
Seminggu terasa sangat cepat bagi kedua insan yang hari ini akan menyandang status yang berbeda. Mau gimana lagi, semua sudah diatur oleh orangtua mereka. Mereka berdua hanya bisa pasrah dengan takdir yang sudah di tuliskan untuk mereka.
Tapi masalahnya mereka menikah tanpa ada rasa cinta di hati masing-masing. Terlebih masih ada satu rasa yang terselip di lerung hati mereka.
Andaikan bisa mengulang waktu mereka tidak akan membuat hal yang menjadi salah faham, sehingga berujung pernikahan.
"Bisa diundur nggak sih waktunya gue rasa seminggu terlalu cepat. Tapi kenapa pas waktu ulangan kemaren seminggu rasa sebulan," gerutu Dini di dalam kamar sebelum ia tertidur dan menyiapkan diri untuk esok hari.
Pagi menyapa dengan suasana indah. Namun, lain halnya dengan Dini. Tepat hari ini semua kehidupannya akan berubah drastis.
"Dini. Ayo, Nak! Kita sudah di jemput." Bu Aliyah melihat anaknya yang sedang melamun di kamar.
"Bu, apa ini keputusan yang tepat?" tanya Dini dengan mata sembab.
"Jangan disesali, Nak! Semua sudah di atur oleh yang maha kuasa, kita hanya patut mensyukuri apa yang tuhan berikan. Percayalah, di balik semua ini pasti akan ada hikmahnya!"
"Dan sekarang, hapus airmata kamu! Ini mata sudah bengkak gini. Gimana nanti coba di lihat calon suamimu!" tutur Bu Aliyah diakhiri candaan.
Akhirnya mereka berangkat. Mereka bertiga di tambah Pak RT setempat yang merupakan paman dari Dini. Berangkat dengan supir jemputan. Sebelum sampai ke rumah pak Revan, mereka di ajak mampir ke butik untuk berganti baju dan makeup.
***
Di kediaman Abrisyam telah bersiap dengan segala sesuatunya, dekorasi yang indah bahkan beberapa sanak saudara yang di undang juga sudah hadir. Mereka tinggal menunggu kedatangan mempelai wanita.
Sebuah mobil hitam memasuki kediaman tersebut, dengan sigap seorang yang ditugaskan menjaga berlari ke dalam rumah untuk memberi tahu tuannya bahwa yang ditunggu sudah datang.
"Permisi Tuan, Nyonya. Calon mempelai wanita sudah tiba," ucap penjaga kediaman Abrisyam.
"Oh ya, persilahkan mereka masuk!" Seru Pak Revan.
"Baik, Tuan."
"Mah, mana Zaviir? Cepetan suruh kemari acara akan dimulai!"
"Tadi katanya di taman belakang, Pah. Mama akan panggilkan," jawab istrinya.
Kini semua orang telah berkumpul di ruang tengah yang telah di dekor sedemikian rupa. Kedua mempelai telah duduk berdampingan.
Dini telah di dandani sangat cantik. Karena biasanya ia tidak pernah berdandan. Penampilan pun alakadarnya. Semua orang terpana dengan kecantikan Dini. Bahkan, Zayyad pun sempat terpaku dan tidak percaya.
"Pa, calon mantu kita ternyata cantik banget, ya?" puji Bu Ziva mamanya Zaviir.
"Iya, cocokkan sama anak kita. Akhirnya dia mau nikah ya, Mah?"
__ADS_1
"Iya, tapi sayang. Kita nggak adain pesta meriah untuk putra semata wayang kita ..." lirih Bu Ziva.
"Sabar Ma, nanti setelah Dini lulus sekolah kita adakan pesta meriah." Bu Ziva pun mengangguk.
Tidak banyak yang hadir di akad ini, hanya beberapa kerabat dekat saja.
"Bagaimana, Nak Zaviir. Sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Insya Allah siap, Pak."
"Baiklah, silahkan Pak Ridwan berjabat tangan dengan mempelai pria!"
Pak Ridwan menjabat tangan Zaviir dan berdo'a dalam hati.
"Bismillahirrohmaanirrohim... Ananda Zaviir Abrisyam, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Andini Maharani dengan mas kawin seperangkat alat sholat serta uang tunai 10 jut Rupiah di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Andini Maharani dengan mas kawin tersebut tunai!!"
Zaviir mengucapkan Qobul dengan lantang dan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi, SAH?!"
SAAAAAH.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka disusul dengan kemunculan pria tampan yang masih mengenakan tuksedo. Terlihat seorang gadis yang masih mengenakan kebaya pengantin sedang duduk di sofa yang merekat dengan jendela kamar.
"Ck, ngapain sih loh bengong di situ. Cepat ganti baju! Gue risih liat lo pake baju itu." Zaviir pria itu melenggang masuk ke ruang ganti, lalu keluar lagi setelah membawa baju ganti, dan ia masuk lagi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dini menarik dan membuang nafas kasar, kemudian ia mulai melepas aksesoris yang masih menempel di kepalanya.
Setelah beberapa menit, Zaviir keluar dan telah berganti dengan kaos hitam polos dan celana selutut.
"Ayo, mandi sana!"
"Iya bawel banget sih. Gue juga gerah kali mau mandi. Tapi masalahnya, gue nggak bawa baju ganti." ketus Dini.
"Ribet amat si lo, ketibang ganti baju doang. Noh pake aja kaos sama treining gue!"
"Ck, terus dal4mannya gimana, Om?!" tanya Dini penuh dengan tekanan.
"Iih, lo tu ya. Gue bilang jangan panggil gue om! Emang gue setua itu apa?! Dasar anak kecil!!" balas Zaviir.
__ADS_1
"Jangan panggil aku anak kecil, Paman!!" ejek Dini.
"Lo juga, jangan panggil gue Om, apalagi paman. Faham kau Bocil?!"
"Udah deh. Urusan gue gimana ini?! Masa gue pake dal4man bekas?!"
Merasa kesal karena belum sehari saja ia menikah, ia harus beradu mulut dengan istri kecilnya ini.
"Ya udah, berapa ukurannya?" tanya Zaviir malas.
"Ukuran apa?" Dengan polosnya Dini balik bertanya.
"Ya ukuran dal4man lo!" jawabnya asal.
"Aakh, Om mesum!!" teriak Dini dengan menyilangkan tangannya di dad4.
"Terus gue nyarinya gimana?!" Zaviir menvacak rambut kasar, karena ia merasa benar-benar kesal kali ini.
"Nggak usah, aku pake lagi yang ini aja. Daripada Om yang nyari bahaya."
"Ck, gue nggak tertarik dengan milik lo. Palingan seberapa sih, seukuran anak SD aja bangga," cibir Zaviir.
"Sembarangan ukuran anak SD. Udah, mana bajunya?"
"Bentar, gue ambil." Zaviir mengambil kaos yang pas dengan ukuran badan Dini. Setelah menemukanny Ia menyeragkannya kepada Dini.
Selesai bersih-bersih dan ganti baju, Dini kembali duduk di sofa kamarnya.
"Hei bocil! Ini semua gara-gara sumpah elo yang nggak bermutu itu. Makanya kita jadi nikah kayak gini!" seru Zaviir.
"Ya Om sendiri yang ngomong mau seret gue jadi Bini Om. Nggak inget?!" tanya Dini dengan wajah sengit.
"Itu gue ngomong karena sumpah lo yang si4l4n!" bala Zaviir tidak kalah sengit.
Saat keduanya sedang rusuh dan beradu argumen, pintu kamar di ketuk oleh ART.
"Mas Zaviir! Di suruh makan siang sama Ibu!" ucap ART tersebut.
"Iya Bi, nanti saya turun!" timpal Zaviir.
'mimpi apa sih gue harus jadi suami dari ABG yang susah di atur, bar-bar lagi. Kenapa mesti ketemu dengan cewek aneh bin jadi-jadian.'
Dini dan Zaviir tidak ada lagi yang memulai obrolan keduanya saling diam dan membuang muka. Setelah itu mereka turun ke lantai bawah untuk makan malam sesuai yang di perintahkan mamanya.
__ADS_1