
Pagi hari Dini kembali bersekolah, tapi ada yang berbeda dia terlihat murung tidak seceria biasanya. Dia seperti tidak bersemangat.
"Din, lo kenapa sih? Muka lo di tekuk kusut gitu kayak muka si Wahyu," ucap Lea teman Dini.
"Lah kok aku sih beb? Muka kaya opa opa korea gini!" jawab Wahyu.
"Bukan opa korea, tapi opak singkong loh!" ejek Nita.
"Kalian bisa diem nggak? Gue jadi tambah pusing liatnya." Dini menegur ketiga temannya yang sedang bertikai.
"Lo lagi boring ya? Pulang sekolah kita ngemol yuk?" ajak Lea yang di angguki oleh Nita.
"Enggak ah males. Lagian gue pulang sekolah mau ada urusan," tolak Dini.
"Urusan apa?"
"Nggak usah kepo Wahyuni!" celetuk Lea.
"Wahyudi beib," ralat Wahyu yang dibalas dengan gaya muntah oleh Lea dan Nita.
"Ya udah kalo lo nggak bisa. Tapi lo jangan badmood gitu oke!"
Dini mengangguk dan menunjukan senyumnya agar teman-temannya tidak banyak bertanya.
Pulang sekolah Dini dijemput oleh supir keluarga Abrisyam. Dia dibawa ke sebuah butik mewah, di sana ia sudah disambut oleh beberapa pegawai.
Di dalam Ziva sudah menanti kedatangan calon menantunya, ia langsung menyambut dan memeluknya.
"Dini, sini sayang!" Ziva membawa Dini ke sebuah ruangan yanh cukup besar, di sana terlihat gaun berbagai macam model dan warna berjejer rapi.
"Ayo. Kamu pilih gaun yang mana?" tawar Ziva.
Dini bingung memilih yang mana karena semuanya cantik. Kalo boleh memilih ia ingi membungkus semuanya, tapi buat apa?
"Bingung tan, pilih yang mana."
"Gimana kalau yang ini, ini kayaknya cocok deh buat kamu. Sana kamu coba dulu!"
Seorang pegawai membawa gaun pilihan Ziva ke dalam ruang ganti diikuti oleh Dini.
Ziva mengambil ponsel yang berada di dalam tas, ia menghubungi putranya.
"Zaviir, kamu dimana cepetan sini. Mama sama Dini udah ada di sini."
...
"Iya cepetan pokoknya!"
Tut tut tut.
__ADS_1
"Huh anak ini, selalu lamban." Ziva menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
Dini keluar dari ruang ganti dengan gaun yang dikenakannya.
"Wah ini cocok sama kamu Din. Ya udah ini aja.!"
"Ma..!" Panggilan Zaviir membuat Dini dan Ziva menoleh.
Zaviir yang berdiri di dekat pintu kaca ia diam terpaku melihat Dini memakai gaub pengantin. Belum makeup saj sudah secantik ini apalagi sudah makeup. Zaviir menggeleng untuk menghilangkan fikiran anehnya.
"Sayang giliran kamu yang coba sana!"
Zaviir mengambil stelan jas yang sudah disediakan. Ia berjalan menuju ruang kecil dan tidak lama sudah kembali dengan pakaian senada yang melekat di tubuhnya.
"Cocok banget Bu. Kelihatan serasi banget," Ucap pegawai tersebut.
"Iya kaliab emang cocok!"
Usai fitting baju pengantin. Ziva menyuruh Zaviir mengantarkan Dini pulang. Karena ia akan pergi menyurvei hotel dan juga chatering.
Di dalam mobil keduanya saling diam tanpa ada yang saling bicara.
"Ini semua gara-gara lo ya yang udah hukum gue. Kita jadi dinikahin gini lagi!" runtuk Dini.
"Ya elo yang salah. Kenapa tidur di jam kelas gue!" balas Zaviir.
"Sama aja. Mata lo ditutup saat gue lagi bicara di depan. Gue paling nggak suka saat orang yang diajak bicara malah mengacuhkan. Lo fikir gue patung hah?!" Zaviir semakin menyolot.
"Lo itu kepala batu alias keras kepala."
"Lo.!!"
"Apa? Hah?"
"Lo pernah denger nggak? Istilah benci jadi cinta. Lo nggak takut bisa jatuh cinta sama gue?" tanya Zaviir dengan seringainya.
Mata Dini membola, "sembarangan aja. Yang ada nih ya. Gue sumpahin lo yang jatuh cinta sama gue!!"
Ckiiit...
Zaviir menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Dini tersentak.
"Hei Om. Ngerem kira-kira dong!" sungut Dini.
"Noh ada kucing tiba-tiba lewat!" Zaviir menunjuk jalanan. Ada seekor kucing hitam dengan santainya berjalan di tengah aspal. Kayak yang lagi fashion week aja.
Dini tergelak tiba-tiba, "napa lo? Kayak orang sent res aja."
"Gie fikir sih, sumpah gue didengar Tuhan. Kayak sumpah yang waktu itu. Buktinya sekarang kita jadi di nikahin..." ucap Dini berujung lirih.
__ADS_1
"Enggak akan, gue nggak akan jatuh cinta sama lo! Camkan itu!!"
Jeder.
'Waduh, kok ada geledek lagi sih?' batin Zaviir.
"Noh dengar. Bahkan langit aja mendukung!" Dini tertawa puas ia merasa menang.
Zaviir tidak ingin lagi berdebat ia kembali menjalankan mobilnya hingga sampai di depan rumah Dini.
Dini turun tanpa ucapan terimakasih sama sekali membuat hati Zaviir semakin dongkol. Jika bukan karena paksaan dari mamanya ia sangat malas untul mengantar gadis menyebalkan itu.
Setelah itu Zaviir kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dini. Dengan wajah di tekuk sepanjang jalan ia terus saja mengomel, padahal orang yang sudah membuat moodnya jelek sudah tidak ada di sampingnya. Tetapi ia terus saja mengutuk sendiri.
***
Persiapan pernikahan terus dilakukan oleh keluarga Revan. Ya semuanya sudah diurus oleh pihak laki-laki. Ridawandan keluarga tinggal terima beres saja.
Awalnya Ridwan menolak karena merasa tidak enak hati, tetapi Revan tidak menerima penolakan tersebut. Jadinya Ridwan menerima semua yang dilakukan keluarga mereka.
"Udah Wan, kamu jangan fikirin apa-apa semuanya sudah beres. Tinggal nunggu hari H-nya aja," tutur Revan.
"Aku jadi nggak enak Van, semua kamu yang nanggung."
"Ini sudah tanggung jawab kami sebagai pihak laki-laki. Jadi kamu tidak usah hawatir," pungkasnya.
Setelah sepakat seperti itu maka hanya tinggal menunggu waktunya saja. Mereka tidak menyangka salah faham membawa keberkahan bagi mereka. Peesahabatan mereka akan semakin erat.
Meskipun cara anak-anak mereka di persatukan harus dengan cara seperti itu. Tapi mereka mengambil hikmah dari semua peristiwa yang terjadi.
Pertemuan dua teman lama karena insiden tidak terduga, menjadikan mereka bisa bersama kembali itulah yang membuat mereka bahagia.
"Kalau jalan hidup anak-anak kita ya seperti ini, kita hanya patut mensyukurinya Wan."
"Benar sekali Van, siapa yang menyangka setelah sekian lama kita tidak bertemu, kita langsung dipertemukan sebagai besan."
"Iya ya Wan, inget nggak dulu kita pernah menghayal jika kita sudah deqasa dan menikah. Terus anak kita jika berbeda gender **kita nikahkan mereka biar kita besanan," kenang Revan.
"Iya Van, aku masih inget itu. Waktu itu kamu lagi sedih gara-gara cinta mony** mu ditolak oleh si- siapa sih lupa aku?"
"Karin?"
"Wah kamu ternyata masih mengingatnya," kekeh Ridwan.
"Sekarang dia jadi Istri pejabat."
"Wah hebat juga ya!"
Mereka kembali terlibat obrolan mengenang masa-masa lalu saat masih remaja, tidak menyangka dulu bersahabat sudah seperti saudara kini jadi besanan**.
__ADS_1