MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
BAB 7


__ADS_3

Usai makan siang Ziva mengajak menantunya itu untuk pergi ke Butik miliknya. Ziva memiliki Butik yang sangat besar bahkan sudah memiliki 4 cabang lainnya di dalam dan luar kota. Termasuk salah satunya butik yang kemarin ia datangi saat fitting baju pengantin.


Untuk yang kedua kalinya Dini pergi ke Butik, tetapi butik yang ini jauh lebih besar dari yang ia datangi sebelumnya. Ia terpana oleh isinya yang dimana berbagai trend busana ada disana. Maklum lah dia ke Mall saja baru beberapa kali itu pun cuma muter-muter saja bersama teman sekolahnya.


Saat mendatangi butik yang kemarin ia tidak begitu memperhatikan sekeliling, karena waktu itu ia sangat terpaksa datang ke sana.


"Selamat sore, Bu!" Sapa staf di sana.


"Sore, Mila. o ya tolong dong keluarkan semua prodak terbaru kita, dan bawa ke ruangan saya!" ujar Ziva.


"Baik, Bu."


Ziva mengajak Dini ke lantai atas tepatnya ruangan Ziva. Mila dan beberapa staf masuk ke ruangan Ziva dengan membawa berbagai macam model baju dan gaun sesuai yang di perintahkan.


"Taro sini aja, Mil!" titahnya.


"Tunggu dulu ada yang ingin umumkan. Disini saya mau mengenalkan seseorang kepada kalian semua. Ini namanya Andini dia menantu saya!" Ziva mengenalkan Dini kepada Mila dan yang lainnya.


"Menantu? Maksudnya istri mas Zaviir, Bu?" tanya Mila.


"Iya, Mila. Emang nya anak saya yang mana lagi selain Zaviir."


"Hehe ma'af, Bu. Emangnya mas Zaviir kapan nikahnya, Bu? Kok enggak denger beritanya."


"Baru tadi pagi sih. Tapi emang belum resepsi, mungkin beberapa bulan lagi. Sekarang di halalin aja dulu. Jadi, kalo nanti menantu saya ke sini tanpa saya, kalian harus layani dengan baik!"


"Baik, Bu."


Setelahnya Dini mencoba semua pakaian yang sudah di sediakan. Memang dasarnya Dini itu cantik dengan tinggi badan 168 cm. Sangat cocok mengenakan pakaian apapun. Dia terlihat seperti model dengan tubuh proforsional.


"Wah, memang mantu Ibu ini cantik banget. Tinggi lagi, kayak model. Semua yang di kenakan terlihat pas." puji Mila.


"Iya dong. Mantu siapa dulu coba?" sambung Ziva dengan bangga.

__ADS_1


Dini yang mendapat pujian tertunduk malu. Ia merasa tersanjung dengan keramahan hati ibu mertuanya. Setelah membungkus semua pakaian, Ziva dan Dini pun pulang ke rumah.


"Mah, boleh enggak kita bisa mampir sebentar kerumah Bapak? Dini Mau ngambil baju sekolah sama buku," ucap Dini.


"Oh boleh sayang, mang Ojo! Mampir dulu bentar ke rumah besan ya!"


"Baik, Bu!"


_________


Malam ini terjadi lagi keributan antara kedua pengantin baru, hanya karena masalah tidur.


"Lo tidur di sofa sana!" Zaviir menunjuk sofa panjang di ujung kamar.


"Lah, kok gue tidur di sana? ya nggak mau lah," heran Dini.


"Emang lo mo tidur dimana? Di kasur? Nggak ada, enak aja."


"Ini kamar gue, gue yang berhak atas kamar ini!"


Meski mereka sudah resmi menikah tapi untuk urusan tidur, Zaviir tidak ingin berbagi kasur. Padahal mereka sudah sah dan halal jika harus tidur beesama.


"Gini aja deh, gimana kalo suit aja siapa yang menang dia tidur di kasur?" Dini mebrikan usul kepada suami barunya.


Sejenak Zaviir berfikir sampai akhirnga ia menyetujui usul Dini, "Oke!"


Mereka melakukan suit sampai berulang-ulang. Setelah 3x suit tetap saja Dini lah yang kalah. Dengan terpaksa Dini lah yang tidur di sofa.


"Gimana kalo ganti-gantian malam ini Om. Besok gue? Gimana, setuju?"


Zaviir terdiam, ia mempertimbangkan usulan dari Dini. Sebenarnya ia enggan menyetujui, tetapi ada rasa tidak tega juga jika setiap malam Dini harus tidur di sofa. Karena ia pernah merasakan sakitnya tidur semalaman di sofa.


"Oke, gue setuju!" Akhirnya Zaviir menyetujui usulan dari Dini.

__ADS_1


'Nggak papa deh tidur di sofa, ini lebih empuk dari pada kasur bututku, dari pada tidur di lantaikan lebih baik di sini,' batin Dini.


Dini sebenarnya tidak pernah mengeluh dengan apa yang ia punya. Hanya dia kesal saja kepada suami barunya yang tidak mau mengalah dengan perempuan.


Saat Dini hendak tidur tiba-tiba ada pesan masuk ke HP-nya. Dini meraih ponselnya dan tertera nama seseorang di sana. Sebenarnya Dini malas untuk membuka pesan tersebut, tapi ada rasa penasaran juga dalam hatinya.


Dan benar saja, pesan itu dikirim dari Rendi. 'ck, mau apa lagi sih ni orang?'


[Selamat ya, Ran! Semoga lo bahagia di sana. Gue akan selalu berdo'a yang terbaik buat kebahagiaan lo. Meski gue sendiri 'tak tau apa gue bisa bahagia tanpa ada lo di hidup gue.]


Dini meneteskan airmata saat membaca pesan dari Rendi. Sebenarnya dia juga tidak yakin akan bahagia bersama suaminya. Tapi ia tidak ingin memberi harapan kepada lelaki lain, meski lelaki itu adalag orang yang ia cintai.


[Sudahlah Ren, lo lupain gue!! Begitupun gue juga akan berusaha lupain lo. Kita jalani hidup kita masing-masing!!]


Setelah mengirim pesan, Dini langsung mem-blok no Rendi. Ia ingin melupakannya dan tidak ingin mengingatnya lagi. Ia harus melupakan masa lalu dan mulai menata hati untuk masa depan.


Zaviir yang belum tidur melihat Dini yang berbalas pesan, yang sesekali menyeka airmata.


'Kenapa dia? Apa dia putus dari pacarnya gara-gara nikah sama gue?'


gumam Zaviir dalam hati.


Dini menyimpan kembali ponselnya, dan tanpa sengaja ia melirik suaminya yang masih terjaga di tempat tidur. Ia segera membalikan badan dan menutup dirinya dengan selimut tebal.


Zaviir sempat melihat mata Dini yang sembab, jelas sekali terlihat ada raut kesedihan dan luka di sana. Sebenarnya Zaviir juga merasa bersalah atas pernikahan ini.


Melihat Dini sudah tertidur pulas Zaviir bangkit dan duduk ditepian ranjang. Ia menarik laci nakasnya, kemudian mengambil selembar foto yanh terselip di bawah tumpukan buku di dalamnya.


Ia mengambil foto tersebut, menatap lalu mengusapnya lembut. 'ma'afkan aku, bukan maksud aku menghianatimu. Ini semua juga bukan kehendakku. Semoga kamu bahagia di atas sana.'


Zaviir kembali menyimpan foto tersebut, kemudian kembali berbaring dan menutup matanya. Tanpa dia tau Dini sebenarnya belum tidur dan ia melihat Zaviir mengambil sesuatu dari nakas dan memandangnya.


'Apa yang dia simpan di sana? Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Ah bod* amat ngapain gue mikirin cowok egois kayak dia, Nggak penting banget. Mending gue tidur biar besok pagi bangun gue jadi fresh.' Dini kembali memejamkan mata, menarik selimut hingga hampir menutupi wajahnya dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2