
Meski kesal Dini tidak protes dan diam seribu bahasa. Ia memandang ke luar jendela. Tidak ada yang memulai pembicaraan, suasana di dalam mobil dingin mencekam. Apalagi melihat aura Zaviir yang entah mengapa terlihat muram pagi ini.
Merasa bosan dengan keadaan, Dini pun mengajak Zaviir bicara.
__ADS_1
"Kenapa tumben ngajak bareng, enggak takut di kata-katain sama anak-anak kita berangkat bareng."
"Kenapa? Lo lebih suka diantar cowok itu hah?"
"Ih, apaan sih lo. Ngomongnya kayak yang lagi cemburu aja."
Ckiiit
"Aduh."
Zaviir menghentikan mobilnya secara mendadak. Membuat dahi Dini terbentur dasboar karena ia belum sempat menggunakan seatbelt.
"Kalo berenti kira-kira dong! Sakit tau."
"Siapa yang cemburu enak aja."
** flashback on **
"Ren... Ren... Ren..."
Zaviir terbangun dari tidurnya saat mendengar seseorang memanggil nama, yang entah siapa. Saat membuka mata, ia melihat istrinya itu sedang mengigau.
"Ren, ma'afin gue. Gue juga cinta sama lo, Ren."
Deg.
Mendengar itu perasaan Zaviir menjadi tidak tenang. Istrinya itu sedang memikirkan siapa hingga terbawa ke dalam mimpi. Dini kembali mengugau.
"Ren, gue cinta sama lo."
Zaviir bangkit dari tidurnya rasa kantuk tiba-tiba menghilang. Hati dan perasaannya menjadi tidak karuan. 'Siapa Ren? Apa dia pacar Dini? Apa cowok itu yang bernama Ren?
Zaviir melirik arah meja, ia teringat dengan buku diary milik istrinya yang terjatuh. Ia berjalan mendekat lalu meraih buku tersebut.
Awalnya ia ragu untuk membuka, terapi karena rasa penasarannya sangat tinggi ia pun membuka buku tersebut petlahan 'sorry Din'. Saat buku itu terbuka hal pertama yang ia lihat adalah sebuah foto dua orang anak manusia yang mengenakan pakaian seragam SMP. Meski wajah keduanya di coret-coret balpoin warna merah. Tetapi Zaviir masih bisa mengenali foto tersebut.
Zaviir membalik foto tersebut, dan terdapat tulisan yang tertera di sana dengan jelas 'Rendi Love Rani'. 'Rani?'
Dia mengingat saat ijab qobul, bahwa nama lengkap istrinya adalah 'Andini Maharani' mungkinkah itu nama kecil Dini?
Perasaan Zaviir menjadi panas kala melihat kenyataan tersebut, ternyata istri kecilnya itu masih menyimpan perasaan untuk lelaki lain.
** flashback off **
Zaviir mengelak tetapi hatinya entah lah. Apa dia memang cemburu?
"Turun!" titahnya saat mereka tiba di pekarangan sekolah.
Tanpa banyak bicara Dini turun dari mobil Zaviir. Sempat kaget saat turun Lea dan yang lainnya sudah berada di sana.
"Dini, kok kamu bareng sama Pak Zaviir?" tanya Lea.
"Iya, kok bisa kalian barengan? Emang rumah kalian deket ya?" timpal Nita.
"Enggak sengaja ketemu di jalan. Dah lah yok ke kelas!" jak Dini mengalihkan.
Dari kejauhan dua orang siswi melihat Dini keluar dari mobil Zaviir. Dan itu sontak membuat keduanya terbelalak.
"Wah wah wah. Tu si adkel kok bisa barengan sama Pak Zaviir?"
"Iya, kalo Fira tau bakal keluar tuh taringnya."
Dua siswi tersebut adalah teman satu genknya Fira. Mereka segera pergi dari sana kala melihat mobil Fira tiba di halaman parkir. Mereka lari tergopoh menghampiri Fira.
"Ngapain sih kalian? Larian kayak gitu?" tanya Fira.
__ADS_1
"Lo tau nggak Fir?"
"Enggak."
"Ish dengerin gue dulu,"
"Iya paan?"
"Kita tadi liat si Dini keluar dari mobilnya pak Zaviir," ujar Stella.
"Whatt?!"
"Beneran Fir. Gue liat sendiri meteka datang barengan," sambung Steva.
Stella dan Steva adalah kembar. Tapi otak dan prilakunya tolak belakang. Hanya saja Stella slalu mendokrin Steva agar mengikuti perintah dari Fira. Aslinya Steva itu baik hanya saja salah pergaulan.
"Gercep juga tu adkel, tapi liat saja. Gue yang bakal bisa dapetin pak Zaviir. My Teacher is handsome." Fira mengibaskan rambutnya dengan centil. Kemudian melenggang pergi.
"Pepet terus Fir!" ujar Stella mengadu tos dengan Steva.
Di kelas Dini, sedang berlangsung pelajaran pertama yaitu matematika. Beruntung Dini sudah mengerjakan PR yang di bantu oleh Zaviir semalam. Jadinya ia dengan tenang menyerahkan tugas kepada Gurunya.
"Din tumben lo, nggak minta contekan?" tanya Nita.
"Enggak, gue udah ngerjain semalem."
"Biasanya lo malea kalo ada tugas Matematika."
"Gue minta bantuan pa--"
"Pa? Pa siapa?" tanya Nita.
"Pa-pa ... pak gugel." jawab Dini asal di akhiri kekehan. Hampir saja ia keceplosan mengatakan kalo yang bantuin dia itu Zaviir.
Pelajaran pun mulai berlangsung hingga tidak terasa waktu istirahat telah tiba. Saatnya berburu di kantin untuk mengisi perut yang keroncongan.
Dini dan ke empat temannya seperti biasa memilih tempat di pojokan. Belum juga sampai, mereka sudah melihat tempat duduk mereka sudah di isi oleh sekelompok siswa.
"Hei, sorry ini tempat gue! Lo pada bisa cari tempat lain nggak?" ucap Dini. Ia sempat dicegah oleh teman-temannya agar tidak menegur mereka. Karena mereka itu genk yang paling disegani di sekolah. Tapi Dini seakan tidak ada takut-takutnya.
Rocky sang ketua genk mendongkak dan tersenyum miring.
"Kenapa? Emang di meja ini ada tulisan nama lo? Enggak kan? So, gue bebas mau duduk dimana aja kan?" tanyanya dengan santai.
"Tapi ini tempat biasa kita, lo pada kan bisanya bukan di sini."
"Dan sekarang gue mau dibiasain, gimana dong?" ucapnya dengan sok memelas. Ke empat temannya cekikikan menahan tawa.
"Pokoknya, gue mau di sini. Dan kaliam mending pergi deh!" usir Dini.
"Kalo nggak mau? Gini aja deh, kalian duduk di sini aja bareng kita. Mm ... atau duduk sini juga boleh." Rocky menepuk-nepuk pahanya. Dengan seringai ia menatap Dini.
"Udah Din, mending kita cari tempat lain aja..." bisik Lea. Dan di angguki teman-temannya.
Dini pun berbalik arah. Tapi saat berbalik tangannya dicekal dan ditarik oleh Rocky hingga ia jatuh di pangkuannya.
Burg. Burg.
"Awsh...sh..."
Rocky memegangi perutnya yang terasa keram akibat mendapat dua bogeman dari Dini.
"Rasain loh!" umpat Dini kamudian ia berlalu.
"Wah cari mati tu cewek," ucap teman Rocky.
__ADS_1
"Yo i. Mana tu pukulan kenceng banget lagi," timpal satunya dengan meringis linu.
"Gue suka cewek pemberani, punya tantangan tersendiri. Gue jadi pengen naklukin itu cewek," ucap Rocky dengam senyum yang sulit diartikan sambil sesekali meringis menahan sakit.