
Setelah beberapa saat Dini tiba di danau yang dijadikan tempat janjian mereka, dan di sana Rendi sudah menunggu kedatangan Dini.
"Ren, ada apa? Tumben lo ngajak ketemu, mau curhat kan lo?"
Rendi menggeleng lantas tersenyum, "jangan senyum lo, nggak cocok tau nggak!" seloroh Dini.
Rendi mencebikan bib1r, "lo tu ya, nggak bisa di ajak serius."
"Iya sorry, gue juga mau ngomong penting sama lo."
"Ya udah lo aja."
"Lo dulu, 'kan lo yang duluan ngajakin gue."
"Lo aja,"
Dini menarik nafas dalam lalu membuangnya kembali, ia merasa berat sekali untuk mengatakannya. Tapi, harus bagaimana lagi? Cepat atau lambat Rendi harus tau. Meski ragu ia harus mengatakannya.
"Ren, gue ... gue mau ... meried!"
Jeder...
Bagaikan petir di siang bolong ungkapan Dini barusan membuat dunia Rendi seakan runtuh. Tu6uhnya terpaku, seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ra--ran, lo ... lo ber--canda 'kan?" tanya Rendi dengan tergagap.
"Gue serius Ren, dan mulai hari ini gue minta sama lo jangan pernah deket lagi sama gue,"
Usai mengatakan itu, Dini pergi meninggalkan Rendi yang terdiam mematung. Mata Rendi berkaca-kaca menahan rasa sakit yang menggerogoti relung hatinya yang paling dalam.
"Rani, tunggu!!"
Dini menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Karena tidak ingin Rendi melihat dia menangis.
"Gue cinta sama lo, Ran. Tolong batalin pernikahan lo buat gue!!"
Rendi tidak bisa membendung air matanya lagi. Air mata itu pun jatuh tanpa mampu di tahan.
Tapi bukannya berbalik, Dini malah lari meninghalkan Rendi dengan luka yang menganga.
"RANI... ANDINI... !!"
________
Setelah bertemu sahabat lamanya, Dini pulang kerumah dan langsung memasuki kamarnya. Dini menjatuhkan dirinya di tempat tidur, lalu ia tengkur4p di bantal dan menangis sejadjnya di sana.
'Kenapa, kenapa baru sekarang, Ren?'
Puas menangis Dini bangkit, ia mengambil buku diari lalu menulis.
Cinta, mengapa sekejam ini.
Mengapa kau hadir, jika hadirmu hanya meninggalkan luka.
Engkau yang selalu ku tunggu.
Engkau yang selalu ku rindu.
Engkau yang ku panjat dalam do'a.
Tetapi nyatanya, hanya di angan saja.
__ADS_1
Aku tidak pernah menyesal telah jatuh cinta padamu.
Tapi, kenapa harus sedalam ini.
Hatiku telah sepenuhnya milikmu.
Sampai tidak ku sisakan untuk yang lainnya.
Saat cinta itu terpaksa di cabut.
Seluruh persendianku remuk redam.
Sekuat apapun berjuang.
Kita tidak bisa melawan takdir.
Mengapa baru sekarang kau mengatakannya.
Disaat semuanya harus ku akhiri.
Penantianku selama ini sia-sia.
Kamu hadir di saat aku akan pergi.
Terima kasih CINTA.
Terima kasih telah hadir disini.
Aku tidak akan membencimu.
Percuma ku sesali.
Semua sudah ada di jalan-Nya.
Mungkin inilah jalan yang terbaik.
Semoga kita menemukan kebahagiaan kita.~
Ceklek.
"Loh, Din. kamu udah pulang ternyata?"
Kehadiran ibunya membuat Dini kaget. ia pun segera mrnutup diarynya. Dan menyimpan lagi di laci.
"Iya bu, tadi pas masuk nggak ada siapa-siapa," jawab Dini.
"Oh, iya. Ibu lagi di belakang tadi. Ya udah ibu kebelakang lagi." Bu Aliyah pun kembali lagi ke belakang.
Saat malam hari setelah makan malam, Dini dan keluarganya berkumpul.
"Din, tadi calon mertuamu kesini. Mereka ngasih tau Bapa sama Ibu, besok pulang sekolah ada supir yang jemput kamu. Katanya disuruh ke butik untuk memilih baju pengantin," ujar Ridwan.
"Iya, Pak. Ya udah Dini kemar dulu ya."
Baru saja Dini akan merebahkan dirinya. Pintu kamar di ketuk dari luar.
"Din, di luar ada Rendi. Temuin dulu gih!" seru Bu Aliyah.
"Iya, Bu."
"Ngapain sih, si Rendi kesini lagi," gumam Dini.
__ADS_1
Meskipun malas, Dini terpaksa menemui Rendi.
Setelah berada di luar, Dini mengajak Rendi bicara di bangku halaman. Dia tidak ingin orangtuanya mendengar pembicaraan mereka.
"Ran, lo nggak bisa pertimbangin lagi? Gue cinta sama lo sejak lama, Ran." Rendi menggenggam tangan Dini.
"Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba lo nikah. Lo mah tega sama gue,"
"Sorry, Ren. Ini mendadak." Dini tertunduk lesu.
"Kenapa mendadak, lo di jodohin?"
Dini menggeleng, "gue nggak bisa cerita Ke elo. Yang jelas inilah jalan kita, Ren."
"Enggak, Ran. Lo nggak ... itu ... 'kan?"
Plak. "Enak aja lo, sembarangan. Gue nggak serendah itu!" Dini menggelapak lengan Rendi karena sudah menduga yang tidak-tidak.
"Hehe sory bercanda gue, terus lo kenal dimana sam tu cowok?"
"Dia Guru baru gue. Gue baru kenal 2 hari," jawab Dini membuat Rendi tercengang.
"What? 2 hari lo kenal dia? Langsung mau di ajak nikah?"
"Ran, kenapa lo lebih milih dia? Cowok yang baru lo kenal. Gue, gue udah kenal lo lama Ran."
"Ini udah takdir, Ren. Lo harus terima."
"Lo tega Ran sam gue. Kita udah bersama sejak kecil ... lo malah ninggalin gue..." lirih Rendi dengan mata berkaca.
"Ren, kita hanya berteman selama ini!"
"Tapi gue cinta sama lo, Ran!!"
"Kenapa lo baru ngomong sekarang, hah?! Kenapa?! Gue udah nunggu lo lama, tapi lo diam aja. Disaat gue akan menjauh, kenapa lo tarik gue kembali?! Gue capek nunggu lo tanpa kepastian. Kalo lo cinta sama gue dari dulu, kenapa nggak bilang dari awal. Kenapa baru ngomong sekarang?!"
Dini meluapkan unek-uneknya selama ini. Air mata tidak mampu lagi ia bendung.
"Lo tau? Kenapa gue ngambil beasiswa dan memilih sekolah yang jauh dari lo?! Karena gue mau menghidar dari lo, gue ingin menjauh dari lo. Gue nggak bisa terus memendam perasaan gue sedangkan kita terus bersama tanpa suatu hubungan."
"Gue nggak mau terus bersama orang yang nggak pernah mengerti perasaan gue..."
"Gue ngerti Ran... gue ngerti."
"Kalo lo ngerti, kenapa lo diem aja, huh?!"
"Mungkin gue terlalu bodoh, Ran..." Rendi semakin tertunduk, terdengar isakan darinya.
Dini mengusap airmata kasar, "udahlah, percuma kita menyesal. Semua sudah lewat! Kita jalani takdir kita masing-masing. Semoga lo mendapatkan yang jauh lebih baik dari gue di luar sana!"
Rendi mendongkak, "gak akan, Ran. Nggak akan pernah!"
"Terserah lo. Sorry gue harus pergi, dan tanks udah hadir dalam hidup gue!"
Dini bangkit dan berjalan masuk kedalam rumahnya.
Sedangkan Rendi masih terdiam dengan perasaan yang sudah hancur. Dia hanya menatap punggung Dini nanar.
'Sorry Ran. Ini salah gue... gue bodoh Ran, gue bodoh...' gumamnya.
Rendi bangkit dan meninggalkan rumah Dini. Walau berat tapi ia harus menerimanya.
__ADS_1
Dini menatap kepergian Rendi dari jendela kamarnya. Airmata kembali mengalir, ia kembali menumpahkan airmatanya di dalam bantal.