MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
BAB 14


__ADS_3

Dengan rasa kesal Dini kembali meninggalkan kantin, nafsu makannya hilang seketika karena ulah Rocky. Teman-temannya mengerti jika Dini dalam mode seperti ini ia tidak akan menyentuh makanan. Jadi mau tidak mau mereka pun tidak jadi makan.


"Kalian kalo mau makan udah sana makan aja. Gue nggak mood buat makan," ujar Dini.


"Enggak Din, masa kita makan lo-nya enggak sih," ucap Lea.


"Iya Din. Lo makan dikit napa! Lo kan punya penyakit lambung. Kalo lo nggak makan terus lo sakit. Siapa dong yang bakal ngeledekin gue?" timpal Wahyu.


"Tenang aja, Yu. Ada gue sama Nita. Lo nggak akan pernah kekeurangan pembully." ucap Lea.


"Jangan gitulah ayang mbeb. Aku maunya dicintai aja sama kamu,"


"Iyuuuh males banget gue."


Dini terus berjalan tanpa menghiraukan teman-temannya. Dia melangkah menuju kelasnya. Di jalan ia berpapasan dengan Fira, ia malas meladeni tapi Fira berhasil menghentikan langkahnya.


"Cewek gatel!"


Dini berhenti berjalan ia berbalik arah, "apa maksud lo hah?!"


"Iya lo budek apa? Gue bilang. Cewek gatel!"


Dalam sekejap Dini menarik rambut Fira, hingga sang empu meringis.


"Woy tolongin gue, sakit ini!" Teriak Fira pada teman-temannya. Tapi belum sempat menolong Fira sudah di hadang oleh teman-teman Dini, membuat nyali Steva ciut.


"Maksud lo apa hah ngatain gue, lo fikir gue takut sama lo!"


"Lepasin ba **!"


Bukannya melepaskan Dini semakin kencang menarik rambut Fira. Hingga suara ponsel menghentikannya.


"Siapa sih ganggu aja!" Runtuk Dini. Ia melepaskan rambut Fira dengan sedikit sentakan membuat tubuh Fira sedikit limbung.


Dini terbelalak kala tau siapa yang menelpon, "ha-hallo!"


[Keruangan saya sekarang juga!!]


"Iya,"


Dini menyimpan kembali ponselnya, ia menatap tajam Fira dan kedua temannya. "Urusan kita belum selesai!"


"Kalian kalo mau makan atau kemana pun terserah, gue ada urusan dulu!" ujar Dini kepada teman-temannya.

__ADS_1


"Lo mau kemana, Din?" tanya Nita. Tapi Dini tidak menjawab ia berlari menjauh.


"Mo kemana dia?" tanya Lea. Nita hanta mengedikan bahu.


"Heh, temen lu pecundang. Malah kabur lagi!" Umpat Fira.


"Lo, yang pengecut!" balas Lea.


"Udah-udah mending kita jajan di luar yuk, mumpung masih ada waktu. Laper nih kita," ajak Wahyu.


Keempatnya berlalu meninggalkan Fira and the genk, menuju arag parkiran. Karena di dekat sana banyak pedagang jajanan.


Dini mengetuk pintu ruangan Zaviir, setelah mendengar jawaban ia membuka pintu. Saat masuk ia sudah di sambut dengan tatapan tajam dari suaminya.


"Ada apa manggil gue?"


"Lo tau, kesalahan lo?"


Dini mengernyit heran, "apa sih?"


Zaviir menghela nafas kasar sebelum ia kembali bersuara. Setelah dirasa tenang ia mengulurkan ponselnya dan memperlihatkan isi di dalam ponsel rersebut. Mata Dini membola sempurna kala melihat foto tersebut.


"I-ini?"


"E-enggak. Itu nggak seperti yang di bayangkan. Sumpah itu--"


"Berani sekali kamu mesra-mesraan dengan cowok lain. Sampe duduk dipangkuannya begitu. Lupa dengan statusmu apa hah?!" Nada suara Zaviir mulai meninggi. Membuat Dini tersentak, ini kali pertama ia mendengar Zaviir bicara dengan keras.


"Enggak, itu nggak seperti yang dibayangkan. Dia yang narik lenganku, hingga aku jatuh di pangkuannya." Dini menjawab dengan raut ketakutan.


Zaviir menarik tangan Dini dengan kencang hingga membuat Dini oleng dan jatuh dipangkuan Zaviir.


"Begini 'kan maksudmu?" Zaviir melingkarkan tangannya di perut ramping Dini.


Dini berusaha melepaskan tetapi pelukan Zaviir malah semakin mengencang. Hingga Dini tidak bisa lagi berkutik, dalam posisi seperti ini membuat Dini tidak merasa nyaman apalagi dengan jantungnya.


"Makan, lo belum makan 'kan?" ucap Zaviir menunjuk makanan yang sudah ada di meja sejak tadi dengan dagunya, karena kedua tangannya ia gunakan untuk mengunci perut Dini.


"Ta-tapi le-lepas dulu!" ucap Dini gugup.


"Gue akan lepasin setelah lo selesai makan!"


"Ta-tapi..."

__ADS_1


"Makan sendiri atau gue suapin?"


"Sendiri!" jawab Dini cepat.


"Good girl."


Terpaksa Dini makan sambil duduk di pangkuan Zaviir, gimana mau bisa makan dalam keadaan seperti ini. Yang ada jantung Dini berdetak tidak beraturan karena posisi mereka yang terlalu intim menurutnya.


Zaviir sendiri entah mengapa ia merasa sangat murka kala Dini dekat dengan pria lain dan bukan dirinya. Apalagi ia melihat sendiri saat Dini duduk di pangkuan seorang siswa. Membuat darah Zaviir mendidih. Entah dia tidak suka atau memang dia sudah mulai ada rasa kepada istrinya.


Dia teringat lagi dengan Dini yang semalam mengigau menyebut nama lelaki lain. Membuat kepalanya seakan meledak, ia mengeratkan pelukannya di pinggang Dini.


Zaviir menaruh dagunya di pundak Dini membuat nafas Zaviir berhembus ke lehernya. Dini merasa sangat geli karena hembusan nafas Zaviir membuat bulu-bulunya meremang. Tanpa diduga Zaviir menggigit leher belakang Dini hingga membuat Dini merintih.


"Akh..." rintihan Dini terdengar seperti ******* bagi Zaviir. Tidak hanya menggigit tapi Zaviir menghisapnya juga.


Zaviir terkekeh setelah melepaskan gigitannya, ia melihat hasil karyanya di leher Dini dengan berwarna merah keunguan.


"Ih. Ngapain gigit-gigit sih. Sakit tau? Katak vampir aja," gerutu Dinu, ia mengusap-usao lehernya yang terasa sedikit panas.


"Itu hukuman karena sudah berani dekat dengan pria lain. Selama menjadi istri Zaviir abrisyam, dilarang dekat dengan lelaki manapun. Apalagi sampai bersentuhan. Faham kamu?"


"I-iya faham." Dini menganguk, ia akan menurut saja daripada ia di hukum seperti ini.


Dini sudah tidak bisa lagi melanjutkan makannya ia menyudahinya. Barulah Zaviir melepaskan pelukannya di pinggang Dini. Dini bangkit dari pangkuan Zaviir dan ia pamit keluar ruangan Zaviir karena bel tanda masuk sudah terdengar.


Dini berlarian menuju kelasnya tepat saat Dini duduk di kursinya ia langsung diserang pertanyaan oleh Lea.


"Lo dari mana sih Din?"


"Mm... Gue ada urusan," jawab Dini singkat, tidak mungkin kan ia jujur kepada temannya.


"Eh tunggu, Din. Itu leher lo kenapa ko merah-merah gitu?"


Dini terbelalak ia dengan cepat menangkup lehernya. Saking buru-burunya ia tidak sempat memikirkan bekas gigitan Zaviir di lehernya.


"i-ini di gigit serangga. Ya serangga," elak Dini.


Obrolan mereka terputus kala Zaviir memasuki ruangannya, Dini membuang pandangan ia tidak ingin bersitatap dengan suaminya. Dia masih malu dengan kejadian tadi, tapi sepertinya Zaviir terlihat biasa saja.


Zaviir menatap Dini yang sedang salah tingkah, ia terkekeh di dalam hati. 'lucu juga ya liat tingkah dia. Ternyata cewek bar-bar bisa takluk juga. Gue punya cara buat bikin dia tidak berkutik.'


"Semuanya buka halaman 210, dan kerjakan." Zaviir memulai pelajarannya, tidak ada yang bersuara karena mereka sudah tau jika Zaviir sudah masuk ruangan tidak di jinkan siapapun bersuara kecuali jika di tanya.

__ADS_1


__ADS_2