MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
BAB 11


__ADS_3

Sesampainya di ruangan, Zaviir menatap tajam Dini seolah ingin menguliti. Ia berdiri bersandar di meja dengan kedua tangan ia sangga di ujung meja.


"Kenapa ngeliatin? Katanya mau hukum, ayo hukum!" tantang Dini.


Zaviir membuang nafas kasar lalu ia duduk di atas meja dengan menyilangkan kedua kakinya.


"Lo, jadi cewek kok bar-bar sih? Mau jadi apa, hah?! Preman?" tanya Zaviir.


Dini mengerlingkan mata malas, "udah buruan jan banyak omong! Hukum gue!"


Zaviir tidak menghiraukan ucapan Dini, ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Panggilannya langsung diangkat oleh orang di seberang sana.


"Minta satu set seragam putih abu, untuk siswi!" ucapnya. Ternyata Zaviir sedang menelpon bagian koperasi.


....


"Ukuran kemejanya berapa?" Zaviir bertanya kepada Dini.


Dini pun menjawab singkat, "L"


"L?"


....


"Ya, bawa ke ruangan saya. Dan masukan te tagihan saya!" Zaviir menutup telponnya, kemudian memasukan lagi ponselnya kedalam saku.


"Yakin lo pake ukuran L, nggak kegedean? Kenapa nggak M" tanya Zaviir.


"Justru kalo ukurannya M bakal mencetak di badan gue. Lagian ngapain sih protes soal ukuran?" Dini berucap dengan nada ketus.


Zaviir memandang Dini dari atas hingga bawah, dan tatapannya terhenti di bagian tengah Dini. 'Pantas saja dia milih ukuran L' gumamnya dalam hati.


Karena baju Dini yang basah membuat lekukanya terlihat jelas, bahkan warna di dalamnya pun terlihat. Melihat itu Zaviir meneguk air liurnya berkali-kali, hingga jakunnya naik turun.


Dini yang melihat Zaviir seperti itu tercengang. Dengan secepatnya Dini mengambil asal buku yang ada di atas meja. Dan ia gunakan untuk menutup bagian tengah dirinya yang sedang dipandang oleh Zaviir.


"Ih, dasar mesuuum!"


Dini mengambil buku satu lagi, ia gunakan untuk memukul Zaviir sekuat tenaga.


Buk, buk, buk.


"Awsh... sakit Dini!"


Dini terus saja memukul Zaviir karena tanpa sengaja Zaviir terus memperhatikan area sensitifnya.


"Ampun, Dini! Sakit tauk!" Zaviir menghindar dari amukan Dini.


Karena asik dengan urusan sendiri, sampai mereka tidak mendengar suara ketukan pintu. Zaviir sudah merasakan seluruh badannya terasa nyeri, karena Dini memukulnya dengan buku tebal yang digulung.


Ia menangkap tangan Dini yang memegang buku, lalu menariknya. Karena kurang keseimbangan, akhirnya Dini terjatuh dalam pelukan Zaviir tepat saat pintu terbuka.

__ADS_1


"Ups, ma'af!" ujar seorang yang masuk ke ruangan Zayyad.


Keduanya mebulatkan mata, lalu kemudian Dini menjauh dari Zaviir. Ia terlihat kikuk, karena mungkin yang melihatnya akan salah faham.


"Ma'af Pak Zaviir, sa-saya hanya mau mengantarkan ini!" Setelah menyerahkan pesanan Zaviir tadi, dia langsung berlari keluar ruangan.


"Gara-gara elo sih!" kesal Zaviir.


"Kok gue, situ yang mesum ngapain liatin anu-- emh, udahlah. Mana bajunya sini!" Dini mengambil baju seragam barunya.


Dini celingukan mencari tempat yang aman untuk merganti baju.


"Enggak ada toilet? Gue ganti baju dimana?"


"Toilet ada di luar lah." jawab Zaviir enteng.


"Ish, masa gue keluar kayak gini? Malu dong," Dini merenggut.


"Elo tadi jalan di luar dalam keadaan kayak gitu, enggak malu. Terus sekarang lo malu? Aneh!" cibir Zaviir.


"Ya-ya itu gue ... tadi nggak nyadar."


"Ya udah, lo ganti di sini? Atau lo mau jalan keluar kayak gini?" Zaviir memeri Dini dua pilihan.


Dini tampak berfikir, ia tidak mungkin keluar dalam keadaan seperti itu. Pantas saja sejak tadi ia dari toilet melihat tatapan aneh dari teman-temannya. Ia tidak ingin hal itu terulang, ia sudah cukup malu.


"Iya deh gue ganti baju di sini. Tapi lo balik badan!" Dini akhirnya memilih opsi yang pertama.


"Dih bisanya larang-larang. Sendirinya juga gitu," gumam Dini.


"Ngga usah menggerutu, buruan ganti!"


"Iya, Pak Zaviir yang terhormat. Balik badan sana! Sekalian jaga pintu takut ada yang masuk tiba-tiba."


Zaviir menurut iya berbalik dan mendekati pintu lalu menguncinya, ia sedikit melirik sedikit ke pinggir.


"Jangan ngintip! Awas aja ya!" peringat Dini.


"Udah blom?" tanya Zaviir.


"Bentar, awas matanya kondisikan!"


Bebrapa saat kemudian, "Udah!"


Zaviir berbalik terlihat Dini sudah berganti baju yang baru. Tanpa ucapan terima kasih Dini melenggang keluar dari ruangan Zaviir.


"Hei, lo belum diberi hukuman!" Zaviir menahan tangan Dini yang hendak keluar.


"Ih, udah dibilangin yang salah itu si pampir. Kenapa gue yang kena hukum sih?" Dini menghentakan kaki karena kesal.


"Tetap aja, lo ngereman di sekolah. Harus di hukum!"

__ADS_1


"Dah lah, ngutang dulu hukumannya. Sekarang ada ulangan harian. Bye!" Dini tidak mengiraukan, ia tetap keluar dari ruangan.


"Ck, dasar cewek bar-bar."


Beberapa menit kemudian pintu ruangannya di ketuk. Di susul dengan masuknya seseorang.


"Siang, Pak Zaviir!" sapanya.


"Siang Bu Anya!"


"Ini Pak, saya mau menyerahkan hasil penilaian kelas XI IPA 1," Bu Anya menyerahkan berkas nilai, karena Zayyad sekarang dipilih menjadi wali kelas XI IPA 1.


"Hm... terima kasih, Bu Anya." Zaviir menjawab dengan nada dan expresi biasa saja tanpa senyuman.


"Baik, kalo begitu saya pamit ya, Pak Zaviir!" Tapi bukannya pergi Bu Anya masih diam di tempat.


Zaviir mengernyit, "kenapa Bu Anya? Ada lagi?"


"Ah, tidak. Saya-saya permisi!" pamitnya lagi.


"Hmm.." Zaviir hanya menjawab dengan deheman tanpa melirik ke arah Bu Anya.


Bu Anya merasa kesal saat dirinya di cuekin oleh Zaviir. Ia menghentak lalu berbalik, saat itu atensinya menatap kemeja dan rok abu tergeletak di atas sofa. Matanya seakan meloncat melihat itu.


'Pak Zaviir menyimpan pakaian siapa itu? Kok seragam cewek?' Batinnya. Dia membalik lagi ke arah Zaviir.


"Pak, Zaviir!"


"Ya!" Zaviir mendongkak.


"Itu punya siapa? Kenapa ada seragam siswi di sini?" tunjuknya ke arah sofa.


Zaviir mengikuti arah tunjuk Bu Anya. Matanya juga membola, ia melihat pakaian Dini tertinggal di sana.


'Ck, dasar cewek bar-bar. Kenapa dia ninggalin pakaian di sini sih? Bikin salah faham aja sih' Zaviir menggaruk keningnya, ia bingung harus berkata apa.


"Bu Anya ke sini untuk menyerahkan berkas nilai 'kan?" ucap Zaviir mengalihkan.


"Ah, iya"


"Sudah kan?"


"Ah ya. Sudah. Kalo gitu saya permisi!"


Akhirnya Bu Anya pun pergi dari ruangan Zaviir.


'Itu tadi pakaian siapa sih? Kok ada di ruangan Pak Zaviir, apa mereka habis melakukan. Hah? Oh tidak, kalau sampai ia ini...' gumam Bu Anya saat berada di luar ruangan Zaviir.


Sepeninggal Bu Anya, Zaviir menghampiri sofa dan mengambil pakaian Dini yang tertinggal.


"He... dasar ceroboh."

__ADS_1


Ia kemudian memasukan pakaian kotor Dini kedalam paper bag yang bekas tadi seragam baru Dini. Kemudian ia menyimpannya kembali di atas meja.


__ADS_2