
Hari ini Dini kembali lagi bersekolah. Ziva miminta Dini diantar oleh supir, tetapi Dini menolaknya. Dengan alasan tidak ingin merepotkan, dan lebih memilih berangkat dengan kendaraan umum.
Siang Dini tengah berkumpul dengan teman-temannya di kantin sekolah. Ada Lea, Nita, dan wahyu. Ya, salah satu teman satu kubunya ada cowok. Tapi, ya ma'af Wahyu ini agak kurang maco. Tapi dia cowok normal kok, dia sebenarnya menyukai Lea. Dan Wahyu ini teman Dini sejak SMP.
"Yu, ngggak usah deket-deket bisa nggak sih? No deket Dini masih kosong!" tunjuk Lea ke arah Dini.
"Enggak ah, lagi mode es gitu. Mending deket sama kamu," ucap Wahyu.
"Kalian ini nggak bisa ya, kalo makan itu diem jangan rusuh mulu!" Dini yang merasa jengah dengan kelakuan dua temannya ini yang selalu saja ribut setiap kali berdekatan.
"Ini ni, si Wahyu nyebelin banget." Lea mendelik ke arah Wahyu.
"Lo jangan benci-benci amat lah sama Wahyu. Entar lo jadi suka," timpal Nita.
"Idiih amit-amit, gue suka sama modelan gini? Big no!!"
"Lo hati-hati Le, entar kemakan omongan lo. Banyak lo yang kejadian, yang tadinya musuhan jadi suka. Yang tadinya saling ledek jadi saling cinta."
Uhuk uhuk.
Dini tesedak mendengar penuturan Nita. Mengingat dia sempat mengutuk seseorang dan membencinya. Nyatanya, kini mereka telah menikah.
"Lo nggak apa-apa, Din? tanya Lea.
"Nggak apa-apa,"
"Makanya lo, kalo makan jangan yang pedes-pedes amat, jadinya kesedak sakit 'kan?" sahut Nita.
"Ia, mulut lo 'kan udah pedes. Nggak usah ditambahin pedes," ucap Wahyu.
Wahyu sekatika menciut nyalinya setelah mendapat tatapan tajam dari Dini.
Aakh...
Brak...
Terdengar suara siswi berteriak dan suara meja di gebrak. Dini dan kawan-kawan menengok ke sumber suara. Terlihat di meja sebrang ada keributan. Dini melihat seorang siswi sedang dikerumuni.
"Ada apaan sih ribut-ribut?" tanya Dini.
"Nggak tau, coba deh kita samperin," ajak Lea.
Ke empatnya pergi meninggalkan mejanya. Mereka melihat salah satu siswi sedang ti jambak oleh siswi lainnya. Bukannya ada yang membantu, mereka malah hanya menjadi penonton.
"Ampun, Kak. Aku nggak sengaja. Ma'af!" siswi itu meringis kesakitan dan memelas memohon ampun.
"Ma'af lo bilang hah?! Lo numpahin minuman ke baju gue! Lo tau nggak berapa harga baju gue?!" bentaknya sambil terus mencengkram rambut siswi tersebut.
__ADS_1
"Woy!! Apa-apan loh?!" Dini berteriak kepada cewek tersebut.
"Apa lo?! Nggak usah ikut campur urusan gue!" ucap Fira.
"Gue nggak suka ya, ada kekerasan. Apalagi di lingkungan sekolah." Dini menepis tangan Fira dari rambut siswi itu. Dan menariknya sedikit menjauh.
"Siapa nama lo?" tanya Dini kepada siswi tersebut.
"Annisa," jwabnya.
"Apa yang terjadi sebenernya?!"
"Itu ... tadi aku kesandung dan nggak sengaja numpahin minuman ke bajunya Kak Fira," jelasnya.
"Cuma karena ketumpahan minuman, lo semarah ini?! Gil a!" ejek Dini.
"Apa lo bilang?!" murka Fira.
"Lo berani sama gue?! Berani banget lo?! Lo nggak tau siapa gue?!"
"Nggak tau, dan nggak mau tau!" Dini berbicara tepat didekat kuping Fira.
Dini mengajak Annisa pergi dari kantin, diikuti teman-temannya. Dengan sengaja Dini menyenggol bahu Fira sedikit keras.
"Sh it, siapa sih tu cewek?!" tanya Fira kepada temannya.
"Cari masalah sama gue, liat aja nanti!" umpat Fira.
_________
Dini membawa Annisa keluar dari kantin, dan mengajak Annisa untuk duduk di gazebo. Ketiga teman Dini juga ikut duduk di sana.
"Lo kelas berapa?" tanya Delvi.
"Aku kelas XI IPA 2, Kak!" jawab Annisa sambil tertunduk.
"Ck, lo nggak usah panggil gue 'Kak' kita itu satu angkatan cuma beda kelas. Kelas lo itu sebelah kelas gue. Gue kelas XI IPA 1. Dan satu lagi, lo kalo ngomong jangan aku-kamu gitu. Kayak kita aja lo-gue. Biar nggak keliatan cupu," ujar Dini.
Annisa mendongkak, "tapi, aku--"
"Ck, gue bilang apa? Biar lo nggak kaku ngomongnya!"
"I,iya ma'af!"
"Cewek kayak si pampir tadi, bakal doyan gangguin cewek kayak lo. Lo itu harus bisa lawan dia jangan diem, kalo diem dia tambah semangat ganggu lo!"
"Tapi a-gu ... gue takut sama dia, dia kan anak donatur di Sekolah ini," ucap Annisa.
__ADS_1
"Lo nggak usah takut, modelan kaya si pampir itu kalo sama Dini sekali libas, kreek!" timpal Wahyu yang meragakan gerakan dua jari di leher.
"Gini aja, lo mau nggak berteman sama kita. Biar kalo ada apa-apa lo nggak takut. Bilang aja sama kita," ajak Dini.
Annisa melirik satu persatu wajah Dini dan temannya. Ketiganya mengangguk mengiyakan.
"Kalian mau berteman sama, gue? Cewek cupu di sekolah ini?" tanya Annisa ragu.
"Ck, lo nggak usah minder gitu. Gue bukan orang pilihan dalam hal berteman. Asal bisa solid aja gue mau sama siapa aja. Buktinya noh gue temenan sama cowok jadi-jadian aja mau." Dini menunjuk Wahyu.
Yang di tunjuk mencebikan mulutnya, tidak terima di katain cowok jadi-jadian. "Dasar lu temen laknut!"
Aanisa tersenyum mendengar ejekan Dini kepada teman cowoknya. Akhirnya Annisa menerima ajakan Dini untuk berteman.
Annisa terharu dari ratusan siswi di Sekolah ini, hanya Dini dan temannya yang menerima ia menjadi temannya.
"Din, besok kita tanding Volly sama kelas XII," Nita mengingatkan Dini.
"Oke kita latihan nanti pulang sekolah!" ujar Dini.
Sepulang sekolah Dini dan beberapa temannya yang ikut tim Volly sedang latihan di lapangan.
Saat ini Zaviir baru saja keluar dari ruangan nya dan akan menuju ruang Kepala Sekolah. Ia melihat ke arah lapangan di sana ada Dini yang sedang latihan Volly.
'Hebat juga mainnya tu cewek,' puji Zaviir dalam hati. Sedikit senyum terukir di bibirnya. 'Eh, apaan kok muji dia,' ralatnya. Kemudian ia berlalu dari sana.
Pukul 16.00 WIB. Dini dan teman-temannya mengakhiri latihannya.
"Guys! Cukup deh latihannya. Kita pulang aja," ajak Dini pada teman-temannya.
Satu persatu teman Dini pulang, tinggallah ketiga temannya.
"Wahyu, anterin gue pulang!" seru Lea.
Wahyu sengaja nungguin mereka latihan karena ada Lea di sana. Dia ingin nyemangatin Lea dan mengajak pulang bareng.
"Kalo butuhnya aja lo minta Wahyu, Le!" cibir Nita.
"Biarin wlee...," ejek Lea.
"Udah-udah sono lo pada pulang!" usir Dini kepada ketiganya.
Setelah ketiganya pulang Dini menunggu angkutan umum, entah kenapa sudah setengah jam belum juga muncul. Tiba-tiba terdengar suara klakson.
Tin tin...
Dini pun menoleh, "elo!!"
__ADS_1