MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
BAB 3


__ADS_3

Saat ini, Dini berserta Pak Revan berada satu mobil dengan Zaviir. Karena desakan dari Pak Revan untuk membawanya menemui keluarga Dini.


Dini tinggal di pinggiran kota, butuh waktu 30 menit untuk mencapai tujuan. Mobil memasuki perkampungan, jalan yang di lalui hanya mampu di laju oleh satu mobil saja. Tepat di sebuah rumah dengan halaman luas dan beberapa pepohonan, mobil berhenti. Ketiganya turun dari mobil.


Pemilik rumah, yakni Ibu dan Bapak Dini keluar dari rumah. Karena merasa heran tiba-tiba ada mobil berhenti di halaman rumahnya.


"Assalamu'alaikum!" ucap Dini kemudian mencium punggung tangan orangtuanya.


"Wa'alaikum salam!"


"Kok, baru pulang? Terus mereka!" tanya Pak Ridwan.


"Assalamu'alaikum, Ridwan? Kamu Ridwan kan?" tanya Revan.


"Tunggu-tunggu, ini ... kamu ... Re-Revan?!" Ridwan balik bertanya.


"Iya, saya Revan. Kamu masing ingat saya?"


"Ya ampun, Revan!!" Dengan antusias Ridwan memeluk Revan. Dua pria paruh baya kini tengah berpelukan melapaskan rasa rindu mereka.


"Revan, apa kabar kamu?" tanya Ridwan setelah melapaskan pelukan mereka.


"Baik, kamu sendiri gimana?"


"Ya seperti yang kamu lihat saya baik juga. Eh ngomong-ngomong kok kamu bisa bersama pitriku?"


"Dia putrimu?" tanya Revan seolah tidak percaya.


Ridwan mengangguk mantap, "kita ngobrol di dalam saja. Yuk!"


Karena hari juga sudag mulai gelap, Ridwan mengajak Revan dan Zaviur masuk ke dalam rumah yang sederhana itu.


"Bu, buatin minim ya!"


"Iya, Pa. Din, bantu ibu di dapur!" ujar Aliyah ibunya Dini.


Dini dan Aliyah masuk ke dapur untuk menyiapkan minum dan sedikit cemilan untuk para tamu.


"Nggak perlu repot-repot Wan," ucap Revan.


"Ah, enggak. Tapi ya ma'af keadaan rumahku seperti ini. Ya... seperti yang kamu lihat." Ridwan mengangkat kedua tangan dan bahunya.


"Dari dulu kamu ini selalu saja merendah. Oh ya kenalin ini Zaviir putraku, dia juga guru baru di sekolah tempat putrimu menuntut ilmu." Revan memperkenalkan Zaviir kepada ayah Dini.


"Kenalin Om, saya Zaviir."


"Ganteng sekali putramu, Van. Persis kayak kamu waktu masih muda. Tapi kayaknya yang ini jauh lebih ganteng," puji Ridwan.


"Oh jelas, ini campuran Ema Bapanya. Hahaha..."


Ridwan dan Revan tertawa renyah, tapi tawanya terhento setelah Dini dan ibunya datang membawa hidangan.


"Silahkan, Pak. Ma'af di sini begini, seadanya." Aliyah menyodorkan kue dan minum di hadapan Revan dan Zaviir.

__ADS_1


"Tidak masalah Ibu, ngerepotin jadinya."


"Eh, gimana sih ceritanya kalian bisa barengan sama Dini? Coba deh ceritain!" pinta Ridwan.


"Gini, Wan. Aku juga nggak tau persisnya seperti apa. Tapi yang aku lihat mereka berdua keluar dari ruangan yang sama saat waktu sudah petabg. Dan semua Siswa ataupun para Guru sudah tidak ada di sekolah, terkecuali Guru kepala. Karena sedang ada peninjauan dengan saya," jelasnya panjang lebar.


"Hah? Kenapa bisa apa kalian--"


"Enggak Pak, Dini nggak ngapa-ngapain. Bapa percaya sama Dini 'kan?" tanya Dini memelas.


"Hanya keluar ruangan bersama 'kan, Van?" Ridwan menatap Revan dan Zaviir bergantian.


"Kalau cuma barengan, tapi ini ... anakku menggendong putrimu keluar dalam keadaan ... ah sudahlah, saya tidak berani mengatakannya. Karena kalau kamu yang melihatnya pasti berfikiran yang sama," tutur Revan.


"Pa, Zaviit sudah bilang. Ini tuh cuma salah faham," ucap Zaviir.


"Pa, Bu. Tolong percaya sama Dini!" mohon Dini kepada orangtuanya.


"Tidak ada saksi kalian berduaan di dalam ruangan 'kan Din. Kalo ternyata kalian ngapa-ngapain nggak ada yang tau bukan?" tekan Revan.


"Pa..?" panggil Aliyah seolah bertanya untuk apa solusi dari masalah ini.


"Dua orang berbeda jenis di dalam satu tempat, bukankah yang ketiganya itu syetan?" tanya Ridwan kepada seluruh anggota.


Keempatynya mengangguk mengiyakan. Bahkan Dini dan Zaviir juga membenarkan ucapan Ridwan.


"Ini baru sekali, kalo terulang gimana? Apa ada yang bisa menjamin tidak akan terjadi sesuatu?" Revan bertanya entah tertuju kepada siapa.


"Berapa usia Dini sekarang?" Ridwan bertanya kepada Dini.


"Baru 17 tahun Pak. KTP baru saja jadi," jawab Dini.


"Gini aja deh, Wan. Mereka ini kan sama-sama single sama-sama sudah dewasa juga. Gimana kalo mereka di nikahkan saja?"


Ide macam apa ini? Dini Dan Zaviir benar-benar tidak menyangka kalau Revan memiliki solusi seperti ini. Mereka terbelalak dan menganga tidak percaya.


"Pa... jangan bercanda dong!"


"Papa nggak bercanda. Kalian lebih baik menikah saja, toh usia kami sudah matang untuk menikah," ujar Revan.


"Ma'af Pak. Nggak bisa gitu dong! Saya masih sekolah kelas XI, lagian saya nggak mau nikah muda. Sama guru re se kayak dia lagi," tunjuk Dini ke arah Zaviir.


"Enak aja bilang gue re se, lo tuh yang susah diatur." Zaviir tidak mau kalah.


"Apaan si loh!"


"Dini! Nggak sopan kamu! Dia itu guru kamu. Kamu ini bicara asal, pake nunjuk-nunjuk!" tegur Ridwan kepada putrinya.


"Ma'af, Pa." Dini menunduk bersalah.


"Kamu juga Viir, Guru itu memberi contoh yang baik!" Revan ikut menegur putranya.


"Iya Pa."

__ADS_1


"Jadi gimana, Wan? Kamu setuju dengan usulku?" tanya Revan penuh harap.


Ridwan terdiam, ada baiknya juga usulan Revan. Dengan begitu silaturahmi antara mereka akan semakin terjaga. Dia melirik istrinya untuk meminta pendapat, dan istrinya hanya mengangguk saja. Dia selalu ikut keputusan suaminya.


Tapi Dini menggeleng tanda ia menolak, tatapan memohon agar bapanya menolak pernikahan ini. Namun di luar dugaan.


Ridwan menatap Revan lalu Zaviir, "baiklah, aku setuju mereka menikah."


"Enggak!!"


"Enggak!!"


***


Penolakan kedua Anak mereka tidak di gubris. Pernikahan sudah ditentukan satu minggu dari sekarang.


"Aaaaakh... ini semua gara-gara Guru nyebelin. Gue jadi terjebak di pernikahan yang super membag0**9kan!"


Dini menjatuhkan bobotnya di kasur bututnya. Dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Zaviir tadi pagi.


'Aish... jutek amat sih om, aku sumpahin nggak laku-laku!'


'Kalo gua gak laku, gua akan seret lo jadi bini gua, minggir!'


"Si al, kenapa tu sumpah jadi balik ke gue sih? Aaah,"


Dini merutuki kebodohannya karena sudah menyumpahi orang lain. Yang akhirnya, sumpahnya berbalik ke diri sendiri.


Menyesal pun percuma, semua sudah terjadi. Ia berfikir jika kabur saja dari rumah. Tapi, bagaimana dengan orangtuanya? Hanya akan menanggung malu. Jadi, dia akan terima kenyataan.


***


Hari ini Dini berangkat ke sekolah seperti biasa, satupun temannya tidak ia kasih tau soal pernikahan mendadak itu.


Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa jam pelajaran sudah selesai. Dini pun sudah mendapatkan surat izin untuk besok hari.


Tring.


Sebuah pesan masuk ke HandPhonenya.


Ren:


[Ran, gue mau ketemu lo dong hari ini. Ada yang mau gue omongin]


"Ada apa ya? Tumben si Rendi ngajak ketemu," gumamnya.


[Ada paan sih? Penting nggak]


[Penting]


Dini tidak membalas lagi pesan Rendi. Dia pun langsung pergi menuju danau yang biasa ia bertemu Rendi.


Rendi adalah teman masa kecil Dini, namun terpisah saat Dini memilih sekolah SMA paforit. Rendi memanggil Dini dengan sebutan Rani.

__ADS_1


__ADS_2